Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Bangun Sayang


__ADS_3

Brian terlihat tengah asik mengobrol dengan teman sekaligus koleganya untuk sedikit membahas masalah pekerjaan,sehingga untuk beberapa saat ia tidak fokus terhadap pengawasan nya pada sang istrinya.


Hingga pada saat menoleh,Brian di buat terkejut sekaligus panik karena istrinya sudah tidak berada di tempatnya lagi.


Astaga, kemana dia?!


Ekspresi wajah Brian tampak berubah drastis dengan pandangan yang ia edar kan ke seluruh penjuru tempat pesta hingga mengundang tanya teman - teman yang sedang bersama nya.


"Brian kamu kenapa?" Tanya salah seorang teman dengan nada penasaran.


"Maaf aku harus pergi." Pamit Brian dengan wajah panik.


"Tapi kita belum selesai Brian..!" Cegah Karla sembari menarik lengan Brian dengan kuat untuk menahan lelaki itu pergi.


Namun tatapan tajam mata Brian membuat gadis itu melepaskan tangan nya yang mencengkeram lengan Brian.Seketika ia tertunduk takut karena tangan Brian mulai ter kepal dengan rahang nya yang mengeras.


"Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk terhadap istriku, aku tak kan mengampuni mu." Ucapan Brian yang penuh ancaman berhasil membuat gadis itu merasa malu dan ketakutan.


Rupanya Brian tau Karla memang sengaja melakukan aksinya untuk menarik perhatian Brian agar menyulut kecemburuan Mayang.Mungkin karena ini lah Mayang sengaja pergi dari tempat nya duduk karena merasa cemburu pada Brian.


Karla memang gadis yang sangat nekad dan nyaris tak punya malu.Ia benar-benar tak mau tau dan tak mengindahkan peringatan serta ancaman Brian agar tak mendekatinya lagi.Tapi gadis itu justru berbuat nekad sehingga memancing Brian melakukan kontak fisik dengan nya.


Brian lantas pergi dengan langkah lebar meninggalkan teman-teman nya yang tengah menatap nya heran.


Brian melangkah tergesa menuju ke arah Malik Ratih yang tampak sumringah dan sedang mengobrol dengan sesama para tamu undangan.Kedua nya nampak terkejut dengan kehadiran Brian yang sendiri tanpa istrinya.


"Brian, Mayang mana?" Tanya Ratih penasaran sembari melihat ke sekeliling,barangkali Mayang ada di belakang Brian.


"Apa ibu tidak melihat Mayang?" Brian malah balik bertanya setengah berbisik dengan wajah yang terlihat cemas.


"Bukankah sejak tadi bersama mu kan!" Ratih kini mulai panik. "Bagaimana kau bisa se teledor itu kehilangan istri mu di tengah pesta!" Ratih menggertak kan giginya kesal pada putranya.Memikirkan bagaimana sulitnya mencari seseorang di antara ribuan tamu undangan di dalam satu gedung.


"Ibu tenang ya, aku mau cari Mayang disana. Aku akan segera menemukan nya." Brian segera bergegas ke arah sofa dimana Mayang duduk tadi.Namun langkah nya terhenti saat seseorang menarik lengan nya.


"Brian kau mau kemana?" Hans memegang tangan Brian untuk menahan lelaki itu pergi. "Ayo temui orang tua mu, Ayah ingin mengobrol bersama mereka."


"Ayah duluan saja ya, nanti Brian menyusul." Brian sudah akan beranjak tapi Hans kembali menarik tangan nya.


"Hey kenapa tak kau antarkan ayah dulu menemui orang tua mu. Disini terlalu banyak orang, bagaimana kalau ayah tak menemukan mereka." Hans berucap dengan di iringi tawa. "Kau tahu ayah semakin tua kan."


"Baiklah ayah, mari Brian antar." Brian mempersilahkan Hans melangkah ke arah yang Brian tunjuk dimana orang tuanya berada disana.


Pandangan Brian tetap menyisir seluruh sisi tempat pesta.Namun dia belum menemukan sosok istrinya berada.Kenapa sulit sekali menemukan seorang wanita saja di tengah pesta seperti ini.


Sayang kau dimana? Lirih Brian dalam hati.


Brian sampai di tempat orang tuanya dan mempersilahkan para orang tua itu berbincang.


Tiba - tiba terdengar keributan orang - orang yang tampak berkerumun dari arah pintu belakang.Tanpa pikir panjang Brian pun dengan cepat melangkah mendekat ke arah sumber keributan.Menyelusup di antara orang yang berkerumun untuk melihat lebih dekat.


Bagai di sambar petir di siang hari saat Brian mengetahui kenyataan bahwa istrinya lah yang tengah tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Dengan bersimbah darah yang keluar dari pergelangan tangan nya.


Tampak seseorang lelaki tengah memangku kepala Mayang dan mengikatkan sapu tangan untuk membebat pergelangan tangan Mayang yang terluka.


"Sayang," lirih Brian tak berdaya sembari menekuk satu lututnya bertumpu pada lantai,di samping tempat istrinya tergeletak.

__ADS_1


Lelaki yang memangku kepala Mayang itu terkejut dan spontan mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Brian.


Dan di saat keduanya beradu pandang,kedua lelaki itu tampak sama - sama terkejut.


"Alex," Brian menyebut nama pria itu dengan penuh kebencian. "Singkirkan tangan mu dari tubuh istriku!" Teriak Brian dengan penuh amarah sembari meraih tubuh Mayang dari pangkuan Alex dan mendorong tubuh lelaki itu dengan kasar.


Tubuh Alex tersungkur ke belakang akibat kuatnya dorongan tangan Brian.Tapi laki - laki itu hanya bergeming dengan bangun perlahan dan berdiri.Menatap Mayang yang tergeletak dengan tatapan penuh kerinduan serta merta menatap Brian yang sedang memeluk tubuh Mayang dengan tatapan penuh kebencian.


Mayang segera di lari kan ke rumah sakit agar dokter segera melakukan tindakan.Luka di tangan nya teramat parah hingga darah tak henti keluar dari sana.Bahkan darah itu tampak menodai jas berwarna putih yang Brian pakai.


Para dokter terbaik yang di tugaskan secara khusus kini tengah bekerja keras melakikan tindakan medis untuk memberi pertolongan pada Mayang.Brian dan Ratih tampak sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit besar milik mereka dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Brian yang sabar nak," Ratih mengusap punggung Brian lembut untuk memberi dukungan pada putranya yang kini tampak sangat terpukul.Brian terlihat tampak sangat kacau dengan gurat wajah penuh penyesalan.


Untuk saat ini ia hanya bisa menduga - duga dengan apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya saat menghilang tadi.Rasa sesal masih tetap menggayut di pikiran nya atas semua yang telah terjadi.Andai Brian tak membiarkan istrinya sendirian mungkin hal ini tak kan terjadi.


Mata Brian tampak berkaca-kaca sembari berkali - kali melirik pintu ruangan yang masih tertutup rapat,tempat dimana Mayang sedang berjuang melawan rasa sakitnya di sana.


Sudah berapa jam berlalu dari pertama Mayang masuk tadi Brian belum mendapat kabar apapun mengenai istrinya.Seandainya ia tak memikirkan keselamatan istrinya,mungkin Brian sudah mendobrak pintu itu dan membukanya secara paksa untuk melihat keadaan di dalam.


Brian meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan siku yang bertumpu pada lutut.Sesekali memberi pijatan kecil di pelipis nya untuk menekan rasa pusing yang melanda.


Ia merasa ini siksaan yang amat pedih jika lagi - lagi harus melihat wanita yang dicintai nya kini dalam kesakitan.Andai tuhan mengizinkan,biarlah dia yang merasakan sakit ini untuk menggantikan istrinya.


Suara pintu tang terbuka menyadarkan Brian dari lamunan nya dan memaksa kedua orang yang tengah menunggu dengan tegang itu untuk menoleh ke arah sumber suara.


Keduanya beranjak bersamaan saat melihat dokter Lucy muncul dari dalam.Brian melangkah lebar mendekati saudara sepupunya itu dengan wajah harap - harap cemas.


"Lucy bagaimana keadaan istriku?! Dia baik - baik saja kan?" Menatap dokter cantik itu lekat dengan mata penuh harap.Mencoba menebak keadaan istrinya melalui ekspresi yang di tunjukkan Dokter Lucy.


"Brian," ucap Dokter Lucy pelan sebelum ia menjelaskan keadaan Mayang di dalam. "Istrimu sudah melewati masa kritisnya. Beruntung kami bisa mengeluarkan kan semua racun yang ada di dalam perutnya."


"Iya Brian, istrimu mengalami keracunan. Apa kau tau makanan atau minuman spa yang terakhir di konsumsi istrimu sebelum dia tak sadarkan diri?"


Brian hanya menggeleng pelan tanpa mengeluarkan sepatah kata.Wajahnya terlihat masih sangat shock.


"Istrimu masih belum sadarkan diri sekarang, dia kehilangan banyak darah dan harus segera melakukan tranfusi. Beruntung golongan darah nya O, kami memiliki banyak stock darah untuk golongan darah itu." Lucy menjelaskan.


"Baik Lucy," Ratih menyahut. "Lakukan yang terbaik untuk kesembuhan Mayang. Tante minta tolong padamu." Ucap Ratih sembari meraih dan menggenggam jemari Lucy dengan penuh harap.


"Tante, saya dan para dokter akan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan Mayang." Ucap Lucy pada Ratih dengan tersenyum. "Brian," Lucy menatap Rian lekat. "Tolong jaga istrimu dengan baik. "Racun yang masuk ke tubuh Mayang itu bukan lah racun berasal dari makanan akibat Mayang salah makan. Namun ada unsur kesengajaan si sini. Racun itu masuk melalui jus jeruk yang ia minum."


"Jus jeruk?" Tanya Brian berusaha meyakinkan yang ia dengar barusan.


"iya. Apa Mayang meminumnya saat pesta?" Lucy diam menunggu Brian menjawab.


"Entah lah. Kami baru datang lalu terpisah. Aku tak tau apa yang ia lakukan pada saat tak bersamaku." Ucap Brian setelah mengingat apa yang terjadi.


"Bisa jadi ada seseorang yang ingin membunuh Mayang melalui jus itu."


"Alex...!" Geram Brian dengan penuh kemarahan.


"Apa kau bilang Brian? Jangan menuduh orang tanpa bukti!" Ratih mencoba mengingatkan.


"Aku yakin sekali Alex pelakunya ibu." Brian menegaskan.

__ADS_1


"Jangan menuduh sesworang tanpa bukti! Biarkan Ayahmu dan Billy menyelidiki nya. Mereka masih disana sekarang."


****


Dua hari Mayang dalam keadaan tak sadarkan diri.Ia masih terbaring lemah dengan beberapa alat penunjang kehidupan terpasang dan menempel di tubuhnya.


Brian dengan setia selalu menjaga dan berada di sampingnya.Dengan tubuh terbungkus pakaian steril khusus, ia duduk di sebuah kursi di samping istrinya yang tengah terbaring tak sadarkan diri dengan masker oksigen terikat di wajahnya.


Ia menggenggam erat jemari istrinya untuk menyalurkan dukungan nya berharap sang istri segera sadar.Kain kasa tebal masih membebat pergelangan tangan istrinya yang terluka.


Sayang bangunlah, aku merindukan tawa mu. Bangunlah sayang, ada yang ingin ku jelaskan padamu. Kenapa ini terjadi pada saat kau salah paham terhadapku? Hanya kau satu-satunya di hatiku sayang, bukan salah satunya! Kumohon bangun sayang.


Mata Brian tampak berkaca-kaca.Sekuat tenaga ia mencoba menahan nya,namun kenyataan nya air mata itu tak mampu lagi ia bendung dan akhirnya meluncur bebas ke pipinya.Brian segera menyeka nya karena tak ingin Mayang melihat sisi lemah nya.


Brian sama sekali tak menoleh saat mendengar pintu ruangan terbuka.Brian tetap fokus memandang istrinya.Ia ingin menjadi orang pertama yang istrinya lihat saat ia siuman nanti.


"Brian," Ratih mengusap lembut pundak putranya penuh iba setelah ia masuk ke dalam ruangan Mayang yang sudah di per ketat penjagaan nya itu.


"Ya ibu," jawab Brian lemah tanpa menoleh sedikit pun.


"Billy membawakan mu pakaian. Cepat tukar pakaian mu dan segeralah ke kantor polisi. Ada panggilan untukmu dan kau harus menghadirinya selaku suami Mayang."


"Apa tidak bisa di wakil kan ibu, aku ingin tetap disini menjaga istriku." Mengecip punggung tangan istrinya.


"Ibu akan menjaganya dengan baik selama kau tak ada sayang. Dan rumah sakit ini sudah di perketat penjagaan nya. Kau tak perlu khawatir."


Brian menarik nafas dalam lalu melepaskan nya perlahan.Ia lalu bangkit berdiri kemudian mengecup kening sang istri agak lama sembari mengusap puncak kepalanya.


"Maaf sayang, aku tinggal sebentar." Bisik Brian di telinga sang istri.Lalu kemudian ia menarik kakinya mundur lalu berbalik dan melangkah keluar meninggalkan ruangan.


Ratih menggantikan putranya untuk menjaga menantunya dan duduk di kursi yang di pakai Brian tadi.Ia meraih jemari menantunya lalu menggenggam nya erat sebagai bentuk dukungan.


Selang beberapa lama Brian meninggalkan rumah sakit itu,tiba-tiba Ratih yang baru saja terlelap dengan kepala yang bertumpu di bibir ranjang tempat Mayang berbaring pun di kejut kan dengan bunyi alarm yang secara otomatis mengeluarkan syara begitu Mayang siuman dari koma nya.


Tim dokter serta perawat pun tampak berdatangan memasuki ruangan Mayang di rawat untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya.Ratih mundur dan menarik diri untuk memberi tempat pada tim dokter untuk mekakukan pemeriksaan.


Brian yang tengah berada di kantor polisi pun tampak sangat bahagia mendengar kabar dari


sang ibu bahwa sang istri telah siuman.


"Mayang sudah sadar ayah." Ucap Brian pada Hans setelah memutus sambungan telepon nya.Ia tampak tersenyum bahagia.Brian benar-benar menunjukkan rasa bahagia nya pada lelaki di hadapan nya itu.


"Kalau begitu mari kita jenguk istrimu sama-sama." Usul Hans seketika.Dan Brian menerimanya dengan senang hati.


Saat sampai di rumah sakit,Brian tampak turun dari mobil dengan tergesa memasuki lobi rumah sakit.Dan lari terburu - buru menuju lift tanpa menghiraukan Hans yang memanggil nya.Sementara Billy masih bersama Hans yang tampak melangkah memasuki lobi.


Sampai di depan pintu kamar perawatan,karena Mayang sudah di pindahkan dari ruangan sebelumnya karena kondisinya yang membaik,Brian membuka pintu agak keras sehingga menimbulkan suara.


Ia terlihat sangat bahagia melihat istrinya yang tengah berbaring setengah duduk di ranjang rumah sakit yang sandara nya setengah di tegakkan.Mayang tampak tersenyum menatap pada nya.


Brian langsung berhambur memeluk penuh kasih sayang tubuh sang istri yang tampak masih pucat namun tetap menunjukkan senyuman nya.Menghujani istrinya ciuman serta kecupan di seluruh bagian wajah.Tak terasa bulir air mata bahagia tampak menitik di sudut mata Brian.Namun lelaki itu buru - buru menyeka nya sebelum sang istri melihat.


"Sayang kau lihat aku datang bersama siapa," ucap Brian tersenyum kemudian melempar pandabgan kearah pintu,dan menanti seseorang yang sebentar lagi masuk.


"Siapa sayang?" Tanya Mayang yang mendingakkan kepala nya menatap sang suami dengan suara yang terdengar lemah dan parau khas orang yang sedang sakit dan kemudian menatap ke arah pintu.

__ADS_1


Namun tubuh Mayang bergetar tiba - tiba begitu melihat seseorang yang tengah melangkah masuk bersama sekretaris Billy ke kamar perawatan nya.


Berambung


__ADS_2