
Melani terlihat menggendong Fajri dengan kain panjang, Merissa dengan setia membantu bundanya.
Dokter Irawan sempat memperhatikan interaksi antara anak dan bundanya tersebut, mereka tampak begitu dekat sekali.
Hal itu membuat dirinya teringat akan Ibunya yang berada di luar negeri, dia marah padanya sehingga meninggalkan dirinya.
Bukan karena apa, tapi karena dokter Irawan yang tak juga hendak menikah. Padahal ibunya sudah berusia lima puluh enam tahun, tentu saja dia takut belum sempat melihat kebahagiaan putranya dalam berumah tangga saat dia meninggal nanti.
"Saya pamut, Dok. Terima kasih sekali lagi," kata Melani.
"Ya, silakan!" kata Dokter Irawan.
Setelah berpamitan, Melani nampak keluar dari ruangan dokter Irawan. Dia ingin segera pulang dan beristirahat, karena dia sudah merasa tenang melihat Fajri yang sudah turun panasnya.
Bahkan, senyumnya pun sudah kian mengambang di bibir mungilnya. Dia benar-benar bersyukur, karena tak jauh dari rumahnya ada klinik 24 jam.
Di gelapnya malam, Melani nampak menggendong Fajri dan menuntut putrinya Merissa.
Sungguh dia tidak menyangka bisa mengalami hal seperti ini, sepertinya mulai hari ini Melani harus bisa lebih memperhatikan kedua buah hatinya lagi.
Melani pun sudah berniat jika beberapa hari ini dia akan meminta libur kepada Reni, dia akan mengurus Fajri sampai sembuh.
Dia juga akan berbelanja ke pasar, untuk membuatkan makanan dan juga camilan sehat untuk kedua buah hatinya.
Tentunya hal itu dia lakukan, agar tak terjadi lagi kejadian seperti ini. Sesekali Merissa nampak berceloteh menggoda Fajri, Fajri pun nampak tersenyum dan terkadang terlihat terkikik geli.
Kedua kakak-beradik itu memang sangat saling menyayangi, tak pernah Melani melihat mereka bertengkar dalam hal apa pun.
Melani berharap, mereka akan tetap akur sampai kapan pun.
"Istirahatlah, Sayang," ucap Melani pada Merissa ketika sampai di dalam rumahnya.
Merissa pun mengangguk patuj, dia langsung mengecup pipi bundanya dan masuk ke dalam kamarnya.
Begitu pun dengan Melani, dia langsung masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuh mungil Fajri.
"Bobo ya, Sayang. Besok kita ke taman sama Bunda," kata Melani.
Fajri nampak tersenyum, lalu kemudian dia pun menutup matanya. Dia berusaha untuk masuk ke dalam mimpinya, Melani nampak tersenyum saat melihat tingkah putranya.
Dia benar-benar lucu pikirnya, Melani besok memang akan mengajak putranya untuk bermain di taman.
Tentunya jika keadaan Fajri sudah benar-benar sehat, tujuannya agar dia bisa menghirup udara segar di taman.
Tak lama kemudian, Fajri terlihat tertidur dengan sangat pulas. Mungkin karena efek obat yang diberikan oleh Dokter irawan.
Melani nampak tersenyum, lalu dia pun ikut merebahkan tubuhnya disamping putranya. Tak lama kemudian dia pun ikut terlelap dalam buaya mimpi.
Keesokan paginya Melani terbangun dari tidurnya, dia langsung mandi dan segera membuatkan sarapan untuk kedua buah hatinya.
Saat dia sedang asyik membuat sarapan, Merissa datang menghampirinya.
"Selamat pagi, Buna. Bikin sarapan apa?" tanya Merissa.
"Buda buatkan kamu nasi goreng, buat dedek Buna buatkan bubur," kata Melani.
__ADS_1
"Asik, nasi goreng buatan Buna pasti enak seperti biasanya," puji Merissa.
Mendengar ucapan putrinya, Melani langsung tersenyum. Lalu, dia pun mengecup kening putrinya tersebut.
Melani pun segera mengendokkan nasi goreng buatannya dan memberikannya kepada Merissa.
Saat Merissa hendak melakukan sarapan paginya, Nyonya Mesti datang dan menghampiri keduanya.
Selamat pagi semuanya," sapa Nyonya Mesti.
"Pagi!" jawab Melani dan Merissa secara bersamaan.
Nyonya Mesti terlihat celingukan karena tak melihat cucunya Fajri, dia pun lalu bertanya kepada Melani.
"Fajri mana, Mel?" tanya Nyonya Mesti.
"Fajri sedang tidak enak badan, tadi malam demam. Tapi sekarang sudah lebih baik," ucap Melani.
Nyonya Mesti terlihat kaget.
"Demam, apa sudah dibawa berobat?" tanya Nyonya Mesti khawatir.
"Sudah, Mah. Sudah berobat, kata dokter dede terlalu banyak jajan. Tapi sekarang sudah baik-baik saja, kok," jawab Melani tak enak hati.
Nyonya Mesti pun langsung tertunduk lesu, dia memang selalu memberikan es krim dan jajanan apa pun yang cucunya itu mau. Yang penting anteng, pikirnya.
"Maafkan, Mamah. Ini pasti karena kesalahan Mamah," kata Nyonya Mesti.
Melani nampak tersenyum.
"Tetap saja Mamah merasa tak enak hati, karena Mamah yang selalu mengurusi Fajri dan juga Merissa," kata Melani.
"Dari pada Mamah merasa bersedih, mending Mamah sarapan saja," kata Melani.
"Mamah sudah sarapan, mama hanya ingin menunggu Merissa dan mengantarkannya ke sekolah," kata Nyonya Mesti.
"Biar aku saja, Mah. Aku ada di rumah ini," kata Melani.
"Memangnya kamu ngga kerja?" tanya Nyonya Mesti.
"Engga, Mah. Aku mau libur untuk beberapa hari," kata Melani.
"Baiklah kalau begitu, kamu antarkan Merissa ke sekolahya. Biar Mamah yang menjaga Fajri," kata Nyonya Mesti.
"Iya, Mah. Terima kasih, oh iya Mah. Aku sudah membuatkan bubur untuk Fajri, kalau dia bangun tolong berikan buburnya," kata Melani.
"Iya, Sayang," jawab Nyonya Mesti.
Melani kini nampak mengantar Merissa untuk pergi ke sekolah, Merissa terlihat sangat senang sekali karena setiap hari selalu saja diantar oleh Melani.
Mereka terlihat berjalan beriringan sudah seperti adik dan kakak, tidak seperti anak dan ibu.
Merissa pun bahkan mempunyai tubuh yang tinggi, walaupun usianya baru 8 tahun tingginya bahkan sudah sepundak Melani.
Hal itu membuat mereka terlihat seperti adik dan kakak.
__ADS_1
"Yang pintar ya, Sayang, belajarnya," ucap Melani ketika sampai di sekolah Merissa.
"Iya, Buna. Buna hati-hati di rumah, jaga dede dengan baik," ucap Merisaa.
"Ya, Sayang," ucap Melani.
Melani lalu mengecup kening Merissa dan Merissa pun membalas kecupan ibunya, setelah itu Melani pun nampak pergi meninggalkan Merisaa karena bel masuk sudah berbunyi.
Setelah mengantarkan Merissa ke sekolahnya, Melani pun nampak pulang dengan berjalan kaki kembali.
Tiba di depan rumahnya, Melani sangat kaget karena di sana sudah ada Aldino yang menunggunya di depan teras.
Melani melangkahkan kakinya dengan langkah malas, Melani pun langsung menghampiri Aldino.
Aldino terlihat sangat senang sekali saat melihat Melani datang menghampirinya, dia pun langsung menyapa Melani.
"Pagi, Mel," sapa Aldino.
"Ya, selamat pagi. Kamu mau ngapain ke sini?" tanya Melani dengan raut wajah datarnya.
"Kata Mamah Fajri sakit, aku ingin menjenguknya," kata Aldino.
"Masuklah kalau kamu memang ingin menjenguk putramu, dia ada di dalam. Kenapa kamu malah di luar?" tanya Melani.
"Aku hanya takut kalau kamu tidak mengizinkan aku untuk masuk," kata Aldino.
"Tentu saja kamu boleh masuk, kamu Ayahnya. Tak ada yang bisa melarangnya," ucapnya lagi.
"Terima kasih kalau begitu," ucap Aldino senang.
Setelah mendapatkan izin dari Melani, Aldino pun nampak masuk. Dia langsung mencari keberadaan Fajri, dia menyisiri setiap ruangan yang ada di rumah tersebut.
Melani hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah mantan suaminya tersebut.
Apa salahnya dia bertanya di mana kamar Fajri? Kenapa harus mencarinya sendiri seperti orang bego?
Tak lama kemudian, Nyonya Mesti nampak keluar dari kamar Melani bersama dengan Fajri yang berada di dalam gendongannya.
Aldino terlihat tersenyum, lalu dia pun menghampiri Fajri. Lalu, dia menyapanya dengan lembut sekali.
"Hai anak Ayah, sini Ayah gendong," ucap Aldino seraya merentangkan kedua tangannya.
Awalnya tak ada respon dari Fajri, namun tak lama kemudian Fajri terlihat menggelengkan kepalanya.
Aldino nampak kecewa sekali, karena ternyata putranya seakan tak mengenali dirinya. Bahkan, untuk digendong pun dia tak mau.
Aldino sadar memang ini adalah kesalahan dirinya yang tak pernah mendekatkan diri dengan buah hatinya tersebut.
Mungkin dengan Merissa dia bisa lebih dekat, namun tidak dengan Fajri. Karena memang dari semenjak kehamilan anak keduanya, Aldino sudah berhubungan dengan nyonya Mariene dan sejak saat itu pula dia jarang ada waktu untuk Melani dan juga buah hatinya.
Sekalinya pulang, itu pun sudah tengah malam. Sehingga tidak ada waktu untuk Aldino mendekatkan diri kepada kedua buah hatinya, bahkan di hari libur pun Aldino akan pergi bersama nyonya Mariene untuk berlibur.
Mereka akan menyewa tempat private, agar tak ada yang mengetahui perselingkuhan yang mereka lakukan.
Sayangnya mereka lupa, sepandai-pandainya menutup jendela kala menggoreng Ikan Asin. Tentu saja tetangga akan mencium baunya.
__ADS_1