Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Sebuah Buku


__ADS_3

Pagi hari di gedung WAHANA GROUP, jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Suasana tampak lengang karena jam kerja masih tiga puluh menit lagi, sehingga belum banyak karyawan perusahaan itu yang datang. Hanya petugas kebersihan yang terlihat tengah melakukan tugas mereka.


Seseorang berpakaian OB tampak berjalan terburu-buru keluar dari sebuah ruangan. Ia terlihat gugup dan panik, merasa janggal karena ada dua orang pria mengikuti nya dari belakang.


Saat di lihatnya sebuah tong sampah di sekitar sana, maka, dengan cepat ia melemparkan sesuatu yang dipegangnya ke dalam sana sebelum kembali melanjutkan perjalanan dengan sikap tenang seolah tak terjadi apa-apa.


“Hei, kamu! Apa yang kau bawa itu!” teriak dua orang itu sambil menunjuknya dengan nada curiga. Keduanya melangkah kian cepat guna menghampiri si OB yang berhenti mendadak.


OB itu berbalik badan dan menatap dua orang bertubuh gempal itu dengan ekspresi tenang.


“Hanya sebuah nampan, Tuan,” jawabnya sambil menunjukkan nampan berwarna coklat tua yang memang sejak tadi ia bawa. “Saya baru saja mengantarkan kopi untuk staf yang bekerja di lantai ini. Ada apa Anda berdua memanggil saya?” tanyanya kemudian.


Kedua orang itu saling bertatapan seperti tak percaya. Namun, tak bisa berbuat apa-apa sebab memang hanya nampan lah yang dibawanya.


“Ya sudah. Kembali bekerja!” titah salah seorang lelaki berbadan kekar itu.


“Baik, Tuan,” balas OB itu sambil mengangguk patuh, lalu pergi meninggalkan kedua orang tadi yang masih tetap mengawasi. Keduanya lantas pergi setelah memastikan OB itu sudah berlalu jauh dan tak nampak lagi. Namun, tanpa mereka duga, OB itu pergi bukan untuk kembali bekerja, melainkan menyelinap keluar dari gedung melalui pintu samping.


Dengan langkah yang sangat cepat, ia membuang nampan tadi ke sembarang tempat lantas membuang seragam OB yang ia kenakan ke dalam tong sampah.


“Maaf bos, saya belum berhasil mendapatkannya,” ucap lelaki yang kini mengenakan kaus warna hitam itu melalui sambungan telepon. Kini ia sudah berada di dalam mobil yang terparkir di gedung itu.


“Saya benar-benar minta maaf Bos, saya hampir saja mendapatkannya andai saja dua orang itu tidak memergoki saya. Saya hampir ketahuan oleh dua orang penjaga dan membuat saya terpaksa membuangnya ke tempat sampah. Petang nanti saya akan kembali untuk mengambilnya sebelum sampah-sampah itu masuk ke dalam truk pengangkut,” imbuhnya berusaha meyakinkan.


Ia diam sejenak untuk mendengarkan yang di seberang berbicara, lantas kembali berucap, “Saya berani memastikan akan mendapatkannya malam ini juga Bos,” tegasnya dengan penuh keyakinan sebelum kemudian memutus sambungan.


Tanpa pikir panjang, ia pun segera menyalakan mesin mobilnya sebelum kemudian pergi meninggal kan tempat itu dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


“Sialan dua orang tadi! Menghambat pekerjaanku saja. Seharusnya aku sudah berhasil sekarang!”


Sambil menggerutu, lelaki berkulit sawo matang itu menarik kumis palsu yang tertempel di antara bibir dan hidungnya. Siapa sangka, rupanya dia hanya lah OB gadungan yang sedang menyamar.


Rapat yang di hadiri pak Anwar sudah di mulai pukul sembilan pagi. Rapat ini hanyalah rapat kecil saja bagi WAHANA GROUP, sebab hanya sebuah rapat rutin yang biasa di adakan sebulan sekali dan hanya di hadiri oleh perwakilan dari cabang-cabang WAHANA GROUP yang berada di daerah-daerah. Memang baru kali ini dilaksanakan di gedung kantor pusat. Gedung tertinggi dan terbesar di kota itu.


Presdir sendiri tidak turun langsung dalam rapat itu, hanya mengutus beberapa orang stafnya untuk mewakili. Presdir hanya akan turun langsung hanya untuk tender besar atau hal yang memang tidak bisa diwakilkan oleh orang kepercayaannya.


Beberapa lama kemudian, rapat pun selesai dan berjalan lancar sebagaimana mestinya. Terlihat satu persatu orang-orang itu keluar dari ruangan.


Anwar bernapas lega. Akhirnya satu pekerjaan selesai, sebab masih banyak pekerjaan lain yang menunggu untuk di selesaikan yang memang sudah dijadwalkannya selagi masih berada di kota.


Sembari berjalan keluar ruangan, Anwar meremas kertas yang tak terpakai untuk dia buang ke tong sampah. Saat membuka tong sampah itulah, matanya membulat tak percaya saat bersirobok langsung dengan benda aneh yang ada di dalamnya. Rasa penasaran pun menggelitik hati hinga membuatnya berinisiatif untuk mengambil benda itu dengan segera. Terlebih dengan keadaan kantong sampah itu yang memang masih bersih tanpa ada lagi benda lain di dalam sana.


“Ini kan buku ....” Pria paruh baya itu menggumam, lantas membolak-balikan buku itu dengan dahi mengernyit bingung. Ia memperhatikan kondisi sekitar andai saja ada seseorang yang bisa ia tanyakan, sayangnya tempat itu sendiri dalam keadaan lengang.


Meski ia sebenarnya kurang begitu faham, tapi sepertinya isi buku itu menarik untuk dibaca, hingga tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk membawa pulang dan menjadikannya hadiah untuk putri sulungnya. Senyum bahagia tersungging dari bibir Anwar seketika.


“Kenapa bisa pas begini ya .... Mayang pasti menyukai buku ini. Aku yakin,” gumamnya dengan mata berbinar bahagia. Ia tahu betul putri sulungnya sangat suka membaca untuk memanfaatkan waktu senggang. Terlebih, dengan adanya buku ini membuatnya tak perlu repot-repot untuk pergi ke toko buku lagi. Bisa menghemat waktu pula tentunya.


Namun seperti nya tidak akan secepat itu, mengingat masih banyak urusan yang belum terselesaikan. Bergegas pak Anwar keluar dari gedung dengan binar kebahagiaan seolah dirinya mendapatkan harta karun dari sana.


Setiap perbuatan selalu ada timbal baliknya. Begitu pula dengan keputusan Anwar kali ini. Meski tak pernah terlintas dalam pikirannya jika buku yang ia bawa itu bukanlah merupakan buku biasa, hingga ia membawanya tanpa beban dan rasa bersalah.


Di peluknya buku  itu di dadanya seperti memeluk sesuatu yang sangat berharga, bahkan tanpa menyembunyikan sama sekali sebab tak pernah terlintas pikiran buruk di kepalanya. Namun, siapa sangka, kamera pengawas yang di tempatkan di setiap sudut perusahaan besar itu bisa mendeteksi apapun yang terjadi di sana.


 

__ADS_1


Epilog


 


Hari yang sudah petang membuat suasana gedung sudah mulai sepi. Tampak seorang lelaki tengah membuka  dan memeriksa satu persatu kantong sampah yang terkumpul di bak sampah berukuran raksasa.


Namun dari kantong sampah sebanyak itu, ia sama sekali tak menemukan apa yang sedang dicarinya. Tak patah arang, lelaki itu masih tetap mencarinya sambil sesekali memantau keadaan di sekitar,  sekadar untuk memastikan jika tak ada seorangpun yang melihat perbuatannya.


Namun, setelah pencarian yang kesekian kalinya ia masih juga belum menemukannya.


“Kurang ajar! Dimana buku itu berada? Sialan!” Geram, ia menendangi kantong-kantong plastik itu dengan brutal hingga  berserakan dan isinya terburai keluar.


Lelaki itu cepat-cepat masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu sebelum security memergoki dirinya lagi. Mengambil ponsel dari saku jaketnya, ia lantas menekan satu nomor lantas menghubungi seseorang.


“Halo bos,” sapanya ketika seseorang di seberang sana menerima panggilannya.


“Bagaimana?” Suara berat seseorang pria dari ujung telepon terdengar penasaran.


“Saya minta maaf bos, lagi-lagi saya gagal dan tidak menemukannya.” Lelaki itu menjawab dengan nada lemah.


“Apa? Dasar tidak berguna! Mengambil barang begituan saja tidak becus!”


“Maaf kan saya bos ... saya akan–" Tut tut ... ternyata sambungan terputus.


“Sialan! Dasar bos resek!” Pria misterius itu melempar ponselnya ke jok kosong di sisinya usai mengumpat.


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2