
"Yah steak nya gosong ,,,." Ucap Mayang sembari menatap nanar pada daging panggang yang telah berwarna hitam pekat itu dengan nada sedih. "Usaha mu memberi nafkah lahir padaku jadi sia - sia dong sayang ...." Tambahnya lagi sembari menatap sedih pada Brian.
"Usaha ku memberi nafkah batin padamu juga gagal sayang...!" Brian berucap dengan nada kesal. Ia membungkuk dan menyangga dagunya dengan tangan yang bertumpu pada meja marmer.
"Tapi sayang, aku lapar ...." Mayang menggigit bibir bawah nya sembari menatap sedih pada suaminya. Jelas saja hal itu membuat Brian merasa tak tega. Laki - laki itu kemudian berdiri tegak dan menghadap pada sang istri.
"Kau benar - benar sangat lapar sayang?" Tabya Brian dengan nada serius.
"Iya ,,, kau yang menyerap tenagaku dan membuatku jadi cepat merasa lapar." Jawab Mayang dengan polos.
Jawaban jujur dari sang istri itu pun membuat Brian tersenyum masam sembari mengusap kepala sang istri karena merasa Bersalah. Brian akui memang ia terlalu memaksakan sang istri dalam percintaan mereka. Bagaimanapun juga istrinya itu adalah seorang wanita. Tentu saja dia memiliki ketahanan fisik tak sekuat dirinya.
"Kita butuh asupan nutrisi supaya lebih bertenaga saat melakukannya lagi kan ,,," ucap Mayang kemudian dengan nada menggoda.
"Oke. Kita makan di luar?" Tawar Brian sembari mengangkat alisnya.
"Tidak mau." Jawab Mayang cepat sembari menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau kemana - mana hari ini."
"Sayang, kita akan kelaparan kalau tidak keluar rumah. Tidak ada stok makanan apapun di dalam kulkas. Atau kau ingin aku memakan mu?!" Brian bertanya dengan menatap nakal pada sang istri.
"Jangan ...," Mayang menahan bibir Brian yang sudah akan menciumnya. "Kita cari - cari dulu ya, barangkali ada yang bisa dimakan."
Mayang memutar tubuhnya lantas membuka pintu lemari penyimpanan. Matanya mengedar mencari - cari sesuatu di sana. Seketika senyumnya pun tampak mengembang dengan mata yang berbinar.
"Sayang, aku dapat ini." Mayang menunjukkan satu buah mie cup pada Brian yang tampak bersandar pada meja dengan tangannya yang bersedekap.
"Makanan apa itu?" Tanya Brian sembari melirik malas pada sesuatu di tangan istrinya itu. "Tidak ada gizinya."
"Sayang, jangan pikirkan gizi dalam keadaan genting seperti ini." Rengek Mayang sembari mendekati suaminya. "Tapi pikir kan bagaimana cara kita bertahan tanpa kelaparan. Aku sudah lapar sayang ,,,!"
Brian tampak mendesah pelan sebelum ia membuka lipatan tangannya. "Sini biar aku yang masak." Brian menjentikkan telunjuknya agar Mayang memberikan mie itu padanya.
"Untuk apa dimasak, cukup di seduh saja." Mayang tersenyum. "Biar aku yang seduh ya," ucap Mayang sembari melangkah mendekat kearah dispenser air.
Lantas mengisi cup mie itu dengan air panas. Dan di tutupnya kembali cup yang sudah setengah terbuka lalu menaruhnya di atas meja. "Kita tunggu beberapa menit ya," ucap Mayang sembari melirik pada Brian yang tiba - tiba memeluk tubuhnya dari belakang.
"Hemm," Brian hanya menggumam sebagai jawaban. Ia sedang sibuk menciumi kepala sang istri yang rambutnya setengah kering. "Rambut mu wangi sayang." Ucap nya memuji sembari tetap mencium.
"Iya, aku kan keramas pakai shampo." Mayang menjawab sembari tersenyum. Lantas pandangannya pun terarah pada tangan Brian yang mulai menjalar kemana - mana tanpa terkendali. "Sayang, jangan mulai deh!" Ucap Mayang memberi peringatan. "Kita sarapan dulu ...!"
"Makanya berhenti menggoda ku."
"Siapa yang sedang menggoda sayang ...?"
__ADS_1
"Kamu lah." Jawab Brian cepat. "Mata mu, hidung mu, bibir mu, bahkan seluruh tubuhmu itu selalu menggoda ku sayang. Kamu pikir aku bisa tahan?!" Brian yang terlihat kesal lantas membenamkan bibirnya di ceruk leher sang istri.
"Iya sayang, tapi kamu tahan dulu demi perut kita yang keroncongan ini ya ,,," ucap Mayang sembari menunjukkan mie yang tampak sudah siap untuk dinikmati itu. "Ayo sayang, kita nikmati makan ala rakyat jelata tapi nikmat ini ya," bujuk Mayang sembari menggandeng Brian untuk duduk di meja makan.
Brian pun pasrah dan berjalan mengikuti langkah sang istri. Keduanya lantas duduk dengan posisi berdekatan dan berhadapan satu sama lain.
Tangan kiri Mayang memegangi cup mie tersebut, sedang tangan kanannya bergerak mendekatkan garpu berisi mie itu ke bibir Brian.
"Buka mulut mu sayang, aku suapi ya." Perintah Mayang pada Brian, namun laki - laki itu masih enggan membuka mulut nya. Ia bahkan mengatupkan bibirnya sembari menggeleng.
"Kenapa? Tidak suka?" Mayang bertanya bingung.
"Bukan, kau duluan saja yang makan."
"Sayang apa bedanya si, kita bergantian kok. Yang penting sama - sama makan kan ,,,?"
"Beda lah ,,,!"
Mayang mendesah pelan sebelum menyuapkan garpu berisi mie itu ke mulutnya. Mie yang panjang itu tampak menggantung di bibir Mayang setelah ia menyiapkannya.
Dan tanpa aba - aba Brian pun menyambar ujung mie dengan mulutnya dan memakannya. Mie yang semakin memendek akibat kedua ujungnya yang sama - sama di makan itu pun semakin mendekat kan kedua bibir di pemakan itu.
Dan pada akhirnya membuat keduanya pun berpagut mesra dengan menyesapi sisa - sisa rasa mie cup di bibir mereka. Dan hal itu berlangsung hingga mie di cup itu tandas tanpa sisa.
Dua hari menjalani kebersamaan menjadi pengantin baru yang sesungguhnya membuat keduanya benar - benar merasa bahagia. Kedua pasangan yang sedang di mabuk cinta itu kini telah merasakan sebagai pasangan yang sesungguhnya. Berbagi cinta, berbagi kasih dan sayang, bahkan berbagi makanan yang seadanya.
Suara bel pintu yang tiba - tiba berbunyi nyaring pun mengejutkan pasangan yang tengah asik bercumbu di sebuah sofa yang terletak di lantai dua rumah itu.
"Sayang, apa ada orang yang akan datang hari ini?" Mayang bertanya penasaran sembari merapikan pakaiannya yang sempat berantakan.
"Entah sayang, aku juga tidak tau." Ucap Brian sembari mengerutkan keningnya swperti sedang berpikir. "Aku akan turun untuk membuka pintu dulu." Pamitnya pada sang istri sembari meraih dagu Mayang dan mencium bibir sang istri agak dalam.
Mayang hanya mengerjap bingung dengan tingkah sang suami yang tiba - tiba menyambar bibirnya dan menciumnya sedalam itu. Padahal dia hanya akan turun sebentar dan mereka bisa melanjutkan nya nanti lagi.
Mayang mengikuti langkah Brian yang semakin menjauh dengan pandangannya. Laki - laki itu setengah berlari saat menuruni satu persatu anak tangga.
Sudah di bawah dan berdiri di depan pintu, tangan Brian pun bergerak meraih handle pintu. Perlahan ia membukanya dan ia pun sama sekali tak terkejut dengan kedatangan dua orang lelaki yang tengah berdiri dihadapannya itu. Seolah ia sudah menduga mereka akan datang, cepat atau pun lambat.
"Ayah," lirih Brian dengan nada pasrah.
"Dimana Mayang?" Tanya Malik yang tampak datang bersama Billy dengan nada tegas. Ia bahkan mendorong tangan Brian yang masih belum melepaskan handle pintu, hingga terlepas dan Brian pun sedikit terdorong ke belakang. Malik lantas memaksa masuk dan di ikuti oleh Billy di belakangnya.
"Mayang ada di atas." Brian menjawab pelan.
__ADS_1
Tanpa peduli terhadap Brian, Malik dan Billy pun lantas melangkah menuju tangga dan menaiki anak tangga itu dengan langkah tegas. Pandangan nya terfokus ke atas mencari keberadaan Mayang.
Dan setelah sampai di atas, nampak oleh Malik Mayang yang sedang duduk di sofa tampak seketika bangkit dari duduknya dengan wajah yang terlihat terkejut.
Matanya bahkan terbelalak seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat dan ada dihadapannya saat ini.
"A-ayah," ucapnya dengan nada terbata karena bibirnya yang bergetar.
"Mayang, ayo pulang bersama Ayah." Ajak Malik pelan dengan suara memohon.
"Tidak mau!" Mayang menggeleng cepat untuk menunjukkan penolakannya dengan tegas. "Aku ingin bersama suami ku Ayah."
"Belum saat nya untuk kalian bersama nak, ayo ikut lah bersama Ayah."
"Tidak Ayah!" Lagi - lagi Mayang menolak dengan tegas. Pandangannya yang semula terarah pada Malik lantas bergeser pada seseorang di belakang Ayah mertuanya itu.
Mayang lantas berhambur ke arahnya dan memeluk Brian dengan erat seolah tak ingin melepasnya lagi.
"Sayang, kita sudah berjanji untuk melewati ini bersama kan?! Kau tidak akan membiarkan Ayah membawaku ikut bersama nya kan?!" Mayang Bertanya dengan nada cemas. Ai bahkan semakin cemas saat Brian tak menjawabnya sama sekali.
"Sayang bicara lah! Jawab aku! Kau tidak akan biarkan ini terjadi kan?!" Desak Mayang dengan mata yang mulai berkaca - kaca.
"Sayang ,,," lirih Brian sembari mengangkat dagu sang istri agar mendongak dan menatap matanya. "Ikut lah bersama Ayah sementara aku menyelesaikan urusanku dulu. Kau akan lebih aman dibawah perlindungan Ayah. Aku janji akan segera menjemput mu."
"Tidak mau!" Teriak Mayang bersikeras seperti anak kecil yang tak mau di bujuk begitu saja. "Kita sudah berjanji untuk bersama menghadapi semua masalah kan?! Kau tidak bisa seenaknya ingkar janji begitu saja!" Tuntut Mayang sedih dengan air mata yang mulai berlinang. Ia bahkan menghempaskan tangan Brian yang menggenggamnya dengan keras.
"Sayang kumohon," lirih Brian sembari hendak meraih tangan Mayang, namun istrinya itu buru - buru menepisnya.
"Jangan menyentuh ku!" Teriak Mayang sembari menarik dirinya mundur beberapa langkah menjauhi suaminya. "Jangan memohon pada ku! Karena sampai kapanpun aku tak akan mau berpisah dari mu!"
Setelah melalui proses rumit untu membujuk sang istri, Brian pun merelakan sang Ayah menjemput istrinya meski hatinya terasa seperti teriris saat harus menyaksikan kepergian sang istri yang tampak berderai air mata karena merasa tak rela.
Namun mereka harus melakukan ini untuk kebaikan bersama. Karena bagi Brian, berpisah sementara lebih baik demi kebersamaan mereka untuk selamanya.
Bersambung
________________________
Hai readers tercinta, kunjungi juga karya author yang lain yang berjudul Amara
Dan berikan dukungan kalian juga untuk author ya
Terimakasih 🙏🙏🙏
__ADS_1