Mr. Arogan Vs Kembar Genius

Mr. Arogan Vs Kembar Genius
Beneran Pengen


__ADS_3

Pukul tiga pagi, Gia terbangun dari tidurnya. Rasa dingin yang menyeruak, bertambah dingin dengan hujan yang gemericik. Membuat udara terasa semakin dingin, bahkan Gia merasa jika tubuhnya terasa hampir membeku.


Rasanya, tubuh Gia ingin mendapatkan kehangatan saat itu juga.


Gia yang mempunyai kebiasaan tidur tanpa menggunakan baju pun langsung mengambil bajunya, lalu dengan cepat memakainya.


Untuk sesaat, dia memandang wajah cantik wanita yang tertidur di sampingnya. Elsa terlihat begitu nyaman, tidur sambil memeluk guling.


"Ck, pengen banget aku tuh jadi gulingnya." Gia berdecak sambil memandangi wajah cantik istrinya.


Gia pun jadi menginginkan membenamkan miliknya pada kelembutan istrinya, dengan susah payah dia menahan hasratnya.


"Kalau saja kamu ngga punya trauma, mungkin kamu sudah aku suntik dari belakang." Gia memandang tubuh Elsa yang terlihat sangat menggoda.


Padahal, Elsa menggunakan piyama tidur panjang yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tapi di mata Gia, tetap saja Elsa terlihat begitu seksi.


Bahkan, milik Gia pun perlahan bangun dan sudah mulai berdiri dengan tegak. Hal itu membuat Gia berdecak sebal, harus apa coba kalau sudah begitu?


"Ya ampun,,, makin tegang." Gia bangun dan segera pergi ke dapur.


Dia butuh sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya, dia sudah berjanji untuk tak menyentuh istrinya sebelum Elsa benar-benar sembuh.


Lima belas menit kemudian, dia sudah kembali dengan membawa secangkir teh jahe di tangannya.


Gia pun duduk sambil memandang wajah cantik Elsa, rasanya semakin lama Elsa semakin menggoda. Bahkan teh jahe yang dia buat pun, tak dia nikmati sama sekali.


Gia pun menyimpan teh jahe yang dia buat, lalu menghampiri Elsa yang sedang tertidur dengan pulas. Dia duduk tepat di samping Elsa.


Gia menatap wajah damai Elsa, memperhatikan bibir Elsa yang sedikit terbuka. Membuat gairah Gia, makin memuncak.


"Kamu cantik banget, Yang. Duh... Bibir kamu seksi banget, jadi pengen cium. Cium dikit boleh ya?" tanya Gia dengan suara pelan.


Gia sudah seperti orang gila, padahal Elsa sedang tidur. Mana mungkin Elsa mendengar dengan apa yang diucapkan oleh Gia.


Gia segera mendekatkan wajahnya, lalu mengecup bibir Elsa sekilas. Tak ada pergerakan dari Elsa, mungkin karena dia tertidur dengan sangat pulas.


"Manis, Sayang. Manis banget, tau. Sekali lagi, ya?" tanya Gia pada Elsa yang masih dalam posisi yang sama.


Gia kembali mengecup Elsa, tapi kali ini. sedikit lebih lama. Membuat Elsa langsung menggeliatkan tubuhnya, kemudian Elsa mengusap bibirnya.

__ADS_1


"Ya ampun, Sayang. Kok di lap? itu tandanya kamu minta cium lagi, kamu mau aku cium lagi?" bisik Gia.


"Hum," jawab Elsa sambil memeluk perut Gia.


Gia langsung kegirangan, padahal Elsa hanya bergumam. Belum tentu juga dia mendengar apa yang diucapkan oleh Gia.


"Yes! jangan salahin aku ya, Sayang. Kamu yang bilang boleh," ucap Gia.


"Hum," lagi-lagi Elsa bergumam.


Elsa mengeratkan pelukannya, lalu menelusupkan wajahnya di perut Gia. Membuat wajahnya Elsa menyenggol milik Gia.


"Aduh, Yang. Kena dikit itu, tapi bikin ngilu." Melihat Elsa yang menelusupkan wajahnya, membuat Gia kesusahan untuk mencium Elsa.


Dengan perlahan, Gia membenarkan posisi Elsa. Hingga akhirnya, Elsa pun kini tidur dengan posisi telentang.


Gia langsung mengurung pergerakan istrinya, kini Gia pun sudah berada di atas Elsa.


"Boleh ya, Yang? Aku pengen banget ini, ngga masuk ngga apa-apa. Yang penting bisa cium," Gia kembali bernegosiasi dengan Elsa yang sedang tertidur.


Gia benar-benar sudah seperti orang gila, dia mengharapkan sesuatu yang terasa mustahil.


Elsa langsung menahan dada Gia, takut-takut Gia akan melakukan hal yang tak diinginkan.


"Ma-Mas mau apa?" tanya Elsa tergagap.


Gia langsung memamerkan deretan gigi putihnya, dia jadi serba salah karena ketahuan mau mencuri ciuman dari istrinya sendiri.


"Mas pengen banget, tapi kalau kamu ngga mau ngga apa-apa. Tapi, cium boleh ya?" tanya Gia dengan tatapan yang dibuat semenyedihkan mungkin.


Elsa pun menjadi kasihan dibuatnya, dengan ragu-ragu Elsa pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Jadi, boleh kan, Yang?" tanya Gia penuh harap.


"I--iya, boleh." Elsa menganggukan kepalanya berkali-kali.


Gia pun langsung tersenyum senang, dengan perlahan dia pun menautkan bibirnya dengan bibir Elsa. Begitu lembut dan dengan penuh perasaan.


Hal itu membuat Elsa yang awalnya terlihat gugup, malah menikmatinya. Bahkan tangan kanan Elsa mulai mengelus rahang suaminya, membuat Gia makin bersemangat.

__ADS_1


Gia merasa mendapatkan sinyal dari istrinya, kalau mereka sama-sama menginginkan hal yang sama. Sialnya, Elsa memang menginginkannya.


Ciuman yang Gia berikan, membuat milik Elsa berdenyut. Apa lagi saat tangan nakal Gia mulai menyentuh area sensitif istrinya.


Membuat Elsa makin menginginkannya, bahkan nyanyian indah pun sudah mulai terdengar dari bibir Elsa. Membuat Gia melupakan keinginan awalnya.


Gia melepaskan tautannya, kemudian Gia menatap wajah istrinya dengan wajah yang sudah diliputi kabut gairah.


"Mas pengen banget, boleh ngga? Nanti, Mas ngelakuinnya pelan aja. Beneran, ngga bohong." Rayu Gia.


Sumpah demi apa pun, Elsa pun menginginkannya. Bahkan kalau boleh jujur, milik Elsa sudah basah dan terasa berdenyut.


Dengan malu-malu, Elsa pun menganggukan kepalanya. Gia pun langsung berdecak senang. Dia langsung membuka semua kain penghalang di tubuhnya dan melemparnya ke sembarang arah.


Elsa langsung memejamkan matanya, saat melihat milik Gia yang sudah berdiri dengan tegak. Melihat arah tatapan Elsa, Gia langsung tersenyum.


"Ini punya kamu, kalau mau pegang boleh banget. Mau dielus boleh, apa lagi di jadiin lolipop. Mas, ikhlas banget." Gia meraih tangan kanan Elsa, lalu menuntunnya agar mau mengurut miliknya.


Sayangnya, saat tangan Elsa sudah hampir sampai, Elsa langsung mengibaskan tangannya.


"Kenapa?" tanya Gia dengan raut wajah penuh kecewa.


"Malu, ih." Elsa langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Gia pun terkekeh mendengar penuturan Elsa," ya udah. Kalau gitu, Mas, masukin aja. Boleh?"


Gia kembali bertanya untuk memastikan, takutnya Elsa akan berubah pikiran. tanpa Gia duga, Elsa langsung menganggukan kepalanya.


Dengan penuh semangat, Gia langsung membuka baju istrinya. Bahkan, yang janjinya akan pelan-pelan saja pun ternyata hanya omong kosong belaka.


Gia melakukannya dengan cepat, padahal baru tiga hari Gia tak melakukannya. Tapi, seolah tiga bulan tak merasakan kelembutan milik istrinya.


Elsa hanya bisa pasrah, karena mungkin ini saatnya, untuk Elsa berusaha untuk menghilangkan rasa traumanya. Lagi pula, Elsa menginginkannya.


+


+


+

__ADS_1


Selamat sore gengs, semoga Kaleyan sehat selalu. Jangan lupa tinggalkan jejak ya gengs..


__ADS_2