
Hari Minggu tak lantas membuat Mayang ingin menghabiskan waktu dengan bersantai di rumah saja. Gadis cantik itu tetap pergi ke kebun untuk membantu ayahnya. Kebetulan, hari ini para petani sedang memanen mangga, dan ia tak ingin melewatkan kesempatan ini begitu saja.
Meski tinggal di kampung, akan tetapi keluarga Mayang cukup terpandang di sana. Dengan memiliki kebun luas yang ditanami berbagai pohon buah-buahan, maka bisa dipastikan kehidupan mereka kian berkecukupan. Terlepas dari hal itu, Mayang tak lantas menjadi gadis manja yang hanya bisa mengandalkan harta orang tuanya. Sebagai putri sulung, ia selalu menanamkan sifat mandiri dalam dirinya. Ia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk bisa menjadi kebanggaan orang tuanya.
Sore sudah menjelang. Kini waktunya Mayang bersiap-siap untuk pulang. Usai memarkirkan motor, gadis yang mengenakan celana jeans berpadu kemeja lengan panjang itu melangkah menuju teras.
Mayang mengurungkan niatnya yang hendak masuk ketika melihat sang ibu tengah berdiri di teras dengan wajah gelisah. Ia buru-buru menghampiri untuk menanyakan apa yang terjadi.
“Adik kamu belum pulang dari pagi tadi,” kata Asmia sambil memasang mimik sedih.
“Memang tadi pamitnya ke mana, Bu?” tanya Mayang dengan wajah heran. Sebab, sejauh yang ia tahu, Weni tak pernah pulang hingga petang seperti ini. Mayang sendiri sebelumnya menetap di luar kota untuk kepentingan kuliah. Barulah ia menetap di kampung halaman setelah lulus beberapa bulan lalu.
“Tadi bilangnya mau ngerjain tugas bareng teman,” jawab Ibu. Wanita paruh baya itu meraih lengan putrinya lalu mengguncang dengan wajah memohon. “May, cari adikmu dulu, ya. Kok Ibu jadi khawatir.”
“Bu, tenang dulu, ya. Mayang pasti bakal cari Weni sampai ketemu,” ucap Mayang untuk menenangkan. Dibelainya tangan sang ibu dengan lembut.
__ADS_1
Mayang kembali mengeluarkan motor dan mulai menyusuri jalan raya. Sesungguhnya ia masih bingung hendak mencari adiknya ke mana. Sambil mengendarai motor, ia merogoh ponsel dari dalam tas dan mulai menghubungi nomor Weni. Panggilan tersambung. Namun, adiknya itu tak kunjung mengangkatnya.
Kesal, Mayang kembali menghubungi hingga akhirnya telepon diangkat.
“Kamu di mana?” tanya Mayang dengan intonasi tinggi.
“Di tempat teman,” jawab Weni singkat dari seberang sana.
“Teman siapa?”
“Ya teman, lah!” balas Weni pula dengan nada tinggi. Mayang mulai menangkap hal aneh pada adiknya. Gadis itu terkesan tak mau dicampuri urusannya.
Kebetulan sekali, tempat yang di sebutkan Weni sudah dekat dari jangkauan Mayang. Hingga gadis itu memutuskan mempercepat laju motor demi segera sampai di sana.
Usai memarkirkan motor dan melepas helm, gadis itu bergegas memasuki kafe dan berdiri di depan pintu dengan pandangan memindai ke seluruh ruangan. Dari tempatnya, ia bisa melihat Weni tengah duduk di sebuah sofa bersama teman-temannya.
__ADS_1
Weni yang tak menyadari kehadiran Mayang tampak asyik bercanda dengan temannya. Tak langsung menghampiri, Mayang memilih diam di tempat sembari memperhatikan dari jauh demi ingin melihat tingkah laku adiknya di luaran seperti apa.
Awalnya semua berjalan normal saja. Pemuda-pemudi yang terdiri dari tiga pasang itu bergurau biasa dan tertawa-tawa. Namun, lama-kelamaan pemuda yang duduk tepat di sebelah Weni bergerak begitu lancang menyambar pipi adiknya tanpa peringatan. Dan yang kian membuatnya kesal, Weni justru senyam-senyum tanpa melakukan perlawanan.
Geram, Mayang akhirnya mendekati mereka dengan kedua tangan terkepal kuat.
“Weni,” panggilnya setelah dekat.
Semua pasang mata enam orang itu langsung tertuju pada Mayang. Weni yang terkejut sontak berdiri dengan bola mata melebar. Ia benar-benar tak menyangka jika kakaknya akan tiba secepat ini.
“Kakak?” lirihnya.
“Ayo pulang.”
“Tapi–“ Weni menggantung ucapannya sembari menatap temannya satu per satu.
__ADS_1
“Pulang!” tegas Mayang. Tanpa segan, ia meraih tangan Weni sebelum kemudian menarik gadis itu keluar. Berada dalam paksaan kakaknya membuat Weni malu bukan kepalang. Ia menyempatkan diri menoleh pada teman-temannya yang tengah terbengong-bengong dengan mimik penuh sesal.