Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Semakin penasaran


__ADS_3

Milly sendiri masih tertegun di tempatnya sambil menatap punggung lebar yang semakin menjauh itu hingga menghilang di balik pintu kafe.


Sepeninggalnya lelaki itu, barulah Milly memahami arti perkataan Ibra tadi. Bukankah maksud lelaki itu menginginkan ia datang dan menyerahkan dirinya dengan suka rela? Dan sebagai gantinya, Ibra akan menyerahkan pabrik beserta rumah itu kepada Ayahnya.


Apakah aku harus melakukan ini? Setelah sekian lama melarikan diri pada akhirnya nasipku kembali di tangan Ibra juga? Aku tidak bisa Ya Allah, aku tidak bisa. Aku benci dia, mana mungkin aku rela dinikahinya. Bantu aku agar bisa terlepas dari masalah ini tanpa sedikitpun melakukan pengorbanan yang hanya akan menguntungkan lelaki licik itu saja, batin Milly sedih dengan tatapan kosong.


Bahkan karena terlalu tenggelam dengan pikirannya sendiri sampai-sampai Milly tak menyadari jika ada seorang gadis telah tiba dan duduk mengambil posisi di kursi seberangnya dan hanya terhalang meja kafe.


"Milly, maaf ya aku datang telat. Cuacanya sedang buruk dan membuat jalanan sangat licin. Aku tidak berani menyetir mobil terlalu kencang jika cuaca sedang seperti ini," gadis bersurai sebahu itu menjelaskan sambil mengusap rambut serta pakaiannya yang sedikit basah dengan tisu tanpa menatap ke arah orang yang ia ajak bicara.


Gerimis di luar sana rupanya lumayan membuat tubuhnya kebasahan, hingga membuatnya harus berusaha mengeringkan agar rasa dingin tak menyiksa tubuhnya.


Menyadari jika Milly tak bereaksi ataupun menyapanya, gadis cantik yang mengenakan terusan selutut berwarna hitam itu menghentikan kegiatannya dan memperhatikan Milly dengan kening yang berkerut. "Milly," panggilnya lagi dan berhasil membuat Milly terperanjat.


"Sessa?" balas Milly menyebut nama gadis itu segera ekspresi sedih yang membingkai wajahnya. Tak butuh waktu lama hingga Milly benar-benar tergugu dengan deraian air mata.


"Milly kamu kenapa?" tanya Sessa yang mulai panik serta bingung melihat sang sahabat tiba-tiba menangis usai terbuai dalam lamunannya. Ia segera bangkit dan berjalan mengitari meja demi untuk menghampiri sahabatnya.


"Sessa ,,," lirih Milly di sela isaknya sambil merengkuh tubuh mungil sang sahabat yang sudah berdiri di sisinya, lantas membenamkan wajah yang berurai air mata pada perut ramping wanita itu.


"Milly, ada apa ini? Tolong jelaskan padaku agar aku bisa membantumu ,,," pinta Sessa yang masih kebingungan sambil membelai rambut rambut Milly untuk menenangkan.

__ADS_1


Namun Milly yang masih larut dalam tangisan itu sepertinya membuat Sessa harus menahan rasa ingin tahu dan bersabar menunggu hingga gadis itu merasa tenang.


***


Di sebuah kamar tidur berukuran luas dengan desain mewah dan elegan, Mayang tampak duduk pada sebuah ottoman yang terletak menempel pada ranjang berukuran king size.


Wajah cantiknya nampak murung akibat kegelisahan yang melingkupi. Iapun tampak diam terpaku dan tak berani sedikitpun berkutik. Sebab Bianca, Kim dan Joy terus saja mengintimidasi dirinya dengan senjata demi untuk menjaga supaya ia tidak bersikap nekad dengan memperburuk penampilan.


Jantung Mayang semakin berdegup kencang seiring rasa takut yang semakin besar. Pergerakan waktu yang bergulir ini baginya terasa seperti tembok kokoh dari dua sisi, yang secara otomatis bergerak semakin mendekat tanpa bisa lagi ia cegah, dan pada akhirnya tetap akan menghimpitnya tanpa bisa menyelamatkan diri dari sana. Seolah-olah kini ia tengah menunggu detik-detik kematian yang sudah pasti akan terjadi, entah itu cepat atau lambat.


Perhatian semua orang yang ada di ruangan itu sama-sama beralih ke arah pintu saat seseorang membukanya dari luar. Ekspresi Mayang langsung menegang saat pandangannya bersirobok dengan Alex yang baru muncul dari sana.


Ketakutan yang luar biasa tergambar jelas di wajah wanita itu. Terlebih saat Alex mengisyaratkan agar seluruh anak buahnya meninggalkan tempat itu. Dengan tangan mencengkeram ujung lingerie yang ia kenakan, Mayang menatap kepergian orang-orang itu dengan pandangan tidak rela.


Meskipun dengan sikap serta bahasa tubuh yang ramah, namun kehadirannya itu memancarkan aura mengerikan yang menguar ke seluruh ruangan kamar. Menghadirkan sensasi menyeramkan yang kian membuat Mayang semakin ketakutan.


Alex berhenti tepat di depan Mayang yang tengah duduk dengan jarak hanya sejangkauan tangan. Tanpa aba-aba, ia lantas menggerakkan tangan melepaskan kancing jas yang masih melekat di tubuhnya, dan melemparnya ke sembarang arah usai menanggalkan dari badan.


Mayang sendiri seketika menundukkan kepala, sementara tangannya bergerak memeluk tubuhnya sendiri seolah menjadikan itu sebagai perisai pelindungnya.


Alex menipiskan bibir dan mengulas senyum selagi mengamati wanitanya yang terlihat malu-malu, lantas menggulung lengan kemejanya hingga batas di bawah siku. Lelaki yang tengah berdiri menjulang di depan Mayang itu kemudian menekuk lututnya, lantas berjongkok dengan satu lutut bertumpu pada lantai. Ia sengaja menempatkan posisi dirinya lebih rendah dari Mayang demi untuk memandang wajah ayu wanita yang malu-malu itu.

__ADS_1


"Kau sangat cantik, Sayang," ucap Alex pelan dengan senyuman menggoda di bibirnya.


Mayang beringsut, memutar posisi duduknya dari yang semula tepat berhadapan dengan Alex hingga kini tampak menyerong, seolah-olah tengah menunjukkan penolakan untuk saling pandang secara terang-terangan.


Wajah Mayang pun terlihat semakin gelisah dan merasa tidak nyaman dengan tatapan Alex itu. "Kau tidak seharusnya menatap istri orang lain dengan pandangan seperti itu. Apa kau tidak tau jika aku benar-benar muak melihat wajahmu!" tanpa menatap lelaki yang ia ajak bicara, Mayang melontarkan kalimat itu dengan penuh kebencian. Namun justru hal itu malah mengundang gelak tawa kencang lelaki di depannya.


"Aku tidak peduli dengan statusmu yang adalah istri orang itu, Sayang," balas Alex masa bodoh dengan seringai nakal tersungging di bibirnya. "Bagiku yang penting kau ada di sini, dan itu sudah menjadi hal mutlak jika kau akan menjadi milikku untuk selamanya." Alex berucap dengan suara lantang dan mata berbinar senang. "Kita akan melewati malam panjang ini dengan penuh cinta dan bahagia, Sayang," ucapnya dengan nada tenang, sementara tangannya yang sudah tak tahan itu bergerak berusaha menyentuh wanitanya.


"Berhenti mengatakan aku ini milikmu, Alex!" sentak Mayang usai menepis tangan Alex yang hampir menyentuh wajahnya. Ia pun segera bangkit dari duduk. Dengan posisi tubuh yang sudah berdiri, ia menunduk, menatap Alex yang masih berjongkok dengan sorot mata penuh kebencian. "Meski kau mengurungku dengan pengamanan seketat apapun, suamiku akan datang dan membebaskan ku dari sini. Ia tak akan membiarkan siapapun yang mengganggu istrinya selamat dari hukuman!" gertaknya kemudian penuh ancaman.


Alex tersenyum remeh menanggapi gertakan Mayang, seolah-olah hal itu tak berarti apa-apa untuknya. Ia kemudian bangkit dan berdiri. Dengan sikap tenang, ia menelusupkan dua tangannya pada saku celana. Dengan senyuman yang mengembang senang, ia memiringkan kepala dan dan menatap Mayang sambil menyipitkan mata. "Apa kau tahu, sikapmu yang jual mahal seperti ini benar-benar semakin membuatku penasaran," bisiknya kemudian dengan nada menggoda setelah mencondongkan wajahnya pada telinga Mayang.


Mayang sontak menarik diri dan menjaga jarak dari lelaki di depannya. Matanya membulat sempurna menunjukkan ekspresi kemarahan, dan menatap Alex dengan penuh peringatan.


"Kau benar-benar membuatku begitu tertantang," desah Alex dengan sebelah mata berkedip genit. Lantas tanpa ragu tangannya bergerak melepaskan kancing kemejanya satu persatu, tanpa mempedulikan ekspresi ketakutan yang tergambar di wajah Mayang karenanya. Wanita itu seketika membuang muka sambil mengepalkan jemari tangannya.


Alex hanya tersenyum menatap wajah Mayang yang memerah padam. Entah gadis itu malu-malu, atau mungkin justru tengah geram melihat tingkah kurang ajarnya itu. Ia sudah melepaskan kancing terakhir kemejanya.


Menyeringai nakal, Alex kemudian benar-benar menanggalkan satu-satunya kain yang menutup bagian atas tubuhnya, sebelum kemudian melemparkan ke sembarang arah hingga menampilkan dengan gamblang dada polos dan perut berotot itu.


Bersambung

__ADS_1


Maafkan aku yang terlambat up ya🤧🤧


__ADS_2