
Brak !
Terdengar pintu ruangan Aldino dibuka dengan sangat kasar, Aldino terlihat sangat kaget kala melihat Tuan John yang melakukan hal tersebut.
Aldino langsung berdiri dan membungkuk hormat kepadanya, melihat Aldino yang bersikap seperti itu, Tuan John langsung tersenyum sinis ambil menghampiri Aldino.
"Selama ini aku selalu berbaik hati kepadamu, aku mempercayakan perusahaanku kepadamu. Aku memintamu untuk mengajari istriku dalam berbisnis, bukan berselingkuh dengannya. Selama delapan tahun aku memberikan fasilitas terbaik untukmu, namun apa yang aku dapat darimu? Hanya sebuah penghianatan," kata Tuan John.
Mendengar ucapan Tuan John, tubuh Aldino terlihat bergetar. Dia sungguh takut saat melihat tatapan mata dari Tuan John.
Tatapan matanya begitu tajam, hal itu membuat Aldino bergidig ngeri.
Sikapnya terlihat santai, namun tatapan matanya terlihat seperti pedang tajam yang siap menghunus tubuhnya.
"Ma--maafkan saya, Tuan. Saya salah, saya mohon ampun. Saya mengaku salah," ucap Aldino mengiba.
"Saya tidak ingin mendengar kata maaf dari kamu, saya ingin kamu segera pergi dari perusahaan saya dan jangan pernah lagi kamu menginjakkan kaki di sini atau di mana pun perusahaan saya berada. Saya masih mengampuni kamu, saya tidak akan memenjarakan kamu. Jadi, segeralah benahi barang-barang kamu dan pergi dari sini sebelum saya berubah pikiran!"
Tuan John mengungkapkan semua kekesalan yang ada di dalam hatinya, namun dia terlihat tak tega saat hendakak memukul Aldino.
Karena walau bagaimanapun juga, Aldino sudah menjadi asisten kepercayaannya selama 8 tahun. Walau bagaimanapun juga, Aldino berperan penting dalam memajukan perusahaan Tuan John.
"Sa--saya dipecat?" tanya Aldino tak percaya
"Ya, saya memecat kamu dengan tidak hormat, jadi silahkan secepatnya meninggalkan perusahaan saya, sebelum saya melaporkan kamu ke kantor polisi."
Ucapan Tuan John terdengar sangat tegas dan juga jelas di telinga Aldino, dia terlihat sangat tak ingin dibantah oleh siapa pun juga.
Aldino sangat kaget mendengar ancaman dari Tuan John, dilihat dari sisi manapun Tuan John terlihat begitu marah kepadanya.
Namun dia bisa melihat jika Tuan John berusaha untuk menguasai emosinya, tanpa menunggu waktu lama Aldino pun langsung membenahi barang-barang miliknya.
Dia memasukkannya ke dalam kardus dan segera pergi dari sana, tentu saja dia takut dengan ancaman dari Tuan John, karena dia sangat tahu bagaimana sifat dari atasannya tersebut.
__ADS_1
Aldino langsung pulang menuju rumah Nyonya Mesti, saat tiba di sana Nyonya Mesti terlihat kaget. Karena belum juga setengah hari Aldino bekerja, tapi dia sudah pulang kembali ke rumahnya.
"Loh, kenapa kamu sudah pulang? Ini belum waktunya jam makan siang malah?" tanya Nyonya Mesti.
"Aku dipecat!' jawab Aldino.
Aldino terlihat menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, lalu dia memijat kepalanya yang terasa sangat sakit.
Bisa bekerja di perusahaan besar milik Tuan John merupakan impiannya, namun dipecat secara tidak hormat merupakan hal yang sangat memalukan bagi dirinya.
Namun hal itu pantas dia terima, karena kesalahan yang dia lakukan memanglah sangat fatal.
Beruntung Tuan John tidak melaporkan dirinya ke polisi, bahkan Tuan John begitu berbaik hati tidak melukai tubuh Aldino sedikitpun.
Padahal kalau dirinya yang berada di posisi Tuan John, sudah pasti dia akan menghajar habis-habisan lelaki yang berani menyentuh miliknya.
Mendengar ucapan putranya, Nyonya Mesti terlihat sangat syok. Bukankah bekerja di perusahaan tersebut adalah impiannya sejak dulu? Lalu kenapa dia bisa dipecat begitu saja? Padahal yang dia tahu, kinerja putranya sangatlah bagus.
"Kenapa bisa dipecat?" tanya Nyonya Mesti.
Mendengar nama wanita lain disebutkan, Nyonya Mesti pun bisa menyimpulkan jika wanita yang dia sebutkan adalah wanita yang menjadi pemicu keretakan rumah tangga antara putranya dengan menantunya.
Nyonya Mesti pun jadi paham, kenapa menantunya meminta cerai terhadap anaknya. Karena memang semua kesalahan berada pada putranya sendiri.
Nyonya Mesti langsung menghampiri putranya dan duduk tepat di samping Aldino, dia menatap wajah putranya dengan tatapan penuh kecewa.
"Jadi, ini alasannya yang membuat Melani menyerah menjadi istri kamu?" tanya Nyonya Mesti.
Mendengar pertanyaan dari Ibunya, Aldino langsung menegakkan tubuhnya dan menatap wajah Ibunya dengan intens.
"Apa maksud Mamah?" tanya Aldino.
"Melani berkata jika dia sudah tak sanggup lagi menjadi istri kamu, dia ingin meminta cerai dari kamu," ucap Nyonya Mesti.
__ADS_1
Duar !
Ucapan Nyonya Mesti terdengar seperti sambaran petir yang begitu menggelegar, tubuh Aldino terlihat langsung lemas.
Dia benar-benar tak menyangka jika yang dikatakan oleh istrinya adalah benar adanya, istrinya benar-benar merasa lelah terhadap dirinya karena kelakuan dirinya sendiri.
Melani berkata menyerah dan ingin sendiri benar-benar dari lubuk hatinya, padahal Aldino menyangka jika istrinya hanya sedang marah saja kepada dirinya.
Karena memang Aldino selalu pulang malam setiap harinya, begitu jarang dia meluangkan waktu untuk anak dan istrinya.
Dia berpikir jika ucapan Melani hanya kemarahan sementara saja, karena dia memang tak pernah melihat Melani yang benar-benar marah kepada dirinya.
Apa lagi lagi kemarin malam mereka sudah melakukan hubungan suami istri, Melani bahkan terlihat sangat agresif dan melayani dirinya dengan penuh cinta.
Aldino pun jadi bertanya-tanya dalam hatinya, mungkinkah itu persembahan terakhir dari istrinya sebelum dia menggugat cerai dirinya?
"Jangan bicara sembarangan Mah, apa benar Melani ingin menggugat cerai aku?" tanya Aldino.
Nyonya Mesti langsung menggelengkan kepalanya, sepertinya dia sadar dengan apa yang telah terjadi kepada putranya tersebut.
"Kamu telah mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh ayah kamu, Nak. Mamah kecewa, kamu tahu? Perempuan itu tidak hanya melulu mementingkan harta, tetapi kasih sayang yang tulus yang selalu mereka dambakan. Perhatian dan juga saling memahami satu sama lain, bukan mengenai seberapa banyak harta yang kamu berikan kepadanya."
Nyonya Mesti berkata dengan air matanya yang berurai, dia merasa sangat sedih sekali dengan kelakuan putranya tersebut. Dia bisa merasakan perasaan Melani saat ini, pasti hatinya sangat hancur.
Aldino benar-benar merasa tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh ibunya, dia pun jadi berpikir untuk segera menemui istrinya tersebut.
Dia ingin membicarakan masalah itu dengan baik-baik, siapa tahu Melani bisa mengurungkan niatnya untuk berpisah dengan dirinya.
"Aku akan menemui Melani, Mah. Aku ingin membicarakannya dengan Melani," kata Aldino.
Tanpa menunggu jawaban dari Ibunya, Aldino langsung bangun dan pergi meninggalkan Ibunya sendirian.
Dia ingin segera menemui istrinya, dia ingin segera berbicara dari hati ke hati dengan istrinya tersebut.
__ADS_1
Namun, baru saja dia membuka pintu rumahnya. Nyonya Mariene terlihat menunggu dirinya sambil berkacak pinggang.