Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Dua wanita hamil


__ADS_3

Tiga hari menjalani perawatan terbaik di rumah sakit, membuat keadaan Mayang semakin membaik. Hingga pada akhirnya dokter pun mengizinkannya pulang, namun dengan catatan ia harus beristirahat total sekurang-kurangnnya selama satu bulan kedepan untuk menguatkan rahimnya.


Demikian pula dengan Brian, setelah selama beberapa hari memilih bekerja dari rumah dan mewakilkan semua pekerjaan di luar kepada Billy, pada akhirnya ia pun memutuskan untuk masuk kantor untuk bekerja kembali.


Meski terasa berat, Brian memberanikan diri meninggalkan sang istri setelah Mayang berhasil meyakinkannya. Walau rasa was-was serta khawatir sering sekali hinggap melingkupi hati Brian, hingga menumbuhkan sikap protektif yang berlebihan lelaki itu pada sang istri.


Dalam sehari ia bahkan hingga berpuluh-puluh kali menghubungi sang istri. Termasuk menambah jumlah kamera pengawas di setiap sudut kediamannya hanya untuk memantau setiap pergerakan yang istrinya lakukan.


Sebelumnya ia bahkan tak memberi izin sang istri untuk turun dari ranjang dan berjalan. Brian mempersiapkan sendiri segala sesuatu yang di butuhkan sang istri, termasuk menggendongnya saat harus ke kamar kecil. Brian benar-benar mengikuti semua anjuran dokter. Ia ingin merawat sang istri dengan tangannya sendiri.


Menghadapi tumpukan berkas di hadapannya membuat Brian merasa pusing sendiri. Pekerjaan hari ini terasa benar-benar melelahkan baginya. Terlebih karena pikirannya yang terbagi membuatnya merasa kesulitan untuk fokus terhadap pekerjaan.


"Bill," panggil Brian pada sekretarisnya yang tengah duduk di kursi kerjanya.


"Ya, ada yang bisa ku bantu?" Billy beranjak dari tempatnya dan melangkah mendekati Brian yang berada di meja kerjanya.


Brian menyandarkan punggungnya denan santai pada sandaran kursi. "Cari informasi tentang makanan kesukaan wanita hamil. Aku ingin membawakan oleh-oleh makanan pada istriku." Ucapnya dengan nada perintah.


Billy mengangguk pelan lantas mengambil ponsel dari balik jas nya. Sudah akan menekan layar dari ponselnya, mendadak Billy mengurungkannya setelah terpikirkan tentang sesuatu di kepalanya. "Kenapa tidak kau belikan makanan kesukaan dia saja? Tidak semua wanita hamil menyukai makanan yang sama kan?" Tanyanya kemudian dengan nada raguk.


"Itu masalahnya!" Sahutan Brian yang setengah berteriak sambil menggebrak meja itu mengejutkan Billy hingga ponsel di tangannya nyaris saja terlepas dari genggaman.


"Setelah hamil ini istriku jadi suka makan." Mengabaikan keterkejutan Billy, Brian melanjutkan perkataannya. "Tapi aku tidak tau makanan kesukaannya apa. Bu Kus bilang, apapun yang di sajikan para koki di rumah selalu ia santap dengan lahap. Hahaha ...! Istriku itu pemakan segala sepertinya." Brian terkekeh lucu.


Billy mendengus. "Lalu bagaimana sekarang? Masih perlu cari informasi?" Tegas Billy meminta kepastian. Tangannya tampak sudah siap menyentuh tombol pencarian pada layar ponselnya.


"Sebentar Bill, apakah ada karyawan kita yang sedang hamil? Bawa kemari jika ada. Aku ingin bertanya langsung padanya."


"Baik." Billy mengangguk sopan sebelum beranjak pergi.


* * *


Dengan perasaan was-was yang berkecamuk serta sebuah tanda tanya besar memenuhi isi kepala, dua wanita dengan perut yang buncit tengah berjalan mengikuti Billy dari belakang. Keduanya saling memandang dan saling bertanya melalui bahasa isyarat. Si senior hanya mengangkat bahu dan menggeleng sebagai jawaban.


Sama-sama sedang hamil membuat keduanya jadi memikirkan sesuatu buruk akan terjadi. Sebuah surat pemecatan pasti akan mereka terima.


Entah mengapa hal ini terasa tidak adil. Sebab meskipun sedang hamil, mereka tetap menjalankan pekerjaan mereka dengan baik. Hamil bukanlah suatu sebab wanita untuk bermalas-malas dalam bekerja jika bayi yang dikandung baik-baik saja didalam sana.


Namun apalah daya mereka yang hanyalah karyawan kecil saja. Perut yang semakin buncit pastilah menjadi pertimbangan kelayakan kualitas dan kuantitas pekerjaan mereka. Tak jarang orang yang meragukan seseorang hanya karena sedang berbadan dua.


Meski terlihat tenang, namun wanita dengan stelan jas rapi yang menjabat sebagai HRD itu diam-diam menyimpan kegelisahan dengan pemanggilan secara mendadak ini. Jika biasanya dirinya lah yang selalu menerima karyawan baru serta mengurus pemecatan karyawan, mungkin hari inilah karmanya di terima.

__ADS_1


"Terima kasih Pak," ucap dua wanita itu saat Billy membuka pintu dan mempersilakan keduanya untuk masuk.


Dan benar saja. Dugaan mereka semakin diperkuat saat Brian menyambut mereka dengan pandangannya penuh makna ke arah perut buncit mereka yang tersembunyi di balik kemeja hamil. Dan bukannya ke arah wajah.


"Selamat pagi menjelang siang Pak," sapa keduanya secara bersamaan dengan wajah yang tertunduk, berusaha menyembunyikan ketegangan.


Canggung, keduanya berusaha merapatkan ujung jas yang terbuka karena memang sudah tidak muat untuk memaksa mengancingnya. Namun apalah daya, berusaha menyembunyikan juga percuma.


"Kenapa berdiri mematung di sana? Duduklah kemari. Apa kalian tidak merasa berat jika terlalu lama berdiri dengan perut besar kalian itu?" Sambil tersenyum Brian mempersilahkan dua wanita yang berdiri di depan pintu dengan ekspresi wajah tampak begitu pasrah.


Dua wanita itu saling memandang sekilas sebelum keduanya melangkah menuju kursi di seberang kursi kerja Brian. Meski masih merasa bingung, setidaknya sambutan hangat bos besar mereka tidak berujung pada pemecatan seperti yang mereka duga.


"Sudah berapa bulan umur kehamilan kalian?" Tanpa basa-basi Brian pun bertanya setelah kedua duduk dengan nyaman.


"Saya sudah jalan tujuh bulan, Pak." Jawab wanita yang bekerja di divisi pemasaran dengan segera, usai melirik pada seniornya yang duduk di kursi sebelah kanan.


"Kalau saya, jalan delapan bulan Pak." Giliran HRD pula menjawab, lalu menggigit bibir bawahnya nampak cemas. Ia memangku tangannya yang basah oleh keringat, berusaha menyembunyikannya agar tak terlihat. Menunduk dambil memandangi tangannya yang tak sadar telah saling meremas.


Duduk bersandar dengan posisi santai, Brian menatap dua wanita di hadapannya itu bergantian. Suara ketukan jemarinya yang beradu dengan meja kerja membuat suasana ruang kerja yang tadinya hening itu terasa semakin mencekam. Tentunya hanya bagi dua wanita yang tertunduk kaku itu.


"Makanan apa yang kalian suka saat awal mula kalian hamil?" Sebuah pertanyaan diluar dugaan yang justru terlontar dari Bibir lelaki yang kini memasang wajah ramah itu.


Mendongak cepat, keduanya lagi-lagi saling memandang. Masih belum mengerti kemana arah pembicaraan mereka akan tertuju. Namun keduanya berusaha menjawab dengan jujur apa yang bos mereka ingin tahu.


"Di usia kehamilan kalian ini, apa kalian belum mengajukan cuti?" Brian lalu melirik pada Billy yang tampak berdiri siaga di sisi kirinya. "Apa kau yang tidak memberikan izin cuti hamil untuk mereka, Bill?!" Setengah menginterogasi, Brian menatap Billy penuh curiga.


"Ah itu tidak benar pak, saya memang baru akan mengajukan cuti setelah kehamilan saya menginjak bulan kesembilan." Sahut HRD itu cepat untuk menghindari kesalah pahaman.


"Kami masih cukup kuat untuk bekerja seperti biasa kok Pak, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan." Tambah wanita satunya lagi.


"Lagi pula dengan kondisi kehamilan kami, kami merasa diistimewakan di perusahaan ini Pak. Hal itu benar-benar meringankan pekerjaan kami. Kami sungguh berterimakasih pada Bapak atas segala kebijakan yang telah Bapak buat. Kami sebagai karyawan merasa sangat dipedulikan. Karena perusahaan ini benar-benar menjamin kesejahteraan seluruh karyawan yang terlibat di sini." Wanita yang bertuliskan Adinda pada tanda pengenalnya itu berbicara dengan binar bahagia yang terpancar dari sorot matanya. Tidak tampak jejak kebohongan ataupun mengada-ada.


Brian hanya melempar senyum tipis pada dua wanita yang tengah menatapnya penuh puja dan kekaguman itu. Lantas mempersilakan keduanya untuk melanjutkan pekerjaan mereka lagi. Tak lupa pula permintaan maaf karena telah membuat mereka terkejut dengan adanya panggilan mendadak ini.


Dua wanita yang sebelumnya masuk dengan wajah yang terlihat pucat, kini terlihat keluar dengan senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka.


Wanita yang bertuliskan Nilam pada kartu pengenalnya itu menghentikan langkah setelah beberapa jauh meninggalkan ruangan Presdir. Dan secara otomatis membuat teman senasipnya yang sudah mendahuluinya beberapa langkah itu pun berhenti dan berbalik menghampiri.


"Kenapa tiba-tiba berhenti? Kau tidak mendadak ingin melahirkan bukan?!" Tanyanta heran sambil menatap Nilam yang berdiri terpaku penuh selidik.


"Bisa kau tampar aku sekarang?" Pinta Nilam lirih. Ada sesuatu yang ingin ia pastikan.

__ADS_1


"Hah?! Kau gila?" Adinda berdecak heran.


"Cepat tampar aku." Desak Nilam tak sabaran sambil mengguncang pelan lengan Adinda, membuat wanita itu menggeleng heran.


"Hah baiklah, kalau itu bisa membuatmu sadar diri." Adinda mengangkat tangannya agak tinggi. "Hai setan yang menempel di tubuh Nilam, keluarlah sekarang juga ...! Plak!"


"Aooow! Sakit Dinda! Kenapa menampar ku sekencang ini?!" Pekik Nilam kesakitan sambil mengusap lembut pipinya yang membekas lima jari tangan Adinda di sana.


"Lagian, mana ada orang yang ditampar malah keenakan!" Decak Adinda sambil melipat kedua tangannya di dada. "Jadi sudah sadar sekarang?"


"Ih kau pikir aku kesambet betulan!" Sergah Nilam dengan nada suara tinggi. Namun segera ia membungkam mulutnya sembari melirik ke sekeliling.


"Jangan keras-keras." Adinda memperingatkan dengan nada berbisik sambil menempelkan telunjuknya di bibir. Lalu menarik lengan Nilam dan membawanya melangkah menjauh dari sana.


"Aku hanya sedang memastikan diriku sedang tidak bermimpi kan??" Nilam membulatkan matanya lebar menatap Adinda setelah keduanya berada di dalam lift. "Astaga dia tampan sesekali." Nilam menangkup wajahnya sendiri sembari berangan. "Aku baru sekali ini melihatnya dari jarak yang begitu dekat. Bahkan dia menyalami ku. Tangannya sangat lembut, bahkan lebih lembut dari kain sutera."


"Jangankan kau, aku yang sudah sering bertatap muka dengannya saja masih selalu terpesona saat berjumpa. Apalagi bertatap muka sedekat tadi. Kau tau apa yang ku bayangkan setiap kali menatap wajahnya?" Adinda mendekatkan wajahnya pada Nilam. "Aku ingin mencubit pipinya ...! Pipinya sangat menggemaskan." Adinda tersenyum penuh kekaguman dan tak sadar jarinya pun saling meremas. "Andai saja dia bukan bos kita, mungkin sudah habis pipinya aku cubit setiap hari."


"Jahat kau." Tuding Nilam sambil menyipitkan mata.


"Tapi nggak mungkin aku melakukannya, Nilam. Dia bos kita." Terkekeh, Adinda menyenggol tubuh Nilam agak keras.


Adinda yang memiliki hobi berolah raga itu pun memiliki tenaga lumayan sebagai seorang wanita. Hingga gerakan yang menurutnya hanya sebuah gerakan kecil ternyata membuat tubuh Nilam terhuyung kesamping hingga membentur dinding lift.


"Astaga, Dinda!" Pekikan Nilam membuat Adinda yang tengah menertawakan dirinya sendiri sambil memalingkan wajah pun tersadar dan segera membantu Nilam berdiri tegak.


"Maaf maaf. Aku tidak sengaja," ucapnya penuh rasa bersalah.


"Kira-kira dong kalau bercanda." Sambil menyebik, Nilam mengusap lengannya yang terbentur.


"Aku sudah minta maaf kan, jangan meringis seperti orang mau lahiran begitu." Godanya sambil tersenyum.


Tak lama, lift pun berdenting dan pintu terbuka. Nilam meraih pergelangan tangan Adinda yang sudah akan beranjak keluar dan menahannya. Seketika Adinda menoleh dan menatap Nilam penuh tanda tanya.


"Kau tau apa yang ku pikirkan selama bekerja di sini?" Tanya Nilam dengan senyum semanis gula.


"Apa?" Tanya Adinda malas. Namun matanya menatap Nilam penuh curiga.


"Aku ingin menamai anak laki-laki ku Brian." Jawabnya sambil mengerlingkan mata.


"Gila!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2