Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Merajuk


__ADS_3

Setelah tiga hari mendapatkan perawatan, akhirnya Gadis dan Baby tampannya diperbolehkan untuk pulang.


Ajun terlihat sangat antusias sekali menyambut kepulangan dua orang yang begitu dia sayangi dalam hidupnya.


Dia merasa sempurna kini menjadi seorang lelaki, karena bisa menjadi seorang ayah. Dia juga benar-benar merasa bahagia, karena bisa menikahi wanita setegar Gadis.


Walaupun usianya terbilang muda, tapi Gadis terlihat sangat dewasa. Bahkan sampai saat ini Ajun masih belum percaya, jika istrinya tersebut bisa begitu tenang dalam melahirkan putra mereka.


Putra tampan yang terlihat begitu menggemaskan, putra tampan yang hadir untuk menyempurnakan hidupnya.


"Selamat datang di rumah, cucu kesayangan Kakek." Tuhan Alfonso langsung mengecup pipi gembil Baby tampan yang Gadis gendong.


"Terima kasih atas sambutannya, Kakek," ucap Gadis seraya tersenyum.


Mendengar ucapan putrinya, Tuan Alfonso langsung terkekeh. Sempurnalah sudah hidupnya karena bisa melihat putrinya berbahagia setelah menikah dan melahirkan.


Walaupun istri tercintanya Intan sudah pergi lama meninggalkan dirinya, rasanya jika dia dipanggil oleh Sang maha kuasa pun dia sudah merasa tenang.


Karena putrinya sudah ada yang menjaganya, bahkan Tuan Alfonso bisa melihat jika Ajun begitu mencintai dan menyayangi putrinya.


Dia juga sangat senang karena di hari tuanya dia masih bisa melihat kelahiran cucunya, semoga saja Tuhan masih memberikan kesempatan untuk dirinya melihat cucunya tumbuh.


"Karena kamu baru saja melahirkan, Daddy menyiapkan kamar di lantai bawah untuk kamu dan juga Baby kamu." Tuan Alfonso berkata seraya menuntun putrinya menuju kamar barunya.


Dua kamar dia persiapkan khusus untuk Gadis dan juga cucunya, sengaja dia siapkan kamar tersebut bersebelahan agar Gadis bisa dengan mudah memperhatikan putranya


Tuan Alfonso juga bahkan sudah mempersiapkan seorang babysitter yang akan menjaga putra dari Gadis selama dua puluh empat jam.


Awalnya Gadis menolak usulan Tuan Alfonso, saat Tuan Alfonso berkata akan mempekerjakan seorang Babysitter.


Karena Gadis ingin menikmati momen-momen kebersamaan dengan putra tampannya, namun Tuan Alfonso bersikukuh jika Gadis harus mendapatkan bantuan seorang Babysitter.


Agar dia tidak kelelahan dalam mengurus putranya, apa lagi ini adalah putra pertama Gadis.


Gadis masih perlu bimbingan dalam belajar mengurus Baby yang benar, akhirnya Gadis pun memutuskan menerima usulan dari Daddynya.


"Siapa nama Baby tampan ini?" tanya Tuan Alfonso.


Gadis terlihat menidurkan putranya di atas box bayi, kemudian dia tersenyum dan memeluk lengan kekar Daddynya.


"Untuk nama putraku, Daddy bisa bertanya pada suamiku," kata Gadis.


Tuan Alfonso tersenyum, lalu dia pun mengalihkan pandangannya kepada Ajun.


"Jadi, siapa nama cucu tampanku??" tanya Tuan Alfonso tak sabar.


Ajun langsung terkekeh saat melihat raut wajah Tuan Alfonso yang terlihat tak sabar, Ajun lalu mengusap lembut punggung Tuan Alfonso.


"Namanya Kenzie, Dad. Panggilannya Baby Ken," jawab Ajun.


Tuan Alfonso langsung tersenyum, dia merasa puas dengan nama yang diberikan untuk cucu pertamanya tersebut.


"Nama yang bagus, Daddy suka," kata Tuan Alfonso.


Ajun tersenyum, karena ternyata mertuanya menyukai pilihan nama untuk putranya. Nama 'Kenzie' sengaja dia pilih, karena artinya Baby yang tampan dalam arti bahasa dari negara Tuan Alfonso berasal.

__ADS_1


Melihat Baby Ken yang sangat pulas dalam tidurnya, Ajun, Gadis dan juga Tuan Alfonso memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut.


Tentunya sebelum mereka pergi, Tuan Alfonso menugaskan Leni sang Babysitter untuk menjaga cucunya tersebut.


Tentu saja Leni dengan senang hati langsung menerima tugas dari Tuan Alfonso, apa lagi Leni memang sangat menyukai bayi-bayi yang terlihat lucu dan tampan seperti Baby Ken.


Setelah keluar dari ruangan Baby Ken, Ajun memutuskan untuk kembali bekerja karena dia tahu jika Gia sangat membutuhkan dirinya.


Tuan Alfonso pun langsung berpamitan untuk kembali ke perusahaannya, karena tidak ada Gadis dan juga tidak ada Andrew yang membantunya.


Hal itu membuat dia harus turun tangan sendiri, untuk mengurusi perusahaannya. Karena untuk sementara waktu Gadis akan mengurusi Babynya, Andrew pun sedang bersenang-senang dalam masa bulan madunya.


Berbeda dengan Gadis, setelah kepergian dua lelaki yang dia cintai, dia langsung beristirahat. Karena tadi malam Baby Ken terus saja terbangun karena kehausan.


Hal itu membuat Gadis lelah dan merasa mengantuk, mumpung putranya tertidur pulas pikirnya, Gadis pun langsung beristirahat.


Tentunya sebelum dia tidur, dia pun berpesan kepada Leni agar segera membangunkannya jika putarannya terbangun.


"Iya Nyonya, nanti saya akan bangunkan." Begitulah jawaban dari Leni, kala Gadis berpesan kepadanya.


Di perusahaan milik keluarga Prandtja.


Elsa dan juga Baby Adelia sedang menemani Gia bekerja, hal itu dia lakukan karena Gia mengeluh Ajun belum tentu masuk kerja karena sedang mengurus kepulangan Baby mereka.


Elsa pun menurut, dia dan Baby Adelia benar-benar menemani Gia saat bekerja. Bahkan ketika Baby Adelia tertidur pulas, Elsa pun langsung membantu pekerjaan Gia.


Hal itu dua lakukan, karena dia sangat tahu jika pekerjaan suaminya itu sangatlah banyak. Apa lagi ketika Ajun tidak masuk, dia harus menghandle semua pekerjaan sendiri.


"Mas, semuanya sudah aku kerjakan." Elsa menghampiri Gia dan memberikan beberapa berkas yang sudah dikerjakan.


"Ada apa, Mas?" tanya Elsa.


"Terima kasih atas bantuannya," ucap Gia.


"Sama-sama, Sayang." Kembali Elsa mengecup bibir suaminya, dia terkekeh dengan kelakuan Elsa yang begitu manis terhadap dirinya.


"Jangan menggodaku terus, Sayang. Pekerjaanku lagi banyak, mending kamu duduk di sofa sembari lihatin Baby Adelia. Kalau kamu begini terus nanti yang ada aku akan memintamu untuk ber--"


Gia tak dapat melanjutkan ucapannya, karena Elsa sudah menautkan bibirnya ke bibir suaminya. Setelah merasa puas, Elsa pun melepas tautannya.


"Aku tidak menggodamu, Sayang. Aku hanya memberikan semangat untukmu, semangat ya!" kata Elsa, lalu dia bangun dari pangkuan Gia.


Dia baru saja hendak melangkahkan kakinya, namun dia sudah kembali duduk di pangkuan Gia.


Melihat kelakuan istrinya, Gia langsung menatap Elsa dengan tatapan bingung.


"Kenapa lagi?" tanya Gia.


Elsa terlihat bingung, dia terlihat ingin mengucapkan sesuatu namun terlihat ragu.


"Mas, mau bekerja. Duduklah dulu, nanti kita bicara lagi." Gia terlihat mengusap wajah Elsa dengan lembut.


"Nggak mau, Mas. Aku maunya bicara sekarang," kata Elsa.


"Memangnya kamu mau berbicara apa?" tanya Gia.

__ADS_1


"Begini, Mas. Aku ingin punya anak lagi, boleh ngga kalau aku nggak usah pakai alat kontrasepsi lagi?" tanya Elsa ragu-ragu.


"No, Sayang. Sudah aku bilang aku tidak tega melihat kamu kesakitan lagi, sudah cukup tiga putri cantik untuk kita," kata Gia.


Elsa terlihat sedih sekali, dia ingin mencoba peruntungannya. Siapa tahu jika dia hamil lagi dia akan mendapatkan seorang putra yang sangat tampan seperti putra Gadis dan juga Ajun.


"Jangan merajuk, Sayang. Jangan buat Mas merasa tidak tega sama kamu," ucap Gia.


"Pokoknya aku mau hamil lagi, kalau Mas enggak ngizinin aku buat hamil lagi, aku marah sama Mas. Aku mau pulang aja," kata Elsa.


Mendengar ucapan Elsa, Gia langsung terkekeh.


"Mau pulang ke mana kamu? Rumahku adalah rumahmu, lagian ibu juga tinggal sama kita. Kamu itu aneh," kata Gia.


Mendengar ucapan Gia, Elsa terlihat lebih marah lagi. Dia langsung bangun dari pangkuan Gia dan duduk di sofa, dia terlihat menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Bibirnya bahkan terlihat mengkerucut tajam, Gia pun akhirnya bangun dan menghampiri istrinya.


Dia duduk di samping Elsa dan merangkul pundak istrinya dengan penuh kasih, tak lupa sebuah kecupan hangat dia labuhkan di kening istrinya.


"Jangan marah, Mas hanya tidak ingin kamu kesakitan lagi," ucap Gia.


"Tapi aku mau hamil lagi, Mas. Aku mau hamil lagi pokonya, siapa tahu nanti anak kita laki-laki," keukeuh Elsa.


Gia terlihat menghela napasnya dengan berat, lalu dia menatap wajah Elsa dengan lekat.


"Bagaimana kalau nanti Kamu hamil lagi, lalu saat melahirkan tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan?" tanya Gia.


"Maksud Mas apa?" tanya Elsa tak mengerti.


"Bagaimana jika yang kamu lahirkan bukan seorang putra, tapi seorang putri lagi?" tanya Gia.


Mendengar pertanyaan dari Gia, Elsa pun langsung terdiam sejenak. Lalu beberapa detik kemudian Elsa menatap wajah Gia dengan lekat.


"Kita coba dulu, Mas. Siapa tahu nanti Tuhan memberikan keajaiban," ucap Elsa.


Mendengar ucapan istrinya, Gia pun tak bisa berkata apa pun lagi.


"Baiklah, terserah kamu saja. Mas menurut," ucapnya.


Elsa terlihat bahagia sekali, dia langsung mengecupi setiap inci wajah suaminya. Lalu Elsa memeluk suaminya dengan sangat erat.


"Terima kasih, Sayang," ucap Elsa.


Elsa lalu menautkan bibirnya ke bibir suaminya, dia memberikan ciuman yang begitu lembut. Dalam hati Gia hanya tersenyum, karena ini adalah bentuk rayuan dari Elsa menurutnya.


Saat mereka sedang asyik bertukar saliva, tiba-tiba saja pintu terbuka. Nampaklah Ajun datang dengan wajah tak enak hati.


"Maaf aku tidak tahu kalau kalian--"


Dia tak bisa melanjutkan ucapannya, dia hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Elsa dan Gia pun langsung melepaskan tautan bibirnya, Elsa terlihat malu-malu. Berbeda dengan Gia yang terlihat menatap wajah Ajun dengan tatapan kesal.


"Ini semua gara-gara kamu, kenapa kamu harus mempunyai Baby yang sangat tampan dan menggemaskan? Istriku jadi merajuk," ucapnya.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Gia langsung bangun dan kembali duduk di kursi kebesarannya. Ajun yang tidak paham hanya tersenyum kikuk, lalu dia pun duduk di kursi tempat biasa dia bekerja.


__ADS_2