Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Au ah gelap


__ADS_3

Berdiri mematung, Milly masih memperhatikan dengan senyuman penuh puja pada mobil Billy yang hampir saja menghilang di ujung jalan gang. Seolah tak ingin melewatkannya barang sedikit saja, sampai-sampai Milly tak berkedip hingga mobil yang di tumpangi sang suami tak nampak lagi.


Merasa tak ada yang bisa dilakukannya lagi di pelataran itu, ia pun melangkah dengan riang menuju teras kontrakannya.


"Woy bahagia amat Lo!" Teriakan Ina dari gazebo memaksa Milly yang tampaknya tengah begitu bahagia untuk menoleh.


"Ya iya lah! Namanya juga baru ketemu suami." jawab Milly bangga sambil mengibaskan rambutnya. "Gua masik dulu ya!" pamitnya sebelum kemudian melangkah dengan gembira memasuki kontrakannya.


Tertegun bingung menatap Milly yang tengah berbunga-bunga, Ina dan beberapa orang gadis yang tengah bersantai di gazebo itu lantas saling melempar pandanhan bingung satu sama lain.


Bukannya mereka tak senang melihat temannya berbahagia, namun Milly yang tiba-tiba mengatakan jika dirinya sudah menikah itu terlalu mengada-ngada bagi mereka. Terlebih dengan lelaki tampan yang kelihatannya bukan berasal dari kalangan biasa. Sedangkan mereka yang setiap hari bersama saja tak ada seorangpun dari mereka melihat Milly dengan pemuda tampan itu melangsungkan acara ijab kabul.


"Kalian ngerasa ada yang aneh dengan Milly nggak si guys?" tanya Ina heran sambil menatap temannya satu per satu. Ada sejejak kecemasan di hatinya saat bertanya. "Masa dikit-dikit ngomong dia udah nikah. Kapan nikahnya coba? Gue jadi khawatir halusinasi Milly levelnya udah tingkat dewa. Gue takut dia kesambet." Ina menghentikan ucapannya senenak selagi berpikir. Setelah beberapa saat, Ina tersentak sambil tersenyum saat sebuah ide muncul di kepalanya. "Gimana kalau entar kita culik dia terus kita mandiin pakai kembang setaman?"


"Gila Lo!" sahut seorang teman dengan nada


memprotes. "Lo pikir dia hamil tujuh bulan ampe mau dimandikan pakai kembang setaman! Jangan ngada-ngada dong."


"Gue kan cuma khawatir aja! Kenapa Lo sewot?!"


"Elo yang mikirnya terlalu kejauhan!"


Selagi yang di luar sedang ribut memikirkan dirinya, Milly yang berada di dalam segera melangkah menuju kamar. Berdiri di depan lemari kaca, ia melihat bayangan dirinya yang sedang tersenyum sambil membetulkan rambutnya.


"Seperti apa mukaku tadi, ya?" gumamnya dengan nada sedikit panik sembari memperhatikan dirinya sendiri. Memperagakan saat dirinya berlari kecil dan mengatur napas saat dirinya terengah setelah berlari. "Astaga, kenapa jelek sekali saat aku seperti ini?!" keluhnya panik saat dirinya mempraktekkan dengan posisi setengah membungkuk dengan tangan bertumpu pada lutut.


Sebenarnya tak ada yang salah dengan posisi itu, namun Milly tercengang sendiri melihat wajahnya yang meringis, persis kucing tetangga yang menggeram minta kawin, seperti yang ia lihat kemarin di rumah Abang Juned saat mengantarkan pesanan rujak.


"Astaga ,,," Milly menepuk dahinya sendiri dengan lemas. "Memalukan sekali! Pantas saja dia malas menatapku. Orang akunya saja jelek begini." Ia menggeleng tak habis pikir menatap dirinya sendiri.


"Tapi kalau senyum aku cantik loh. Baru sadar." Gumamnya membanggakan diri sembari tersenyum dan berpose ala-ala model dengan gaya spinning, miring dan nungging. "Tuh kan mirip model malah. Apalagi kalau ditambah sedikit polesan. Mirip banget, sama artis india Selena Gomes. Itu tuh, mantan pacarnya Justin Bieber Khan." tuturnya pada diri sendiri penuh percaya diri.


"Oh iya, tadi kan dia bilang suruh aku dandan. Mendingan aku belajar dandan dari sekarang." Milly lantas berhambur menuju meja rias. Seketika metanya membelalak saat mendapati meja riasnya kosong tanpa peralatan make-up sama sekali.


"Loh, alat make-up ku mana?!" Matanya lantas berkeliaran mencari kesekitarnya, termasuk kolong meja. Ia bahkan merangkak masuk kesana, barang kali terjatuh di sana tanpa sengaja. Tangannya meraba-raba, tapi ia tak menemukan apa-apa. "Tidak ada juga," gumamnya putus asa sambil bersusah payah keluar dari sana.


Duduk di kursi sambil bertopang dagu, ia pun berusaha mengingat-ingat. Milly pun seketika tersentak saat sudah menemukan kembali ingatannya. Menepuk dahinya sendiri, ia pun tertawa geli. "Aku kan memang tidak punya alat make-up, kenapa aku kebingungan mencari?! Dasar gila." Umatnya pada diri sendiri.


"Aku ini perempuan atau apa, deodorant aja nggak punya, apalagi maskara." Keluhnya pada diri sendiri. "Aku saja lupa kapan terakhir kali pakai bedak. Aku ini masih tinggal di bumi kan, masa iya dandan aja kaga pernah. Ya tuhan, beginikah hidup tanpa cinta. Hasrat untuk mempercantik diri saja tidak ada. Lalu aku harus mendapatkan bedak gincu dan segala rupa itu dari mana?!" Panik, Milly pun meringis sambil menggigit bibir bawahnya. Jari telunjuknya lantas bergerak mengetuk-ketuk dahinya untuk berpikir lebih keras.


Seketika gadis itu membulatkan matanya sempurna dengan binar penuh bahagia saat muncul ide di kepalanya. Bangkit dari tempatnya, iapun segera berjambur keluar.


"Woy!!" pangginya pada gadis-gadis yang masih betah berada di gazebo, yang begitu mendengar teriakan langsung menoleh. Gimana enggak kaget, kalau teriakannya mirip seperti suara embak-embak yang nyariin Agus kayak di video yang sempat viral kemarin.

__ADS_1


"Apa Lo! Udah bangun?! Udah selesai ngayalnya jadi istri CEO?!" Tanya Ina dengan wajah kesal.


Dengan langkah kalem dan elegan, sedikit berlenggak-lenggok begitu anggun Milly berjalan mendekati teman-temannya. Wajahnya pun di setel dengan senyuman semanis mungkin. Lalu duduk mengambil posisi di samping Ina dengan mimik wajah polos tanpa rasa berdosa, meskipun ia tahu telah membuat teman-temannya kesal mereka.


"Sekarang udah inget Lo siapa?" Ina bertanya dengan ketusnya begitu Milly berada di sisinya.


"Lo pikir gue amnesia?!" Protes Milly meninggikan suaranya.


"Terus ngapain lo ngaku-ngaku jadi istrinya?!"


"Lah karena gue beneran istrinya!"


"Buktinya apa?!"


Tergagap saat ditodong mengenai bukti, Milly pun menggeleng cepat. "Nggak ada."


"Mana ada orang nikah tanpa bukti?! Paling enggak Lo punya surat nikahnya kan?"


"Enggak ada," Milly menggeleng pelan penuh sesal. "Gue nikah siri, jadi nggak ada surat nikah." jelasnya dengan nada lemah.


"Hah?!" Ina dan yang lain terperangah berjamaah. "Nikah siri Lo bilang?!"


Melihat Ina dan yang lain mendadak memasang wajah garang dan menatapnya tajam penuh kekecewaan, membuat Milly merasa terpojok. Seolah dirinya adalah seekor anak kucing yang dikelilingi anjing-anjing ganas. Yang mana jika dirinya salah bertindak sedikit saja maka mereka siap membantainya saat itu juga. Merasa terancam meskipun dirinya tak melakukan kesalahan.


"Ngaku Lo sama gue, apa yang bikin Lo mau dinikahi secara siri! Lo nggak lagi hamidun kan?!" Ina membelalak menuntut penjelasan seraya mencengkeram tangan Milly.


Tergelak, bukannya tersinggun Milly justru tertawa terpingkal. Merasa lucu dengan imajinasi tinggi teman-temannya. "Gila aja gue hami! Ya enggak lah!" Sanggahnya sambil menepis tangan Ina. "Disentuh laki aja gue kagak pernah, bisa hamil dari mana?!"


"Serius Lo nggak hamil?" Ina yang masih sulit untuk percaya, kembali bertanya untuk memastikan.


"Iya! Ish, kalian ini apaan sih, mikirnya kejauhan tau nggak."


"Terus gimana caranya Lo bisa nikah siri sama si Babang tampan? Sumpah gue patah hati dengarnya ,,,!" tutur gadis berambut pirang itu penuh kesedihan.


"Ish, ceritanya panjang. Kalau gue ceritain sekarang, sampai Mimi Peri lahiran juga nggak bakal kelar. Gue butuh bantuan kalian nih, tolongin gue ya," Milly meraih jemari tangan Ina lalu menggenggamnya. "Plis ...." Ucapnya dengan wajah memohon.


"Ish masih ada muka Lo minta bantuan gue. Udah bikin patah hati gue juga!" Ketus Ina dengan bibir mencebik. Lantas membuang muka sebaga bentuk kekesalannya.


"Ish tega banget Lo sama gua." tutur Milly dengan muka memelasnya. "Lo kan sahabat gua. Masa iya Lo biarin gua sedih gini. Lo nggak mau gua tertindas lagi kan??" Semakin mengeratkan genggaman tangannya, Milly beeucap penuh harap.


Mendesah pelan, ekspresi Ina pun seketika melemah. Lalu menoleh perlahan menatap gadis --yang sebetulnya cengeng-- di sampingnya.


"Lo mau gue bantu apa?" tanya Ina kemudian sambil memutar posisi duduknya, saling berhadapan dengan Milly.

__ADS_1


Milly terperangah sebelum akhirnya tersenyum dengan pandangan berbinar bahagia. "Jadi Lo mau bantu gue? Lo udah nggak marah lagi sama gue?!" cecarnya kemudian dengan pertanyaan.


"Iya-iya gue bantu. Lagi pula gue nggak bener-bener marah kok. Gue kesel aja Lo nggak cerita kalau Lo udah married. Kesannya kayak gue nggak dianggap sebagai sahabat. Iya nggak teman-teman?!" tanya Ina pada yang meminta persetujuan.


"Bener tuh," sahut beberapa gadis yang berada disana sembari memainkan ponselnya. "Memang selama ini Lo anggap kita ini apa? Rumput yang bergoyang?"


"Bukannya gitu teman, kejadiannya begitu mendesak, sampai-sampai gue nggak bisa ngelak." Menunduk, Milly berucap dengan nada penuh sesal.


Menyunggingkan senyum, Ina lantas merapatkan duduknya pada Milly. Menepuk punggung sahabatnya pelan, ia mencoba menghibur. "Ya udah nggak usah sedih. Kalau Lo nggak mau, gue bisa gantiin posisi Lo jadi istri si Babang kok."


Seperti di terbangkan keatas awan, lalu dihempaskan lagi ke dasar jurang, itulah perasaan Milly saat ini. Menatap sang sahabat lalu menggeleng tak habis pikir, Milly pun berucap dengan nada kesal. "Busyet Lo Na. Gua ogah punya temen pelakor!" Gadis bersurai panjang itu lalu memalingkan muka.


"Ya ampun Mill, gua kan cuma bercanda. Masa gitu aja marah. Senyum dong, cintaku ...." Ina membujuk sambil mencubit pipi Milly yang sedikit chuby.


Bergeming, Milly menepis tangan Ina. "Sorry ya Na, gua masih normal. Cinta Lo gua tolak."


"Eh busyet. Gue nggak cinta beneran kali sama Lo. Sorry juga gue bukan apel makan apel." beringsut dan membelakangi Milly, kini gantian Ina yang merajuk.


"Na ... Lo jangan dendam gitu lah sama gue. Gue lagi pusing ni, gue butuh banget bantuan Lo." menarik lengan sahabatnya, milly berharap agar gadis manis itu berhenti merajuk dan mau membantunya.


Menoleh dan menyunggingkan senyum, Ina lantas berucap, "Iya-iya gue bantu. Nggak usah nangis gitu dong." Menggenggam jemari lentik Milly, keduanya lantas tertawa geli bersamaan.


"Trus gue mesti bantu apa ni?" dengan wajah serius, akhirnya Ina memutuskan untuk bertanya. Menatap Milly dengan kesungguhan.


"Malam ini dia ngajak gue keluar. Dia bilang ingin mempertemukan gue dengan seseorang. Dia minta gue supaya berpenampilan yang pantas. Tapi gue nggak punya alat make-up sama sekali Na, gaun juga gue nggak ada. Dan bodohnya gue Na ,,, gue nolak pas dia ngasih gue kartu ATM untuk beli semua kebutuhan gue, hanya karena geue nggak mau dibilang matre. Nyesel tau nggak!"


"Gila Lo Mill!" Ina menjitak dahi Milly karena kesal. "Kalau memang miskin ya miskin aja! Pakai berlagak songong nolak rezeki pula! Harusnya kita lagi seneng-seneng shopping sekarang!"


"Na, Lo jahat banget si, sakit tau." Keluh Milly sambil mengusap dahinya dengan wajah yang memelas.


"Bodo'! Otak angkuh dipelihara."


"Itu kan Lo yang ngajarin!" sanggah Milly cepat, berusaha mengingatkan. "Lo bilang gue harus songong dan tegas supaya tidak tertindas."


"Tapi ini masalahnya beda Milly, si Babang itu suami Lo sendiri!"


"Au ah, gelap! Menyesal juga percuma, udah gue tolak!"


"Sabar Ina, sabar!" tutur Ina sambil mengelus dasanya sendiri. "Kesabaran Lo sedang di uji."


"Maksud Lo apa?" Milly bertanya tak mengerti.


"Lo udah bikin gue naik darah!" Sahut Ina penuh penekanan sebelum akhirnya ia bangkit dan melangkah meninggalkan Milly yang masih bengong. Namun setelah beberapa langkah meninggalkan tempat itu, ia pun menghentikan langkah dan berucap, "Buruan woy! Mau dandan nggak?!" Ucapan itu ditujukan pada Milly yang seketika membuat gadis itu beranjak dan berlari kecil mengikutinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2