
Setelah mendapat telepon dari Nyonya besar, Mayang segera bersiap. Mobil yang menjemput pun sudah sampai di rumah Brian. Tak perlu menunggu lama, gadis itu pun segera masuk setelah sopir membukakan pintu dan mempersilakan masuk.
Mayang tak pernah berfikir macam-macam tentang nyonya, meski belakangan ini beliau sering sekali mengundangnya, bahkan menjemput Mayang untuk berkunjung kerumah nya.
Gadis berambut panjang itu juga sama sekali tak merasa keberatan, sebab ia menjalani nya dengan suka cita. Mayang benar-benar merasa senang berada di lingkungan keluarga itu, sebab mereka adalah orang yang baik.
Meski pun mereka berasal dari kalangan orang yang berada, namun mereka tak pernah membeda-bedakan status dalam pergaulan. Mayang merasa di perlakukan dengan sangat baik hingga membuat nya sedikitpun tak ingin mengecewakan keluarga ini.
Setelah menempuh beberapa lama dalam perjalanan, mobil yang membawanya sudah sampai di kediaman keluarga Malik. Mayang segera turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah itu. Rumah terlihat sepi dan lengang dan Hlhanya terlihat beberapa penjaga yang sedang melakukan tugas nya. Namun Mayang tahu harus mencari para penghuni rumah itu dimana.
Dengan senang hati Mayang mengayunkan langkah nya berjalan menuju ke arah taman belakang, di mana ruang kerja Ratih beserta anak buah nya berada tak jauh dari taman belakang. Ratih sengaja mendesain ruang kerja nya senyaman mungkin agar mereka betah bekerja walau hanya di rumah saja.
Ratih sengaja memilih ruangan yang dekat dengan taman. Lembaran-lembaran kaca bening memang sengaja di gunakan sebagai dinding agar warna-warni bunga yang indah bisa terlihat jelas meski sedang bekerja di dalam ruangan.
Ide membuat kantor di rumah ini tercetus setelah Ratih mulai sakit-sakitan beberapa tahun yang lalu. Suami nya lah pencetus ide itu untuk membatasi Ratih keluar rumah.
Sebab meskipun belum sembuh benar dari sakit, wanita pekeeja keras itu tetap ingin beraktifitas seperti biasa. Ia merasa tak nyaman jika harus duduk diam di rumah. Dengan begini, Ratih tetap bisa bekerja memantau dan mengelola semua usaha nya dari rumah. Walau kadang ia juga harus meninjau dan mengurus nya ke lokasi secara langsung, namun kegiatan itu ia lakukan tak sesering dulu.
Berdiri di ambang pintu, Mayang mengetuk pintu itu lantas mengucapkan salam. Tampak Ratih dan Bella yang tengah asik membaca lembaran kertas di meja kerja secara bersamaan menoleh ke arah sumber suara dan menjawab salam secara bersamaan.
Sedikit canggung, Mayang melangkah pelan memasuki ruangan. "Selamat pagi nyonya, pagi Bella ...." Sapa nya lagi sambil mendekat dan berdiri di antara kedua wanita itu.
"Pagi juga May," Bella tersenyum dan menatap Mayang sekilas sebelum pandangan nya kembali terarah pada kertas di hadapannya.
"Kau sudah datang ternyata," Ratih melangkah mendekati gadis dengan dres merah selutut berlengan panjang itu dengan tersenyum hangat. "Sudah siap memulai pekerjaan mu hari ini?"
Tersenyum yakin, gadis yang tengah menunjukkan lesung pipinya itu pun menjawab tegas. "Siap nyonya?"
"Bagus. Karena sekarang bekerja untukku, kau tidak keberatan kan untuk tinggal disini?"
Deg.
Mayang tampak terkejut mendengar pertanyaan sang nyonya besar yang tidak ia duga sebelumnya. Bagaimanapun juga, sejak awal keberadaannya di sana di bawah pengawasan Brian. Dan segala sesuatu yang terjadi kepadanya hanya atas izin sang tuan muda. Ada sedikit kebimbangan saat ia dihadapkan pada keputusan semacam ini. Terlebih ia belum mendapatkan izin secara langsung dari tuan muda.
Perubahan airmuka Mayang rupanya ditangkap oleh penglihatan Ratih. "Mayang," Ratih menjentikkan jarinya di depan wajah gadis yang tampak sedang melamun itu.
"I-iya Nyonya?" Mayang tergagap seketika.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Kau tidak senang tinggal di sini?"
"Oh tidak nyonya," Mayang menjawab cepat. "Saya malah suka sekali tinggal disini sebab saya memiliki banyak teman. Tapi,--" Mayang menggantung ucapannya. Ia menggigit bibir bawahnya dengan wajah penuh kecemasan.
"Tapi apa?" Ratih bertanya penasaran.
"Apa Tuan Muda mengizinkan saya tinggal di sini? Saya tidak berani meminta izin pada beliau. Maafkan saya," Mayang tertunduk dengan rasa bersalah.
"Ah itu soal gampang." Jawab wanita paruh baya itu mantap dengan tersenyum lebar.
"Benarkah Nyonya?" Gadis yang membiarkan rambut panjangnya tergerai itu berusaha meyakinkan.
"Iya. Kau tenang saja," sambil tersenyum Ratih memainkan alisnya naik turun.
"Tapi nyonya, apa saya boleh minta penjelasan mengenai detail pekerjaan saya itu seperti apa. Eh maksud saya apa saja?" Mayang sepertinya sangat penasaran. Ia merasa perlu tau alasan sang nyonya. Benar-benar memperkerjakan nya atau kah karena sebuah alasan tertentu.
"Pekerjaan utama mu adalah membantu pekerjaan Bella sebagai asisten ku. Aku tidak bisa memberi penjelasan yang mendetail, sebab jadwal nya bisa berubah sewaktu-waktu. Jadi kamu harus stay di sini. Tapi tugas utama kamu adalah mengingatkan ku agar aku minum obat tepat waktu. Kau tau, terlalu sibuk aku selalu lupa untuk minum obat tepat waktu." Ratih menjelaskan panjang lebar.
Seketika gadis itu mengerutkan kening. "Jadi nyonya sedang sakit? Nyonya sakit apa?" tanya gadis itu dengan nada penasaran, bahkan setengah tak percaya. Ia sana sekali tak menyangka kalau nyonya yang tampak awet muda ini mempunyai penyakit bahkan membutuhkan seseorang untuk sekedar mengingatkannya minum obat.
"Tidak, aku tidak sedang sakit." Bantah Ratih dengan cepat. "Itu hanya vitamin yang wajib aku minum tepat waktu untuk menjaga daya tahan tubuhku supaya aku selalu bugar." jelasnya seraya mengelus pundak Mayang agar gadis itu tak terlalu khawatir.
"Oh maaf nyonya, saya sempat berpikir kalau anda sakit parah." Mayang tersenyum kecut.
__ADS_1
"Tak perlu minta maaf." Sergah Ratih sambil tersenyum. "Dan di luar tugas itu, kau boleh melakukan apa yang kau mau. Ayo ikut aku Mayang," Ratih melangkah mendahului Mayang dan atas instruksi nya,Mayang mengikuti Ratih di belakang nya."Ada yang ingin ku tunjukkan pada mu."
Kedua nya berjalan menuju sebuah ruangan yang belum pernah Mayang masuki.Ratih membuka pintu nya,dan makhluk imut yang berada di dalam langsung bereaksi saat sang majikan datang mengunjungi nya.
"Hai manis ,,,." Ratih meraih dan menggendong hewan berbulu itu. Kucing anggora berbulu tebal berwarna putih itu tampak senang dan bermanja-manja saat Ratih menggendong nya.
Mayang menekuk lutut nya saat seekor kucing kecil tampak berlari datang padanya. Gadis itu meraih kucing kecil itu dan membelai bulunya dengan lembut.
"Apa kau suka dengan kucing Mayang?" Tanya Ratih seraya memasukkan kucing yang ia gendong tadi ke dalam kandangnya.
"Saya suka nyonya." Mayang menjawab saja meski belum tahu Nyonya akan memberinya tugas apa.
"Kalau begitu bantu merawat mereka juga ya, Dokter melarang ku terlalu banyak berinteraksi dengan hewan yang berbulu ...."
"Baik Nyonya, dengan senang hati." Mayang menjawab dengan suka cita. Baginya ini bukan lah tugas berat. Sebab dia sendiri memang suka dengan kucing.
Keduanya pun kembali ke kantor mini milik Ratih itu. Sembari berjalan mereka pun masih mengobrol yang intinya membicarakan pekerjaan Mayang. Nyonya memang pintar sekali mencairkan suasana, hingga membuat Mayang sangat mengaguminya meski mereka baru beberapa kali bertemu.
Eh ada orang, siapa ya? Mayang bertanya-tanya dalam hati saat mendengar suara seseorang tengah berbicara di ruang kerja. Mayang faham betul suara itu bukanlah milik Bella.
"Tante ...!" Seorang gadis berhambur memeluk Ratih saat keduanya melangkah memasuki ruang kerja itu.
Meski sempat terkejut karena mendapat pelukan secara mendadak, namun Ratih membalas pelukan gadis itu dengan hangat. "Sella," panggilnya pada gadis itu dengan ramah.
"Aku kangen sama Tante," ucap gadis yang mengenakan blus berwarna toska itu manja sambil melepaskan pelukannya.
Tak menjawab dengan kata-kata, Ratih memilih menyunggingkan senyum sebagai reaksi senangnya. Gadis yang mewarnai rambutnya pirang itu melirik sekilas pada Mayang.
Seolah merasa tak nyaman melihat kedekatan Mayang bersama Ratih, dengan sengaja Sella mendorong tubuh Mayang dengan lengannya membuat gadis itu terhuyung mundur beberapa langkah.
Menyeringai licik, Sella lantas mengambil alih posisi Mayang sebelumnya dan melingkarkan tangannya di lengan Ratih. "Aku main kesini beneran lho tante, nggak apa-apa kan?" Tanyanya saat keduanya melangkah masuk bersamaan.
"Lumayan si tante, aku udah sempet ngobrol sama Bella juga tadi." Jawab gadis itu sambil melemparkan pandangan sekilas ke arah Bella untuk pembuktian lantas kembali menatap Ratih yang sudah duduk di kursi kerjanya. "Em Tante, aku boleh kan seharian ini main disini?" Tanya gadis itu dengan manja.
"Boleh." Jawab Ratih dengan senyuman khasnya.
Mayang memperhatikan mereka secara diam-diam. Hubungan keduanya terlihat dekat satu sama lain. Hal itu membuatnya bertanya-tanya, sebenarnya apa hubungan gadis yang pernah ia jumpai di butik nyonya waktu itu dengan keluarga ini. Meskipun Nyonya tampak santai menanggapi gadus itu, namun silap manja yang terkesan di buat-buat itu membuat Mayang benar-benar ingin muntah saja.
Denan santai Mayang melangkah mendekati Bella yang tengah duduk di meja kerja nya. Menyadari kehadiran Mayang, gadis itu menyodorkan kue yang tersaji di meja sebagai cemilan. Meski kue itu terlihat sangat lezat, namun Mayang menolak dengan halus sebab ia sedang tak begitu berselera.
Diperhatikannya Bella yang tengah asik dengan laptop nya dan memilih mengabaikan gadis penjilat yang tengah melakukan aksi nya pada nyonya. Namun hanya diam saja tanpa berbuat sesuatu benar-benar membuat Mayang merasa tidak nyaman.
"Ada yang bisa ku bantu Bell?" Pada akhirnya Mayang mencoba menawarkan diri.
"Boleh," Bella tersenyum senang lalu mengambil sebuah kertas. "Bisa mengcopy ini enggak?" Gadis yang mengikat rambutnya seperti ekor kuda itu menyodorkan sebuah kertas pada Mayang. "Mesin nya disitu." Tunjuknya pada mesin fotocopy yang terletak di sudut ruangan yang di ikuti tatapan Mayang kearah yang Bella tunjuk.
"Ajarin dulu dong, aku takut salah." Ucap Mayang jujur, sebab dia belum memiliki pengalaman bekerja di kantoran.
"Oke." Bella bangkit dan berjalan menuju mesin fotocopy itu di ikuti oleh Mayang.
"Niatnya mau bantuin,eh malah nyusahin kamu."Keluh Mayang karena merasa tak enak hati.
"Enggak apa-apa kali,, kalau ada yang belum ngerti mending di tanyakan saja biar lebih jelas."Bella menunjukkan cara kerja mesin itu hingga Mayang bisa melakukan nya sendiri."Mudah kan..."Ucap Bella setelah nya.
Mayang mengangguk dan tersenyum."Makasih ya Bell,,,"Ucap Mayang tulus.Ia senang telah mendapatkan ilmu baru.
"Iya,,, santai saja,"Bella menepuk bahu Mayang.Lalu gadis itu kembali lagi ke meja kerja nya.Mayang sudah selesai dengan tugas pertama nya dan memberikan hasilnya pada Bella.Gadis itu menerimanya sambil tersenyum.
"Selamat pagi.."Terdengar suara wanita dari arah pintu membuat keempat wanita di dalam ruangan itu menoleh ke sumber suara.
"Hai.."Sapa Ratih kepada yang datang dengan antusias sambil berjalan ke arah nya."Hallo baby boy..."Ratih mengambil bayi itu dari gendongan ibu nya.Lalu membawa nya duduk di sofa sambil menciumi bayi itu dan mengajak nya bicara.
__ADS_1
Ibu bayi berjalan menghampiri Mayang."Makasih ya tempo hari udah jagain bayi ku,,maaf juga belum sempat bilang terimakasih karena waktu itu lagi buru-buru."Ucap nya dengan senyum sambil mengulurkan tangan.Mayang menyambutnya dengan menyalami."Panggil saja aku Kak Alya."
"Aku Mayang."Mayang pun memperkenalkan diri nya.
Alya lalu pergi meninggalkan bayinya karena ada sesuatu yang harus di kerjakan di luar.Suster pengasuh sedang cuti untuk beberapa hari membuat Alya harus menitipkan bayinya.Tapi itu juga atas permintaan Ratih.
"Mayang bisa buatkan susu,,"Suara Ratih membuat Mayang berjalan mendekat kearah nya."Seperti nya Boy mulai haus."
"Baik nyonya."Mayang meraih tas peralatan baby lalu mengeluarkan dot kosong dan kaleng susu dari dalam nya.Ia berjalan menuju dispenser air yang terletak di samping kulkas di ruangan itu juga.
"Sini aku saja yang bikin."Sella menyambar botol susu dari tangan Mayang.Mayang hanya menghela nafas karena gadis itu mengambil paksa sesuatu dari tangan nya.Awal nya Sella begitu bersemangat,tapi saat akan menuangkan susu ia terlihat bingung.
Mayang melipat kedua tangan nya di dada."Bisa tidak?"Tanya nya sambil melirik Sella yang terlihat bingung.
"Bisa kok!"Jawab gadis itu ketus lalu menuangkan susu bubuk kedalam botol susu dengan asal.Ada yang tumpah berserakan di lantai.Begitu juga saat menuangkan air.Ia seperti sengaja menumpahkan nya.
"Kalau segitu kurang susu bubuk nya,itu terlalu encer kasihan bayinya busa diare."Ucap Mayang memberi tahu.Tapi Sella tidak mendengarkan nya.
"Bersihin tuh."Sella menunjuk lantai yang ia kotori agar Mayang membersihkan nya lalu ia melengos pergi setelah menyeringai.
Mayang hanya menghela nafas.Sabar... gumamnya dalam hati lalu keluar untuk mencari alat pel.
Sella menyodorkan botol itu pada Ratih.Ratih memperhatikan botol susu yang terlihat encer itu."Sella ini terlalu encer,tambahkan susu bubuknya lagi ya.Apa kamu tidak mendengarkan yang Mayang katakan tadi?"
Sella menerima botol itu dari tangan Ratih dengan dongkol karena Ratih menyinggung nama Mayang tadi.Entah mengapa Sella seperti tak suka Ratih menyebut nama gadis itu.Lalu Sella menambahkan lagi susu bubuk itu dan menyerahkan pada Ratih setelah selesai.
Mayang tampak masuk dengan membawa alat pel dan dengan cekatan membersihkan nya.
Hingga hari sudah mulai sore Sella tak hentinya membuat Mayang merasa kesal dan terusik.Tapi Mayang tak pernah mengerutu atau marah sekalipun.Ia menghargai Sella sebagai orang dekat keluarga Malik dan tak ingin mengecewakan mereka.
Mayang tengah duduk memangku baby boy di sofa taman bersama dengan Randy yang datang mengantar kakak nya untuk menjemput putranya.Keduanya sudah terlihat akrab karena Randy yang sifat nya mudah bergaul.
Keduanya terlihat asik tertawa-tawa bercanda dengan baby hingga tak menyadari ada sepasang mata yang sedang mengintai mereka dari kejauhan.Siapa lagi kalau bukan Brian.Ia merasa heran bagaimana bisa kedua nya bisa bercanda seakrab itu.
Rendy pamit pada Mayang untuk memanggil kakak nya yang tengah berbincang dengan Ratih di ruang kerja nya.Langkah Rendy terhenti saat ia berpapasan dengan Brian.Agak merasa canggung karena melihat tatapan mata saudara sepupu nya itu terlihat tidak suka.
"Hay Bray.."Sapa Rendy pada Brian dengan panggilan kesukaan nya sejak kecil.
"Ngapain lo disini?"Tanya Brian ketus sambil memasukkan jemari nya ke saku celana bahan,pakaian formal nya setiap hari saat bekerja.
"Gue udah biasa kali di sini,lo nya saja yang terlalu sibuk."Sindir Rendy lalu berlau pergi meninggalkan Brian.Brian mengekori langkah Rendy dengan pandangan tak suka nya.Brian lalu melangkah menghampiri Mayang.
"Tuan... sejak kapan anda datang?"Sapa Mayang dengan senyum ramah begitu melihat kedatangan Brian.
"Belum lama."Jawab Brian singkat lalu duduk di samping Mayang.Ia memperhatikan gadis yang sedang menimang bayi itu dengan kagum.Mayang terlihat luwes memperlakukan bayi seperti sudah berpengalaman."Apa sebelum nya kau pernah punya bayi?"Tanya Brian akhirnya karena merasa penasaran.
Mayang awalnya bingung dengan pertanyaan tak masuk akal Brian,tapi akhirnya ia bisa menelaah maksud dari pertanyaan Brian.
"Saya belum pernah menikah tuan,,, bagaimana mungkin saya punya bayi.Tapi saya mempunyai banyak keponakan dan saya sering menggendong nya.
Brian mengangguk tanda faham.Ia memperhatikan lagi gadis itu.Brian semakin terpesona dengan sisi keibuan dari diri Mayang.
"Oh ya, bayi siapa ini?"Mayang melongo mendengar pertanyaan yang Brian ajukan."Apa!Kenapa menatap ku seperti itu?!Apa yang salah dengan ku?!"Brian salah tingkah.
"Tuan ,,, ini keponakan anda sendiri. Bagaimana bisa anda tidak tahu?"
"Aku memang tidak tahu.Dia kan masih bayi. Aku terlalu sibuk di kantor jadi tidak memperhatikan hal lain."Jawab Brian sambil menggerutu.
"Kalau begitu mulai sekarang anda juga harus memikirkan kehidupan pribadi anda tuan."Ucap Mayang sambil tersenyum."Bukankah anda harus membangun biduk rumah tangga.Menikah dan punya anak..."
Entah mengapa Brian seperti di tabok mendengar ucapan Mayang.Apa maksud nya ini.Dia saja masih jomblo sok-sok nasehati orang.
__ADS_1