
Sampai di dalam kamar, Milly lantas mengempaskan tubuhnya pada ranjang dengan seprei motif bunga mawar yang membungkus. Entah mengapa ia masih merasa malas hanya untuk sekedar mandi dan membersihkan diri.
Menatap langit-langit kamar, pikiran Milly kembali berputar pada mimpi yang dialaminya barusan. Walaupun hanya mimpi, entah mengapa ia merasa hal itu seperti nyata. Mulai dari wajah Billy yang tergambar jelas, suaranya, bahkan ciumannya.
Jantung Milly bahkan masih berdegup kencang setiap kali mengingat hal itu. Seulas senyum lantas terukir di wajahnya kala sang jemari meraba pelan bibir ranum itu.
Lagi-lagi ingatan Milly kembali berkelana pada kejadian malam itu. Malam di mana ia masih hidup seatap dengan lelaki yang pernah menikahinya.
Malam itu, Milly yang lelah menggoda Billy yang tengah terlelap pada akhirnya merasakan kantuk juga. Namun tak seperti biasanya, mata yang sudah redup itu masih sulit sekali dipejamkan.
Melihat dada bidang Billy yang tidur dengan posisi terlentang, entah mengapa membuat Milly ingin merasakan tidur berbantal lengannya.
"Hanya sebentar saja tidak apa, kan?" Milly menggumam pelan sebelum kemudian tubuhnya merosot turun ke atas matras.
Dengan gerakan sangat hati-hati, Milly mulai merebahkan tubuhnya di sisi Billy. Bahkan ia nekad menjadikan lengan Billy sebagai bantal. Terlebih melihat Billy yang tak bereaksi membuatnya jadi ingin merasakannya lebih lama.
Tanpa Milly sadari, kenyamanan yang ia dapat dari kehangatan tubuh serta aroma maskulin yang menguar dari tubuh Billy itu mengantarkannya ke alam mimpi begitu cepat. Ia kebablasan, meleset dari tujuan awal yang hanya ingin merasakan tidur berbantal lengannya saja.
Dalam tidur pun ia bermimpi, namun entah mengapa mimpi yang ia alami seolah terasa nyata. Ia bisa merasakan seseorang memainkan wajahnya. Namun rasa kantuk yang luar biasa membuatnya tak bisa membuka kelopak mata yang terasa berat, hingga alam bawah sadarnya menyimpulkan dengan sendirinya jika ia sedang berada di alam mimpi.
Namun sentuhan lembut benda kenyal di bibirnya terasa begitu nyata, hingga mampu memaksanya untuk membuka mata, bahkan selebar-lebarnya. Perasaan terkejut berhasil mendominasinya kala mendapati Billy menyatukan bibir mereka.
__ADS_1
Entah Billy hanya bermimpi atau memang sengaja melakukannya, yang jelas mereka sama-sama terkejut dan saling menjauhkan diri saat adegan pertukaran saliva itu terhenti.
Perasaan yang berkecamuk di dada membuat keduanya sama-sama salah tingkah dan gusar. Wajah Billy bahkan memerah padam.
Tak ingin memicu pertengkaran seperti tempo hari--seperti saat mereka sama-sama terkejut karena terbangun dalam keadaan berpelukan--Milly memilih diam dan tidak mempertanyakan hal itu. Ia hanya bisa tertunduk malu di ujung ranjang dengan menjadikan bantal sebagai pelindung tubuhnya. Hingga akhirnya Billy memilih menarik diri dan keluar dari kamar itu meninggalkan Milly sendiri.
Milly tampak menghela napas lega saat pintu kamar ditutup dari luar. Ditepuknya dahi sendiri berulang kali sembari merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa ia benar-benar tertidur begitu pulas hanya karena menghirup aroma tubuh Billy.
"Memalukan! Benar-benar memalukan ...!" Milly mengumpati dirinya sendiri sambil memukul kasur berkali-kali. Tak puas dengan itu, Milly lantas menarik selimut. Menutupi seluruh tubuhnya dan berguling-guling di bawahnya sambil mengerang kesal.
Lama menunggu dengan pergulatan batin yang bergemuruh, Billy yang ditunggu tak datang menunjukkan batang hidung. Membuat perasaan tak enak hati serta rasa bersalah pun semakin menggerayangi hati Milly.
Setelah dicari-cari, Milly akhirnya menemukan sosok Billy tengah berdiri di balkon luar apartemen. Entah apa yang sedang dipikirkannya, namun Billy terlihat mendongakkan kepala, menatap langit penuh bintang dengan pandangan hampa. Sementara tangannya mencengkram kuat pagar pembatas balkon.
Berdiri di ambang pintu, mendadak perasaan Milly diliputi rasa ragu. Tendangan Billy yang berhasil merusakkan pintu tempo hari masih menyisakan trauma baginya, dan hal itu kembali memunculkan rasa takut yang luar biasa. Sebab tidak menutup kemungkinan jika Billy akan benar-benar menyakitinya jika lelaki itu tengah murka.
Sudah berbalik badan dan beranjak dua langkah dari tempatnya semula, namun Milly mendadak menghentikannya. Menggigit bibir bawah, Milly memutar kepala dan kembali menyentuh bingkai pintu. Kepalanya yang sedikit menyembul berusaha mengintip sosok lelaki itu. Tak bergeming dan masih pada posisinya semula.
Ini benar-benar menyesakkan dada. Tak seharusnya ini terjadi dan merusak segalanya. Aku tak bisa membiarkan salah paham kian memperburuk keadaan. Aku harus menjelaskan dan meminta maaf. Persetan jika memang malam ini ia benar-benar menendangku keluar. Yang penting hati ini lega tanpa rasa bersalah yang menyesakkan dada. Milly membatin penuh tekad sambil mengepalkan tangannya.
"Bapak," lirih Milly saat memanggil nama suaminya. Suara hampir-hampir tenggelam, tercekat dan terhenti di tenggorokan. Namun Billy masih bisa mendengarnya dengan jelas, dan bergeming memutar kepalanya.
__ADS_1
Billy yang masih menampakkan wajah penuh kemarahan itu benar-benar membuat Milly menciut nyali. Ah rasanya menyesal telah menampakkan diri. Entah keberanian bodoh macam apa yang membuatnya nekat menenggelamkan diri ke dalam kubangan yang mengerikan. Ingin mundur dan kabur pun sudah terlambat.
Tak mampu membalas tatapan menakutkan itu, Milly pun tertunduk kaku. Sambil memilin ujung atasan piyama, ia berusaha menahan deguban jantung yang bergemuruh di rongga dada.
"Ada apa?" suara Billy terdengar datar dan dingin saat bertanya.
Milly tersentak, dan seketika mendongakkan kepalanya. "Ma-maafkan saya, Pak," ucapnya dengan nada terbata. Tak bisa berada di sana lebih lama, ia segera memutar tumit dan berbalik badan. Segera melangkahkan kaki sebelum dirinya benar-benar pingsan.
"Milly."
Milly seketika menghentikan langkah kala mendengar lelaki itu memanggil namanya.
Menatap gadis dengan ekspresi wajah penuh ketakutan serta rasa bersalah itu benar-benar membuat jiwa iba di relung hati terdalam Billy meronta-ronta. Ia merasa tak tega. Terlebih dirinya juga menyadari jika Milly tak sepenuhnya bersalah. Namun dia memiliki andil sama dalam kejadian ini.
Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Milly memutar kepala dan menoleh ke arah suaminya dengan ekspresi wajah tegang penuh tanda tanya. "Ya Pak?" tanyanya kemudian.
"Bisa buatkan saya secangkir kopi hitam?" tanya Billy dengan ekspresi melembut, jauh berbeda dengan saat pertama kemunculan Milly tadi. Setidaknya hal itu sedikit menenangkan hati Milly dan membuatnya merasa aman.
Mengerjap tak percaya, namun pada akhirnya sebuah helaan napas lega lolos dari bibir Milly. Gadis itu tersenyum senang, mengangguk mantap kemudian berucap, "Baik, Pak." Lantas berbalik badan dan meninggalkan tempat itu untuk pergi menuju dapur.
Bersambung
__ADS_1