Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Siapa ratu dan siapa babu


__ADS_3

"Kesampingkan dendam pribadimu jika kau masih ingin merasakan makan nasi esok hari." Tegas Kim dengan tatapan tajam penuh peringatan ke arah Bianca. Wanita pemilik rambut pendek serta penampilan tomboi itu lantas mendorong tubuh Bianca hingga terjerembab pada ranjang di belakang sebagai bentuk kekesalannya.


"Sialan kau, Joy!" umpat Bianca pada teman tomboinya dengan tatapan kesal.


"Diam di tempat, jangan bergerak jika kau ingin selamat dan jangan memancing naluri membunuhku kembali kambuh." balas Joy sambil mengacungkan senjatanya ke arah Bianca, dan membuat gadis yang tengah terlentang itu memutar bola matanya malas. Malas berdebat dengan teman sendiri, ia pun memilih pasrah dan menyerahkan semua kepada dua temannya. Sementara itu ia lebih memilih tak ambil pusing sambil memainkan ponsel miliknya.


Berhasil menjinakkan satu buaya betina ganas, Joy lantas memilih memfokuskan pada tugasnya yang harus ia jalankan. Melirik ke arah Kim yang berada di belakangnya, Joy pun menggerakkan sedikit kepalanya seolah tengah memberikan sebuah isyarat.


Bersikap patuh, gadis cantik yang terlihat lebih feminim itu melangkah menuju sofa yang berada di sudut ruangan. Ia terlihat mengambil sesuatu dari meja, lantas kembali menghampiri Joy dengan sebuah paper bag di tangannya.


Menerima paper bag yang Kim berikan kepadanya, Joy lantas memberikannya kepada Mayang dengan sedikit paksaan agar gadis bersurai panjang itu mau menerima.


Buru-buru menyambut paper bag yang Joy desak di dadanya, Mayang lantas menundukkan kepala untuk mengintip isi dari tas itu. Merasa tak yakin dengan apa yang dilihatnya, istri Brian itu lantas mengangkat pandangannya dan menatap Joy dengan ekspresi tak mengerti dan kening yang berkerut.


"A-apa ini?" Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Mayang memutuskan untuk bertanya.


"Bukankah kau sudah melihatnya? Masih belum mengerti juga isinya apa?" Joy menjawab sambil bersungut-sungut kesal. Direbutnya paper bag itu dari tangan Mayang, lantas mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah muda nan manis dari sana. Melemparkan paper bag kosong ke sembarang arah, Joy lantas menyodorkan kotak itu kepada Mayang. "Pakai gaun ini dan rias dirimu secantik mungkin. Aku beri kau waktu lima belas menit untuk bersiap-siap."


"Memakai gaun? Merias diri? Apa itu harus?" Mayang bertanya dengan memasang wajah lugu sambil mengamati kotak dengan penutup transparan itu.

__ADS_1


"Tentu saja. Karena bos kami telah menunggumu."


"Hemm?" Mayang menatap Joy dengan sebelah alis yang terangkat. "Kalau aku tidak mau?"


"Kurang ajar sekali kau. Beraninya menolak keinginan bos kami!" Bianca yang semula rebahan di ranjang mendadak bangkit dan mencengkeram lengan Mayang. Wajah putihnya memerah padam dengan pandangan menyalang tajam. Ucapan Mayang barusan rupanya berhasil membuatnya hilang kesabaran.


Mengetatkan rahang, Mayang menatap Bianca penuh peringatan. "Lepaskan tanganmu dari tubuhku," desisnya dengan nada tidak suka sembari mengarahkan pandangan ke arah tangan Bianca, seolah mengisyaratkan agar gadis itu segera melepaskan cengkeramannya.


"Kenapa? Apa ini terasa sakit?" tanya Bianca sambil menaikkan sebelah alisnya. Sementara di bawah, tangannya bergerak semakin menguatkan cengkeraman.


"Kau lupa, siapa ratu dan siapa babu di sini?" Mayang berucap santai namun mengandung sejejak penghinaan. Gadis cantik bersurai panjang itu menyunggingkan senyum penuh ironi, seolah sakit yang ditimbulkannya dari remasan kuku tajam Bianca itu baginya tak berarti.


Rasa sakit dan terhina mendadak bergemuruh di dalam dada. Ironis memang. Selama ini dirinya yang berjuang menemani Alex dalam keadaan susah dan senang. Ikut membesarkan usahanya meskipun tak jarang dirinya tak dianggap ada. Bahkan Alex pernah ingin membuangnya hanya karena wanita di depannya ini berhasil melepaskan diri darinya. Sungguh menyakitkan ketika menyadari jika dirinya begitu tak berarti bagi orang yang dia cintai.


Tanpa sadar satu tangan Bianca terangkat hendak melayangkan satu tamparan keras pada pipi mulus Mayang sebagai pelampiasan kekesalan. Namun di waktu yang tepat, Joy berhasil menangkap tangan Bianca dan menggagalkan niatannya.


"Bi! Tenangkan dirimu!" Joy lagi-lagi menjadi penengah ketegangan kedua wanita itu.


"Lepasin gue Joy, gue harus beri pelajaran pada mulutnya yang jahanam itu!" Bianca meronta, berusaha mengulurkan tangannya ingin menampar Mayang. Namun Kim yang bergerak sigap membantu Joy yang kewalahan akhirnya berhasil membawa Bianca menjauh dari Mayang.

__ADS_1


Mengibaskan rambutnya, Mayang tersenyum bangga ke arah Bianca yang terlihat begitu kesal terhadapnya.


"Lihatlah dia Joy, dia berani meledekku!" Bianca menunjuk Mayang dengan ekspresi geram. Namun istri Brian itu segera memasang mimik sedih kala Kim dan Joy mengalihkan pandangan ke arah nya.


"Sudahlah, Bi. Kau ingin tugas kita menangani wanita itu cepat selesai, bukan? Bersikap baiklah agar bos juga baik terhadap kita. Kita bisa menuntut balas kepada wanita itu nanti, di lain waktu. Yang jelas tanpa sepengetahuan bos Alex tentunya." sambil membungkuk, Joy berbicara pelan pada Bianca yang telah duduk di sofa, berusaha memberi temannya itu pengertian. Dan sepertinya berhasil. Gadis itu mengangguk pasrah usai mendengar bujukan dari temannya.


"Tunggu saja sampai bos Alex bosan terhadapnya, aku akan menyiksa dan membunuhnya dengan perlahan."


"Baiklah. Sekarang lebih baik kau diam dan biarkan aku mengurusnya. Kim," panggil Joy kepada Kim yang sejak tadi memilih tak ambil pusing dengan keributan dua temannya. "Kau jaga dia, sementara aku mengurus santapan bos Alex itu." lanjutnya dengan nada memerintah.


"Oke," balas gadis anggun itu cepat. Lantas duduk merapat di samping Bianca dan menunjukkan seringai penuh ancaman selagi dirinya menodongkan senjatanya pada gadis cantik bersurai sebahu itu.


Memutar bola mata malas, Bianca lantas dengan kelihaiannya berhasil merebut senjata itu dari tangan Kim. Sementara Kim sendiri tampak mengerjap bingung kala sesuatu di tangannya telah berpindah tangan dengan begitu mudah.


"Kalau sampai kesabaranku telah habis, kau yang nomor satu merasakan sakitnya timah panas ini." Bianca yang berhasil membalik keadaan menodongkan senjata milik Kim itu ke arah si empunya.


"Bi, plis. Jangan terlalu sering bermain dengan senjata itu." Kim mengerjap takut sambil mengangkat kedua tangannya. "Kau tau kan, nenek bilang itu berbahaya. Terlebih jika kau menekan mahkluk lemah lembut sepertiku, kau berdosa besar."


"Makanya, diam dan jangan coba-coba mengancamku!" tandas Bianca sambil menonyol dahi Kim dengan jari telunjuknya. Ditaruhnya senjata itu ke atas meja lantas duduk dengan santai menyilang kaki sambil bersedekap dada dan menatap tajam ke arah Mayang penuh peringatan. Namun yang di tatap justru bersikap acuh dan memasang wajah angkuh.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2