Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Ucapan terima kasih


__ADS_3

"Terima kasih ya, Bi," ucap Milly saat dirinya menerima kantong plastik yang bibi warung berikan kepadanya.


"Sama-sama Mill, jangan kapok datang ke sini ya." Ucap wanita paruh baya berperawakan sedang itu sambil tersenyum ramah.


"Pasti lah, Bi. Apalagi pas tanggal tua. Aku bakal sering-sering datang ke sini." sambil mengedipkan mata, Milly berucap malu-malu pada penjual langganannya itu.


Wanita paruh baya itu terkekeh melihat tingkah Milly. "Pasti mau ngutang, kan??" tebaknya kemudian dengan nada bercanda sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Milly.


"Hahaha ...." Milly menepuk pelan bahu bibi itu. "Bibi tau aja."


Apa-apaan sih ini, masa ngomongin hutang di depan suaminya yang kaya raya. Apa kata dunia! Billy yang berada di sisi Milly membatin kesal.


Melirik lelaki tampan yang berdiri di sisi Milly itu, si bibi tak bisa menahan dirinya untuk bertanya. Jika melihat dari kedekatan keduanya sepanjang mereka duduk dan makan tadi, dirinya bisa memastikan jika lelaki ini bukanlah orang sembarangan dan memiliki hubungan khusus dengan Milly.


Meskipun kelihatannya bersikap dingin, namun ia bisa melihat ada cinta di mata lelaki itu. Dari kesabarannya menghadapi kerakusan Milly, dari cara makan gadis itu yang sengaja dibuat berantakan, bahkan membantu Milly minum saat gadis itu kepedasan.


Menarik lengan Milly pelan dan mendekatkan mulutnya ke telinga si gadis, si bibi lantas berbisik. "Eh dia siapa?"


"Yang mana Bi?" Milly malah balik bertanya.


"Ya ampun Mill, memang kamu datang berapa orang?!" ucap si bibi geregetan.


"He-he." Milly terkekeh kecil sambil meringis. Sambil menggigit bibir bawahnya, ia lantas menggerakkan lehernya menoleh pada lelaki yang rupanya tengah menatapnya dengan wajah penasaran. Hanya sedetik, sebelum kemudian Milly kembali menoleh ke arah di bibi dan langsung berbisik. "Dia bos saya Bi, ganteng kan??" tanyanya kemudian seolah meminta pendapat.


"Iya. Ganteng banget." Si bibi terkekeh pelan. "Masih jomblo kaga? Kenalin sama anak Bibi, dong ...." ucapnya kemudian dengan nada penuh harap.


"Ish Bibi, jangan deh ... entar yang punya marah. Dia udah punya istri."


"Masa?" Wanita paruh baya itu mengernyitkan dahi, lalu menatap Billy sekilas sebelum kemudian kembali berbisik. "Mana istrinya kagak kelihatan." ucapnya kemudian dengan nada memprotes. "Orang masih muda ganteng gitu kok. Nggak mungkin udah punya istri. Orang nggak ada potongan-potongannya dia punya istri."


"Ya ampun Bi, namanya juga laki! Kecuali dia datang ke sini bawa-bawa bayi ...!"tutur Milly gemas.


Mereka berdua ini apa sih? Masa iya ngeghibah di samping orang yang mereka ghibahin. Masih mending kalau bisik-bisiknya nggak kedengaran, lah ini pakai spiker jebol gitu! Batin Billy kesal.


"Ehemm." Bahkan setelah Billy pakai acara berdehempun keduanya masih asik dengan acara ghibahnya.


Sialan! Apa mereka pikir aku berdiri di sini hanya sebagai tiang bendera di lapangan yang hanya dipakai pas upacara agustusan, selebihnya diriku di abaikan. Tapi ini lebih parah dari itu, mereka bahkan menganggapku tidak ada. Astaga ... wanita ... wanita .... Apa begitu cara kalian berbuat dosa?! Lagi-lagi kekesalan Billy hanya bisa bersuara dalam hati.


"Sayang ,,," pada akhirnya Billy pun memakai cara ini. Memanggil sang istri dengan suara selembut mungkin. Bahkan dengan senyuman semanis gula, serta tindakan selembut sutra saat tangan kanannya bergerak mengusap pipi chubby si wanita.


Astaga, apa yang dia lakukan? Milly menoleh dengan bola matanya membulat sempurna. Tanpa sadar ada semburat merah yang memancar dari pipi putih mulusnya. Bibirnya pun ternganga tak percaya.


"Tadi Bapak bilang apa?" tanya gadis cantik itu seolah ingin meyakinkan, dan lebih tepatnya ingin mendengarkan sekali lagi.


"Iya istriku Sayang ,,, ayo kita pulang. Aku sudah tidak sabar ingin berduaan bersamamu saja." ulang Billy dengan lembut namun tegas. Seolah ia sengaja untuk memperjelas pernyataannya yang pertama.


Apa? Dia memanggilku sayang? Dia mengajakku pulang? Dia mengajakku berduaan? Aaa ... mimpi apa aku semalam?


"Heh Mill, woii!" Si bibi menyenggol tubuh gadis yang sedang terpaku itu dengan lengannya hingga Milly terkejut dan menatap dirinya. "Diajak pulang kok malah bengong?!" Bisiknya kemudian di telinga Milly. "Bohong kamu ya, kau bilang dia bos mu, eh taunya suamimu."


Milly hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan wanita paruh baya itu. Sebab dia sendiri bingung harus bersikap bagaimana.


"Terima kasih atas pelayanannya, Bi." Billy berucap sopan sambil mengangguk samar. Setelahnya tangan kokoh lelaki itu pun bergerak meraih jemari Milly lantas menggenggamnya. Saat netra keduanya saling bertemu, Billy pun seolah tak segan menyunggingkan senyumannya. Menggeser pandangannya ke arah wanita paruh baya itu, ia lantas berpamitan. "Kami berdua permisi."

__ADS_1


"Oh iya-iya." Jawab bibi setengah tergagap. "Jangan kapok ke sini lagi, ya." Tuturnya dengan senyuman yang melebar.


Billy hanya tersenyum dan mengangguk dengan sikap elegan menanggapi wanita paruh baya itu. Setelahnya ia kembali menatap Milly yang masih ternganga tak percaya. Dengan sedikit tarikan di tangannya, Billy seolah mengisyaratkan agar mereka segera beranjak dari sana.


Seperti diterbangkan ke atas awan saat Billy menggandengnya dengan mesra berjalan keluar dari restoran sederhana itu. Milly bahkan bisa merasakan tubuhnya yang mendadak panas dingin karena sikap lembut yang Billy tunjukkan kepadanya dan bibi warung. Entah itu hanya pura-pura atau apa, yang jelas dia menyukainya.


Bahkan setelah sampai di dekat mobilnya pun Billy tak segan membukakan pintu untuk Milly. Lantas mengangguk sopan pada si bibi warung yang rupanya mengikuti mereka keluar dan berdiri di depan restoran. Nampak senyum bahagia mengembang dari bibir merahnya. Wanita itu pun kemudian balas mengangguk sopan kepada Billy.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Billy setelah mobilnya telah melaju beberapa menit yang lalu. Tanpa menoleh pada istrinya yang memang hanya diam atau mungkin sedang berangan.


"Emm," Milly menggumam seraya menoleh, menatap pria di sampingnya. "Bapak tadi bilang apa?" tanyanya dengan wajah kebingungan.


"Astaga ...." Billy setengah Menggeram. "Makanya, kalau ada orang ngomong itu telinga dibuka, jangan di tutupin pakai rambut. Kayak gini nih." Ucap Billy sambil menggerakkan tangannya menyentuh sulur rambut yang menutupi setengah bagian pipi kanan Milly lalu menyelipkannya ke belakang telinga sang istri.


Wajah Milly semakin memerah saja saat jantungnya di dalam sana terasa seperti melompat-lompat ingin keluar. Dan lagi-lagi Milly tanpa sadar menggigit bibir bawahnya saat netranya saling bertemu dengan netra teduh milik suami.


Ya ampun, dia belai-belai rambut aku. Hihihi ada untungnya juga ikat rambut aku tadi lepas.


"Kenapa?" Billy bertanya dengan alis yang bertaut.


"Hah?" Milly mengerjap bingung. "Kenapa apa?"


"Kenapa wajahmu merah seperti tomat?" Untuk sesaat Billy terlihat mengatupkan bibir seolah sedang menahan tawa, dan kemudian kembali berkata. "Apa kau kepedasan? Persis seperti saat kau makan ayam geprek tadi dan seblak waktu itu."


"Hah!" Milly mengerang malu. Gadis itu segera membuang muka guna menyembunyikan wajahnya yang memang kemerahan. Ish, kenapa masih ingat aja sih? itu kan momen paling menyedihkan, sampai-sampai aku diare semalaman. Seneng banget dia nyiksa aku. Males ah kalau kayak gini.


Tak lama kemudian, mobil Billy pun sampai di depan kontrakan. Karena tak ingin berlama-lama di dalam sana, Milly pun memutuskan untuk segera turun sebelum Billy mematikan mesin mobilnya.


Milly yang sudah turun lantas membungkuk dengan kepala menyembul masuk. "Terima kasih atas tumpangan dan traktirannya ya, Pak." ucapnya dengan ramah sambil menunjukkan kantong kresek di tangannya.


Milly yang merasa aneh pun menautkan alisnya. "Loh kok dimatiin, Pak?" tanyanya keheranan sebelum kemudian menarik diri dan menutup pintu mobil itu setengah kebingungan.


Billy yang sudah turun pun segera melangkah menuju kontrakan mendahului Milly yang masih berdiri di tempatnya. Gadis itu bukannya segera melangkah menyusul si lelaki, ia malah sibuk mengawasi setiap gerakan Billy yang tengah melihat-lihat tempat tinggal istrinya itu sebelum kemudian mengarahkan pandangan kearah Milly sambil mengetukkan jarinya ke daun pintu, seolah sedang mengisyaratkan kepada istrinya itu untuk segera membukanya.


Sontak saja Milly meringis setelah menyadari jika kunci itu masih berada padanya. Tergopoh, gadis cantik itu berlari kecil menghampiri Billy, eh tepatnya pintu sambil mencari-cari benda kecil bernama kunci itu di tas mungilnya.


Gadis mungil itu menyunggingkan senyum kikuk setelah menemukannya, lantas dengan segera membuka pintunya.


Tanpa canggung, Billy yang berdiri di sisi kanan Milly pun segera melangkah masuk begitu pintu terbuka, mendahului Milly yang masih terbengong-bengong berdiri di tempatnya.


"Masuk aja, nggak usah sungkan-sungkan." Ucap Billy yang posisinya masih membelakangi si istri.


Hei, dia bilang apa tadi? Ini kan kontrakanku, kenapa aku yang berasa jadi tamu.


"Pak, kan seharusnya saya yang ngomong gitu ke Bapak ...!" protes Milly dengan nada mengingatkan.


"Ah, nunggu kamu ngomong gitu kelamaan." papar Billy sambil mengamati ruang tamu mini itu, lantas memutar tumit dan berbalik badan, menatap sang istri yang masih terpaku di tempatnya dengan pandangan yang menatap aneh kepadanya. "Sampai kapan kau akan berdiri di sana."


Tersenyum kecut, Milly pun kemudian melangkah mendekat dan berhenti di depan lelaki dengan postur menjulang yang tengah mengamatinya sambil bersedekap dada.


"Bapak nggak kerja? Nggak pulang juga?" Setelah diam beberapa saat, akhirnya Milly memutuskan untuk bertanya.


"Memangnya kenapa?" Tanya Billy sambil menautkan alisnya. Lalu pandangan mengedar ke seluruh ruangan dan kembali bertanya, "Aku nggak boleh masuk ke sini?" lelaki dengan earphone di telinganya itu mengarahkan tatapannya lekat, seolah sedang menunggu si wanita menjawab.

__ADS_1


"Bukan seperti itu." Milly meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Agak aneh aja."


Billy tak menanggapi perkataan istrinya. Ia justru menyibukkan diri mengamati tiap jengkal tempat itu.


"Berapa lama kau menempati kontrakan ini?" tanya Billy kemudian setelah diam beberapa saat.


"Ini bulan yang ke empat, Pak." Milly menjawab singkat.


Billy yang semula membelakangi Milly pun tiba-tiba berbalik, dan mendapati kantong kresek berisi empat porsi ayam geprek itu masih setia digenggaman sang istri. "Kau masih lapar?" tanyanya kemudian dengan ekspresi wajah mengolok.


"Aaa ... kalau boleh jujur saya sebenarnya kekenyangan." terang Milly dengan bibir menyunggingkan senyum kecut. "Perut saya begah dan rasanya tidak enak. Ini imbas dari kerakusan saya," imbuhnya, gadis itu kemudian tertunduk malu. Dan tanpa Milly ketahui, rupanya Billy menipiskan bibir dan tersenyum senang mendengar pengakuan sang istri.


"Ehemm," Billy berdehem kecil, yang sontak membuat Milly mendongak menatapnya. "Lantas untuk apa kau bungkus empat porsi itu?" tanyanya sambil menurunkan pandangan ke arah kantong yang di bawa Milly.


Si gadis sontak menunduk mengikuti arah pandangan si suami. "Oh ini?" Tanya Milly sambil mengangkat tangannya. "Ini mau saya kasih buat Ibu kontrakan. Hi-hi, ceritanya mau nyogok, biar kasih kelonggaran waktu buat banyak kontrakan. He-he ...."


"Astaga ...." Billy menghela napas dalam. Ia sempat mengira sang istri akan menghabiskan makanan itu sendirian.


"Boleh saya pamit sebentar? Mau kasihkan ini buat nggak keburu dingin dan kurang enak dimakan?" Milly sudah hampir berbalik badan, namun langkahnya tertahan saat lengan Billy tiba-tiba bergerak menahan.


"Kenapa Bapak menahan saya?" dengan dahi yang mengkerut, Milly bertanya bingung.


"Nanti saja, sekalian pamit."


"Hah!"


***


"Wah makasih ya, pakai bawain Mpok oleh-oleh segala. Mpok jadi makin suka." Wanita paruh baya itu tersenyum senang saat menerima kantong berisi kemasan menu ayam geprek yang Milly berikan.


"He-he, hadiah kecil untuk kebaikan Mpok sana saya." balas Milly, dengan seulas senyum yang terkembang.


"Tapi kok bawa-bawa koper baju segala." Ucap wanita itu penuh curiga saat melihat koper pakaian yang tadi di keluarkan Billy dari dalam kontrakan. "Mau kemana sih Neng?" tanyanya kemudian dengan wajah penasaran.


"Emm begini Mpok," Milly membuka genggaman tangannya dan menyerahkan sebuah kunci kepada pemiliknya. "Saya ke sini sekalian mau pamit sama Mpok."


"Lah mau pamit kemana sih Neng? Mau pulang ke kampung halaman?" wanita paruh baya itu mencoba menebak.


"Dia akan tinggal bersama saya." Billy yang berada di belakang menyahut pelan. Lelaki berperawakan tinggi itu lantas mendekat dan mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, saya adalah suami dari Milly." ucapnya dengan percaya diri.


Sontak saja hal itu membuat wanita paruh baya yang sedang menyambut uluran tangannya itu membelalak seketika. Pasalnya sebelumnya ia mengira Billy adalah bos dari Milly.


"S-suami?" Tanya wanita yang rambutnya di cepol itu dengan nada terkejut dan terbata. Pasalnya selama yang dia tahu, status Milly adalah gadis lajang penjual rujak. Lalu kapan mereka menikah?


Billy merogoh sesuatu dari balik jasnya dan mengeluarkan amplop berwarna coklat dari sana. Menyodorkan amplop berisi itu kepada wanita di depannya, Billy pun berucap, "Terima kasih sudah menjaga istri saya selama ini dan mohon diterima, anggap ini adalah pembayaran bulan terakhir kontrakan istri saya." Billy berucap sopan.


Menerima amplop itu dengan ragu dari tangan Billy, wanita paruh baya itu langsung membuka dan melihat isi di dalamnya. Seketika wanita itu langsung membelalak saking terkejutnya. "Tapi ini terlalu banyak, Pak."


"Tidak papa, itu sebagai ucapan terima kasih saya." pungkas Billy.


"Kenapa Bapak memberikan uang sebanyak itu untuk Ibu kontrakan?!" protes Milly saat mobil Billy telah melaju meninggalkan kontrakan. "Saya cuma telat bayar sebulan Pak ,,, lalu kenapa Bapak membayarnya dengan segepok uang? Kan sayang duitnya ...!" ucap Milly menyayangkan sambil mengarahkan pandangannya ke arah Billy yang tengah fokus pada kendali setirnya.


"Memangnya kenapa? Salah ya, kalau aku berterima kasih kepadanya." balas Billy sambil menatap lekat manik bening milik istrinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2