
Menatap punggung lebar suaminya yang semakin menjauh, Milly hanya tersenyum getir saat merasa dirinya tak dibutuhkan. Meski hatinya merasakan sejejak kepedihan, namun ia berusaha bersikap tenang dan tidak berprasangka buruk terhadap suaminya.
"Tak apa, bukan salah dia aku menjadi istri yang tak diinginkan suami." ucapnya pelan, berusaha menata hati. "Kalau memang menginginkanku, dia pasti akan datang padaku. Percuma aku memaksakan diri jika dia tak ingin kumiliki."
Mendesah pelan, ia bergerak mundur selangkah dan menyandarkan tubuh pada body samping mobil suaminya. Jemari lentiknya lantas bergerak membuka tas mungil yang tersampir dipundak kiri, mencari-cari benda pipih di dalam sana yang beberapa menit lalu terasa berderit.
"Whatsapp dari Ina rupanya." ujarnya begitu antusias, lantas membaca pesan masuk itu sambil tersenyum dan melupakan sejenak kesedihannya. "Ah dia seperti ibuku saja. Dia bahkan mengkhawatirkanku meskipun aku sedang pergi bersama suamiku sendiri. Benar-benar manis sekali ,,,." Ucapnya dengan senyum penuh haru.
Jemari lentik itu lantas bergerak dengan lihai membalas pesan Ina di ponselnya.
[Aku ceritakan nanti saja ya, terimakasih banyak untuk perhatianmu. Lope you, emmuach...]
Tak lupa juga ia sematkan emot lucu kecup jauh tiga biji di ujung chat nya. Lalu meremas ponsel itu di dadanya sambil tersenyum penuh haru. "Gini deh kalau ada orang baik banget sama aku. Aku kan jadi trenyuh ,,,." tuturnya pada diri sendiri sembari mengusap matanya yang tidak basah. Lantas menyimpan kembali ponsel itu dengan baik ke dalam tas mungilnya.
Embusan angin malam semakin dingin menusuk tulang. Menyilangkan kedua tangannya, jemari Milly bergerak mengusap-usap permukaan kulit, berharap sedikit menghangatkan lengannya yang terasa menggigil tanpa perlindungan. Gaun berlengan pendek yang ia kenakan itu rupanya tak cukup menghalau dinginnya angin malam yang menembus kulit tipisnya.
Mendengar langkah kaki mendekat, Milly bisa menebak siapa yang tengah datang. Menoleh cepat ke arahnya, gadis penyuka makanan pedas itu membetulkan posisi berdirinya. Sedikit memperbaiki penampilan meskipun tak nampak ada perbedaan. Tak lupa senyuman semanis gula saat menyambut kedatangan suaminya.
Melangkah pelan saat mendekat, pandangan Billy menyorot penuh selidik. Mengawasi sang istri yang sedang menyunggingkan senyum meskipun bahasa tubuhnya terlihat kikuk. Begitu kentara jika gadis itu tengah memaksakan semyumannya.
Mata Milly pun masih mengawasi sosok menjulang yang masih melangkah ke arahnya. Diterangi oleh cahaya lampu taman yang temaram, namun hidung bangirnya masih jelas kelihatan. Namun pandangan sang suami yang masih begitu dingin dan jauh dari kata ramah membuat rasa percaya dirinya luruh seketika. Tak ingin merasakan malu yang lebih dalam, Milly pun tertunduk menyembunyikan seulas senyum getir di bibirnya.
Berhenti di depan si wanita dengan jarak tiga langkah, pria yang selalu terlihat tampan meski tersenyum saja jarang itu menelusupkan jemari di saku celana bahannya. Menekan rasa jengkel yang masih menghujam dada, ia pun buka suara. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Bergeming, Milly mendongak cepat saat merasa dirinya diajak bicara, namun antara setengah percaya dan setengah tidak. Menggerakkan lehernya menoleh ke sekeliling untuk memastikan, namun ia tidak melihat siapapun berada disana. "Bapak bicara dengan siapa? Saya?" Tanyanya kemudian dengan ragu-ragu.
Mengetatkan rahangnya, Billy tampak menahan kemarahannya. Lagi-lagi gadis di hadapannya itu membuatnya jengkel dengan sikap bodoh nya yang hakiki.
__ADS_1
"Memangnya ada orang lain selain dirimu di sini?!" Susah payah menahan diri agar tidak berbicara kasar namun nyatanya sikap sang istri selalu membuatnya meradang. "Apa kau pikir aku sedang berbicara dengan lampu taman?! Pada bunga-bunga yang bermekaran?! Atau pada daun yang bergoyang?!" Cecar Billy dengan pandangan menyorot tajam. "Atau mungkin teman-teman ghibah tak kasat mata-mu yang sengaja kau undang juga datang kemari?!" tanyanya kemudian dengan mata yang menyipit.
Apa? Kok bawa-bawa makhluk tak kasat mata! Horor dong! Kan jadi ngeri. Aku kan paling takut kalau soal makhluk yang tak terlihat itu! Jangan-jangan memang mereka ada di sini, bersamaku sejak tadi?! OMG!
Pertanyaan Billy membuat Milly bergidik ngeri. Wajah cantik itu mendadak berubah ketakutan sambil mengarahkan pandangannya ke sekeliling, lantas melangkah maju mengikis jarak di antara mereka.
"Kenapa mendekat? Kau takut." Billy bertanya dengan seringai remeh di bibirnya.
"Haha, ya tidak lah Pak. Cuma nggak tau kenapa, tubuh saya mendadak merasakan adanya tarikan. Saya pikir Bapak memiliki magnet untuk menarik tubuh saya ...!" Milly memeriksa tubuh Billy dengan pandangannya seolah sedang mencari-cari sesuatu di sana. Namun itu hanya kepura-puraan demi mengusir rasa malunya.
"Hentikan!" Sentak Billy yang merasa tak nyaman dengan ulah istrinya.
Menghentikan aksinya, Milly menyunggingkan senyum kecut yang dipaksakan, lalu menarik diri dan menjaga jarak dari suaminya.
"Bapak sendiri ngapain ke sini?" Setelah diam sejenak, Milly akhirnya memutuskan untuk bertanya.
Udara malam ini memang terasa dingin menusuk tulang, namun tak sedingin perlakuan Billy yang menusuk hingga relung hati yang terdalam. Meski ada sejejak perhatian pada perkataan terakhirnya tadi, hal itu tak lantas membuat Milly terperdaya begitu saja. Terkadang uji coba itu perlu untuk menentukan seberapa serius usaha seseorang, bukan?
Berdehem, Milly membuat Billy menghentikan niatnya untuk melangkah setelah berbalik badan. "Saya di sini saja juga nggak papa kok, Pak. Saya sudah terbiasa merasakan kedinginan dalam kesendirian saya."
Billy memutar posisi tubuhnya dan menatap Milly tak mengerti.
"Saya akan tunggu di sini sampai acara Bapak selesai." tuturnya memberi penjelasan dengan tekstur wajah penuh keyakinan.
Lagi-lagi rahang Billy mengetat. Sial! Dia benar-benar menguji kesabaranku. Batinnya sambil mengepalkan tangan. "Baik, kalau itu maumu." jawabnya santai lantas beranjak pergi dari situ.
Eh, kok aku ditinggal beneran. Pak, woiii! Ini enggak serius saya nolaknya! Dipaksa dikit ngapa! Ya Allah, nggak ngerti perasaan wanita, ya. Kalau wanita bilang enggak, itu artinya mau! Duh nasip. Jadi makanan nyamuk dong aku! Batin Milly miris.
__ADS_1
Dengan langkah lebar Billy meninggalkan istrinya. Sudah hampir mencapai pintu masuk, mendadak ia menghentikan langkah lalu meninjukan kepalan tangannya ke udara. "Sial! Apa yang kulakukan! Jika aku masuk tanpa dia, lalu apa kata Nyonya nanti?! Hah!" Billy menggeram kesal. Mau tak mau ia harus kembali untuk membujuk sang istri. Sambil melangkah, ia menghela napas dalam, berusaha meredam amarahnya.
Milly yang melihat Billy kembali pun tampak tersenyum penuh kemenangan. Hahaha kembali juga dia! Rasakan kau ya! Sekalian saja aku jual mahal, daripada kugadaikan tapi nggak dianggap.
Berdehem, saat Billy sudah berada di hadapan Milly. "Ayo masuk, Nonya ingin bertemu denganmu." ajaknya dengan suara datar namun pandangannya terarah ke obyek lain, bukan pada sang istri.
Nyonya? Siapa dia? Batin Milly bertanya-tanya. "Maaf, Bapak ngomong apa ya?" tanyanya sambil memasang telinga, bersikap seolah-olah tak mendengar. Niat banget emang.
Menggemertakkan giginya, Billy benar-benar tersulut amarah. Hei yang benar saja! Mana mungkin jarak lima jengkal begini suaraku tidak terdengar. Aku yakin dia sedang mempermainkanku. Baiklah, kau menang sekarang. Akan ku terbangkan kau keatas awan, dan lihatlah nanti bagaimana aku menjatuhkanmu ke jurang yang paling dasar. Batin Billy penuh ancaman.
"Nyonya rumah ini ingin bertemu denganmu, mari masuk bersamaku." ajak Billy dengan suara melemah. Tapi tentu saja itu hanyalah taktiknya saja.
"Oh begitu ,,," jawab Milly enteng. "Tapi saya lebih suka di sini. Hawanya adem." Imbuhnya dengan nada acuh dan tentu saja menjengkelkan.
Benar kan! Dia sedang mengerjaiku.
"Milly, come on! Plis. Aku ingin kamu masuk!" Desak Billy dengan suara tegas penuh tuntutan.
"Bapak, come on, plis. Saya merasa tenang di sini. Biarkan saya bahagia ya," balas Milly lirih dengan nada memohon, lalu berbalik badan membelakangi suaminya. Dan kemudian membungkam mulut menahan tawa.
Sial! Harus pakai cara apa aku membujuknya, jika dengan tekanan saja mental kena dia. Ya Allah, salahku apa?! Kenapa kau beri aku istri wanita aneh seperti dia. batin Billy miris.
"Ehemm!" Billy berdehem setelah menghela napas dalam. Kali ini ia benar-benar harus menjatuhkan harga dirinya. Entah demi apa. "Istriku ,,, ikutlah bersamaku."
Suara lembut Billy membuat jantung Milly mendadak berdisko ria. Gadis itu membelalak dengan mulut yang ternganga. Hampir-hampir ia tak percaya kata itu ia dengar dari bibir suaminya. Memutar tumit dan berbalik badan dengan segera, tatapannya bertemu dengan lelaki tampan yang sedang tersenyum manis kepadanya. Ya tuhan. A-aku ingin pingsan!
Bersambung
__ADS_1