Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Malam Kebersamaan


__ADS_3

Peluh bercucuran di dahi Elsa, apa lagi saat Gia membuka pintu kamar hotel. Rasanya, Elsa ingin berlari.


Tapi, di saat Elsa dalam ketakutan. Tiba-tiba saja, Elsa mendengar suara kedua malaikat kecilnya memanggil namanya.


"Bunda!" teriak Aurora dan Aurelia bersamaan.


''Hah?" Elsa tak bisa berkata apa-apa.


Elsa langsung terpaku, melihat kedua putrinya yang langsung memeluk pinggang Elsa. Elsa tak menyangka, jika di kamar pengantin' nya bersama Gia, kedua putrinya'pun ikut di sana.


"Bunda, kok diem aja?" tanya Aurora.


Dia merasa aneh, karena Bundanya hanya diam tanpa berkata apa pun.


"Bunda ngga seneng, kami ikut bobo di sini?" tanya Aurelia.


Aurelia menyapa Bundanya, dengan tatapan heran.


"Eh, Bunda seneng banget." Elsa menatap Gia, Gia langsung tersenyum lalu berbisik tepat di telinga Elsa.


"Aku ngga mau kamu pingsan di malam pergantian kita, jadi--"


"Terima kasih, Mas." Elsa langsung memotong ucapan Gia dan memeluk Gia dengan erat.


Elsa merasa sangat senang, karena Gia sangat pengertian. Awalnya, Elsa menyangka jika Gia akan memaksanya untuk melakukan hubungan suami istri.


Ternyata Elsa salah, yang ada, kedua putrinya pun ikut menikmati malam pengantin mereka. Elsa sangat bersyukur, karena Gia tak hanya mementingkan hak'nya sebagai suami.


Intinya, malam ini menjadi malam kebersamaan mereka. Bukan malam pertama, yang harus menjadi pergulatan panas antara kedua insan yang baru saja mengucapkan janji suci.


"Mau tetap berpelukan di depan pintu, atau mau mandi terus istirahat?" tanya Gia.


Sebenarnya, Gia sangat ingin segera menyatukan tubuh mereka. Apa lagi, saat mengingat Gia yang pernah melakukannya dengan Elsa.


Dalam keadaan terpaksa pun, Elsa terasa sangat nikmat. Apa lagi, jika melakukannya dengan suka rela, pikirnya. Pasti rasanya akan lebih nikmat lagi, Gia menanti akan saat itu.


Elsa, mau melakukannya dengan Gia secara suka rela. Tanpa di paksa, atau pun terpaksa.


"Mau masuk, madi terus istirahat. Cape," ucap Elsa.


Elsa langsung melerai pelukannya, kemudian dia pun menuntun kedua putrinya untuk masuk ke dalam kamar hotel.


Aurora dan Aurelia yang sudah memakai piyama lengkap, langsung merebahkan tubuh mereka di atas kasur super besar yang di siapkan untuk malam pertama kedua orang tuanya.


Sedangkan Elsa, duduk di depan meja rias. Dia harus membuka semua aksesori yang menempel di kepalanya. Barulah, dia bisa mandi dengan tenang.


"Mau di bantu?" tanya Gia yang langsung merengkuh pundak Elsa.

__ADS_1


Elsa langsung mendongakan kepalanya, dia bisa melihat wajah tampan Gia yang begitu dekat.


"Mau," jawab Elsa.


Tentu saja Elsa membutuhkan bantuan, kepala Elsa di pakaian aksesoris yang banyak. Elsa tak bisa membukanya sendirian.


Dengan perlahan, Gia pun membuka satu persatu aksesoris yang menempel di atas kepala Elsa.


Elsa hanya bisa diam memperhatikan tangan Gia, yang begitu cekatan menurunkan semua benda yang menempel di kepala Elsa.


Rambut panjang Elsa pun, sudah terurai dengan rapih. Karena Gia, sudah menyisir rambut Elsa sekalian.


"Sudah, apa ada lagi?" tanya Gia.


Elsa langsung tersenyum," gaunnya susah untuk di buka, bisa tolong bantu buka?"


Mereka saling tatap mata lewat pantulan cermin, Gia pun langsung menganggukan kepalanya.


"Boleh, tapi, di kamar mandi saja." Gia langsung berjalan ke kamar mandi, Elsa pun langsung menyusul.


Tentu saja alasannya karena ada kedua putrinya di sana.


Sampai di kamar mandi, Gia langsung membantu Elsa membuka Gaun pengantin yang begitu mewah dan rumit itu.


Saat gaunnya terbuka dengan sempurna, Gia sempat terdiam saat melihat Elsa yang hanya menggunakan celana pendek dan kemben putih yang hanya menutupi area pribadinya.


Dia langsung keluar dari kamar mandi, dia takut khilaf dan memperkosa Elsa untuk yang kedua kalinya.


Sedangkan Elsa hanya diam mematung, dia merasa aneh karena Gia tiba-tiba pergi begitu saja.


Melihat Gia, yang pergi meninggalkan dirinya. Elsa pun langsung membuka sisa kain yang menutupi tubuhnya, dia segera mandi menggunakan air hangat.


Rasa hangat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, terasa begitu menenangkan dan rasa lelah yang mendera pun terasa hilang terbawa air yang menerpa tubuhnya.


Lima belas menit kemudian, Elsa keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan kimono mandi. Rambutnya yang panjang, terbalut handuk kecil.


"Aku sudah bikinin sandwich, mau?" tanya Gia.


Gia terlihat membawa dua buah sandwich di piring, dia tahu jika Elsa pasti cape dan lelah. Dan yang pasti, Elsa juga pasti merasa lapar.


Dengan senang hati, Elsa pun langsung mengambil satu buah sandwich dan langsung duduk di atas sofa.


"Mas, putri kita ngga di tawarin?" tanya Elsa.


Elsa menyuapkan sandwich ke mulutnya dengan terburu-buru, dia merasa lapar dan lelah. Dia ingin segera tidur, tapi perutnya juga lapar.


"Mereka sudah tidur," Gia menunjuk kedua putrinya dengan dagunya.

__ADS_1


Elsa pun melihat ke arah kedua putrinya, benar saja. Mereka terlihat sudah tertidur dengan sangat pulas.


"Mereka pasti cape," ucap Elsa.


Wajah Elsa terlihat sendu, dia tahu jika kedua putrinya bahkan kurang tidur karena tak sabar untuk menanti hari pernikahannya dengan Gia.


"Aku juga, cape banget. Aku bahkan kurang tidur, karena terlalu memikirkan semuanya." Gia langsung duduk di samping Elsa, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Elsa.


"Berat ih!" Keluh Elsa.


Elsa mencoba mendorong kepala Gia. Tapi, Gia malah memeluk Elsa dengan erat.


"Mas!" kesal Elsa.


Gia langsung terkekeh, lalu mengecup bibir Elsa.


"Mas, ih! Nanti mereka bangun gimana?" Elsa sengaja mencari alasan, agar Gia tak melakukan hal yang tidak-tidak.


"Mereka Bobonya pules, Sayang. Setidaknya, walaupun kita ngga ngelakuin malam pertama kita dengan--"


"Mas, ih! Jangan ngomongin itu dulu, aku ngga mau pokoknya." Elsa nampak mencebik kesal.


"Iya, Sayang. Mas cuma minta cium, ngga lebih. Janji!" Gia langsung membentuk huruf V dengan kedua jari tangannya.


"Tapi, beneran ya, cuma cium?" tanya Elsa penuh curiga.


"Iya, Sayang. Kan kamu sendiri yang bilang, kalau sudah nikah, kamu bilang aku boleh cium kamu." Gia sengaja mengingatkan Elsa, yang terlihat tak mau walau hanya sekedar berciuman dengannya.


Elsa terlihat ragu, tapi, jika mengingat ada kedua putrinya di sana, tak mungkin bukan jika Gia akan melakukan hal yang lebih dari sekedar berciuman.


Dengan ragu, Elsa pun langsung menganggukkan kepalanya. Gia langsung tersenyum senang,


Gia pun mulai mendekatkan wajahnya, Elsa langsung terlihat menahan napas. Apa lagi saat Gia semakin mendekat, hingga deru napas Gia yang hangat mampu menerpa wajah Elsa.


Gia pun langsung memiringkan wajahnya, dia sudah bersiap untuk menautkan bibirnya.


"Ayah, Bunda, kalian lagi apa?" Tanya Aurora, yang ternyata sudah berada tepat di samping Gia.


"Ya ampun.. Untung belum nyampe." Gia langsung menjauhkan tubuhnya dari Elsa.


Elsa langsung bernapas lega, karena bisa terhindar dari singa lapar yang siap menerkam kapan saja.


"Kamu mau apa, Sayang?" tanya Elsa.


"Aku mau pipis, Ac'nya dingin banget." Keluh Aurora.


Aurora langsung pergi ke kamar mandi, sedangkan Gia langsung menghampiri Elsa kembali dan mengecup bibir Elsa beberapa kali.

__ADS_1


Elsa langsung melotot, seolah berkata 'Ada Aurorra, nanti ketahuan.' Tapi, Gia seolah tak perduli. Gia kembali mengecup bibir Elsa, Setelah mendengar pintu kamar mandi hendak di buka, barulah Gia berlari ke arah tempat tidur.


__ADS_2