
Pukul enam pagi seorang sopir suruhan Gia, datang menjemput Elsa, Bu Anira dan twins A. Mereka harus cepat datang ke hotel milik keluarga Pranadtja, di mana acara pernikahan dan resepsi di laksanakan.
"Selamat pagi, Nyonya. Saya di tugaskan oleh Tuan Gia, untuk menjemput Nyonya." Sopir itu membungkuk hormat pada Elsa.
"Iy, Pak. Kalau begitu, kita langsung jalan saja." Jawab Elsa.
Pak Sopir langsung membukakan pintu mobil untuk Elsa, Elsa pun segera masuk di ikuti oleh Bu Anira dan juga kedua putrinya.
Aurora dan Aurelia terlihat bersemangat, karena sebentar lagi mereka bisa mempunyai keluarga yanh utuh seperti teman-temannya.
Mereka tidak akan merasa iri lagi, saat melihat kebersamaan teman-temannya saat sedang berkumpul bersama Ayah mereka.
Sedangkan Elsa, dia terlihat sangat gugup. Walaupun rasa cinta belum muncul di hatinya untuk Gia, tapi entah kenapa hatinya merasa resah, gugup, canggung, takut, semua rasa bercampur aduk menjadi satu.
Bu Anira, yang melihat kegundahan di wajah putrinya, berusaha menenangkan dengan mengelus lembut punggung Elsa. Elsa pun langsung tersenyum.
Setelah melakukan perjalanan selama setengah jam, mereka pun sampai di hotel milik keluarga Pranadtja.
Elsa, Bu Anira dan kedua putrinya. Langsung di sambut oleh Ajun, yang sudah menunggu di loby hotel.
Ajun pun mengantarkan mereka, menuju ruangan khusus tempat Elsa akan di make-up dan berganti baju dengan gaun pengantin yang sangat indah yang memang sudah mereka persiapkan sebelumnya.
"Terim kasih, Tuan." Ajun langsung kaget, karena Elsa masih memanggilnya dengan sebutan Tuan.
"Jangan panggil saya, Tuan. Sekarang, kamu akan menjadi menjadi Nyonya Gianandra, jadi, panggil saya Ajun saja." Ajun sangat tak enak hati, dengan Elsa.
Beruntung, Gia berada di ruangan lainnya. Jadi, Gia tak mendengar dengan apa yang di katakan oleh Elsa. Jika Gia, mendengarnya, pasti Ajun akan mendapatkan teguran.
"Baiklah, Ajun. Nanti, kalau ada teman ku yang bernama Dina datang dari kota B. Tolong izinkan dia masuk untuk menemani ku, di dalam ruang ganti." Elsa berpesan, agar Dina bisa masuk dengan mudah.
Ajun langsung menganggukan kepalanya tanda mengerti, sesuai ucapan Gia, semua yang di ucapkan Elsa, harus di turuti.
"Ah, siap Nyonya." Ajun langsung membungkuk hormat, pada Elsa.
Setelah kepergian Ajun, baik Elsa, Bu Anira ataupun Aurora dan Aurelia. Mereka langsung di ajak ke ruang makan, mereka harus sarapan terlebih dahulu.
Karena acara yang akan mereka lalui, bukanlah acara yang sebentar. Sampai di ruang makan, semua makanan mewah sudah terhidang di atas meja makan.
Mereka pun langsung sarapan bersama, Aurora dan Aurelia terlihat sangat senang saat menikmati hidangannya. Berbeda dengan Elsa, yang terlihat enggan untuk menyantap makanannya.
__ADS_1
Bu Anira langsung mengelus pundak Elsa, dia tersenyum seakan memberikan kata semangat untuk putrinya.
"Semangat, Sayang. Melangkahlah tanpa ragu, Ibu yakin kalau Gia sudah berubah." Bu Anira mencoba untuk menyemangati putrinya.
"Iya, Bu." Walaupun malas, Elsa mulai mengendok makanannya.
Setelah selsai sarapan, mereka pun langsung di make-up oleh MUA, yang khusus Gia datangkan untuk mereka.
Pukul sembilan pagi, empat wanita cantik itu sudah terlihat makin cantik dengan balutan gaun indah dan make-up natural yang menghiasi wajah mereka.
Elsa memandang wajahnya dari pantulan cermin, dia tak menyangka jika hari ini, dia akan menikah dengan lelaki yang dulu dengan teganya mengambil paksa kesuciannya.
"Sa.... Gue kangen, gue belum telat kan?" Dina, tiba-tiba saja sudah berada di belakang Elsa.
Dina sangat ingin memeluk Elsa, tapi, melihat Elsa yang sudah cantik paripurna, dia takut akan merusak riasan Elsa.
"Udah nyampe?" Elsa mendongakan kepalanya, dia menatap wajah sahabat yang selalu dia rindukan.
Elsa begitu ingat, di saat dia terpuruk Dina' lah yang selalu memberikannya semangat.
"Iya, gua udah sampe. Elu cantik banget, gue pengen peluk. Tapi gue takut, kalau nanti bakal rusak riasan elu." Wajah Dina terlihat di tekuk, Elsa pun sama, rindu.
"Elu juga cantik, Na. Gue baru lihat elu pake kebaya modern kaya gini, cantik banget." Elsa memuji Dina yang memang terlihat cantik, karena biasanya dia selalu berpakaian tomboy.
"Aunty..." Pekik Aurora dan Aurelia bersamaan.
Aurora dan Aurelia Memangnya pernah bertemu langsung dengan Dina, Tapi mereka sering Video Call. Karena Elsa memang rutin, menghubungi Dina.
"Oh, sayang-sayangnya Aunty." Dina langsung merentangkan kedua tangannya, twins A pun langsung menghambur ke dalam pelukan Dina.
"Aunty cantik banget," puji Aurora.
Yang memang, baru pertama kalinya melihat Dina berpenampilan rapih dan terlihat cewek bangat.
"Biasanya, Aunty hanya pake kaos oblong sama celana jeans." Aurelia ikut menimpali.
Aurelia pun merasa pangling dengan cewek tomboy, sahabat karib Bunda'nya itu.
"Tentu saja Aunty harus cantik, karena acara ini sangat spesial." Dina melerai pelukannya, lalu mengecup kening twins A secara bergantian.
__ADS_1
"Kalian cantik banget, mirip banget sama Ayah kalian." Dina memperhatikan wajah kedua putri Elsa, dan benar-benar mirip Gia.
"Terima kasih, Aunty." Ucap Aurora dan Aurelia bersamaan.
Setelah melepas rindu bersama Elsa dan kedua putrinya, Dina pun langsung menghampiri Bu Anira.
"Bu, apa kabar?" tanya Dina.
"Baik, Na. Elsa sudah mau menikah, kamu kapan?" Bu Anira mengusap lembut punggung Dina.
Dina nampak cemberut, karena nasib percintaannya selalu saja tak beruntung. Dia sering kali di selingkuhi oleh pacarnya, mereka selalu beralasan jika Dina tak asik, tak mau di ajak pacaran bebas.
Padahal, Dina hanya ingin melindungi dirinya. Karena baginya, keperawanannya hanyalah untuk suaminya kelak.
"Entahlah, Bu. Mungkin nanti, hilal jodohnya belum kelihatan soalnya." Dina terkikik geli dengan apa yang dia ucapkan sendiri.
Dina berucap seperti itu, hanya untuk menghibur dirinya. Karena dalam soal cinta, dia selalu kurang beruntung.
"Kamu tuh," ucap Bu Anira.
Saat mereka sedang asik mengobrol, Ajun datang ke dalam ruangan tersebut.
"Ehm, Nyonya Elsa. Acara pernikahan anda akan segera di mulai, anda di minta untuk segera ke ballroom hotel." Ajun mengucapkan titah dari Gia.
Elsa langsung terlihat gugup, dia langsung merema* kedua tangannya.
"Iya, aku segera ke sana." Elsa langsung memandang Ibunya, seolah dia meminta kekuatan.
Bu Anira tersenyum, lalu menganggukan kepalanya. Bu Anira langsung berdiri di samping kanan Elsa, sedangkan Dina berdiri di samping kiri Elsa.
Elsa keluar dari ruangan tersebut dengan di apit Bu Anira dan Dina, sedangkan Aurora dan Aurelia, mereka terlihat mengiringi Elsa dari belakang Bundanya.
+
+
+
Selangkah lagi ya gengs, menuju pernikahan. Di tunggu bab selanjutnya, jangan bosan ya baca karya receh aku.
__ADS_1