
Pagi telah menjelang, Anita terlihat menggeliatkan tubuhnya. Dia mengusap matanya yang terasa masih berat, dia masih enggan untuk bangun.
Namun dia merasa jika kakinya seperti tertimpa sesuatu, terasa berat tapi hangat dan membuat dia merasa nyaman.
Dia juga merasa jika dadanya terasa sesak, seperti ada yang memeluk namun terlalu erat.
Anita pun memaksakan matanya agar terbuka, saat matanya terbuka dengan sempurna, Anita nampak kaget karena Dokter Irawan memeluk dirinya dengan erat dari belakang.
Dia sudah seperti guling hidup yang dipeluk karena mampu menghangatkan dan mampu membuat dokter Irawan merasa sangat nyaman.
Selimut yang tadi malam mereka pakai, sudah teronggok di lantai. Sepertinya saat Anita tidur, dia membuang selimutnya. Karena dia memang tidak nyaman jika memakai selimut saat tidur.
"Pantas saja berat dan sesak, tubuh pak dokter yang besar itu memelukku seperti guling saja," ucap Anita lirih.
Sebenarnya Anita ingin sekali membangunkan dokter Irawan, dia ingin segera mandi karena saat hendak tidur dia bahkan tak sempat cuci muka dan menggosok giginya.
Namun dia merasa tak tega saat melihat wajah dokter Irawan yang begitu damai saat tidurnya, perlahan-lahan Anita pun mengangkat tangan dokter Irawan.
Setelah itu, dia pun mengangkat kaki dokter Irawan dengan pelan. Setelah merasa berhasil, dia pun lalu menggeserkan tubuhnya dengan perlahan dan turun dari ranjang.
Dia bahkan berjalan ke kamar mandi dengan mengendap-endap, supaya dokter Irawan tak terbangun karena ulahnya.
Tiba di dalam kamar mandi, Anita langsung mengguyur tubuhnya dengan air hangat. sepuluh menit kemudian, dia pun telah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan kimono mandi saja.
Dia terlihat memperhatikan dokter Irawan yang masih tertidur di atas ranjang, kemudian dia segera membuka koper miliknya dan mencari baju santai untuk dia pakai.
Tentu saja pakaian yang dia pilih tidak jauh dari celana jeans dan kaos panjang, karena dengan memakai baju santai seperti itu dia merasa nyaman.
Selesai memakai baju, Anita pun melirik jam yang ada di kamar hotel tersebut. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, dia pun lalu menghampiri dokter Irawan yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Pak Dokter, bangun." Anita mengusap lembut wajah tampan suaminya.
Mendapatkan sentuhan dari istrinya, dokter Irawan langsung menarik tangan Anita. Alhasil tubuh mungil Anita langsung terjatuh di atas tubuh dokter Irawan.
"Astaga! Apa yang kamu lakukan?" tanya Anita.
Dokter Irawan tak menjawab, dia malah memeluk Anita dengan erat. Lalu, dia mengecup keningnya dengan lembut.
"Selamat pagi, my wife," ucapnya lembut.
Mendengar sapaan lembut dari suaminya, membuat Anita tersipu. Dia pun langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
__ADS_1
Melihat kelakuan Anita, dokter Irawan hanya bisa terkekeh. Beginilah pikirnya, memperistri seorang bocah.
"Kamu wangi banget," kata Dokter Irawan.
Dia terlihat mengendus aroma sampo yang menguar dari rambut istrinya, lalu dia mengecup puncak kepala istrinya.
"Jangan cari-cari kesempatan deh!" ucap Anita seraya mencubit perut Dokter Irawan.
"Harus, dong. Biar kamu cepet jatuh cinta sama aku, biar belalai aku bisa cepet masuk ke sarangnya," goda Dokter Irawan.
"Dasar Dokter tua, messum!" kata Anita.
Mendengar perkataan istrinya, dokter Irawan tertawa. Lalu, dia pun membalikkan tubuhnya dan menggungkung tubuh istrinya.
"Coba katakan sekali lagi!" kata Dokter Irawan.
Anita tak berani berkata apa pun, dia hanya terdiam sambil memperhatikan wajah bantal suaminya.
'Memang beda kalau orang ganteng, bangun tidur saja wajahnya tetap tampan.' Anita berkata dalam hati.
Cup!
Satu kecupan dokter Irawan daratkan di bibir Anita, mata Anita langsung membulat karena kaget, berbeda dengan dokter Irawan yang malah tertawa.
Tanpa banyak bicara lagi, dokter Irawan langsung menautkan bibirnya ke bibir istrinya. Awalnya Anita terlihat memberontak, namun dokter Irawan langsung mengunci pergerakan tangan istrinya.
Hal itu membuat Anita pasrah, dia membiarkan suaminya untuk menikmati manisnya madu dari bibirnya.
Cukup lama bibir mereka saling bertautan, higga ketukan pintu kamar hotel menghentikan kegiatan mereka.
"Manis," kata Dokter Irawan. "Aku mandi dulu, kamu tolong bukain pintunya. Mungkin itu Mommy," kata Dokter Irawan.
Dokter Irawan segera turun dari tubuh istrinya dan segera melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi dengan terburu-buru, karena belalai miliknya sudah mulai bangun karena tautan bibir yang mereka lakukan.
"Sial! Hanya dengan mencium bibirnya saja belelai gue jadi bangun, kenapa dia manis sekali?" gerutu Dokter Irawan.
Dokter Irawan segera membuka piyama tidurnya dan langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Berbeda dengan Anita yang nampak turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu kamarnya.
"Mom," sapa Anita.
__ADS_1
Benar kata dokter Irawan, ternyata yang datang adalah mom Clara.
"Pagi, Sayang. Apa tidurnya nyenyak?" goda Mom Clara.
"Yes, Mom." Anita salah tingkah.
Melihat tingkah Anita, mom Clara langsung tersenyum apa lagi saat melihat bibir Anita yang terlihat sedikit bengkak, dia jadi ingin menggoda menantunya tersebut.
"Ehm, Sayang. Bibir kamu kenapa bengkak seperti itu, apa di kamar kamu ada lebah?" tanya Mom Clara
Anita langsung mengusap bibirnya yang terasa kebas.
'Ini gara-gara dokter messum itu, bibirku jadi kebas dan bengkak. Awas saja nanti,' keluhnya dalam hati.
"Ehm, Sayang. Kenapa malah melamun?" tanya Mom Clara.
"Mom, jangan menggodanya!" kata Dokter Irawan yang ternyata sudah berada di belakang Anita.
Dokter Irawan langsung melingkarkan tangannya di perut Anita, lalu dia menyandarkan dagunya di pundak Anita.
Sebenarnya Anita merasa risih, namun dia merasa tak enak hati pada mertuanya jika dia menolak pelukan dari suaminya itu.
"Baiklah, Mom paham. Segera turun, kami tunggu kalian di Resto hotel." Mom Clara mengusap lembut lengan Anita.
"Iya, Mom," jawab Anita.
Setelah mendapatkan jawaban dari menantunya, Mom Clara langsung pergi dari sana. Dia ingin segera pergi ke Resto untu sarapan, karena yang lainnya sudah menunggu.
Setelah kepergian mertuanya, Anita berusaha untuk melepaskan pelukan dokter Irawan. Sayangnya dokter Irawan malam memeluknya dengan erat.
"Pak Dokter, tolong lepaskan pelukannya. Nanti kita terlambat untuk sarapan," kata Anita.
"Baiklah, tapi cium dulu," pinta Dokter Irawan.
"Cih! Kesempatan," umpat Anita.
"Mau tidak? Kalau tida mau, berarti kamu meminta aku untuk mengurung kamu seharian di dalam kamar." Dokter Irawan nampak mengerling nakal.
"Astaga!" keluh Anita.
Walaupun kesal, Anita menurut. Dia langsung memonyongkan bibirnya ke arah pipi dokter Irawan, debgan sengaja dokter Irawan langsung menolehkan wajahnya ke arah Anita.
__ADS_1
Sontak hal itu membuat bibir mereka langsung bertemu, Anita langsung melotot tak percaya dengan apa yang terjadi.