Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Belum sadar


__ADS_3

"Lalu, kapan aku bisa menemui istriku?" tanya Gia.


"Tunggu sampai kami memindahkannya ke ruang perawatan." Jelas Dokter, VB mengangguk.


Dokter langsung kembali ke dalam ruang operasi sedangkan VB menuntun Gia agar duduk di bangku tunggu, mereka harus sabar menanti Elsa dipindahkan agar bisa melihat wajah Elsa.


...****************...


Gia kini sedang duduk sambil menggenggam tangan Elsa dengan erat, air matanya terus mengalir di kedua pipinya. Dia merasa sangat sedih karena Elsa masih belum sadarkan diri, padahal ini sudah hari ketiga Elsa berada di sana.


Tuan Alson sudah sehat sejak dua hari yang lalu, dan langsung pulang ke ibu kota. VB dan Dina awalnya ingin menunggu Elsa sadar, akan tetapi Gia melarangnya.


Gia tahu jika mereka adalah pasangan pengantin baru, mereka pasti membutuhkan waktu untuk sering bersama menghabiskan waktu untuk bergumul di bawah selimut yang sama. Tak mungkin Gia tega membiarkan kemesraan mereka terganggu begitu saja.


Dia memang sedang membutuhkan dukungan dari banyak orang, tapi bukan berarti harus menganggu kemesraan antara VB dan Dina.


Ajun dan lucas pun sudah kembali, karena mereka harus mengurusi perusahaan tempat mereka bernaung. Hanya Gia dan Tuan Dirja yang masih berada di sana.


Awalnya, Gia ingin memindahkan istrinya ke Rumah Sakit yang ada di ibu kota. Akan tetapi, Dokter tak mengizinkan karena keadaan Elsa yang lemah dan belum stabil.


Dokter hanya takut, jika keadaan Elsa akan memburuk jika diajak melakukan perjalanan jauh. Apa lagi ke kota membutuhkan waktu sekitar tiga jam, Dokter juga menghawatirkan kandungan Elsa jika melakukan perjalanan jauh.


Sesekali Gia terlihat menciumi punggung tangan istrinya, lalu mengelus lembut perut istrinya. Tak lama, Gia terlihat mencondongkan wajahnya lalu dia berbisik tepat di telinganya Elsa.


"Cepet sehat sayang, kasihan Babby kita. Kamu boleh bobo, tapi jangan lama-lama. Aku kangen sayang, aku juga pengen nengokin Babby kita." Gia terkekeh dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


Dalam masa kehamilan Elsa yang sekarang, benar-benar merupakan buah cinta mereka. Tak seperti saat pertama Elsa mengandung, jika mengingat akan hal itu, Gia benar-benar ingin menebus kesalahannya di masa lalu.


Dia ingin menjadi suami siaga, yang selalu menjaga istrinya. Dia ingin menjadi suami siaga, yang menuruti semua keinginan Elsa saat ngidam. Banyak keinginan Gia, yang sangat ingin dia wujudkan.


Tuan Dirja yang sedari tadi duduk di sofa sambil memperhatikan putranya, merasa sangat iba. Dia menghampiri Gia dan menepuk pundak Gia dengan lembut.

__ADS_1


"Sabar, Nak. Dad yakin kalau Elsa adalah wanita kuat, dia pasti cepet sembuh." Tuan Dirja berusaha untuk menenangkan putranya.


Gia langsung memeluk tubuh Tuan Dirja lelaki yang selalu mendukung setiap langkahnya. Lelaki yang selalu memberikan ketenangan dikala sedihnya.


"Elsa, Dad. Dia kenapa ngga bangun-bangun? Apa dia udah ngga sayang lagi sama aku, Aurora dan Aurelia?" tanya Gia dengan bibirnya yang terus bergetar.


Dia serasa tak sanggup melihat istrinya yang tergolek lemah, dia merasa kesal jika mengingat tentang pamanya Elias.


Ternyata lelaki itu benar-benar jahat dan licik, padahal polisi sudah dikerahkan. Sayangnya lelaki itu begitu susah untuk ditemukan.


Hati Gia makin sedih tatkala kedua putrinya menelponya dan merengek ingin bertemu dengan Bundanya.


"Sabar, Nak. Dad yakin, jika Elsa sedang berjuang agar bisa membuka matanya dan berusaha untuk kembali bersama kalian lagi." Tuan Dirja tetap berusaha untuk menyemangati putra semata wayangnya.


"Yes, Dad. Aku percaya," kata Gia.


*/*


Dia takut jika kedua mertuanya memergoki mereka sedang melakukannya, bukankah itu adalah hal yang sangat memalukan. Kalau saja mereka tinggal di rumah sendiri, mungkin tak masalah.


Seperti malam ini, Dina yang merasa haus langsung melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia mengambil sebotol air dingin dari dalam lemari pendingin lalu duduk di meja makan.


"Minum air dingin kaya gini emang paling seger," Dina pun langsung meneguk air putihnya hingga habis setengah botol.


"Aku cariin kamu, Yang. Tahunya, kamu di sini." VB langsung memeluk Dina dan menciumi leher jenjang istrinya.


Dina sangat kaget, karena seingatnya dia meninggalkan VB dalam keadaan tidur.


"Aku cuma minum sebentar, Sayang." Tangan Dina menahan bibir VB yang susah untuk dikendalikan.


Bukannya berhenti, VB malah menangkap tangan Dina dan mengecupinya."Pengen, Yang. Di sini ya?"

__ADS_1


Dina langsung mengerjap tak percaya dengan apa yang diminta oleh suaminya, padahal tadi sore sebelum tidur mereka sudah melakukannya.


Bahkan saat ini saja, Dina hanya menggunakan kimono mandi untuk menutupi tubuhnya.


"Jangan, Yang. Nanti ada yang lihat," ucap Dina.


"Ngga bakal ada yang lihat, kita coba di sini ya? Kayaknya enak," kata VB.


VB langsung duduk, lalu meminta Dina untuk duduk di pangkuannya. Dina yang hanya memakai kimono mandi saja membuat VB semakin mudah dalam melakukan aksinya, VB hanya menurunkan piyama tidur bagian bawahnya lalu memasuki milik istrinya dari bawah.


Dina langsung memukul pundak VB karena kaget, Tak ada pemanasan, tak ada ciuman hangat. Yang ada tuh benda tumpul kebanggaan VB langsung masuk tanpa aba-aba.


"Sakit, Yang!" sentak Dina.


"Tapi enak, kamu pasti ketagihan." VB langsung menaik turunkan miliknya, menghujam milik istrinya dari bawah. Hal itu membuat Dina merasa kesal sekaligus nikmat dalam waktu bersamaan.


Dina sekuat tenaga menggigit bibir bawahnya, dia takut akan menimbulkan suara yang memancing datangnya penghuni rumah mewah kediaman Fahreza.


Otak Dina seakan sulit berpikir, di kala VB benar-benar mempercepat hentakannya. Rasanya Dina ingin menjerit kala VB menghujamnya dengan lebih cepat.


Beruntung tak ada satu pun manusia yang datang ke sana, kalau tidak Dina pasti akan sangat malu. Permainan yang menegangkan itu akhirnya berakhir di menit ke dua puluh lima, membuat Dina dan VB saling memeluk dengan milik VB yang masih menancap sempurna di dalam kelembutan milik istrinya.


"Enak, Yang?" bisik VB.


"Tapi, tegang, ini punya kamunya juga kebiasaan. Kalau belum dua kali masih tegang," keluh Dina dengan napas yang masih tersenggal.


VB tak menanggapi ucapan istrinya, dia langsung mencabut miliknya dan menggendong istrinya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.


Tentu saja tujuannya cuma satu, kembali mengajak istrinya untuk bermain. Kali ini, VB ingin mengajak Dina bermain di atas meja kerjanya.


Sungguh dia sangat suka berpantasi dengan pikiran mes.umnya, beruntung Dina tak banyak protes. Karena dia sangat sadar jika suami brondongnya memang sedang masanya seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2