
Billy mengantarkan Mayang sampai masuk ke dalam rumah untuk memastikan keselamatannya.
"Sudah waktunya makan siang Mayang,"Billy melirik jam di pergelangan tangan nya. "Sebaiknya anda makan dulu supaya tidak sakit. Saya akan kembali ke kantor."
"Terimakasih untuk hari ini sekretaris Billy," jawab Mayang lirih.
"Berterimakasihlah pada tuan muda, Mayang."
"Baik lah, nanti saya akan berterima kasih."
Billy lalu pergi meninggalkan Mayang sendirian di ruang tamu. Mayang menyeret kakinya berjalan menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuh sebentar. Tapi tiba-tiba perutnya merasa lapar. Mayang lalu beranjak pergi ke dapur untuk makan.
Di dapur Mayang bertemu dengan bu Kuswara yang sedang memberi instruksi pada para chef untuk memasak makanan kesukaan tuan muda, karena tuan muda akan pulang cepat hari ini. Lalu mulai lah kesibukan di dapur itu.
Mayang makan siang yang kesiangan itu dengan ditemani bu Kuswara sambil mengamati sibuknya para chef itu menyiapkan hidangan. Masaknya seribet itu, dimakannya cuma secuil... gumam Mayang dalam hati.
Beberapa saat kemudian,
Mayang melihat Bu Kuswara sedang bersiap menyambut tuan muda pulang. Ia pun buru-buru mengikuti kepala pelayan itu untuk ikut menyambut tuan muda pulang. Mereka berdiri di depan pintu.
Terlihat sekretaris Billy sedang membuka pintu belakang mobil. Tampak tuan muda keluar dari mobil itu.
Hari masih belum sore tapi tuan muda sudah pulang dari kantor??Terserah dia lah,,, dia kan bos nya...
"Selamat datang Tuan," sapa para pelayan kompak sambil menunduk sopan.
Brian melihat Mayang berada di jejeran pelayan-pelayan itu. Mayang tersenyum manis padanya. "Kau ikut menyambutku rupanya. Ada angin apa, hemm?" tanyanya agak curiga. Dia berlalu begitu saja meninggalkan Mayang dan para pelayan. Tapi Mayang memilih mengekorinya.
"Tidak ada apa-apa Tuan, saya sedang bahagia saja sekarang," jawab Mayang dengan tawa kecil.
"Memangnya apa yang membuatmu bahagia?" tanya Brian lagi walaupun sebenarnya dia tahu apa yang membuat Mayang terlihat sangat bahagia. Ia duduk di sofa ruang keluarga. Mayang lalu berdiri di hadapannya tetapi tetap menjaga jarak.
"Karena kebaikan Tuan, saya bisa bertemu dengan keluarga saya. Saya dan keluarga mengucapkan banyak terimakasih Tuan Muda ...." ucap mayang dengan senyum yang manis yang dilebih-lebihkan, berharap tuan mudanya puas dengan jawabannya.
"Hanya itu?"
Hah? Mayang membelalak. Apa lagi ya.. apakah ucapan terima kasih dengan senyuman semanis ini belum cukup?
"Hari ini saya akan bersikap baik pada Tuan dan mematuhi kata-kata Tuan sebagai tanda terimakasih saya." Memangnya apa lagi yang bisa dilakukan lagi selain patuh, bukan?
"Benarkah?" Seringai licik muncul dari bibir Brian.
Apa itu? Cara senyumnya kok gitu? Jadi curiga aku. Apa aku tadi salah bicara ya?
"Benar Tuan." Mayang menjawab dengan ragu-ragu. Takut kalau jika perkataannya akan berakibat buruk baginya pula.
"Baik lah." Brian bangun dari duduk dengan penuh semangat. "Kau tunggu aku disini, aku mau melepas pakaianku."
Apa! Anda mau apa tuan?
Melihat ekspresi wajah Mayang yang tampak terkejut membuat Brian sadar kalau dia salah bicara. "Apa yang kau pikirkan, hah! Aku hanya akan ganti baju!" Brian menekan kata-kata itu agar Mayang tidak salah paham.
"Silahkan Tuan, saya akan menunggu di sini."
Mayang mengekori langkah Brian dengan pandangan matanya, lalu meringis saat tubuh itu menghilang di balik pintu.
Tiba-tiba ia merasa menyesal telah berjanji akan bersikap baik. Kenapa ia berpikir sesuatu buruk akan terjadi? Seringai Tuan tadi ... astaga. Itu pertanda buruk baginya.
Tak berapa lama kemudian Brian muncul menghampiri Mayang. Ia telah berpenampilan santai dengan kaos berwarna putih dan celana jeans pendek sebatas lutut. Tapi jam tangan masih menempel di pergelangannya.
__ADS_1
Tuan... walau hanya memakai kaos oblong kau tetap terlihat keren. Tanpa sadar Mayang menatap Brian penuh takjub.
"Ayo ikuti aku," titah Brian sambil berlalu. Mayang mengangguk, lalu mengekor di belakang pria itu. Mayang sepertinya tahu Brian membawanya kemana. Tapi untuk apa?
"Tuan, kita mau kemana?" tanya mayang penasaran setelah ia dan Brian memasuki garasi besar di rumah itu.
"Siapa juga yang mau ngajak kamu keluar," ucap Brian ketus setelah membaca pikiran Mayang.
"Lalu untuk apa kita kesini..?"
Brian membuka penutup sesuatu benda besar. Mayang terperanjat ketika melihat apa yang terlihat setelah penutup itu dibuka. Motor gede dan sebelahnya juga ada motor balap. Memang ya,, kalau orang kaya itu apa aja bisa dibeli. Mayang baru kali ini melihat motor gede keren begini. Sekali lagi ia dibuat takjub.
"Cucikan motor ini." Brian berbicara ringan dan santai.
"Apa!" Mayang terkejut. "Apa Tuan tidak salah bicara?"
"kenapa? Tidak mau? Tadi kau bilang akan bersikap baik dan patuh padaku kan?" Brian menirukan kata-kata Mayang tadi.
"iya si, tapi nggak gini juga. Apa saya harus mencuci motor sebesar ini? Dua pula?" Mayang memasang wajah miris sambil mengacungkan dua jarinya. Bisa-bisanya ia mengeluh di depan tuan muda.
Tuan apa anda sedang mengerjai saya?
"Jadi yang kau katakan tadi cuma bohong?"
"Tidak tuan... saya akan mencucinya segera. Iya, saya cuci." Mayang mendekat untuk mengamati motor itu. "Tuan, tapi sepertinya motor ini tidak kotor. Bukankah dilap saja sudah cukup?" Mayang mencoba menawar.
"Tidak bisa! Aku maunya motor ini di cuci!"
Mayang berjingkat karena terkejut oleh nada bicara Brian yang tinggi. "Baik lah.. Tuan muda, akan saya cuci. Saya juga sering mencuci motor saya di rumah, kok."
"Baguslah. Berarti kau sudah tau caranya mencuci motor, kan."
Ternyata anda punya hobi juga ya tuan. Tapi hari ini kenapa kau bawel sekali?
Mayang sudah mulai menggosok motor itu dengan spons yang berbusa. Karena merasa ribet, ia akhirnya melepas sepatu hak tinggi yang dipakai dan mengikat dan rambutnya agak tinggi.
Sesekali Mayang melirik Brian yang sedang serius mengotak atik motor balapnya. Serius sekali dia, apa dia juga mengerti tentang mesin motor? Apa dulu juga dia anak motor? Rasanya nggak mungkin si kalau punya motor tapi nggak di kendarai.
"Tuan..."
"Apa!"
"Kapan terakhir kali anda mengendarai motor-motor ini?" tanya Mayang memecah keheningan. Karena melihat debu tebal di motor sebelum dicuci tadi. Sepertinya memang motor ini lama tak terjamah.
"Udah lupa."
"Saking lamanya tuan,,,? Sampai-sampai anda lupa kapan terakhir kali memakainya?!" Mayang masih bertanya seperti tak percaya. "Kalau Anda bosan, kenapa tidak diberikan pada saya saja?"
"Enak aja. Memang kamu bisa naik motor?!"
"Ya bisa lah tuan..."Mayang diam sebentar seperti berpikir. "Tuan, dengan siapa anda biasa mengendarai motor ini?"
"Maksudnya?"
"Anda biasanya boncengin siapa dengan motor ini? Pasti orang yang spesial, kan?"
Brian tidak berniat menjawab pertanyaan Mayang. Justru malah mengalihkan pembicaraan. "Hey yang bener dong menggosoknya! Tuh, sebelah situ, tuh!" Brian menunjuk tempat lain yang belum terkena busa.
"Iya Tuan, iya. Ini juga lagi di gosok, kok." Mayang menggosok di tempat yang tadi ditunjuk Brian.
__ADS_1
"Hey yang pelan dong nggosoknya! Entar gores tau! Bukan sembarang orang bisa nyentuh ni motor!"
Ya elah tuan,,, motor beginian doank. Saya nyuci motor di rumah nggosoknya juga begini.
"Bukan kaya gitu!" Brian mendekati Mayang dan meraih tangan Mayang seperti sedang mencontohkan cara mencuci yang benar.
Ada kontak fisik di antara mereka. Walaupun dengan tidak sengaja namun telah membuat jantung keduanya berdebar kencang. Mayang bahkan bisa merasakan hembusan nafas Brian yang sejuk lembut menyapa di telinganya.
Eh kenapa pegang-pegang tangan gitu,, jadi grogi kan saya.
Brian yang baru tersadar langsung melepaskan pegangan tangannya. Ia masih pasang wajah ketus. "Masa gitu saja nggak bisa!"
"Maaf tuan muda.."
"Semprot dulu tuh pakai steam, biar busanya hilang." Perintah Brian sambil menunjuk selang yang tergeletak di bawah.
Mayang cekatan mengambil dan menyemprotkan air untuk menghilangkan busa. Tak ada yang terlewatkan. Saat sedang asik menyemprot, kaki Mayang yang tanpa alas itu menginjak genangan air yang sudah bercampur sabun dan menjadi licin. Sehingga ... "bruugg" Mayang jatuh terduduk di genangan air yang membuat pakaiannya basah dan kotor. Ia memekik lantaran bokongnya terasa sakit.
Brian bukannya menolong malah tertawa terbahak-bahak melihat adegan Mayang terjatuh tadi.
Mayang menatap Brian lalu mencebik kesal. "Apa yang tuan tertawakan! Ini sakitnya beneran, Tuan."
"Ya kamu lah! Disuruh nyuci motor malah main air di situ! Seperti bocah saja." Brian masih belum berhenti tertawa.
Puas anda menertawakan saya? Anda pikir ini hiburan? Anda senang kan kalau saya susah.
Mayang baru kali ini melihat Brian tertawa lepas seperti tak ada beban.
Brian mendekat dan berjongkok di hadapan Mayang yang masih selonjoran di tempatnya jatuh tadi. "Bisa bangun nggak?" tanyanya, kali ini dengan suara pelan. Sepertinya ia agak simpati.
"Sakit..."Mayang merengut, ia tertunduk malu.
"Ayo kubantu bangun." Brian mengulurkan tangannya.
Mayang menggeleng. Dia masih menunduk.
"Mau digendong lagi?!"
"Tidak?" Mayang spontan berdiri seolah tak merasa sakit. Ia meneruskan mencuci motor lagi. Keduanya hanya diam membisu untuk beberapa saat. Brian juga meneruskan kegiatannya tadi.
Tuan muda benar-benar menyebalkan. Dia memanfaatkanku karena aku bilang akan bersikap baik dan patuh tadi. Aku menyesal sudah mengatakan itu pada nya! Apa kusemprot saja dia ya, biar sekalian sama-sama basah. Tapi kalau aku nanti malah dihukum gimana.. apa kugoda saja dia ya.? Mayang cekikikan dalam hati setelah terbayang sebuah ide.
"Tuan..."
"Apa?!"
"Apa tuan tidak berniat untuk mencukur rambut tuan yang panjang itu?" goda Mayang pada Brian. Brian melirik sedikit kearah Mayang. "Sepertinya tuan muda lebih tampan dengan rambut pendek. Bukan kah rambut panjang itu hanya milik wanita saja?"
Brian masih bergeming. Tapi wajah nya sudah mulai memerah.
"Atau tuan muda ingin bersaing dengan saya hemmm...." Mayang mengedip-kedipkan mata sambil menunjukan rambutnya yang panjang itu.
Brian sepertinya sudah mulai terpancing. Ia memang tak menjawab kata-kata mayang sepatah pun.Tapi tangannya sudah mulai mengepal.
"Kau selesaikan sendiri mencucinya!" Kata Brian sambil melempar spons yang ia pegang ke arah Mayang. Tapi dia tak menatap gadis itu sedikit pun. Lalu ia berlalu pergi begitu saja.
Mayang masih tertegun menatap kepergian Brian. Ia menyadari kemarahan Brian walau tampak disembunyikan oleh lelaki itu. Menyesal, dia telah memancing kemarahan lelaki itu.
Apa yang harus ku lakukan untuk meminta maaf... bodoh sekali aku! Dasar mulut jahat.bodoh bodoh! Mayang menepuk mulut nya bekali-kali.
__ADS_1
Bersambung