
Dengan mata membulat, Milly menatap alat make-up Ina dengan keheranan. Sambil berdecak ia pun berucap, "Ini beneran punya Lo semua?" Seolah tak percaya, Milly masih saja bertanya untuk memastikan kebenarannya.
"Ya iya lah, naruhnya aja di sini,
emang punya siapa?"
"Benar juga ya," ucap Milly dengan kepala mengangguk paham. Sementara pandangannya masih melanglang buana mengamati bermacam-macam alat make-up itu satu persatu dengan posisi tubuh setengah membungkuk.
"Bibir Lo kan cuma satu, lipstik sebanyak ini apa kepakai semua?" Tanya Milly lagi, dengan wajah masih terperangah keheranan. "Gimana makenya? Gua aja satupun kagak punya." terangnya sambil menoleh pada Ina yang berdiri di belakangnya.
"Lo miskin amat si? Lipstik sampe kagak punya. Pake bingung juga mikirin makenya. Tinggal diolesin ke bibir Mill, kagak perlu dijejelin ke mulut. Apalagi sampai di telan." Jawab Ina dengan asal namun dengan nada gurauan.
Tergelak, Milly sampai-sampai memukul bahu Ina karena gemas. "Kalau gitu untuk alat make-up aman kan ya? Untuk kostumnya?" Tanya Milly sambil merubah posisinya dari membungkuk menjadi berdiri.
Untuk menatap wajah Ina yang jangkung, Milly bahkan harus mendongak dengan posturnya yang hanya sebahu gadis jangkung itu. Maklum, saat pembagian tinggi badan, Milly saat itu ketiduran, hingga harus puas dengan tinggi badannya yang sedang-sedang.
"Kebiasaan ya, udah dikasih hati minta jantung pula! Lama-lama ampelaku kau embat juga!"
"Ina, kalau bantuin jangan tanggung-tanggung lah ,,," dengan wajah memelas, Milly berusaha membujuk Ina. ia sampai-sampai meraih pergelangan sahabatnya itu dan meremas jemarinya dengan tatapan penuh harap.
Tersenyum kecut sambil memperhatikan Milly dari ujung kaki hingga ujung kepala seperti meragukan, Ina lantas mengangkat sebelah alisnya. "Lo yakin mau pakai dres gue?"
Mendengar pertanyaan Ina membuat Milly seketika menunduk. Memperhatikan dirinya sendiri yang memiliki postur mungil, lalu mengangkat pandangannya dan membandingkan dirinya dengan Ina yang memiliki postur jangkung. Seketika Milly tergelak sambil menggelengkan kepala. "Kenapa gue baru nyadar ya?! Gue nggak jadi pinjem baju Lo lah, entar dikira lagi nyapu kalau gue pakai gaun punya Lu,"
***
Matahari sudah teggelam, dan siang hari kini berganti malam. Milly yang sejak tadi mempersiapkan diri terlihat sudah cantik dengan penampilan berbeda dari biasanya. Riasan minimalis hasil polesan Ina semakin membuatnya terlihat begitu mempesona.
Berdiri di depan kaca, gadis yang menata rambutnya ke sisi bahu depan itu tersenyum melihat pantulan dirinya. Ia terlihat modis dan girly dengan dress batik modern yang begitu pas, menempel di badannya. Dres berwarna dasar hitam dengan panjang selutut itu memang baru kali ini ia pakai.
"Lo cantik banget pakai dress itu Mill. Lebih kelihatan feminin." ucap Ina penuh kekaguman, sembari memperhatikan penampilan Milly dari ujung kaki hingga ujung kepala. Pujian Ina itu memanglah benar adanya. Milly memang terlihat berbeda dari biasanya.
"Makasih Na." Balas Milly singkat sambil tersenyum samar pada Ina yang sedang duduk di bibir ranjang.
"Itu Lo punya dress cantik, kok gue nggak pernah lihat Lo makai?"
Milly menyinggungkan senyumnya. "Ini kali pertama gue memakainya, Na. Baju ini hadiah ulang tahun gue dari Ibu." Menyebut nama sang ibu, ekspresi Milly tampak melembut.
Namun entah mengapa, senyumnya berubah getir. Seolah sedang menyimpan kesedihan yang mendalam, di balik sikap ceria yang selama ini selalu ia tunjukkan di hadapan teman-temannya. Mendesah pelan, ia melangkahkan kakinya perlahan menuju ranjang lantas duduk mengambil posisi di samping Ina.
Ina yang menangkap perubahan ekspresi wajah Milly pun tak dapat menahan rasa penasarannya, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk bertanya.
"Lo ngapain malah kelihatan sedih?"
"Nggak papa Na, gue cuma kangen banget sama Ibu." jawab Milly dengan suara lemah dan tak bergairah. "Tapi gue nggak tau kapan bisa pulang. Gue pengen banget peluk Ibu gue. Pengen nyandar di bahunya, manja-manja sama dia. Cuma dia yang bisa ngerti gue, Na." imbuhnya dengan ekspresi wajah yang berubah-rubah ketika bercerita, sementara pandangannya jauh menerawang.
__ADS_1
"Ya ampun Mill, Lo sedih karena kangen sama Emak Lo? Gue kira kenapa! Kalau mau pulang ya pulang aja, susah amat." Ina tergelak sambil menepuk pelan bahu kiri Milly, Lantas ia pun memutar posisi duduknya tepat menghadap gadis di sisinya. "Gue kasih Lo ongkos perjalanan pulang deh, atau kalau perlu gue sendiri yang ngantar Lo sampai depan pintu rumah nyokap Lo." Ucap ina berniat menghibur sahabatnya.
Milly yang semula menunduk lantas melempar pandangannya ke arah Ina dengan senyum penuh haru. "Makasih ya Na, Lo emang sahabat sejati gue."
"Santai Bro." jawab Ina tulus sambil mengusap lembut pundak Milly. "Jangan sedih-sedih lagi ya. Kalau Lo sedih, gue jadi ikutan sedih dong ...."
"Tapi masalahnya enggak sesimpel itu, Na." tutur Milly dengan ekspresi wajah yang lagi-lagi menunjukkan kesedihan. Senyumnya pun berubah getir.
Perubahan ekspresi wajah Milly ini lagi-lagi membuat Ina menautkan alisnya karena bingung. Mengangguk samar seolah meyakinkan Ina atas ucapannya, Milly lantas tertunduk dengan mata berkaca-kaca.
"Lo kalau pengen nangis, nangis aja Mill. Nahan nangis cuma bikin dada Lo sesak. Walaupun gue nggak tau masalah apa yang sedang Lo hadapi sekarang, tapi gue siap jadi pendengar yang baik kok." tutur Ina sambil mengusap bahu Milly, sebagai bentuk dukungannya.
"Di hari pernikahan gue, Ayah marah banget sama gue Na." Terang Milly sambil mengangkat pandangannya, menatap lekat manik sang sahabat.
"Jadi Ayah Lo udah nemuin Lo di sini?!"
teriak Ina sembari membulatkan bola mata karena saking terkejutnya.
Milly mengangguk samar. "Iya, Na. Tapi Ayah datang di waktu yang tidak tepat."
"Maksudnya?"
"Hanya karena salah faham, Ayah gue naik pitam, Na. Dia ngelihat gue lagi di kamar sama Babang tampan itu dan nuduh kami ngelakuin hal yang nggak-nggak! Padahal tuh Babang cuma nolongin gua yang baru jatuh. Sumpah gue nggak enak banget sama dia Na, dia udah difitnah, masih ditodong harus nikahin gue juga! Entah sebenci apa dia sama gue sekarang, Na." Milly berucap dengan nada miris, sementara matanya tampak berkaca-kaca.
Ina yang tak bisa berkata-kata hanya bisa mengusap punggung Milly untuk menenangkan.
Ina yang merasa tersentuh pun tak bisa menahan tangisnya. Tak menyangka jika sang sahabat yang selama ini terlihat kuat ternyata menyimpan lara yang membuat hatinya rapuh dan tak berdaya.
"Dan Lo tau Na, apa syarat yang Ayahku ajukan agar dia menerimaku pulang dan memperbolehkan aku bertemu dengan Ibu?" tanya Milly sembari mengurai pelukan mereka.
Menggeleng samar, Ina tak tahu harus berucap apa.
"Gue harus pulang bersama suami siri gue, Na ...! Gue putus asa, membawa pulang lelaki yang begitu membenci gue itu adalah hal mustahil, Na. Entah sampai kapan gue harus terus-terusan bermimpi untuk pulang."
Ina kembali meraih tubuh Milly ke dalam pelukannnya saat gadis mungil itu kembali tersedu sedan. "Mill, udah ya nangisnya. Lo nggak sendirian. Ada gue yang bisa Lo anggap sebagai apa aja semau Lo. Lo juga jangan patah semangat. Lo cantik, Mill. Gue yakin suatu saat nanti suami Lo pasti jatuh cinta sama Lo." Tuturnya pelan untuk memberi nasihat sekaligus kekuatan pada sahabatnya. Lantas mengurai pelukan mereka. "Mill, harusnya Lo seneng karena bokap Lo udah bantu Lo ngedapetin orang yang Lo cinta." Goda Ina sambil meyunggingkan senyumnya.
Milly yang tangisnya sudah mereda pun mengernyit bingung sembari megusap air matanya. "Maksud Lo, Na?" Tanyanya dengan nada penasaran.
"Alah, jangan pura-pura nggak tau. Lo cinta kan sama suami Lo. Kelihatan tau, dari cara Lo cemburu saat gue pura-pura godain si Babang."
"Apaan sih, Na!" Protes Milly sembari dengan nada tidak suka. Namun ia tidak menyadari wajahnya yang tiba-tiba saja merona.
"Halah ... jangan munafik ya, Mill. Harusnya Lo bersemangat untuk mencuri hatinya, bukannya malah menyerah seperti ini. Dan malam inilah saat yang tepat untuk memulainya." Tutur Ina sambil mencolek hidung bangur Milly.
Tak menyanggah ataupun mengiyakan, Milly hanya mengulum senyum sebagai jawaban.
__ADS_1
***
"Lo yakin mau pakai lipstik yang ini?" Tanya Ina usai memperbaiki make-up Milly yang sempat berantakan sebab terkena air mata.
"Ini aja, Na. Gue suka warnanya." jawab Milly santai sambil memperbaiki tatanan rambutnya.
"Tapi ini lipstik KW loh Mill."
"Lah emang kenapa?" Tanya Milly selagi melempar pandangannya ke arah Ina.
"He-he, nggak apa-apa sih. Tapi hati-hati ya kalau lagi makan." Pesan Ina terdengar ambigu.
"Biar nggak tersedak kan?"
***
Gelisah, Milly terlihat tidak tenang saat menunggu kedatangan Billy. Sudah hampir setengah jam yang lalu ia meninggalkan kontrakan Ina, dan memilih menunggu sang suami di kontrakannya sendiri. Namun setelah setengah jam, batang hidung bangir suaminya belum muncul juga untuk menjemputnya.
Di tengah ketegangannya dalam penantian, semburat lampu mobil yang bersinar menyorot semakin dekat kian membuat denaran jantungnya semakin kencang. Ia sudah bisa menebak siapa yang datang meski mesin mobil itu bahkan belum berhenti.
Bangkit dari duduk lantas berhambur menuju jendela, Milly mengintip dari celah gorden yang sedikit ia sibak. Dan benar saja, lelaki tampan yang selalu terlihat prima itu tampak sedang keluar dari mobilnya.
Ya Tuhan, dia benar-benar datang, aku harus apa sekarang? Apa aku sembunyi saja? Batin Milly sembari mengambil ancang-ancang untuk berlari. Namun otaknya yang masih waras kembali menahan dan mengingatkannya untuk bertahan. Ini adalah momen penting dalam hidupnya, bersembunyi hanya membuatnya menjadi pecundang saja. Tak ada pilihan lain selain mempersiapkan dirinya sebaik mungkin.
Menunduk menatap kakinya yang masih mengenakan sandal jepit swallow, Milly lantas buru-buru menukarnya dengan high heels milik Ina yang dipinjamnya. Ini apa nggak salah Ina minjemin ini ke aku. Hak nya aja lebih kecil dari kelingkingku, apa iya bisa menopang tubuhku? gumamnya ragu sambil memperhatikan high heels itu. Namun karena tak ada yang lain, terpaksa Milly mengenakannya juga.
Ketukan pintu yang di susul salam dari suara bariton Billy membuat Milly semakin gugup dan gelagapan. Ia bahkan menjawab salam itu dengan suara terbata sambil beranjak dari tempatnya.
"Pak," sapa Milly pada sosok menjulang dihadapannya dengan posisi mebelakangi dengan dua belah tangan menelusup masuk ke saku celana bahannya.
Punggung lebar itu lantas bergerak sedikit saat lehernya berputar menoleh sambil berucap, "Apa kau sudah si-ap?" Suara Billy terbata di ujung kalimat dengan wajah yang tiba-tiba merona. Bahkan mulutnya sedikit ternganga saat melihat gadis cantik yang sedang menunduk di hadapannya.
Membuang muka dengan dengan cepat, ia tak ingin si gadis menangkap ekspresinya yang tiba-tiba gusar. "Kau sudah siap rupanya." gumamnya tanpa menoleh pada gadis yang ia ajak bicara.
"Sudah, Pak. Saya sudah menunggu Bapak dari tadi." jawab Milly pelan dengan kepala yang masih tertunduk dalam.
"Ayo berangkat. Ini sudah kemalaman." Ajak Billy sambil menilik arloji di pergelangan tangannya.
Sedikit terperangah Milly mendengar ajakan Billy. Tumben suaranya terdengar lembut kayak puding rasa vanilla? Biasanya pedes kayak seblak setan kan? Apa sebelum ke sini kepalanya sempat terbentur tembok dulu? Gumam Milly dalam hati.
"Hey! Apa kau tidak dengar dengan yang kukatakan?!"
Milly terkesiap mendengar guntur yang tiba-tiba terdengar menggelegar di hadapannya padahal tidak ada hujan di sana.
Astaga, dia kumat lagi. Gumam Milly sambil menepuk dahinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung