Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Efek Obat


__ADS_3

Di saat yang lain sedang asik berkumpul di ruang keluarga, Gia malah sedang asyik chattingan bersama temannya yang berprofesi sebagai seorang Dokter.


Teman masa SMA yang masih sangat akrab hingga saat ini dengan Gia, Dokter Irawan lah namanya.


Dokter Irawan adalah Dokter playboy yang suka sekali berganti-ganti pasangan, bahkan di usianya yang sudah mencapai tiga puluh dua tahun, dia tak kunjung menikah.


Dia masih asik berkencan dengan banyak perempuan cantik, yang dengan suka rela menyerahkan dirinya pada buaya darat sepertinya. Tapi, Dokter irawan merupakan Dokter yang bisa dipercaya.


Gia tanpa ragu menceritakan masalahnya dengan Elsa, dari awal kejadian kelam yang telah dia perbuat terhadap Elsa, sampai dia menikah dengan Elsa.


Gia juga tanpa ragu menceritakan trauma yang Elsa alami karena ulahnya, Dokter Irawan pun dengan setia menjadi teman chatingan, Gia.


Pada akhirnya, Gia pun meminta solusinya pada Dokter Irawan. Tanpa Gia duga, Dokter Irawan menyarankan untuk memberikan Elsa obat perangsang dengan dosis yang sangat rendah.


Menurutnya hal itu bisa membuat Elsa dengan mudah tak merasa takut bila berdekatan dengan Gia, yang ada, Elsa akan merasa membutuhkan Gia.


Gia terdiam, dia menimbang-nimbang saran dari Dokter Irawan. Gia, takut jika itu akan membahayakan Elsa.


Tapi, dengan percaya dirinya, Dokter Irawan mengatakan jika itu tidak berbahaya sama sekali.


Akhirnya, Gia pun setuju. Dia akan mencobanya malam ini juga, beruntung Dokter Irawan bersedia mengantarkan obat perangsang itu.


"Mas!" panggil Elsa.


"Astaga!" Gia langsung memegangi dadanya karena kaget mendengar panggilan dari Elsa.


"Mas, nyebelin! Dari tadi aku panggil, tapi malah asik sama ponselnya." Elsa terlihat memandang Gia, sambil merengut.


Gia mengerjapkan matanya, sudah lama katanya, Gia jadi takut jika Elsa membaca pesan di ponselnya.


"Mas, kenapa diem?" tanya Elsa.


"Ngga apa-apa, kamu udah lama?" Gia langsung menghampiri Elsa dan merangkul pundaknya.


"Mas, mau apa?" tanya Elsa.


Padahal siang tadi, Elsa sudah menyerahkan diri pada singa lapar yang berada di sampingnya. Tapi, Elsa masih saja merasa gemeteran.


"Ngga mau apa-apa, Mas mau bikin teh anget. Kamu. mau?" tanya Gia.


Elsa merasa heran, karena Gia tak biasanya bersikap seprti itu.


"Mau ngga? Atau mungkin kamu mau susu?" Gia berucap sambil melihat ke arah dada Elsa yang terlihat menantang.

__ADS_1


"Ya ampun..." Pandangan Elsa mengikuti mata Gia," teh manis anget saja." Kata Elsa.


"Oke," kata Gia.


Gia langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar, tujuan utamanya bukan dapur. Tapi, Gia akan keluar rumah untuk menunggu teman me sumnya.


Saat Gia keluar, bertepatan dengan Dokter Irawan yang datang dengan menunggang motor sport miliknya. Tentunya dengan wanita cantik yang menempel, seperti ulat bulu di belakangnya.


Gia hanya menggelengkan kepalanya, melihat si Dokter me sum yang belum berniat untuk tobat itu.


"Mana?" tanya Gia.


"Nih," Dokter Irawan memberikan botol kecil berisi obat perangsang berdosis rendah pada Gia.


"Yakin aman?" tanya Gia.


"Gue Dokter, elu ngeraguin gue?" Sinis Dokter Irawan.


"Cuma nanya," ucap Gia.


"Ya udah, Gue cabut. Masih ada yang harus gue tuntasin." Dokter irawan berkata sambil mengedipkan matanya.


"Iueeww,, geli gue." Gia bergidig sambil berlalu meninggalkan Dokter Irawan.


Dokter Irawan langsung terkekeh mendengar ucapan Gia, setelah merasa tak dibutuhkan Dokter Irawan pun langsung pergi dari kediaman Pranadja.


Khusus untuk Elsa, dia memasukkan satu pil obat yang diberikan oleh Dokter Irawan. Dia pun tersenyum, lalu dia melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Saat masuk ke dalam kamar, dia melihat Elsa yang sedang duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya.


Gia, pun langsung duduk tepat di sampingnya sambil memberikan teh hangat untuk Elsa. Elsa pun dengan senang hati langsung menerima teh hangat yang dibuatkan oleh Gia.


"Terima kasih," ucap Elsa.


Elsa, langsung menyesap teh manis yang dibuatkan oleh Gia, ternyata rasanya pas di lidah Elsa. Elsa pun tersenyum manis pada Gia, dia tak menyangka jika Gia yang dulu arogan dan sangat menyebalakan, kini terlihat sangat manis.


"Di habiskan teh nya, biar badan kamu anget." Gia lalu mengambil teh miliknya, lalu meminumnya.


Elsa menurut, dia langsung menghabiskan teh hangat buatan Gia. Senyum manis pun langsung tersungging di wajah Gia, kini tugas Gia adalah menunggu reaksinya.


"Mas tidur duluan," Gia mengecup kening Elsa, dia membuka bajunya lalu merebahkan tubuhnya.


Sebenarnya, Gia tidak akan tidur. Dia hanya beralasan, karena ingin tahu reaksi dari obat yang diberikan oleh dokter Irawan.

__ADS_1


Sedangkan Elsa, masih asik duduk sambil chatingan dengan Dina. Dia masih asik membahas masalah VB, yang katanya baru selesai menelpon Dina.


Setengah jam kemudian, badan Elsa terasa panas. Dia merasa ingin sekali menyentuh suaminya yang sedang terbaring dengan hanya menggunakan celana tidur saja.


Otot-otot Gia, terlihat menggoda di mata Elsa. Bahkan, saat melihat dada bidang Gia, membuat Elsa ingin menyentuhnya dan memberikan usapan lembut di sana.


"Ya tuhan, aku kenapa? Kenapa rasanya aku ingin sekali melakukan itu? "


Elsa terlihat gelisah, bahkan dia merasa jika area intinya terasa berdenyut dan terasa.. Basah.


Elsa langsung menyimpan ponselnya, dia ikut merebahkan tubuhnya di samping Gia. Dengan perlahan, tangannya terulur dan mengusap dada Gia.


Elsa juga memandang wajah Gia dengan tatapan yang sudah berkabut,


Elsa merasa malu, untuk mengakui pada dirinya sendiri, jika dia sangat menginginkan sentuhan Gia. Dia pun berusaha untuk menahan hasratnya, tapi, lama-kelamaan hasratnya semakin besar.


Elsa pun mengenyampingkan rasa malunya, Elsa langsung naik ke atas tubuh Gia dan mengecup bibir Gia.


Jujur, dalam hatinya Gia sangat bersorak. Ternyata, obat dari Dokter Irawan memang sangat manjur. Gia pun membuka matanya, senyumnya langsung tersungging.


"Kamu kenapa, Sayang?" Gia pura-pura tak tahu, padahal, dia sudah ingin tertawa saat melihat Elsa yang terlihat sedang menahan hasratnya.


"Mas, aku mau itu." Elsa berbicara sambil mengusap dada bidang Gia.


Gia tersenyum geli melihat tingkah Elsa, jika biasanya Elsa terlihat kalem dan pendiam. Kali ini, Elsa terlihat seperti wanita nakal yang sedang menggoda pelanggannya.


"Mau apa? Mas ngga paham?" Gia sengaja mempermainkan istrinya.


"Mas!" pekik Elsa.


"Apa?" tanya Gia lagi.


Elsa yang merasa tidak tahan, tak berkata apa pun lagi. Dia langsung menautkan bibirnya, Gia terlihat sangat kaget. Tapi sedetik kemudian, Gia pun menikmati serangan dari Elsa.


Elsa bahkan langsung membuka semua kain yang menempel di tubuhnya dan melemparnya ke sembarang arah, Gia sampai kaget dibuatnya.


"Katanya dosis rendah, kenapa istriku begitu liar? Lalu, apa kabarnya dengan yang dosis tinggi?"


Gia hanya terdiam menikmati setiap sentuhan dari Elsa, bahkan saat Elsa membuka semua kain yang membalut tubuhnya, Gia hanya terdiam sambil memperhatikan apa yang di lakukan oleh istrinya.


Hingga saat Elsa menyatukan tubuh mereka, Gia pun langsung memejamkan matanya sambil menikmati sensasi kenikmatan yang baru saja dia terima.


Elsa benar-benar liar, hal itu membuat Gia senang. Gia suka, saat Elsa memanjakannya, Gia suka saat melihat Elsa yang sedang berusaha memuaskan dirinya.

__ADS_1


Tapi, ada rasa bersalah dalam dirinya. Karena Gia, jadi merasa jika Elsa bukanlah istrinya. Dia merasa malakukan penyatuan dengan wanita lain.


Yang membuat Gia makin merasa bersalah, Elsa seakan tak ada puasnya. Dia memimpin permainan hampir semalam suntuk, sudah dapat dipastikan jika Elsa pasti akan kelelahan.


__ADS_2