Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Pernyataan mengejutkan


__ADS_3

"Hey, bagaimana dia bisa masuk kesini?!" Malik berdecak heran saat melihat Brian berhasil membawa Mayang keluar pagar dan pada akhirnya pergi dari rumah itu. "Ini tidak bisa di biarkan Bill! Kita harus mencegah mereka!" Malik menggeram. Tampak kekhawatiran muncul di wajahnya.


"Jangan Tuan besar!" cegah Billy saat melihat Malik yang sudah akan bereaksi memanggil anak buahnya.


Kening Malik berkerut bingung melihat reaksi Billy yang tiba - tiba mencegahnya. Seolah sedang memberi pertanyaan melalui ekspresi wajahnya.


"Biarkan mereka bahagia Tuan besar, setidaknya sampai mereka melewati hari ulang tahun Nyonya Mayang."


"Mayang ulang tahun?"


"Benar Tuan besar, tepatnya besok."


"Tapi kalau sampai Hans yang lebih dulu mengendus keberadaan mereka, bukankah itu lebih membahayakan Mayang?!"


"Kita harus mengusahakan agar itu tak sampai terjadi Tuan," ucap Billy dengan maksud yang tersirat.


Malik tampak menghela nafas dalam - dalam saat memikirkan kehidupan cinta puteranya yang pelik. Begitu banyak cobaan yang datang menghampiri Brian disaat pintu hatinya telah terbuka lebar kembali untuk sebuah cinta.


Ia merasa bersalah telah menjadi sosok Ayah yang kejam terhadap putera semata wayangnya demi untuk menguji seberapa besar rasa cinta yang ia miliki terhadap istrinya. Dan sejauh mana ia mampu berusaha merebut kembali cinta Mayang terhadapnya.


Billy terkejut saat mendengar Malik yang sebelumnya diam seperti tengah memikirkan sesuatu kini tiba - tiba tertawa geli.


"Bagaimana caranya Brian bisa masuk menembus tembok itu coba Bill?" Malik bertanya dengan ekspresi wajah heran di balik tawa nya.


"Apa Tuan besar lupa kalau Tuan Brian memiliki pintu keluar rahasia?" Billy berucap setengah bertanya dengan nada mengingatkan sembari menelisik wajah Malik yang sepertinya langsung berpikir untuk mengingat - ingat sesuatu. "Saya bahkan selalu kalah saat bermain petak umpet saat kecil dulu." Tambahnya lagi sembari tersenyum.


Malik berdecak dengan seringai dibibirnya. Bisa - bisanya dia melupakan hal itu hingga luput dari perhitungannya.


"Aku tahu, dia pasti akan melakukan segala cara untuk menemui istrinya." Ucap Malik kemudian dengan tatapan yang menerawang saat mengingat watak anaknya yang keras kepala. " Termasuk menculik istrinya sendiri.


* * *


Brian mengendarai motornya dengan kecepatan sedang menuju tempat yang masih ia rahasia kan terhadap Mayang. Tangannya sesekali bergerak membelai lembut lengan Mayang yang tengah memeluknya erat dari belakang.


Dinginnya udara yang menerpa mereka malam itu seolah tak dapat menembus kehangatan yang tercipta karena kebahagiaan mereka saat ini.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Brian pun mengendarai motornya memasuki gerbang sebuah hunian rumah yang lebih mirip dengan vila. Di tempat itu sepertinya tak ada orang lain selain mereka berdua, sebab Brian sendiri yang menutup kembali gerbang itu.


Brian menggenggam jemari Mayang dan membawanya melangkah menuju pintu masuk rumah berlantai dua itu. Brian bahkan membuka pintu itu sendiri dengan kunci yang memang sudah ia bawa.


"A-apa kita hanya berdua saja disini?" Tanya Mayang dengan perasaan ragu.


"Iya. Kenapa? Kau takut?"


Mayang menggeleng cepat. " Tidak."


Brian tersenyum saat menatap istrinya yang terlihat kikuk. "Ayo masuk." Ajaknya saat pintu telah terbuka. Brian kembali menarik tangan istrinya yang memang tidak ia lepaskan sejak digenggamnya tadi.

__ADS_1


Brian membawa Mayang melangkah menuju tangga dan menaiki anak tangga itu satu per satu hingga mereka sampai di sebuah kamar berukuran sedang. Brian menutup kembali pintu kamar itu setelah keduanya sudah berada di dalam.


Brian melepaskan tangan sang istri saat ia harus melepaskan jaket kulit harley yang ia kenakan beserta kaus tangannya. Sementara Mayang melangkah perlahan menuju ranjang berukuran king size yang terbungkus dengan sprei berwarna putih itu dan pelan - pelan duduk disana.


Untuk beberapa saat keadaan kamar itu pun hening, karena keduanya memilih diam dan hanyut dalam pikiran masing - masing. Padahal ada begitu banyak hal yang mengganjal dan ingin mereka bicarakan saat ini.


Brian masih berdiri tak jauh dari pintu. Matanya terarah pada sang istri yang tengah tertunduk kaku. Wajah cantik nan polos dan terlihat malu - malu benar - benar mengingatkan nya pada gadis SMP yang pernah ia tolong sepuluh tahun yang lalu.


Gadis cantik mungil dan lugu. Bahkan setelah sepuluh tahun gadis itu tetap terlihat seperti itu. Entah bagaimana bisa Brian tak menyadarinya selama ini. Padahal gadis itu terpampang nyata di hadapan nya dan bahkan telah menjadi istrinya.


Suara langkah Brian yang mendekat memaksa Mayang mendongak untuk melihat ke arahnya. Saat pandangannya beradu dengan Brian yang tampak tersenyum padanya seketika membuat Mayang menjadi salah tingkah di buatnya. Ia kembali tertunduk gusar sembari menggeser posisi duduknya, yang awalnya di tengah menjadi ketepi.


Brian menjatuhkan tubuhnya terduduk di samping Mayang. Untuk sekejap mereka saling memandang, namun di detik lain lagi - lagi Mayang mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kau masih membenci ku?" Brian bertanya dengan nada pasrah begitu melihat ekspresi yang Mayang tunjukkan padanya.


"Tidak, bukan begitu." Mayang membantah nya mentah - mentah. "Aku hanya--" Mayang terdiam menggantung ucapannya. Ia menatap Brian yang masih dengan sabar menunggunya bicara.


"Aku hanya ingin mengatakan bahwa semua yang kau lihat itu tidak seperti yang kau pikirkan! Waktu itu aku benar - benar menceburkan Ayah kedalam kolam. Sungguh! Percayalah padaku!" Mayang mencecar Brian dengan penjelasan yang sebenarnya itu tak perlu. Sebab seketika itu pula Brian menempelkan telunjuknya di bibir Mayang agar istrinya itu diam.


"Aku tau, aku percaya." Ucap Brian tenang sembari menipiskan bibirnya tersenyum.


"Aku tidak bohong," Tambah Mayang lagi sembari beringsut memutar posisi duduknya menghadap pada Brian karena merasa suaminya itu masih meragukannya.


"Iya sayang, aku sudah mendengar semuanya..."


"Dari mu." Jawab Brian yakin. " Kau yang telah memberikan semua informasinya kepadaku."


"Kau bohong, kita bahkan baru bicara sekarang kan."


"Kau memang tidak mengatakannya padaku, tapi aku mendengarnya melalui ini." Ucap Brian sembari memegang liontin di kalung yang ia berikan pada Mayang sebelum mereka berangkat menuju rumah Hans beberapa waktu lalu.


Kenung Mayang berkerut bingung sembari menunduk menatap leontin di tangan Brian. Lalu mendongak menatap suaminya dengan wajah penuh rasa ingin tahu. "Ada apa dengan liontin ini?"


"Kau pikir aku memberimu ini tanpa sebuah tujuan?" Brian bukannya menjawab pertanyaan yang Mayang ajukan malah justru balik bertanya. Hingga membuat Mayang semakin penasaran karena nya.


"Iya tujuan mu apa?" Desak Mayang kemudian dengan tak sabaran.


Dengan santai Brian pun merogoh ponsel dari sakunya. Tangan nya dengan lihai menggeser layar benda pipih itu hingga mengeluarkan rekaman suara pembicaraan dari sana.


Mayang membelalakkan bola matanya dengan sempurna begitu begitu telinganya mendengar suara yang begitu familiar baginya. Yaitu percakapan - percakapan dirinya dengan beberapa suara lain yang pernah terlibat percakapan dengannya selama Mayang memakai kalung itu.


"Sayang kau mengetahui semuanya?!" Mayang bertanya setengah histeris karena begitu terkejutnya dia. "Berarti kau hanya berpura - pura saja selama ini?! Kenapa kau lakukan ini?! Kenapa kau merahasiakan padaku?! Aku ini istrimu, tak bisakah kau jujur pada ku?!" Air mata Mayang tumpah saat dirinya mencecar Brian dengan begitu banyak pertanyaan.


Mayang tak dapat menutupi kekesalan pada sang suami yang sengaja menutupi hal sebesar ini. Sebagai istri Mayang merasa merasa tak di butuhkan lagi oleh sang suami. Bahkan mengenai masalah sebesar ini.


"Aku minta maaf karena hanya ini yang bisa ku perbuat." Brian merapatkan tubuhnya pada sang istri yang tengah terisak sembari menunduk. Dia merentangkan tangannya bermaksud merangkul Mayang, namun gadis itu menggeser tubuhnya sedikit menjauh menunjukan penolakan secara halus.

__ADS_1


Brian mendesah pelan. Menarik tangannya kembali yang telah secara terang - terangan istrinya abaikan. Ia memang sudah menyangka ini akan terjadi, sehingga Brian pasrah dengan segala konsekuensi yang akan di terimanya setelah ini.


"Kalau kau memang ingin bersandiwara, kenapa tidak membawa ku serta dalam sandiwara mu itu?! Aku ini istrimu!" gerutu Mayang lagi sembari melirik Brian dengan penuh kemarahan.


"Maaf, tapi aku tidak yakin kau bisa melakukannya."


"Jadi kau meragukan ku?!"


"Bukan begitu..." Ucap Brian menyangkal tuduhan Mayang. "Wanita biasanya lebih memakai perasaan dari pada logika nya. Jadi aku memilih tidak melibatkan mu dalam hal ini. Makanya aku ingin kau pulang waktu itu, tapi kau malah bersikeras tetap bertahan disana." Bria menatap manik mata Mayang lekat. "Aku tidak mau kau dalam tekanan karena selau dalam pengawasan orang - orang itu.


"Maksud mu?" Mayang bertanya dengan pandangan seperti menyelidik.


"Benar kau tidak tahu di rumah itu terpasang kamera pengintai dimana - mana?"


"Maksudmu CCTV?"


Brian mengangguk. "Karena itulah aku harus benar - benar membuat mu terlihat menderita di sana. Supaya mereka yakin bahwa aku benar - benar membenci mu." Brian diam sejenak sembari mengalihkan pandangannya dari sang istri yang masih mendengarkannya bercerita.


"Ku akui aku memang jahat. Tidak ada lelaki manapun yang dengan sengaja memasukkan istri nya ke dalam kandang yang di penuhi singa lapar di dalamnya." Ucap Brian kemudian dengan di bubuhi tawa setelahnya.


Namun tawanya itu hanyalah ekspresi kegetiran hati yang ia rasakan kini. Mayang bisa melihat mata lelaki itu tampak berkaca - kaca walau Brian sekuat tenaga menyembunyikannya.


"Aku menggunakan dirimu untuk memperoleh informasi yang aku butuhkan. Namun bukan tanpa alasan, karena aku yakin kau akan baik - baik saja disana. Hans tak mungkin menyakiti mu saat tahu aku membencimu. Karena dia akan sangat menikmati disaat aku mencampakkan mu."


Brian bangkit dari duduknya. Lantas melangkah perlahan menuju jendela kaca dan menyandarkan bahunya, menatap ke arah luar membelakangi istrinya sembari memeriksa keadaan di bawah sana.


"Aku lebih senang melihat kemarahan mu daripada kehilangan dirimu." Brian berucap setengah menggumam.


"Apa maksudmu?" Mayang sontak berdiri lalu melangkah mendekati Brian. "Kau lihat aku baik - baik saja kan?"


"Sayang, aku tahu kau punya maksud baik ingin menunjukkan kebenarannya padaku saat kejadian di kolam renang itu. Tapi secara tak sadar kau mengabaikan keselamatan mu sendiri. Aku sungguh - sungguh tak bisa bayangkan kalau sedikit saja aku terlambat datang saat itu."


"Apa yang sebenarnya terjadi? Jelaskan padaku?!"


"Kau tidak memperhatikan anak buah Hans yang sudah membidik mu! merek siap menembak mu saat itu juga."


"Jadi karena itu kau mengusirku dengan kejam?" Lirih Mayang menebak arah pikiran Brian. Keduanya saling beradu pandang dan seketika air mata Mayang kembali menetes. "Apa kau tau? Kau sudah menyiksaku dengan rasa sakit yang teramat di hati ini. Dan kini kau menambahnya lagi dengan membuat ku merasa bersalah."


"Maafkan aku. Tapi kumohon jangan membahayakan dirimu lagi dengan sikap gegabah mu itu. Mereka itu licik dan pintar memutar balikkan fakta. Dan kau bukan tandingan nya. Kau ingat saat mereka meracuni mu?" Brian bertanya namun tak menunggu Mayang menjawabnya. "Billy dan Ayah yang bekerja sama dengan polisi saja tak mampu mengungkap kasus itu!"


Brian menghela nafas dalam saat menjeda ceritanya untuk beberapa saat. Mayang pun masih setia menunggu suaminya yang masih menatap luar jendela itu melanjutkan ceritanya.


"Aku berusaha bersikap bodoh dan seolah tak tau kelakuan mereka di belakang ku. Aku harus berusaha merebut kembali seluruhnya milik ku yang hampir saja mereka kuasai. Sku tak ingin keluarga ku jatuh miskin karena ketamakan dua manusia itu."


"Maksudnya?" Mayang lagi - lagi di buat terkejut oleh pernyataan Brian.


"Karla berhasil membalik nama perusahaan ku atas nama nya." Jawab Brian dengan nada tenang. Lalu kemudian dia menggeser pandangannya menatap iba pada Mayang. "Apa kau akan tetap mencintaiku saat aku jatuh miskin dan tak memiliki apa - apa lagi?"

__ADS_1


__ADS_2