Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Dia lagi dia lagi


__ADS_3

Merasa sudah aman dari jangkauan, Milly lantas menghela napas lega. Ditepuknya punggung lebar si Babang untuk menarik perhatian.


"Kenapa Neng?" Lelaki berpakaian serba hitam itu menoleh selagi bertanya. Wajahnya yang tertutup helm itu sama sekali tak membuat Milly merasa penasaran.


"Turun sini aja Bang, saya mau naik angkutan aja!" Milly menjawab dengan suara yang sengaja di nyaringkan agar telinga di balik helm itu mendengar dengan jelas.


"Kok di sini aja. Nggak bisa gitu dong, tanggung nih."


"Tanggung??" Milly menautkan alisnya. "Tanggung apanya sih, Bang! Ini saya ngojeknya cukup sekian aja!"


"Tapi saya lagi seru, Neng, nggak bisa berhenti!" laki-laki itu berbicara setengah menoleh.


"Ya ampun, apanya yang seru sih, Bang. Cara Abang naik motornya itu bikin saya ketakutan, tau nggak!" sumpah demi apapun, cara si Babang mengendarai motornya yang begitu kencang membuat Milly gelagapan. Bukan hanya rambut dan roknya yang berkibar, namun bibirnya juga ikut melambai dan mengubit-ubit. Astaga, si Babang apa lagi kesetanan, ya.


"Kan tadi Neng yang minta supaya saya ngendarai motor sekenceng-kencengnya ..!" lelaki itu berucap setengah mengingatkan.


"Ya itu kan tadi Bang, sekarang saya minta turun!" Milly berucap tegas. Entah mengapa kini ia merasa curiga dengan lelaki asing yang memboncengnya. "Turunin saya Bang ...! Kalau nggak, saya lompat nih!" sok-sok-an mengancam, padahal membayangkan tubuhnya yang jatuh menyentuh aspal sudah cukup membuatnya ketakutan.


"Iya, iya saya turunin ...!" lelaki itu akhirnya menepikan motornya.


"Dari tadi kek, Bang!" Gerutu Milly sambil turun dari motor si Babang. Tangannya lalu bergerak menyentuh rambut yang entah seperti apa sekarang bentuknya. Karet gelang yang ia dikenakan saat start tadi juga raib entah kemana. "Astaga penampilanku." Keluhnya sembari menyisir rambut dengan jemarinya. Gadis bermata bulat itu seketika melemparkan pandangan ke arah lelaki yang masih betah mengenakan helm tertutupnya. "Semua ini gara-gara Babang!" Seakan tak tahu terima kasih, Milly justru menuding si Babang dengan tatapan penuh peringatan.


"Ye ... udah dibantuin juga. Bukannya terima kasih malah si Eneng nyolot!" laki-laki itu tentu saja berang tak terima. Sudah capek-capek bantu, justru malah kena semprot.


"Coba saya diturunin dari tadi, pasti penampilan saya nggak begini!" Milly mendelik sebal, lantas menudingkan jari telunjuknya ke arah si lelaki penuh peringatan. "Awas aja kalau sampai nggak nurunin saya, saya bisa tuntut anda, loh." tuturnya dengan nada ancaman selagi menunjukkan seringai jahat di bibirnya. Kini ia bersikap sok berani, mentang-mentang sudah berada di keramaian jalan raya.


"Ye, ngapain juga saya nggak nurunin Embak. Memangnya mau saya bawa kemana?"


"Ih, mana saya tau ...!"


Laki-laki itu berdecih selagi memutar kontak motornya bersiap untuk menyalakan mesin. "Lagian ya Mbak, saya juga nggak berani kok bawa Mbak jauh-jauh naik motor saya."


"Nggak berani?" Milly menautkan alisnya penasaran. Ng**omong woy, nggak beraninya karena apa? Apa karena aku cantik, menarik? Atau terlalu berharga. Atau karena apa?! Batin Milly bertanya-tanya. "Nggak beraninya kenapa sih, Bang?" karena tak tahan didera penasaran, Milly akhirnya memutuskan bertanya.


"Ya nggak berani, lah Mbak. Mbak kan nggak pakai helm. Saya takut kena razia. Urusan bisa berabe kalau motor saya kena tilang. Kecuali kalau Mbak mau saya jadikan jaminan ...." lelaki itu terkekeh selagi menyalakan mesin motornya.


"Ye ... kirain karena apa!" Milly mendelik sebal, sampai-sampai memukulkan tas tangannya ke bahu si lelaki.


"Ya udah ya Mbak, saya duluan."


"Eh, ongkosnya belum Bang!" Milly merogoh selembar uang pecahan seratus ribuan lalu menyodorkan ke arah si lelaki. Namun terlambat, sebab motor itu sudah melesat meninggalkannya.


"Simpan aja, Mbak! Saya ikhlas bantuin Mbak!" lelaki itu berseru sebelum melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


***

__ADS_1


Milly duduk di ruang tunggu tempatnya melakukan wawancara dengan perasaan harap-harap cemas selagi menunggu giliran. Entah mengapa ia merasa tidak mendapatkan keadilan. Nomor urutannya sengaja dilangkahi oleh pihak HRD kantor itu. Memangnya apa salahku sampai-sampai diperlukan seperti ini? Terlambat juga tidak!


Meski Milly sudah memprotes, namun tak ada jawaban yang berhasil memuaskan dirinya dari rasa penasaran. Apa aku sudah gagal? Apa begini cara mereka melakukan penolakan? Apa aku tidak masuk kriteria? Apa ... apa dan apa. Beragam tanya berkecamuk di kepalanya. Benar-benar membuat gadis itu hampir-hampir frustasi.


"Biantika Millyana ...?" Suara lembut seorang wanita itu berhasil mengejutkan Milly yang sedang tertunduk lemas. Gadis yang sudah berpenampilan rapi itu refleks berdiri setelah mendengar namanya di panggil.


"Iya, saya." Milly melangkah mendekati wanita cantik--dengan pakaian formal yang terlihat begitu pas menempel di badan--seraya merapikan penampilan.


"Mari saya antar ke ruangan sebelah untuk melakukan wawancara." wanita itu mengisyaratkan agar Milly mengikutinya.


"Tapi bukankah proses wawancaranya dilakukan di dalam sana? Kenapa harus ke ruangan sebelah?" Seolah tak percaya, Milly bertanya penasaran sembari menunjukkan pintu yang tertutup itu. Kemudian tatapannya terarah penuh selidik terhadap wanita itu seolah meragukan.


"Sekarang dibagi dua tempat untuk mempersingkat waktu kok, Mbak."


"Oh baiklah." Berusaha mengunci mulutnya yang sebenarnya masih ingin banyak bertanya, Milly memilih menurut saja dari pada panjang perkaranya.


Setelah sampai di depan sebuah pintu yang tertutup rapat, wanita cantik itupun menghentikan langkah. Menggerakkan lehernya menoleh Milly yang berada di samping, ia pun berucap. "Silahkan masuk, anda sudah ditunggu di dalam. Anda bisa mulai untuk wawancara, sekarang." Wanita yang rambutnya dicepol rapi itu tersenyum begitu ramah. Cantik, sekali. Membuat Milly betah berlama-lama menatapnya.


Menatap ragu ke arah pintu sejenak, Milly kembali menatap wanita itu penuh keraguan. "Ini beneran giliran saya, Mbak?" seolah belum yakin, Milly kembali bertanya demi untuk memastikan.


"Betul, Mbak ...." Lagi-lagi wanita itu menjawab dengan begitu lembutnya, mengalun merdu menyapa telinga membuat Milly terbuai dan merasa ngantuk dibuatnya. Membelai bahu Milly dengan pelan, wanita itu kemudian berpesan. "Ingat ya, Mbak. Mbak harus bersikap baik terhadap HRD yang di dalam karena dia sangat tegas. Sedikit saja melakukan kesalahan, entah dalam berbicara maupun bersikap, maka Mbak akan berakhir ditendang."


"A-apa?!" Sontak saja Milly membelalakkan mata. Membayangkan dirinya melayang akibat tendangan, bukankah itu mengerikan?? Mendadak Milly merasa gugup.


"Maksudnya otomatis saya gagal? walaupun saya memiliki skill mumpuni sekalipun??" Milly terbelalak keheranan.


"Betul, sekali." Wanita itu mengangguk dalam selagi menjawab.


Meneguk salivanya susah payah, Milly merasa tantangan kali ini terasa cukup berat. Belum-belum dia merasa hampir-hampir menyerah. Apalah dayanya yang belum memiliki pengalaman dalam bekerja. Sepertinya dia harus mempersiapkan diri untuk ditendang mulai dari sekarang.


Mendesah pasrah, ia pun berkata. "Terima kasih ya, Mbak. Untung Mbak nya kasih tau saya, loh. Jadi saya sudah mempersiapkan diri dari sekarang. Oh iya, apa Mbak ngasih bocoran ini kepada semua orang yang melakukan wawancara, atau cuma sama saya?" Milly menatap wanita itu lekat-lekat, seolah sedang menanti wanita itu menjawab.


Ngomong woy, apa karena aku cantik dan menarik? Atau aku terlalu berharga? Ataukah aku ini sepesial?


Melihat wanita itu hanya menanggapi pertanyaannya dengan senyuman, gadis bermata bulat itu lantas menyunggingkan senyuman masam. Ah sepertinya percuma saja. Terserah, lah. Aku tidak mau lagi besar kepala seperti yang terjadi tadi.


Bergerak membuka pintu, wanita cantik itu terlihat sangat anggun dan elegan. Mengamati setiap gerakannya, Milly benar-benar dibuat penuh kekaguman. "Mari silahkan masuk." Wanita dengan pakaian serba merah itu menunjuk ke arah pintu seolah mengisyaratkan agar Milly segera masuk.


"Terima kasih," tersenyum canggung, Milly lantas melangkah masuk dengan perlahan usai mengangguk ramah. Gadis bermata bulat itu kembali menoleh ke belakang, seolah tak rela wanita itu meninggalkan. Hingga pintu itu kembali tertutup rapat dari luar, pada akhirnya membuat Milly sadar jika ia harus berjuang sendirian.


Hal pertama yang ia lihat dari tempat itu adalah ruang kerja yang luas dengan desain yang mewah dan begitu manis dengan warna lembut pada dindingnya. Milly bahkan berpikir pemilik ruang kerja ini adalah seorang wanita.


Menatap kursi kerja dengan posisi membelakanginya, Milly meyakini jika itu adalah seseorang yang akan mewawancarainya. Entah siapa dia, yang jelas ia harus bersikap baik dan jaga bicara, kalau tidak ingin merasakan tendangannya.


Astaga, mengingatnya saja dadaku jadi sesak. Milly mengembuskan napasnya perlahan, berusaha mengusir kegugupan yang tiba-tiba datang. Hening untuk beberapa saat, sebab kursi dengan sandaran tinggi itu tak kunjung juga berbalik posisi. Ini kenapa tidak ada penyambutan, ya? Aku tidak di persilahkan untuk duduk, gitu? Kalau sama-sama diam begini, terus kapan mulai wawancaranya?

__ADS_1


Dengan perasaan sedikit grogi, Milly mengayunkan langkah perlahan semakin mendekati meja. "Permisi," sapanya sembari memiringkan kepala, berusaha melihat sosok di balik kursi yang hanya memperlihatkan siku terbungkus kain jas saja. Penasaran. Milly benar-benar penasaran.


"Duduklah." Suara bariton itu akhirnya terdengar memerintah.


Oh, rupanya lelaki, ya. Milly mengernyitkan dahinya saat merasa familiar dengan suara itu. Tapi siapa? Berusaha abai, ia pun menurut. Duduk diam menunggu instruksi selanjutnya, Milly menggigit bibir bawah berusaha mengusir ketegangan.


"Apa motivasimu ingin bekerja di sini?" setelah diam beberapa saat, akhirnya suara berat itu kembali terdengar dan lagi-lagi sukses membuat Milly penasaran.


Ini suara siapa, sih? Kayak kenal. Milly mulai gelisah. Eh, tadi dia tanya apa? Motivasi? Aku harus jawab apa ya? Milly mengerjap-kerjap selagi memikirkan jawaban yang tepat. "U-untuk mendapatkan p-penghasilan, Pak." Jawabnya dengan terbata sebab bibirnya mulai gemetaran.


"Singgel atau berkeluarga?"


Apa pertanyaan seperti ini perlu juga untuk wawancara? jadi apa pengaruhnya dengan pekerjaan? Jangan-jangan perusahaan ini hanya menerima wanita dengan status singgel? Apa boleh buat, sepertinya sedikit kebohongan juga diperlukan demi sebuah pekerjaan.


"Ss-singgel, Pak." Ya ampun, apa yang ku katakan barusan ...! Milly meringis sambil menepuk dahinya, merutuki ucapnya baru saja. Ah sudahlah, mana dia tau juga seperti apa kehidupanku yang sebenarnya.


"Oh, jadi masih singgel, ya?" Lelaki itu berbicara dengan nada meragukan. Entah dia sedang melakukan apa, yang jelas kursi yang di duduknya tampak berputar pelan secara intens ke kiri dan kanan, seolah memang sengaja di mainkan. Hening sejenak, suara bariton itu kembali terdengar, namun kali ini terdengar lantang dan penuh penekanan. "Maaf, tapi perusahaan ini tidak membutuhkan karyawati seperti anda."


"Apa!" Kalimat pria itu berhasil membuat Milly tercengang. Baru juga pembukaan dia sudah mendapatkan penolakan. Jadi ini yang dimaksud wanita tadi. Hebat. benar-benar membuat Milly ingin bertepuk tangan mengalaminya. "Jadi Bapak menolak saya? Bahkan sebelum anda melihat berkas-berkas saya?!" habis kesabaran, Milly pun bangkit dari duduknya. "Wawancara macam apa ini, Pak. Mana ada calon karyawati ditolak hanya karena status pernikahannya. Akhirnya saya tahu, rupanya Bapak telah menyalah gunakan jabatan dan kekuasaan anda! Bapak nggak merasa bersalah, telah melakukan hal ini? Sadar, Pak! Kasihan perusahaan. kasihan bos Bapak! Bagaimana perusahaan bisa berkembang jika metode penerimaan karyawan yang Bapak terapkan seperti ini! Apa Bapak ingin--"


"Hey, siapa kau berani mengaturku!" suara tegas itu menggema di ruangan dan sontak membuat Milly gelagapan. Tubuh gadis mungil yang semula berdiri dengan perkasa itu seketika bergetar penuh curiga sebab mendengar suara keras yang belakangan ini sering sekali menyapa telinganya.


Entah mengapa kekhawatiran begitu membuncah di dada. Mulai melafalkan doa apapun yang ia bisa, berharap kecurigaannya tak terjadi di depan mata.


"Sudah selesai, mengocehnya?" Suara itu kembali menyapa telinga, bahkan disusul dengan kursi yang berputar, dan menunjukkan siapa sebenarnya seseorang di baliknya.


"Astaga. Astaga." Milly terduduk lemas sambil menggigit ujung jari telunjuknya. Seketika dadanya benar-benar terasa sesak melihat sesosok dengan wajah tampan yang begitu familiar, tengah tersenyum miring ke arahnya. Astaga, apa dunia sesempit ini?! Kenapa dia lagi dia lagi! Ya Allah, tolong aku ...!


Epilog


Saat Milly keluar dari apartemen terlebih dulu, Billy segera membereskan berkas-berkasnya dan segera berkemas. Lelaki berperawakan tinggi itu berusaha mengejar istrinya untuk memberikan sesuatu, namun gadis itu sudah tak terlihat lagi di area apartemen, hingga membuatnya memutuskan untuk menyusulnya dengan menggunakan mobil.


Billy tergelak saat mendapati sang istri tengah berjalan dengan kaki yang dihentak-hentakan ke jalan seolah tengah merajuk. Benar-benar menggelikan.


Merasa cukup mengawasi dari kejauhan, Billy lantas melajukan mobilnya dengan niat untuk mengajaknya berangkat bersama. Namun reaksi Milly yang tampak memaki-makinya sembari menggedor pintu itu membuat Billy meyakini jika si gadis tak mengetahui jika mobil itu adalah milik suaminya.


Entah apa yang salah dengannya hingga membuat Milly ketakutan. Bahkan melarikan diri saat diajak bersama dalam satu mobil.


"Hey, tunggu! Kau melupakan sesuatu!" Billy meneriaki Milly yang tengah berlari, sambil ia merogoh kartu tanpa batas dari saku jasnya dengan niat untuk diberikan pada istrinya. Bukannya berhenti, Milly justru menghentikan motor yang saat itu sedang kebetulan lewat.


"Ada apa dengannya? Benar-benar gadis yang aneh." Billy menggeleng heran, lantas merogoh ponsel di sakunya. Menghubungi sebuah nomor, ia lantas berucap dengan nada perintah. "Aku ingin informasi cepat mengenai tempat istriku melakukan wawancara kerja hari ini."


Billy memutuskan sambungan ketika sudah mendapatkan tanggapan dari seseorang di seberang. Dan tak butuh waktu lama, lelaki berhidung bangir itu melebarkan senyuman ketika mendapatkan informasi yang diinginkannya. "Rupanya kau melakukan wawancara di cabang perusahaan Wahana Group. Tunggu aku di sana Milly." desisnya penuh ancaman.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2