Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Hareudang


__ADS_3

"B-Bapak ...." lirih Milly dengan terbata. Matanya menatap daun pintu dan Billy secara bergantian dengan wajah tak percaya.


"Keluar." Sambil menggerakkan sedikit kepalanya Billy yang masih berdiri di tempatnya mengisyaratkan Milly untuk segera beranjak.


Melihat tangan Billy yang masih terkepal, tak ada pilihan bagi Milly selain mengikuti keinginan Billy untuk keluar. Lebih baik ia keluar dengan kaki melangkah sendiri dari pada keluar oleh tendangan yang diberikan Billy.


Billy yang masih mengawasi pergerakan Milly tampak menyeringai puas setelah berhasil membuat gadis mungil itu bergetar ketakutan. Milly menghentikan langkah ketika posisi dirinya berada tepat di sisi Billy. Keduanya saling menatap untuk beberapa saat dengan ekspresi wajah yang berbeda. Satu tampak menyeringai puas, sementara satunya lagi tampak pucat karena takut.


Milly segera melewati tubuh tegap itu dengan bergidik ngeri. Bahkan ia melangkahkan kakinya dengan setengah berlari. Menghindari kemungkinan Billy akan menerkamnya jika lelaki itu mendadak lepas kendali.


Merasa sudah berada pada jarak aman, ia menggerakkan lehernya menoleh ke belakang. Tepat saat itu juga Billy rupanya tengah menatapnya. Dan itu--astaga seringainya. Senyuman miring itu jelas sekali jika Billy tengah mengolok Milly. Entah apa yang salah dengan gadis itu hingga Billy tampak menahan tawa sambil menggelengkan kepala selagi melangkah memasuki kamar mandi.


Berusaha mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, Milly bergegas menghampiri cermin di ruang walk in closet yang berada tak jauh dari kamar mandi. Dan benar saja. Milly seketika membulatkan bola matanya di depan kaca ketika mendapati busa dari pasta giginya masih memenuhi disekitar lingkar bibirnya. Mengangguk samar berulang-ulang, kini ia menyadari arti dari tawa Billy tadi.


Tanpa pikir panjang, ia segera berhambur ke kamar mandi untuk mengembalikan gelas sekaligus sikat gigi yang masih di tangannya. Tentu saja sekalian untuk mencuci mulutnya juga.


"Aaa!!!" Milly menjerit seraya menutup mata dengan tangan saat mendapati Billy tengah melepas pakaiannya di dalam sana. Bukan hanya gadis itu saja yang terkejut, Billy juga terlihat terkejut mendengar teriakan Milly yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


"Apa lagi sih?!" Teriak Billy langsung berbalik badan. Lelaki yang sudah bertelanjang dada itu tampak menunjukkan seringainya selagi menatap Milly yang tengah meringis sambil menutup wajahnya di ambang pintu. "Hey tidak perlu berlebihan seperti itu ya! Kau pikir aku ini telanjang?!"


"Hehe," menurunkan tangan yang menutupi pandangannya, gadis bermata bulat itu nyengir, menunjukkan deretan gigi putihnya ke arah Billy dengan gusar.


"Mau apa lagi?" Tanpa berkedip saat menatap Milly, Billy melemparkan kemeja yang masih di tangannya tepat di keranjang pakaian kotor. Lantas bersedekap dada selagi mengawasi gadis yang tengah berdiri kikuk di depannya.


"Cuma mau balikin ini," Milly menunjukkan sikat gigi serta gelas bening di tangannya. "Tadi ikut kebawa, he he." Gadis mungil itu lagi-lagi meringis.


"Cepat!" Sentak Billy sambil menggerakkan sedikit kepala seolah menunjuk wastafel yang berada di sisi kirinya.


Menganggukkan kepalanya, Milly lantas menggeser kakinya selangkah demi selangkah mendekati wastafel tanpa membelakangi suaminya. Gadis mungil itu menyunggingkan senyuman terpaksa sebelum ia berbalik badan, lantas meletakkan gelas di sana dan membungkukkan badan saat mencuci bibirnya. Sesekali ia mengarahkan pandangannya ke arah cermin, di mana di sana menampilkan bayangan Billy yang masih mengawasinya dengan pandangan yang sama sekali tak bergeser.


Bukannya bergerak cepat, Milly justru seolah sengaja memperlambat gerakan mencucinya, sampai-sampai Billy yang tengah menunggunya itu terlihat gelisah hingga melirik ke arah jam tangannya untuk memastikan waktu.


Pandangan Billy yang menangkap Milly tengah mengulum senyum pada akhirnya menyadari jika dirinya tengah dikerjai. Pria bertubuh kekar itu menyeringai selagi berkacak pinggang, yang kian jelas memperlihatkan bentuk perut sixpack nya.


"Lima! Empat! Tiga!" Billy mulai menghitung mundur yang seketika membuat gadis di depannya itu gugup.


"Iya Pak, bentar!" Milly yang terkejut segera mempercepat gerakannya. Gadis itu terlihat panik saat berbalik badan, dan mendapati roti sobek di hadapannya. Wajah putihnya merona merah saat itu juga. Refleks tangannya bergerak menutupi mata polosnya dan secepatnya berlari keluar.


Billy tergelak puas kala menatap punggung si gadis yang bergerak menjauh. Ia terlihat begitu senang saat berhasil membuat wajah gadis menyebalkan itu merona malu. "Rasakan. Berani-beraninya mengerjaiku." desisnya pelan sebelum kemudian melanjutkan aktivitas paginya.


***


Billy yang keluar dari walk in closet dengan keadaan sudah rapi lantas berjalan menuju kamar, di mana Milly tengah duduk di sofa dengan bosan dan handuk yang melilit di lehernya. Gadis itu terlihat mengerucutkan bibir selagi menatap sosok Billy yang tengah mendekat.


"Tadi bilangnya cuma lima menit. Taunya sampai lima hari nggak keluar-keluar. Ngapain aja sih di kamar mandi, Pak! Nggak lihat apa yang nunggu sampai ubanan gini." Milly menggerutu kesal sambil bangkit dari duduknya. Sementara Billy hanya menanggapinya dengan santai. Dan lagi-lagi sebuah seringai senang nampak tersungging di bibir selagi mengawasi langkah si gadis yang sengaja dihentak-hentakan ke lantai Karena sebal.


Sementara Milly sedang melakukan aktivitas paginya seperti biasa, Billy yang masih memiliki sisa waktu memilih untuk mengisinya dengan memeriksa setiap laporan yang masuk pagi ini.


Dengan ditemani secangkir kopi panas dan manis, pria dengan balutan jas warna navy itu tampak serius menatap layar laptop di depannya. Sambil sesekali menggunakan ponselnya untuk menghubungi seseorang guna mengkonfirmasi setiap laporan.


Tak lama kemudian Milly pun keluar dari sana dengan balutan handuk kimono yang masih melekat di badannya. Gadis mungil dengan rambut panjangnya yang masih setengah basah itu tampak berjalan ke arah Billy dengan langkah anggun. Bibirnya yang kemerahan tampak menyunggingkan senyuman semanis gula. Lantas duduk, mengambil posisi kosong di samping Billy dengan percaya diri.


"Bapak ,,," sapa Milly dengan nada begitu lembut dan menggoda.


"Hemm," Billy yang tetap fokus pada laptopnya hanya menjawabnya dengan gumaman.


Melihat reaksi Billy yang datar membuat Milly mencebik kesal. Wajah sudah di cantik-cantiki, senyum juga sudah di manis-manisi tetap juga tidak diliriknya. Tapi giliran tidak sadar saja, dipeluknya erat-erat. Sebenarnya mau dia apa sih?


"Bapak ,,,." lagi, Milly memanggil suaminya dengan nada manja. Tapi jangankan menjawab, menoleh saja tidak. Huh, benar-benar menyebalkan.

__ADS_1


Milly mencebik selagi bertopang dagu. Berdekatan dengan sebongkah es batu membuatnya merasa sedang berada di kutub utara. Rasanya seperti terbuang dan sendirian. Jika terlalu lama seperti ini bisa-bisa dia mati kaku. Terlebih lagi dengan kondisi perutnya yang kelaparan seperti sekarang. Membuatnya ingin menelan lelaki tampan itu bulat-bulat.


Melirik cangkir yang masih menampakkan sedikit kepulan asap membuat gadis cantik bermata bulat itu tertarik untuk menyesap. Terlebih dengan aroma yang menguar dari kepulan asapnya itu benar-benar membuat Milly tergoda. Tanpa mempedulikan pandangan Billy yang tengah mengawasi, gadis yang sudah memegang gagang cangkir itu benar-benar menyeruput bahkan tanpa takut.


"Enak, ya?" Tanya Billy dengan suara lembut, namun seringai yang tersungging di bibirnya begitu kental akan sindiran.


"Enak." Milly menjawab singkat, lalu meneruskan menyeruput kopi itu perlahan-lahan.


"Apa lagi tinggal minum ya kan. Pasti enak banget tuh! Saking enaknya sampai-sampai nggak ingat kalau itu kopi ada yang punya."


Berhenti menyeruput, Milly tersenyum kecut saat menoleh dan mendapati tatapan Billy yang seolah penuh peringatan terhadapnya. Ditelannya dengan susah payah kopi yang sudah terlanjur di dalam mulut sembari menaruh kembali cangkir itu ke tempat asalnya.


"Maaf Pak. Perut saya lapar." Milly mengusap bibirnya yang basah. "Lihat secangkir kopi yang dianggurin bikin saya jadi kebawa suasana. Nasipnya sama seperti saya. Dan karena saya orang yang berhati mulia, jadi saya sentuh deh kopinya."


Alih-alih merasa bersalah, Milly justru bersikap seolah dirinya sudah melakukan hal yang benar. Gadis mungil itu bahkan mengambil cangkir itu dan berniat ingin meminumnya lagi.


"Eh, Pak!" Milly membelalakkan mata saat Billy berhasil merebut cangkir dari tangannya. "Itu, itu mau diapain?" tanyanya bingung sambil menatap Billy yang tersenyum puas usai mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.


"Ya mau diminum lah! Memangnya apa lagi. Kau pikir aku rela memberikan semua kopi ini untukmu saja. Aku yang susah-susah membuatnya, sedangkan kau tinggal meminumnya. Benar-benar tidak berakhlak." Umpat Billy kesal sebelum kemudian meneguk kopi itu dengan segera, seolah tak membiarkan orang lain mengambilnya lagi dari dirinya.


Dan benar saja, Billy menaruh cangkir itu lagi tanpa menyisakan sedikitpun kopi yang memang berjenis kopi instan tanpa ampas. Sementara Milly yang melihatnya tampak terperangah, sebab Billy menyeruput tepat di bekas bibirnya. Entah Billy sadar atau tidak saat melakukannya, yang jelas hal itu membuat Milly merona bahagia.


"Tuh, kalau mau minum. Aku masih menyisakan cangkirnya untukmu." senyuman Billy melebar penuh kemenangan selagi menunjuk cangkir kosong itu.


Milly mengerucutkan bibir hanya untuk mempermanis aktingnya yang pura-pura kesal. Padahal dalam hati ia tertawa senang karena Billy secara tak langsung telah memberikannya sebuah ciuman. Mengambil cangkir itu lagi dengan mimik kesal yang masih terpatri, gadis itu merengut saat mendapati gelas itu memang benar-benar kosong tanpa isi. Melemparkan tatapan sengitnya ke arah Billy, bibir mungil Milly lantas berucap, "Kok kopinya dihabiskan sih Pak? Kan saya belum kenyang minum."


"Kau minum saja cangkirnya." balas Billy acuh sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Bapak tega ya cuma sisain saya ampasnya saja." berucap lirih, Milly menatap gelas kosong itu dengan nanar. Gadis itu mengatupkan bibir seolah ingin menangis. Ia memanipulasi wajahnya hingga terlihat benar-benar sedih. "Ya udah lah, cuma kebagian dapat sisanya juga nggak pa-pa. Dari pada kalian kelaparan, ka." Milly mengelus perutnya yang rata seolah sedang berbicara dengan cacing-cacing di perutnya, sebelum kemudian menempelkan bibirnya tepat pada bekas bibir Billy.


"Hey!" Tangan Billy bergerak cepat meraih cangkir yang sedang Milly sesap. "Apa-apaan kau ini?!"


Billy meletakkan cangkir itu kembali ke tempatnya, lantas menatap Milly penuh kemarahan. "Kenapa kau nekad meminum ampas kopinya?! Perutmu bisa kembung nanti!"


Ternganga, Milly hampir-hampir tak percaya kalimat itu keluar dari mulut suaminya. Aku tidak salah dengar, kan? Ini ceritanya si Bapak lagi khawatir gitu sama aku? Ya ampun senengnya hatiku.


"Kenapa melihatku seperti itu?" setelah beberapa saat sama-sama terdiam dalam pertautan pandangan, Billy akhirnya bertanya dan memecah keheningan yang membentang.


Milly mengerjap kecil menanggapi ekspresi heran di wajah Billy. Seketika ia pun mengerjap kecil, lantas memalingkan wajah. Berusaha menyembunyikan rona merah yang mungkin saja terjadi setiap kali Billy berhasil membuatnya terpesona. Berdehem pelan, Milly pun lantas berucap tenang untuk menyamarkan perasaan. "Nggak papa, Pak. Saya cuma lapar."


Billy yang sudah akan membuka mulut untuk berbicara harus urung saat mendengar suara bel yang berbunyi. Keduanya secara bersamaan menoleh ke arah datangnya suara.


"Kok pagi-pagi ada orang datang, Pak. Siapa?" tanya Milly dengan wajah keheranan.


"Saya tadi pesan makanan. Bisa jadi itu pengantar pesanan saya."


"Makanan?!" Mata Milly mendadak berbinar senang kala mendengarnya. Bagaimanapun juga ini adalah kabar baik untuknya dan cacing-cacing di perutnya. "Saya yang bukain pintu, ya." ucapnya seraya bangkit dari duduk. Sudah akan melangkahkan kakinya namun mendadak terhenti karena Billy menahannya.


"Mau kemana?!" Sergah Billy sambil memegang tangan si wanita.


Menatap tangan Billy yang mencekal pergelangannya, gadis yang sudah berdiri itu memutar bola matanya malas. "Ya mau ngambil makanan, lah Pak. Memang mau apa lagi."


"Dengan pakaian seperti ini?!" Billy seketika berdiri lantas mengamati penampilan Milly dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan tidak suka. "Nggak nggak. Nggak bisa!" Billy menggelengkan kepala tak terima.


"Lah kenapa sih Pak! Apa yang salah?!" Protes Milly sembari mengamati penampilannya sendiri.


"Kau hanya memakai handuk, mana bisa kau keluar menerima tamu."


"Hah?" Milly terperangah sesaat, sebelum kemudian tergelak. "Ya ampun Pak, kenapa Bapak yang keberatan? Saya aja nggak papa nerima tamu dengan pakaian seperti ini."

__ADS_1


"Kalau tiba-tiba handukmu terlepas dan tertiup angin bagaimana hah?!" protes Billy tak masuk akal. "Sudah! Biar aku saja."


Tanpa menunggu persetujuan Milly, Billy pun segera beranjak keluar dari kamar. Tentu saja lelaki itu tak tahu jika sekarang Milly tengah tertawa kegirangan. "Bukankah yang tadi itu sikap cemburu?" gumam Milly menerka-nerka, lantas tersenyum dengan wajah yang merona.


Tak lama kemudian Billy datang dengan kedua tangan memegangi kantong berisi makanan. Melihat hal itu terang saja hati Milly semakin berbunga-bunga. Lelaki itu rupanya perhatian juga.


"Makanlah." Perintah saudara Brian itu sambil meletakkan sesuatu yang ia bawa ke atas meja, dengan posisi tepat di hadapan Milly. Billy yang tampak datar kembali duduk di tempatnya semula dan berniat melanjutkan pekerjaannya. Seolah tak tertarik untuk menyentuh makanan lezat yang memang sengaja ia pesan untuk istrinya.


"Loh, memangnya Bapak nggak mau makan?" Milly menatap Billy keheranan selagi menghentikan tangannya yang sudah akan membuka kemasan makanan. "Kok nyuruh saya makan sendiri."


Billy yang tengah serius menatap layar laptopnya menyempatkan untuk menoleh sang istri. "Nggak lihat saya sedang sibuk?" ucapnya seraya menggeser posisi laptop, seolah sedang menunjukkan sesuatu di sana.


Menggeser pandangan ke arah laptop yang ditunjukkan suaminya, Milly yang semula menatap setengah kesal pada Billy itu lantas seketika mendesah pelan. Ia memang tidak terlalu mengerti urusan dan tugas yang diemban suaminya, namun ia bisa mengerti seperti apa kesibukannya.


Kembali menggeser arah layar di depannya, ekspresi Billy pun tampak melemah. "Sudah jangan hiraukan saya." desah Billy tanpa menoleh pada istrinya, namun tak memperlihatkan setitik pun kemarahan di raut wajahnya.


Tak membalas perkataan Billy, Milly memilih memperhatikan suaminya tengah asik berkutat dengan laptopnya. Tangannya benar-benar sedang sibuk, sampai-sampai mengabaikan isi perutnya.


"Kenapa malah menonton saja?" Setelah beberapa waktu sama-sama terdiam, Billylah yang pada akhirnya memulai bertanya. "Cepat makan. Bukankah kau ada wawancara kerja?" lanjutnya yang lagi-lagi tanpa menoleh, namun perkataannya bernada mengingatkan.


"Jadi boleh?" Milly bertanya begitu antusias, sampai-sampai mencondongkan wajahnya ke arah Billy sebab saking semangatnya.


"Tergantung." Billy menjawab singkat namun terdengar ambigu.


Keadaan hening tanpa celotehan istrinya membuat Billy menoleh ke arah Milly, dan ia bisa melihat ekspresi kebingungan tercetak jelas di wajah pualam milik istrinya. Lelaki gila kerja itu menyunggingkan senyum sebelum kemudian melanjutkan ucapannya. "Cepat makan sebelum saya berubah pikiran."


Milly sontak membulatkan bola matanya tak percaya. "Saya akan makan cepat lalu pergi untuk wawancara secepatnya." Perkataan Billy yang terdengar seperti perintah itu segera Milly lakukan dengan suka cita. Gadis mungil itu terlihat bersemangat membuka dan menyantap makanan di hadapannya.


"Terima kasih sudah memberikan izin kepada saya, Pak." Di sela-sela makanannya, Milly masih menyempatkan untuk bicara. "Doakan saya berhasil ya Pak. Ini adalah cita-cita awal saya merantau." gadis itu bahkan tak segan lagi mencurahkan perasaannya. Meskipun Billy tak begitu menanggapi ocehannya, tapi ia bisa menilai jika pria ini memiliki hati yang mulia di balik sifat kakunya. Jadi untuk apa ditakuti. Toh mereka sama-sama makan nasi.


Eh, ngomongin nasi kok aku merasa nggak adil gini. Aku enak-enakan makan sementara dia sibuk kerja. Aaa ... aku ini istri macam apa!


"Pak,"


Billy yang menoleh langsung terkejut saat tiba-tiba ditodong sendok berisi makanan di bibirnya. Lelaki itu bukannya segera membuka mulut, justru malah mengerjap bingung.


"Buka mulut dong, Pak. Ini tangan saya pegel kalau lama-lama begini." tutur Milly dengan pandangan seperti memohon. "Kita makan sama-sama ya." gadis cantik itu mengulas senyum selagi berkata. Begitu tulus dan tak terlihat dibuat-buat, hingga pada akhirnya membuat Billy mau membuka mulutnya walau sedikit canggung. Hal itu terus berulang hingga beberapa kali suapan.


Makan makanan enak kok bikin saya jadi hareudang, ya." Milly mengibaskan rambutnya ke belakang, sementara tangannya bergerak ingin melepaskan ikatan kimono yang melingkar di pinggangnya.


"Hey apa yang akan kau lakukan?!" secepat kilat tangan Billy bergerak menahan tangan Milly dengan ekspresi yang menegang. Tangannya bahkan tak segan mencengkeram ujung piyama istrinya agar tak terbuka.


"Mau buka handuk lah Pak. Gerah ini." Milly menunjukkan ekspresi tak nyaman, sambil mengerutkan keningnya.


"Hey apa kau gila! Ada lelaki di hadapanmu, apa kau masih nekat ingin melepasnya juga!" tegas Billy menunjukkan sikap protesnya. Raut wajahnya terlihat begitu panik membayangkan penampakan Milly yang tanpa busana. Entah apa jadinya dia.


"Ish Bapak!" Bentak Milly keras sambil menepis tangan Billy yang mencekal ujung piyamanya. "Saya yang kegerahan kenapa malah Bapak yang kepanikan! Nih saya buka ya."


Billy seketika memalingkan wajahnya, berusaha menjauhkan mata polosnya dari godaan yang mungkin saja terjadi di depannya saat Milly nekat membuka piyama.


"Pak. Woy!" Milly yang tergelak sembari mencolek lengan Billy. "Segitu takutnya ya ngeliat saya." godanya sambil menyikut lengan Billy. "Emangnya saya lebih mengerikan dari hantu? Kok Bapak ketakutan gitu? Nggak mau lihat istrimu yang cantik ini?"


"Diam kau. Pergi sana!"


Mendengar kalimat bernada usiran yang Billy layangkan tentu saja membuat Milly kesal. Ia terlihat menghela napas dalam sebelum bangkit dari duduknya. Gadis cantik itu melangkah menuju nakas untuk beberapa saat, entah untuk apa. Lantas kembali untuk mengambil ponselnya yang terletak tak jauh dari Billy.


"Pak, saya berangkat ya."


Penasaran dengan pamitnya sang istri membuat Billy terpaksa menoleh ke arahnya. Lelaki itu terkejut mendapati sosok Milly yang sudah rapi dengan pakaian formal yang membalut tubuh indahnya. Ia berdiri sambil tersenyum, Sementara tangannya menyatu di depan memegangi tas tangannya. Belum sempat Billy berkata-kata, Milly sudah beranjak begitu saja keluar dari kamar meninggalkan Billy yang masih terbengong di tempatnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2