
Duduk selonjoran pada sofa panjang di samping jendela di dalam kamarnya, Mayang tampak tengah terbuai dalam lamunannya. Meski sebuah buku masih di tangan dan dalam keadaan terbuka, namun ia yang dapat meresapi intisari dari tulisan yang ia baca.
Entah mengapa berita mengenai pencarian dirinya begitu menghantui pikirannya. Terlebih ia menyimpan rapat hal ini sebagai rahasia, Mayang merasa dirinya seolah sedang menyimpan sebuah bom aktif yang akan meledak dengan dahsyat bila waktunya telah tiba.
Meski tampak dari luar dirinya terlihat baik-baik saja, namun Mayang benar-benar merasa tersiksa dengan rasa takut yang selalu saja menggayut di pikirannya. Hanya kebersamaan dengan sang suami lah yang membuatnya bisa lari dari segala kegundahan hatinya.
Sebuah kecupan lembut yang tiba-tiba mendarat di pipinya begitu mengejutkan Mayang hingga membuat gadis itu terperanjat. Menoleh ke belakang, Mayang mendapati suaminya tengah tersenyum dengan posisi tubuh membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lengan sofa.
Menghela nafas dalam, Mayang seolahkan meluahkan kelegaannya. "Sayang, kau ini suka sekali mengagetkan ku." Menggerutu sambil menyebik, Mayang memperlihatkan kekesalannya.
Sambil terkekeh, Brian menempatkan dirinya di samping tubuh sang istri, lantas mendekap tubuh wanita berpiyama itu dengan erat.
"Baru begitu saja kau amat terkejut. Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang? Heumm?" Brian mengangkat kedua alisnya saat pandangan mereka bertemu.
Seperti menyelidik, lelaki dengan pakaian rumahan santai itu mengamati perubahan mimik wajah sang istri yang tiba-tiba gelagapan seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kau baik-baik saja kan?" Tanyanya lagi meminta ketegasan.
Memasang senyum penuh ceria, Mayang berusaha menyembunyikan perasaannya. Sambil menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, ia pun berucap. "Aku baik-baik saja Sayang, aku hanya terkejut karena kau menciumku secara tiba-tiba."
"Tiba-tiba bagaimana? Sudah sejak tadi aku berdiri di belakangmu. Kau tidak sadar rupanya." Papar Brian sambil memegang bahu sang istri. Sedikit mendorong tubuh ramping itu, agar mereka bisa saling menatap. Brian mencoba menelisik kembali senyum palsu yang di tampakkan Mayang. "Jujur lah padaku, apa yang sedang kau pikirkan?"
"Sayang, kenapa serius begitu? Memang hal lain apalagi yang bisa ku pikirkan selain dirimu hah? Tentu saja aku sedang memikirkan mu." Lagi-lagi bersembunyi pada dada bidang Brian, Mayang berusaha menghindari tatapan penuh selidik sang suami. "Oh iya, bagaimana dengan pekerjaanmu? Sudah selesai?" Mayang bertanya untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah Sayang, maaf ya telah membuatmu menunggu lama."
Mayang mendongak menatap sang suami. "Untuk apa meminta maaf, kau kan tidak salah." Ucapnya dengan nada protes. Lantas kembali membenamkan wajahnya dan menghirup aroma maskulin sang suami yang begitu menenangkannya. "Sayang ...," lirihnya dengan suara manja.
"Hemmm," gumam Brian sembari mengusap-usap pipi sang istri. "Ada apa?"
"Terima kasih untuk semuanya ya."
Menautkan alis, Brian kemudian terkekeh kecil. "Memangnya apa yang telah ku lakukan sehingga membuatmu berterima kasih padaku?"
"Banyak." Jawab Mayang cepat.
__ADS_1
"Kalau begitu sebutkan."
"Tidak bisa. Karena terlalu banyaknya hingga aku tidak dapat menyebutkannya satu persatu."
"Bukannya kau yang sudah memberiku banyak cinta sehingga aku bisa kembali bangkit seperti sekarang ini?" Brian berucap setengah bertanya. "Jika kau berpikir aku yang memberimu banyak cinta, itu salah Sayang. Kau lah yang telah menghidupkan kembali jiwa ku yang mati. Menyadarkan padaku jika cinta yang telah hilang memang hanya bisa sebatas untuk di kenang. Karena ada saatnya cinta sejati akan datang tanpa kita bisa menghadang. Terimakasih karena telah datang dengan membawa beribu-ribu kebahagiaan, Sayang. Kau bagaikan air dari surga yang mengaliri cawan hidupku yang kosong. Kau adalah sosok nyata yang mengisi kehampaan kalbu ku. Maaf karena aku telah membawamu pada kehidupan ku yang rumit ini." Ucap Brian tulus dengan ekspresi wajah penuh penyesalan.
Jujur Mayang serasa dirinya seolah terbang melayang ke atas awan mendengar kata-kata yang terucap dari bibir sang suami. Namun ia sadar dirinya hanyalah gadis biasa yang jauh dari kata sempurna. Sehingga kata-kata yang di ucapkan sang suami sangatlah tidak cocok untuk menjadi gambaran tentang dirinya.
Mayang pun bergeming, ia bangkit lalu duduk dan menatap Brian dengan ekspresi wajah kesal. "Berhenti meledekku dengan lelucon konyolmu itu Sayang, bulu kudukku merinding disko mendengar gombalanmu tadi."
"Gombalan apa si Sayang, aku mengatakan yang sebenarnya!"
"Sebenarnya bagaimana, kau berlebihan! Apa seperti ini caramu merayu mantan-mantan kekasihmu dulu? Ah ternyata kau sangat payah ya, rupanya kau penghipnotis hati wanita kelas kakap."
"Kau sudah merusak momen romantis kita malah menuduhku dengan tuduhan yang tidak-tidak. Aku sudah merangkai kata-kata yang indah untuk menggambarkan seberapa pentingnya dirimu ini di hatiku. Tapi kau malah membuat ku kesal." Ucap Brian dengan wajah yang di tekuk. Ia lantas memalingkan wajahnya dengan tangan yang bersedekap dada.
Melihat reaksi yang ditunjukkan sang suami membuat Mayang merasa bersalah. Ia benar-benar tak menyangka suaminya akan merasa kesal karena candaannya.
"Sayang, kenapa memalingkan wajahmu seperti itu? Kau tidak marah kan?" Mayang meraih dagu Brian agar mau menatap wajahnya, namun hal itu sia-sia. Brian bahkan tetap acuh dan semakin memunggunginya.
Tapi dengan tindakan yang bagaimana ya?
"Sayang ..., aku hanya bercanda saja mengatakan itu. Kenapa kau semarah ini padaku?" Tak cukup dengan kata-kata, Mayang pun menggerakkan tangannya menelusup dan membelai dengan lembut tubuh sang suami dari belakang.
Gerakannya begitu ringan, bahkan lebih ringan dari bunga ilalang yang beterbangan yang membelai lembut permukaan kulit hingga menimbulkan senyar berbeda hingga membangkitkan gairah kelelakian Brian.
Sementara bibir Mayang bergerilya menyusuri ceruk leher sang suami dan bergeser dan menghadiahi satu gigitan ringan di daun telinga Brian.
Alhirnya Brian pun tertawa terpingkal setelah berusaha keras menahannya. "Hentikan Sayang, kau membuatku benar-benar merinding disko kalau begini caranya." Ucapnya sambil meraih tubuh sang istri dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.
"Sayang, kau sudah tidak marah lagi?"
"Memangnya siapa yang mara?"
"Bukankah kau tadi marah padaku? Sampai-sampai tak mau menatap wajah ku lagi!"
__ADS_1
"Aku hanya pura-pura, Sayang. Aku hanya ingin melihat bagaimana caramu membujukku saat aku sedang marah. Ternyata kau bisa melakukannya dengan baik Sayang. Maafkan aku ya," ucapnya dengan nada menyesal.
"Aaaaa kau curang! Aku pikir kau benar-benar marah!" Mayang mencubit lengan Brian karena kesal, hingga membuat lelaki itu meringis menahan sakit.
"Aku sungguh-sungguh menyesal Sayang." Brian mengeratkan pelukannya. "Sayang, lakukan seperti ini setiap aku marah dan kesal ya. Bujuk aku agar bisa tertawa lagi. Aku ingin kita saling mengisi dan memahami. Jangan lawan amarahku dengan kemarahanmu juga. Aku ingin kau selalu seperti angin lembut yang selalu berhembus dan memberiku kesejukan. Aku berjanji, aku akan selalu menjadi perisai yang selalu melindungimu dalam kondisi apapun."
Entah mengapa ucapan Brian bukannya membuat Mayang merasa senang, namun justru membuat nya malah merasa sedih. Mayang tahu, Brian tak pernah main-main dengan ucapannya.
Jika sebelumnya karena cinta mereka sanggup memporak-porandakan hubungan baik antara mertua dan menantu, kali ini entah apa yang akan terjadi jika Brian tahu dirinya berada di bawah ancaman Alex meski bahaya itu belum terjadi.
Tanpa sepengetahuan Brian, Mayang menyeka setitik air mata yang sempat meluncur di pipinya tanpa izin. Lantas mengangkat pandangannya menatap wajah sang suami.
"Sayang, kalung kang pernah kau berikan padaku waktu itu apakah sudah diperbaiki?"
"Sudah, kenapa tiba-tiba menanyakan kalung itu, heumm?"
"Haha aku sudah terlanjur menyukainya, dan aku ingin memakainya lagi."
"Benarkah?" Brian mengernyit bingung. "Ku pikir kau merasa tertekan karena selalu diawasi dengan memakai kalung itu?" Brian menatap wajah sang istri keheranan.
"Kenapa? Apa tidak boleh?" Mayang memanyunkan bibirnya.
"Bukan begitu juga." Brian tersenyum. "Kau perlu kebebasan Sayang. Kau berhak bicara apa saja tanpa perlu aku ketahui. Dengan aku memakaikan kalung itu padamu lagi kesannya seolah-olah aku ini mengekangmu berbicara dengan orang lain. Aku hanya tak ingin kau merasa tertekan." Jelas Brian panjang lebar.
"Aku yang mau kok, berarti aku tidak tertekan kan? Kau juga tidak perlu mengawasiku setiap hari. Aku hanya menginginkan kalung itu Sayang," ucap Mayang dengan nada memohon dan menangkupkan dua telapak tangannya.
"Berhenti memohon seperti itu Sayan," Brian menggenggam tautan tangan sang istri. "Jangankan kalung itu Sayang, apapun yang kau minta pasti kan ku berikan untukmu, selama aku bisa."
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Brian. "Terimakasih Sayang," ucap Mayang dengan pandangan berbinar senang.
"Kenapa sebentar sekali?!" Protes Brian dengan nada kesal. "Aku ingin yang lama, bukan sambaran seperti itu!"
Mayang mendesah pelan lalu mengalungkan tangannya di leher Brian dan sedikit menariknya agar lebih membungkuk. Sambil tersenyum gadis itu menanamkan bibirnya pada lengkung tipis sang suami yang sedang menyeringai puas. Keduanya bemain dengan lembut dan penuh cinta.
Brian menggerakkan tangannya menyentuh dan mengusap lembut perut Mayang. "Sayang, kapan benih cinta kita akan kau kandung di dalam sini, heum?" Bisik Brian lirih tepat di telinga Mayang.
__ADS_1
Bersambung