Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Kepulangan Mayang


__ADS_3

"Bukankah hari ini kau mau pulang ke rumah orang tua mu?"Ratih mengingat kan.Dia bisa melihat wajah Mayang yang terlihat kebingungan."Billy sudah datang untuk menjemput mu."Ratih melempar pandangan ke arah Billy yang terlihat mengangguk."Dia yang akan mengantar mu sampai ke rumah orang tua mu."Ratih Kembali memandang Mayang dan tersenyum ketika gadis itu menunjukkan ekspresi terkejut.


Mayang menepuk dahinya seketika.Bagaimana mungkin ia bisa melupakan itu.Semalam ia hanya di sibuk kan dengan pikiran tentang perkataan nyonya mengenai pernikahan nya dengan tuan Brian saja sehingga melupakan hal sepenting ini.


Aaah memalukan sekali!


"Apa kau sudah siap?"Tanya Ratih dengan halus.Tatapan nya sangat teduh dan dia memperlakukan Mayang seperti putri nya sendiri.


"Ss sudah nyonya."Jawab Mayang dengan terbata.


Tak ada yang perlu ku bawa juga kan?Ponsel ku juga sudah hancur kan..


"Untuk mu Mayang."Billy menyodorkan sebuah kotak kecil kepada Mayang yang ternyata itu adalah kotak ponsel keluaran terbaru.Mayang menerimanya dari tangan Billy dengan hati-hati."Tuan muda menitip kan nya untuk mu."Ucap Billy kemudian.


"Benarkah ini dari tuan muda?"Mayang merasa tidak yakin.Mayang memperhatikan kotak itu sembari sesekali melirik Billy.


"Iya,Tuan muda membeli nya malam tadi."Jawab Billy dengan penuh keyakinan."Kau bisa mengisi nya dengan sim card milik mu."


"Tapi sepertinya ini terlalu berlebihan."Ucap Mayang ragu.Ia menaruh kotak itu di meja dan menggeser nya pelan ke arah Billy."Maaf saya tidak bisa menerimanya."


Billy menggeser kotak itu kembali ke ujung meja tepat di hadapan Mayang."Kau harus menerima nya Mayang."


"Saya tidak bisa sekretaris Billy."Menggeser kotak itu kembali ke arah Billy.


"Ini perintah Mayang."Billy menggeser cepat kotak itu pula.


"Tapi saya tidak bisa!"Ucap Mayang kesal setengah berteriak sembari menggeser kotak itu kearah Billy."Ini terlalu,"


"Mayang!"Ratih memotong ucapan Mayang.Gadis itu menoleh ke arah nya seketika."Jangan keras kepala!Terima saja ya."Ratih menatap Mayang seperti memohon membuat gadis itu trenyuh.


"Saya menerimanya nyonya.."Mayang cepat-cepat meraih kotak itu dan menaruh nya di pangkuan."Terima kasih..."Entah di tujukan pada siapa ucapan Mayang itu.Ia hanya tersenyum kecut menatap Ratih dan Billy bergantian.


"Mayang,,,"Ratih meraih jemari Mayang dan mengusap punggung tangan nya lembut.Mayang menatap Ratih antusias dan siap mendengarkan wanita itu bicara."Lupakan tentang ucapan ku tadi malam ya.Aku hanya sedang emosi saat mengatakan nya."Ucap Ratih kemudian dengan senyum ketulusan."Maaf,,,"


"Nyonya jangan meminta maaf pada saya,,,"Rengek Mayang karena tidak enak hati."Saya yang salah nyonya."


"Kamu tidak salah."


"Saya yang salah!"Sahut Mayang cepat.


"Dasar keras kepala."Ratih menekan dahi Mayang dengan telunjuk nya gemas membuat Mayang seketika tertawa garing karena menahan malu."Sekarang persiapkan dirimu ya,"Ucap Ratih sembari berdiri."Aku tinggal dulu.Dan kau selamat bersenang-senang ya."Ratih mencubit pipi Mayang gemas membuat gadis itu membelalak kan mata seketika.Merasa tak percaya dengan apa yang yang terjadi.Ia membelai pipi nya lembut tepat dimana Ratih tadi mencubit nya.


Itu artinya tidak ada pernikahan kan?Nyonya terlalu baik untuk mendapatkan menantu seperti ku.Semoga tuan Brian mendapatkan pendamping yang bisa membahagiakan nya dan juga keluarga nya.


"Mayang."Panggil Billy membuat Mayang kembali tersadar.


"Ya sekretaris Billy."Jawab Mayang antusias.Ia kembali memfokuskan pandangan nya pada Billy.


Billy menggeser sebuah kartu ATM yang berada di meja dengan jarinya ke arah Mayang."Ini kartu tanpa batas pemberian tuan muda.Jangan di tolak."Ucap Billy tegas tak mau kejadian beberapa menit lalu terulang lagi.


Mayang mengatup kan kembali bibirnya yang sempat ternganga tadi.Ia menatap lekat kartu itu kemudian menatap Billy dengan tatapan tak percaya.


"Cepat lah bersiap-siap sebelum tuan berubah pikiran dan melarang mu pulang."Ucap Billy cepat membuat Mayang menelan kembali kalimat yang belum sempat ia ucap.


"Baik sekretaris Billy."Mayang mengangguk lalu bangkit.Ia buru-buru melangkah kan kakinya beranjak ingin menuju ke kamarnya.


"Hey bawa serta kartu mu!"Seru Billy karena Mayang meninggalkan kartu nya.


"Haha iya."Mayang yang sudah sampai di ambang pintu kemudian berbalik."Terimakasih sekretaris Billy."Ucap Mayang dengan tersenyum lebar saat kartu itu sudah berada di tangan nya.


"Berterimakasih lah pada tuan muda!"Billy setengah berseru pada gadis yang tengah berlari kecil yang kemudian tak terlihat lagi karena menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Setelah selesai bersiap,Mayang pun mengikuti langkah Billy yang sejak tadi menunggunya bersiap untuk mengantar Mayang sampai ke rumah orang tua nya.


Mayang merasa aneh saat Billy terlihat berjalan semakin menjauhi mobilnya yang terparkir di halaman."Sekretaris Billy kita mau kemana?"Tanya Mayang bingung."Bukan nya mobil anda di sana...?"Ucap Mayang sembari menunjuk Mobil billy dengan jari telunjuk nya.


Billy yang sudah mengenakan kaca mata hitam hanya menoleh tanpa bicara.Ia hanya sedikit menunjukkan seringai nya membuat Mayang sebal karena merasa tak dihiraukan.Langkah mereka semakin jauh hingga Helikopter yang terparkir rapi di Heli pad yang berjarak kurang lebih tiga puluh meter dari rumah utama pun semakin terlihat jelas.


"Apa kita akan naik ini sekretaris Billy?"Tanya Mayang antusias.


"Iya."Jawab Billy singkat.


Seorang pengawal membuka pintu penumpang helikopter itu dan mempersilakan pada Billy.Billy mengisyaratkan pada Mayang untuk segera naik dan mengulurkan tangan nya untuk membantu.


Mayang melirik jemari tangan Billy ragu.Tapi karena Billy mendesak agar cepat,Mayang akhirnya meraih jemari kekar itu untuk membantu nya.


Saat semua sudah siap,pilot pun menyalakan mesin nya.Seketika baling-baling pun berputar dan siap terbang mengudara menyongsong awan putih yang terlihat seperti kapas yang menghiasi biru nya langit cerah hari ini.


Rasa bahagia,antusias dan senang bercampur aduk jadi satu sehingga terpapar dalam senyum yang selalu terurai di bibir Mayang tanpa jeda sedikit pun.Ia memang pernah dua kali terbang bersama helikopter ini namun rasanya tak se bahagia ini.


Ia benar-benar menunjukkan senyum manis nya saat Billy menoleh ke arah nya seolah mengatakan kalau dia benar-benar bahagia.Billy bisa merasakan apa yang gadis ini rasakan mengingat diri nya lah orang yang mengambil paksa gadis itu dari keluarganya.Ia juga menunjukkan senyum nya karena rasa bersalah.


Tak berapa lama akhirnya Helikopter pun mendarat di lapangan terbuka dan Mayang mengenali tempat itu.Saat kaki nya mulai menapak ke tanah,Mayang mengedarkan pandangan nya ke sekitar dan terperangah.Ia benar-benar sudah berada di lapangan yang tak jauh dari rumahnya.Ia benar-benar pulang.


Yuhu! Batin Mayang bersorak dalam hati.


"Mari Mayang."Billy mengarahkan agar Mayang mengikuti nya berjalan menuju mobil yang telah terparkir seolah menunggu kedatangan nya.


"Anda bahkan sudah menyiapkan mobil untuk menjemput sekretaris Billy?!"Tanya Mayang tak percaya.


Sopir membuka pintu penumpang dan menunduk sopan mempersilahkan Billy dan Mayang untuk masuk.Billy dan Mayang pun duduk di kursi penumpang,sedangkan seorang bodyguard yang ikut bersama di Helikopter duduk di depan bersama sopir.


Dada Mayang semakin bergemuruh tak sabar ingin segera sampai di rumah.Berkali-kali ia menggisok telapak tangan nya yang terasa basah dengan keringat dingin.Ia ingin segera memeluk kembali keluarganya dan memanfaatkan waktu yang singkat ini untuk bahagia bersama orang terkasih nya.


Saat mobil sudah memasuki gerbang dan menuju halaman rumahnya,tampak beberapa orang berpakaian rapi dengan stelan jas hitam nya tampak menyambut kedatangan mereka.Mayang sempat terkejut karena itu.


"Sejak tadi."Jawab Billy singkat.


"Kenapa anda lakukan ini?!"Ucap Mayang sambil memukul bahu Billy kesal.Ia terlihat kecewa karena ternyata kedatangan nya ini bukan lagi sebuah kejutan untuk orang tuanya.Tapi justru dia yang di buat terkejut oleh ulah lelaki di samping nya ini.


Mayang menyandarkan tubuhnya di jok mobil setengah membanting.Bersedekap dan membuang muka nya dari Billy yang sedang turun dari mobil.


"Sampai kapan kau akan di situ?"Ucap Billy yang sedang dengan posisi setengah membungkuk menatap gadis yang tengah merajuk dan enggan untuk keluar itu."Apa kau ingin kembali ke kota lagi?Baiklah,,,"


"Aa tidak tidak!"Mayang memotong pembicaraan Billy."Saya keluar sekarang."Mayang segera turun dari mobil.


Seketika pandangan nya tertuju pada tiga orang dengan pandangan penuh kerinduan menatap ke arah nya.Matang berhambur berlari dan memeluk tiga orang itu secara bersamaan.Empat orang itu saling merangkul dengan isak penuh haru.Semua rindu yang selama ini tertahan kini tumpah ruah dalam pelukan kebahagiaan."Aku rindu kalian,,,"Ucap Mayang di sela-sela tangis bahagianya.


"Kami juga sangat merindukan mu nak."Ibu mengusap lembut punggung putrinya.


"Mayang."Ucap Billy yang berada di belakang Mayang yang sejak tadi menjadi saksi kebahagiaan keluarga kecil ini.


Keluarga yang saling berpelukan itu pun saling melepaskan pelukan nya.Mereka terlalu larut dalam kebahagiaan sehingga lupa pada orang di sekitar mereka.


"Ya sekretaris Billy."Jawab Mayang sembari menyeka air mata yang sempat menetes.


"Tugas ku untuk mengantar mu sudah selesai.Dan sekarang sudah waktunya aku kembali."Ucap Billy dengan sopan.


"Tuan apa tidak sebaiknya mampir dulu untuk melepas lelah?"Sergah pak Hasan seketika pada tamu nya agung nya.


"Tidak pak,terimakasih."Tolak Billy dengan sopan."Saya hanya mendapat tugas untuk mengantar Mayang sampai rumah dengan aman."


"Terimakasih sekretaris Billy.Maaf kan atas ulah saya yang tidak sopan tadi."Ucap Mayang tulus dengan pandangan penuh penyesalan.

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan Mayang."Billy tersenyum lalu mohon diri.Mobil hitam itu kembali membawanya menuju ke lapangan tempat Heli tadi mendarat dan masih setia menunggu di sana.Billy menugaskan beberapa orang bodyguard untuk menjaga Mayang selama di sini.Tentu saja itu atas perintah dari Brian.


Keempat orang itu masih terpaku mengiringi kepergian mobil yang membawa Billy dengan pandangan mata nya hingga mobil itu tak lagi terlihat.


"Kakak,,,"Weni menyambar tubuh Mayang dan memeluknya dengan erat."Aku merindukan mu,,"


"Iya aku tahu."Ucap Mayang dengan bangga.


"Kakak,,, kenapa kau jadi angkuh sekarang?"Ucap Weni dengan nada kecewa sembari meleoaskan pelukan nya.


"Haha aku hanya bercanda."Mayang tertawa lalu meraih tubuh adik nya dan memeluk nya erat."Aku juga merindukan mu adik ku sayang."


Weni tersenyum dan membalas pelukan kakak nya yang telah dua bulan tak bertemu.


Hasan menggiring istri dan anak nya untuk masuk kedalam rumah dan melepas rindu disana.Mereka bercerita banyak tentang segala yang telah Mayang lewatkan selama dirinya meninggalkan rumah sejak saat Billy membawanya.


"Sekarang giliran kakak yang cerita."Pinta Weni dengan wajah yang terlihat sangat antusias.


"Aku?"Mayang menuding dirinya sendiri dengan jari telunjuknya."Aku harus cerita apa?"Ucap Mayang pula dengan wajah yang terlihat bingung.


"Tentu saja cerita bagaimana hari-hari kakak disana!"Sahut Weni sedikit kesal.Ia terlihat sudah tak sabar."Bukan kah kakak bekerja di sana?Posisi kakak apa?"


"Posisi?"Mayang semakin terlihat bingung."Posisi ku... emm."Mayang bingung mencari alasan.


Apa yang harus ku katakan??Aku saja tidak tau bekerja di kantoran itu bagaimana?Inilah akibat dari kebohongan mu Mayang... rasakan kau sekarang! Mayang mengutuki dirinya sendiri.


"Kakak benar-benar bekerja kan disana?!"Tanya Weni tegas dengan nada menyelidik.


"Tentu saja kakak bekerja!"Jawab Mayang dengan nada suara yang tinggi agar adik nya percaya."Tapi perutku lapar sekarang dan aku ingin makan.Lain kali saja ceritanya."Mayang mengalihkan pembicaraan.


"Kalau memang bekerja tunjukkan gaji mu sekarang!"Todong Weni dengan pandangan mata tajam mendesak Mayang.


"Hey kau kira aku tidak punya gaji!"Mayang meraih tas tangan nya lalu mengeluarkan kartu pemberian Brian."Belilah apapun yang kau suka dengan ini agar kau percaya."Mayang menyodorkan kartu itu pada Weni dan langsung di terima oleh adik nya itu dengan pandangan terperangah.


"Beneran kak?!"Weni membolak-balik kan kartu itu seperti tak percaya.


"Kalau masih belum percaya lihat saja ponsel ku."Mayang mengeluarkan ponsel baru nya itu dari tas.Weni yang melihat langsung menyambar nya dari tangan Mayang.


"Kakak... kau bahkan sudah memiliki ponsel seperti ini."Weni mengelus ponsel Mayang dengan wajah sedih tang di dramatisasi."Memang berapa gaji kakak?Ponsel seperti ini sangat mahal kan?"Weni melempar pandangan nya ke arah Mayang.


Seketika Mayang jadi gelagapan."Gaji ku tidak tentu setiap bulan nya."Jawab Mayang cepat sebelum adiknya kembali curiga."Ponsel itu adalah bonus.Karena aku bekerja dengan baik."


"Benar kah ?!"Weni mendekat kan wajah nya kearah Mayang yang terlihat gusar.Mayang harus bisa meyakinkan adiknya saat penyakit zulid adiknya itu tiba-tiba kambuh.


"Tentu saja!"Mayang mengadu dahinya dengan dahi Weni membuat gadis itu menarik kepalanya dan meringis kesakitan.Ia mengusap dahinya yang terasa nyeri."Aku mau makan ah,,,"Mayang lalu bangkit dari duduk nya dan melangkah menuju ke dapur untuk menyusul ibu nya di sana.


Asmia mendekati putri nya yang makan masakan nya dengan lahap.Ia lalu duduk di samping Mayang sangat dekat,Menggenggam tangan nya erat hingga gadis itu menghentikan kegiatan makan nya dan menatap ibu nya dengan tatapan bingung.


"Ibu kenapa?"Tanya Mayang sembari tersenyum pada ibu yang selama ini selalu ia rindu kan itu.


"Apa kau baik-baik saja di sana?"Tanya Asmia dengan Wajah yang serius dan pandangan yang teduh lekat menatap putrinya.


"Ibu... aku baik-baik saja.Ibu lihat bagaimana aku sekarang kan??"Mayang berdiri menunjukkan dirinya pada sang ibu.


"Iya ibu tau fisik mu baik-baik saja.Tapi batin mu bagaimana?"Asmia menunjukkan keraguan dari matanya.


"Ibu percayalah,,,aku sangat baik-baik.Apalagi sekarang aku sangat bahagia ibu.Jadi jangan ragu lagi ya."Mayang menunjukkan senyum termanisnya agar sang ibu merasa lega.Sesaat kemudian Asmia tampak tersenyum walau sedikit di paksakan,namun membuat Mayang sedikit merasa lega.Bagaimana pun perasaan ibu kandung sangat sensitif jika menyangkut keselamatan anak gadis nya."Sekarang biarkan aku makan dulu ya,,, aku rindu masakan ibu,,,"Ucap Mayang dengan nada merengek.


"Makan lah nak,,, makan yang banyak ya."Asmia membelai lembut rambut putri nya.Kedua wanita itu sama-sama tersenyum menikmati kebersamaan.


"Astaga naga!!"Suara teriakan Weni dari penjuru luar terdengar menggelegar memekakkan telinga.

__ADS_1


Apa lagi si ini!


__ADS_2