
Duduk di kursi dengan jemari tangan saling bertaut dan bertumpu pada paha, Brian yang setengah membungkuk itu terlihat murung. Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan semenjak sampai di tempat itu.
Berangkat seperti biasa seolah akan bekerja, siapa sangka akan berada di tempat ini hanya untuk mengawasi sang istri dari kejauhan saja. Hanya dari jauh. Sialan! Benar-benar menyebalkan! Brian memukul tembok di sampingnya karena kesal. Ia benar-benar merasa tidak berguna. Ia tak bisa berbuat apa-apa selagi istrinya berada dalam bahaya.
Billy yang berada di tempat agak jauh rupanya diam-diam memperhatikan tingkah bos sekaligus saudara angkatnya itu. Lelaki itu lantas mendekat dengan membawa rompi anti peluru di tangannya.
"Pakai ini," ucapnya dengan nada memerintah sambil menyodorkan yang dipegangnya ke arah Brian.
Enggan, Brian tak kunjung menerimanya, namun justru memalingkan muka.
"Bangun!" tak patah arang, Billy menarik lengan Brian dan membantunya berdiri. Kemudian memakaikan rompi itu pada tubuh Brian yang sudah berbalut pakaian serba hitam khas seorang pasukan. Sementara Billy sendiri nampak sudah siap dengan segala atributnya.
Brian tak menolak saat Billy memaksanya. Ia terlihat pasrah sebab pikirannya sendiri entah sedang berkelana ke mana.
"Kita harus segera bersiap, sebab istrimu sedang menuju ke sana."
"Apa kau bilang?" mata Brian membulat tak percaya selagi dirinya bertanya. Melihat Billy menganggukkan kepala, ia lantas setengah mendongak sambil memejamkan mata seolah sedang berdoa. Entah beberapa saat, hingga desahan berat lolos dari bibirnya.
Billy mengamati wajah Presdir itu. Wajah seorang suami yang dikuasai kekhawatiran serta ketakutan yang luar biasa. Wajar. Karena ia melepaskan istri serta calon bayinya memasuki kandang buaya.
"Ikut aku," Billy mengisyaratkan agar Brian mengikutinya. Entah akan ke mana dia, yang jelas kali ini Brian begitu patuh dan mengikuti kehendaknya.
Sampai di sebuah ruangan, di mana telah berada seorang lelaki dengan pakaian serta atribut lengkap serta beberapa orang bawahannya tampak tengah mengamati sebuah gambar pada layar datar di hadapannya.
__ADS_1
Menoleh, mereka tersenyum bersamaan kala melihat kedatangan Brian dan Billy. Seseorang tampak bergerak menarik dua kursi seolah tengah menyiapkannya untuk Brian dan Billy.
"Silahkan, Tuan," ucap pria yang berpakaian persis seperti Brian dan Billy itu sambil mengulurkan tangannya, mengisyaratkan agar kedua pria itu duduk di sana.
Brian yang sudah duduk seketika terperangah mendapati gambar bergerak istrinya ada di layar itu. Layar datar itu memperlihatkan Mayang yang tengah tersenyum sambil memejamkan mata kala menghirup aroma bunga, namun dibekap mulutnya dari arah belakang hingga wanita itu hilang kesadaran.
Biadab! Tanpa sadar, tangan Brian menggebrak meja dengan penuh amarah, membuat semua yang ada di sana langsung menoleh menatapnya.
"Aku benar-benar akan membunuh laki-laki itu!" gertaknya sambil menuding pria misterius yang memakai topi dan berpakaian serba hitam serta wajah yang tertutup masker itu.
"Brian, tenangkan dirimu!" Billy yang berada tepat di samping Brian mengisyaratkan dengan bisikan.
"Tenang, kau bilang Bill?" teriak Brian sambil melempar pandangan ke arah Billy dengan sorot penuh kemarahan. "Istriku dalam bahaya sekarang, dan kau minta supaya aku tenang! Kau tidak waras, Bill." desisnya sambil menggeleng tak percaya.
Sementara seseorang yang sejak tadi bersedekap dada sambil menyimak tampilan pada layar itu dengan serius, tampak bergeming mendengar perdebatan yang terjadi di antara dua orang suka relawan dadakan yang turut serta ikut andil dalam misi rahasia ini.
"Saya harap Pak Brian bisa bersikap tenang, ya. Istri anda telah melewati pelatihan keras beberapa waktu lalu, jadi saya yakin beliau bisa melewati semua ini dengan baik," kata pria yang biasa dipanggil komandan itu dengan penuh keyakinan.
"Kalian bisa bicara seperti itu karena yang berada di sana bukanlah istri kalian! Coba kalau istri kalian yang berada di posisi istri saya, apa kalian masih bisa bersikap setenang ini!"
Tak ingin terjadi keributan, semua yang ada di sana memilih diam dan tak menanggapi kemarahan Brian. Pandangan semuanya kembali fokus ke arah layar yang menampilkan tubuh Mayang digendong sebelum dimasukkan ke dalam sebuah mobil berbody besar.
Seketika Brian mengepalkan tangannya. Wajahnya pun semakin merah padam dengan rahang yang mengeras. Sadar tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
Saat mobil yang membawa Mayang itu telah melaju, pengintaian pun berpindah melalui kamera drone yang diterbangkan dengan jarak jauh untuk mengikuti perginya mobil itu.
Dan selanjutnya pengintaian pun hanya bisa dilakukan melalui rekaman suara yang dihasilkan dari liontin yang Mayang gunakan. Yang tentu saja membuat telinga Brian memerah panas karena mendengarnya.
***
Bangkit dari baringnya, Alex melangkah pelan guna mendekati Mayang yang masih berupaya membuka pintu. Wanita itu terlihat panik dengan tangan yang tak henti menggedor dan memutar-mutar pegangan pintu.
"Buka! Siapapun yang berada di luar tolong buka pintunya!" teriak Mayang berharap ada seseorang yang mendengar dan mau menolongnya, walaupun ia tahu sebenarnya hal itu sungguh percuma.
"Percuma, Mayang. Tak akan ada seorangpun yang akan mendengar." Alex berucap tenang sambil tetap melangkah pelan.
"Berhenti di sana. Aku bilang, berhenti!" teriak Mayang penuh penekanan sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu dengan mengangkat telapak tangan. Seolah mengisyaratkan agar Alex menghentikan langkah.
"Oke, oke. Aku berhenti di sini," patuh, Alex pun menuruti perkataan Mayang dan seketika menghentikan langkahnya. Pria berkemeja putih dengan lengan digulung itu bersedekap dada dan menipiskan bibir kala mengamati gadis dengan ekspresi ketakutan di depannya.
Benar-benar menyenangkan. Ia layaknya buaya lapar yang sudah mendapatkan mangsa bagus yang begitu ia idamkan kini tersedia di dalam kandangnya. Karena begitu bahagianya, seringai penuh kemenangan tak pernah pudar dari bibir kehitaman itu.
"Alex, tolong lepaskan aku! Apa salahku sampai-sampai kamu nekad culik aku?" memasang wajah iba, Mayang menangkupkan kedua tangan berusaha memohon supaya lelaki itu melepaskan. Namun seperti percuma, sebab lelaki itu masih memasang wajah angkuh penuh kuasanya.
"Sudah kukatakan sejak awal, tidak ada kata penculikan di sini." Alex menjawab dengan tenang sambil melangkah menuju meja yang mirip dengan bar mini. Melirik ke arah Mayang, ia lantas melanjutkan ucapannya. "Aku hanya berusaha membawa pulang sesuatu yang akan menjadi milikku. Itu saja ...!"
Tak mengerti dengan apa yang Alex katakan, Mayang menyipitkan mata selagi bertanya menuntut penjelasan. "Menjadi milikmu? Maksudnya?"
__ADS_1
Bersambung
Dilirik karya baruku yuk, kasihan nggak ada yang baca ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜