
Sesi pemotretan pun telah usai,Weni dan Bella membantu Mayang kembali ke kamar untuk beristirahat.Sementara Brian masih bertahan di sana guna menemui teman-teman dekat yang sengaja hadir untuk menyaksikan acara ijab qobul nya.
Mata Brian tak berkedip saat menatap Mayang yang tengah melangkah semakin jauh meninggalkan nya,hingga seorang teman yang berada di dekatnya menepuk bahu Brian karena merasa di acuh kan.
"Hey sabar dong bro.Tunggu sampai malam nanti okay,,,"Gurau Radit sembari menepuk Bahu Brian karena melihat tatapan Brian yang seperti ingin memangsa pengantin nya.
"Dia milik ku sekarang,jadi suka-suka aku mau menatapnya seperti apa."Brian hanya tersenyum santai.
"Tapi tatapan mu itu seperti kau mau meloncat saja kesana!Tahan dulu lah bro."
"Hey aku tidak seperti itu!"Bantah Brian tak terima."Lagi pula aku akan menunggu nya sampai dia siap dan menyerahkan diri nya sendiri pada ku."Tersenyum bangga.
"Siap-siap gigit jari kau kalau sampai istri mu masih takut saat kau dekati."Timpal Bobby pula.
"Kita lihat nanti."Brian menepuk Bahu Billy dan mengerlingkan mata nya pula.
Billy tersenyum sembari memasukkan jemarinya ke saku celana bahan yang ia pakai."Selamat berjuang saja.Good luck untuk malam nanti."Ucap nya kemudian tertawa.
Hari ini Billy memang terlihat santai tanpa embel-embel Sekretaris dan asisten.Dan teman Brian adalah teman Billy juga saat mereka masih SMA dulu.
Penjagaan di rumah itu sengaja lebih diperketat untuk acara ini dengan menggabungkan anak buah Brian dengan Ayahnya untuk pengamanan sampai acara selesai.Serta kemudian di lanjutkan dengan pengamanan gedung tempat resepsi malam nanti.
Saat teman-teman nya pamit undur diri,Brian pun lantas mengayun kan langkah nya untuk mencari dimana keberadaan istri nya.Ia hanya tersenyum membalas sapa saat berpapasan dengan para kerabat nya.
Mayang sudah selesai membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi.Siang itu ia merasa cukup gerah,hingga memilih mandi untuk membuat tubuhnya merasa nyaman dan fresh kembali.
"Kau bisa beristirahat dulu sekarang.Simpan tenaga mu untuk malam nanti ya."Ucap Penata rias profesional itu mengingatkan Mayang.Dia lah yang membuat Mayang terlihat sangat cantik bak ratu sehari yang juga teman Ratih.Ia tengah mengemas peralatan tempur nya."Aku akan datang lagi nanti jam tiga dan kau harus sudah siap ya."
"Terimakasih intuk kerja keras anda telah membuat saya terlihat cantik."Mayang tersenyum hangat.
"Ah kau kan memang cantik.Jadi aku tak perlu bekerja keras."Ucap nya sembari memegang lembut dagu Mayang dan kemudian undur diri.Weni pun mengantar nya keluar.
Saat Weni akan menutup pintu kamar kembali tiba-tiba ia melihat Brian muncul,sehingga ia mengurungkan niat nya.
"Kakak ipar."Sapa Weni sembari mengangguk kan kepalanya.Dan di balas senyum oleh Brian."Kakak ada di dalam."
"Iya,aku tau."Jawab Brian pelan.
Weni pun kemudian undur diri untuk mengantar Make-up artis itu.Ia mendapatkan satu pelajaran lagi hari ini.Yaitu merias pengantin.
Brian mendekati pintu yang setengah terbuka itu dan berhenti di sana sembari tersenyum saat melihat yang ada di dalam.Kamar itu tampak indah dengan hiasan serta bunga-bunga yang membuat nuansa ruangan ini sangat romantis.
Apalagi ia mendapati istrinya yang tengah berdiri di samping ranjang dengan posisi membelakangi pintu sehingga tak menyadari kehadiran nya.Tubuh nya yang hanya berbalut handuk piyama sedang menyisir rambut panjang nya.
Mayang terlihat kesulitan menyisir bagian bawah rambut nya,kemudian ia pun menarik rambutnya ke salah satu bahu agar mempermudah nya menyisir hingga memperlihatkan dengan jelas leher jenjang nya.
Tanpa bersuara Brian pun masuk dan menutup pintu nya kemudian.
"Cepat sekali kau kembali."Ucap mayang tanpa menoleh saat mendengar suara pintu di tutup pelan mengira itu adalah Weni."Kebetulan sekali.Sisir kan rambut ku ya,kusut sekali di bagian bawah nya."Mayang mengibas kan rambut nya ke belakang dan menyodorkan sisir itu tanpa melihat siapa yang datang.
Brian menerimanya sembari tersenyum tanpa bersuara.Kemudian menyisir rambut istrinya dengan lembut.Mayang hanya diam dan pasrah tanpa merasa curiga sedikit pun.
Istri ku,kau fikir aku ini siapa?kenapa kau menggoda ku dengan cara seperti ini.Kau bisa meruntuhkan pertahanan ku yang susah payah aku tahan sayang,,,
Entah mengapa Brian sangat menikmati hal ini.Ia benar-benar tak ingin istri nya segera menyadari keberadaan nya.Dengan sabar dan telaten Brian menyisir nya dengan pelan agar tak menyakiti rambut istri nya.
"Tumben kau menyisir rambut ku dengan lembut Wen?"Ucap Mayang karena merasa ada yang aneh.
Brian acuh dan tetap menyisir nya meski rambut Mayang kini tak lagi kusut.
Ya tuhan,rambut nya lembut sekali.Harum lagi.Kau membuat ku gemas sayang,,,
"Kenapa kau diam saja?"
Hening.Tak ada jawaban dan membuat Mayang semakin merasa curiga.Mayang memutar tubuh nya cepat berbalik badan dan terkejut setengah mati mendapati Brian ada di belakang nya.
__ADS_1
Mayang dengan cepat menarik kaki nya mundur untuk menjauh namun sial nya ia malah terjerembab di atas kasur dengan posisi terlentang dengan wajah yang memucat.
"Kau sedang menggodaku ya sayang,ini masih siang."Ucap Brian sambil geleng-geleng kepala dan berkacak pinggang.
"Tidak.Bukan begitu!"Bantah Mayang yang terlihat kesulitan saat akan bangun karena lemas dan shock.
"Ah aku tau,kau sudah tidak sabar kan??"Goda Brian lagi.
"Bukan begitu."
Bagaimana menjelaskan nya?Aku terkejut!
Brian menekuk lututnya dan menaikkan nya ke bibir ranjang lalu mendorong tubuh nya semakin mendekati Mayang.
"Tidak tidak!Jangan!Jangan sekarang!"Pekik Mayang sembari memejamkan mata dan mengangkat tangan nya untuk menahan Brian.Tubuh nya terlihat gemetar saat terasa Brian malah menggenggam tangan nya.
"Apa yang kau fikirkan!"Bentak Brian kesal."Aku hanya membantu mu untuk bangun!Kau fikir aku akan melakukan apa hah!Astaga kau ini."Ucap Brian seraya menarik tubuh Mayang dan membuat nya duduk di bibir ranjang.
Bukan nya duduk di samping Mayang,Brian malah menekuk satu lututnya bertumpu pada lantai tepat di hadapan Mayang.Lelaki itu mendongakkan kepalanya sehingga bisa melihat dengan jelas wajah yang tengah malu-malu takut itu.
Mayang menggenggam erat ujung piyama nya yang sebatas lutut,karena akan berbahaya jika ada angin yang tiba-tiba berhembus.
"Tuan jangan begitu,anda membuat saya tidak nyaman."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Naik lah di sini."Mayang menepuk ranjang.
"Kau benar-benar ingin aku naik ke ranjang sekarang?"Brian pura-pura antusias.
"Bukan,maksud saya duduk lah di sebelah saya."
"Oh aku tau,kau ingin selalu berada di samping ku ya??Kau tak ingin jauh-jauh dari ku kan??"Ucap Brian lagi dengan nada menggoda.
"Tidak bukan begitu.Anda jangan bertekuk lutut di lantai begitu,,,"
"Oh jadi bukan karena kau selalu ingin di samping ku?Ah aku benar-benar kecewa."Brian pura-pura marah sembari memalingkan wajahnya.
"Bukan begitu juga,,,!"Mayang buru-buru meraih dagu Brian agar lelaki itu menghadap padanya."Saya hanya malu kalau anda seoerti ini,,,"
"Kenapa harus malu,aku kan milik mu sekarang."Brian memalingkan lagi wajahnya."Dan mau sampai kapan kau akan memanggil ku dengan panggilan seperti itu?!"
"Maaf,,, tapi saya sudah terlanjur nyaman dengan panggilan seperti itu."
Brian tak bergeming dan tidak bergerak sedikit pun.
"Baik,,,saya akan merubah nya.Tapi pelan-pelan ya,,,"Suara Mayang terdengar lembut membuat suasana hati Brian mencair.Ia kini menunjukkan senyum nya lalu bangkit dan duduk di samping Mayang.
"Kau sudah makan?"Brian melirik makanan yang terhidang di meja masih tampak utuh.
"Belum."Mayang menggeleng.
"Kau menunggu ku untuk makan bersama ya?"Celetuk Brian asal.
"Tidak."
"Pasti iya."
Ah terserah!Asal anda senang.
"Makan yuk."Brian bangkit lalu meraih pergelangan tangan Mayang dan menarik nya.Menggandeng gadis itu berjalan menuju ke sofa untuk menyantap hidangan yang telah pelayan sediakan.
Waktu semakin bergulir,membuat matahari yang tadinya berada di atas kini semakin mencondong turun ke bawah dan meredup kan sinarnya yang semula terang benderang berganti menjadi gelap nya malam.
Suasana gedung tempat resepsi pernikahan sudah semakin ramai.Namun di ruang tunggu VVIP di hotel itu tampak lengang menyisakan dua orang dengan pakaian pengantin yang membalut tubuh mereka begitu indah.
__ADS_1
Brian tengah santai duduk menyandarkan tubuhnya di sofa dengan satu kakinya yang terlipat dan bertumpu pada kaki nya yang lain.Pandangan nya tak pernah lepas dari sosok istrinya yang duduk terpojok di ujung sofa dengan wajah yang berpaling.Menghindari adu pandang dengan suaminya.
Entah mengapa,semakin Mayang malu-malu justru membuat Brian semakin menikmatinya.Tapi Brian pun tak berniat untuk memangsa pengantin nya saat ini juga.Ia hanya ingin menggoda wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.
Tok tok tok! Suara pintu di ketuk dari luar.
"Siapa?!"Ucap Brian setengah berseru pada yang di luar.
"Ibu."Suara Ratih terdengar dari luar.
"Masuk bu."
Pintu di buka dari luar dan Ratih pun muncul di sana.Penampilan nya terlihat sangat sempurna dengan gaun pesta yang ia kenakan saat ini.
"Apa kalian sudah siap?"Tanya Ratih menatap Brian dan Mayang secara bergantian."Tamu undangan sudah menunggu pengantin nya."
"Siap bu,"Brian beranjak lalu berdiri dan merapikan jas nya.
Ratih tersenyum dan mendekati Mayang."Kau cantik sekali sayang."Ratih membelai dagu Mayang lembut.
"Terimakasih bu,"
"Dengan ibu saja bilang terimakasih,tapi dengan ku tidak percaya."Ucap Brian menyindir Mayang,Karena sejak tadi selalu mengatakan bohong saat Brian memuji nya cantik.
"Apa yang kau katakan?!"Ucap Ratih tak mengerti.Tapi ia tak butuh jawaban nya."Ayo kita ke tempat pesta.Jangan lupakan ini Mayang."Ratih menyodorkan buket bunga yang ia tinggalkan di meja.Yang kemudian langsung di terima oleh Mayang.
Brian sengaja menonjolkan siku nya agar Mayang merangkul nya di sana.Meski malu-malu namun gadis itu pun patuh dan menelusupkan tangan nya di sana lalu kemudian bergelayut.
Semua pasang mata berpusat pada Brian dan Mayang yang tampak muncul dan berjalan di red karpet menuju ke pelaminan.Keduanya tampak sangat serasi dan mengundang decak kagum para tamu undangan.Brian tampak penuh percaya diri dan bangga memamerkan istri cantiknya itu.
Tapi sepertinya ini adalah hari patah hati para gadis tamu undangan di pesta itu.Hal itu jelas sekali tergambar dari raut wajah serta pandangan mereka yang menatap iri pada Mayang.Kebanyakan mereka adalah teman-teman Brian dan putri dari teman-teman Malik.
Mereka memang tidak mendekati Brian secara langsung,namun lebih ke pendekatan pada orang tua Brian.Hal itu karena sikap angkuh serta arogan yang Brian tunjukkan selama ini membuat nyali para wanita menciut.
Senyum manis tak pernah pudar dari bibir pasangan pengantin itu saat menyalami ribuan tamu undangan yang hadir.Namun semakin lama wajah Mayang terlihat mulai tampak sedikit murung karena kelelahan.
"Kau lelah."Bisik Brian di telinga Mayang.
"Sedikit."
"Sabar sedikit ya,tak lama lagi pesta akan usai."Brian melempar senyum mematikan nya.
Mayang hanya tersipu melihatnya.
Tak lama kemudian keduanya turun dari pelaminan dan menghampiri teman-teman dan para kolega Brian yang ingin bertemu langsung dengan kedua mempelai untuk memberi selamat.
Brian melihat wajah Mayang yang tampak tak nyaman karena rasa lelah sehingga ia mempersilahkan gadis itu untuk beristirahat di ruang tunggu.Billy tampak mengantarnya sampai Mayang masuk kedalam ruangan dengan beberapa orang penjaga di sekitarnya.Dan kemudian sekretaris itu kembali untuk mendampingi tuan muda nya.
Tapi di ruangan itu sendirian membuat Mayang merasa bosan dan ingin keluar mencari udara segar.Meski para penjaga melarang nya namun Mayang meyakinkan tak akan terjadi apapun.Sehingga pengawal itu hanya bisa mengikuti Mayang keluar ruang tunggu namun tetap mengawasinya.
Mayang duduk di sebuah kursi dengan di jaga oleh pengawal di sekeliling nya.Menunggu penjaga yang sedang memanggil Weni untuk menemaninya.Awalnya suasana masih terasa hening,namun tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah dalam yang tidak jauh dari tempat Mayang duduk.
Mayang seketika panik saat melihat seorang wanita yang awalnya minta tolong,dan kini malah tergeletak tak berdaya.
"Cepat tolong dia!"Perintah Mayang pada pengawal yang sedang menjaganya.
"Tidak bisa nona,saya harus menjaga anda dan tak boleh lengah."Tolak pengawal itu.
"Kau lihat aku kan,aku tidak apa-apa.Wanita itu yang butuh pertolongan."Mayang meyakinkan.
Karena patuh,akhirnya perhatian penjaga itu fokus untuk menolong wanita yang tak sadarkan diri itu.Namun tanpa mereka sadari,nona muda mereka malah hilang tanpa jejak namun terdengar teriakan Mayang yang hampir tenggelam karena di bungkam mulutnya.
Seorang yang sadar,lantas berlari mengikuti suara itu lalu menghubungi teman-teman nya melalui Ear phon yang saling terhubung satu sama lain.Lalu terjadilah kejar-kejaran antara penculik yang membawa Mayang dengan anak buah Brian.
Bersambung
__ADS_1