
Pagi itu, Brian tampak sudah terlihat rapi saat keluar kamar. Ia nampak tergesa-gesa saat turun menuju ruang makan. Billy juga sudah menunggu nya di sana.
"Kau sudah lama menunggu ku Bill?"Tanya Brian sambil duduk di kursi yang sudah di siap kan oleh bu Kuswara seperti biasa.
"Setengah jam yang lalu tuan muda."Jawab Billy lugas.
"Maaf membuat mu menunggu?"Brian mulai mengambil sendok dan garpu.Mulai menyantap menu sarapan yang sudah di siap kan di piring oleh bu Kuswara.
Sejak kapan anda begitu fasih meminta maaf tuan muda?Pada ku pula.Apa sekarang kau mulai meminum obat penenang? Billy
"Tidur ku terlalu pulas semalam."Brian tetap berbicara walau Billy tak menanyakan nya.Membuat Billy merasa aneh dengan sikap tuan muda nya yang menurut nya tak biasanya itu.
Tak biasa nya anda bercerita seperti ini tuan muda...
"Kau mau sarapan sekalian?"Ucap Brian yang lagi-lagi membuat Billy tercengang.
"Tidak tuan terimakasih,saya sudah sarapan tadi."Billy dan bu Kuswara saling memandang saling memberi isyarat.Terjadi perubahan besar pada tuan nya akhir-akhir ini.Bagaimana pun juga,setiap perubahan akan selalu punya dampak yang di timbul kan,entah itu positif atau pun negatif.
Tapi seperti nya dampak yang di timbul kan oleh perubahan tuan muda ini menjurus ke hal positif.Sisi kemanusiaan yang dulu pernah hilang kini berangsur-angsur kembali lagi.Kini ia mulai memiliki hati nurani.
Sebenar nya seisi rumah besar sudah tau apa penyebab perubahan dari sikap tuan muda nya itu,,tentu saja dengan kehadiran Mayang di rumah itu.
Membuat sikap Brian menjadi aneh.Mulai dari yang sering uring-uringan, tersenyum-senyum sendiri saat melihat layar phonsel nya.
Di awal kedatangan Mayang,dia terlihat sering sekali menghukum diri nya sendiri.
Dan hari ini dia menunjukkan perubahan sikap itu dengan menyadari kesalahan nya sendiri.
Dia juga sesekali menanyakan keadaan kantor saat kemarin dia libur.
"Semua aktifitas lancar dan tetap berjalan seperti biasa tuan."Jawab Billy dengan sopan.Meski pun ada masalah di kantor,Billy lebih memilih untuk merahasiakan dari tuan muda nya dan segera membereskan masalah itu sendiri."Apa tuan muda benar-benar sudah sehat..?"Tanya Brian agak khawatir.
"Iya,aku baik-baik saja."Brian menarik sebuah tisu dan mengelap mulut nya saat selesai dengan sarapan nya.Lalu ia bangkit dari duduk nya.Di ikuti Billy pula yang spontan berdiri melihat tuan nya berdiri.Mereka berdua berjalan menuju ke luar rumah menuju mobil yang sudah kinclong dan tampak terparkir di halaman rumah.Yang memang sudah Billy siap kan setiap hari nya.
Billy dengan cekatan membukakan pintu di jok belakang untuk Brian, tapi entah kenapa Brian tak langsung masuk kedalam mobil.Ia masih menoleh ke arah pintu utama.
Dia kemana si,, kok ga kelihatan dari tadi,, apa dia marah?
"Ada apa tuan,," Tanya brian bingung."Apa ada yang tertinggal,biar saya ambil kan.."
"Tidak ada."Brian lalu masuk ke dalam mobil.
Billy sebenar nya masih penasaran dengan yang di lakukan tuan nya tadi,tapi tuan nya tak mengatakan apa pun.Ia pun menyempat kan menoleh kearah pintu utama untuk memastikan setelah menutup pintu untuk Brian.
Billy menjalan kan mobil nya melaju meninggal kan rumah besar itu.Ia melirik ke spion,tampak tuan muda masih juga melirik ke arah pintu utama sampai akhir nya tak terlihat lagi.Tampak tuan muda menyandar kan kepalanya.Wajah nya tampak sedang di selimuti rasa gelisah.
Billy juga enggan untuk bertanya,, karena seperti nya ini menyangkut masalah hati seorang manusia.
"Bill,aku ingin pulang cepat hari ini."Suara Brian terdengar agak lemah.Sepertinya ia kurang bersemangat.
"Baik tuan muda,,saya akan batal kan pertemuan malam nanti."Billy melirik lagi ke spion.Ia berfikir untuk bertanya saja dari pada akan merusak mood tuan nya dan berakibat buruk pada perusahaan."Tuan,apa Mayang berulah lagi?"
Brian agak terkejut mendengar pertanyaan Billy.Ternyata sekretaris nya tau apa yang sedang ia fikir kan."Tidak,,dia tidak melakukan apa-apa.Tapi pagi ini dia seperti nya belum keluar kamar."
Apa anda merindukan nya tuan..
"Aku hanya khawatir dia sakit."
__ADS_1
"Bu kuswara selalu memantau nya tuan... jadi anda tenang saja.."Jawab Billy namun tetap fokus dengan gagang setir nya.
Entah sejak kapan Brian merasa tak bersemangat menjalan kan aktifitas nya tanpa memandang wajah Mayang terlebih dulu.Mungkin bersamaan dengan jantung nya yang kini selalu berdegub kencang saat bersama Mayang.
*Hari ini dia benar-benar tak menampakkan batang hidung nya di hadapan ku sama sekali.Sebenar nya apa yang terjadi pada nya?Apa dia sakit?Atau dia malu gara-gara kejadian kemarin.Kemarin dia duluan kan yang mulai!Dia yang menarik lengan ku!
Hari ini bagaimana ku mulai hari ku tanpa memandang wajah gadis bodoh itu dulu!Rasa nya benar-benar hampa.Apa kubawa saja foto nya ke kantor ya?Apa!Foto!Bukah kah aku sudah punya foto nya!Kenapa aku jadi pelupa begini sekarang*..
Brian merogoh Phonsel dari saku jas nya,lalu tersenyum sendiri saat sudah melihat gambar di layar nya.
Tuan apa yang terjadi dengan anda,, setelah anda tadi terlihat murung, kini semyum-senyum sendiri.Tolong sadar lah tuan muda...
Billy bahkan berfikir apa tuan mudanya sudah tidak waras."Tuan apa anda baik-baik saja??"
Pertanyaan Billy benar-benar terlihat khawatir.
"Aku tidak pada Bill,percayalah.."Brian tersenyum lebar.Dia juga baru merasa ternyata Billy memperhatikan nya."Kau lihat ini Bill,, dia sangat menggemaskan.."Tersenyum saat melihat layar phonsel nya.
"Apa maksud tuan kucing tetangga?"Hal yang di fikirkan Billy saat mendengar kata menggemaskan ialah kucing.Karena Brian tak memelihara kucing,Billy jadi teringat kucing tetangga Brian yang setiap hari ia jumpai saat di bawa jalan-jalan oleh majikan nya.Kucing itu memang terlihat menggemaskan dan warna nya putih.
"Kucing tetangga gimana si Bill!"Bentak Brian tiba-tiba membuat Billy terlonjak.Untung saja mobil tidak lepas kendali."Ini nih cantik kan..."Kata Brian sambil mengacungkan layar phonsel nya menghadap ke Billy.Hanya beberapa detik,mana bisa di lihat oleh orang yang sedang menyetir."Pakai bunga-bunga lagi..."Brian tersenyum dengan rasa kagum yang membuat Billy merasa aneh.
Mana saya tau itu gambar siapa tuan,,, saya kan tidak lihat.
Billy melirik lagi ke spion,, ia melihat Brian yang masih senyum-senyum sendiri melihat layar phonsel nya.
Terserah anda saja tuan,,, asal anda senang..
gumam Billy dalam hati karena melihat bos nya sedang tampak bahagia.Dan itu baik juga untuk kedepan nya nanti.
Mobil sudah memasuki area parkir VVIP di kantor pusat Wahana group.Rutinitas dan jadwal padat seperti biasa segera di mulai dari situ.
Pukul empat sore mobil yang membawa Brian dan Billy melaju kencang begitu keluar dari kantor pusat Wahana group.Jalanan masih belum terlalu ramai karena jam kerja belum usai.
"Bill, kita mampir di shalon ibu dulu."Kata Brian karena tidak jauh lagi adalah tikungan yang arah nya menuju salon ibu.sedang kan rumah Brian tetap lurus.
"Tapi hari ini nyonya besar tidak sedang di salon tuan muda."Ucap Billy memberi informasi.
"Aku ke salon bukan untuk bertemu dengan ibu."
"Baik tuan muda."Billy menuruti saja walau masih belum tau apa yang mau di lakukan oleh tuan muda nya.
Tak lama kemudian mereka sampai di salon besar milik ibu Brian.Salon itu masih tampak ramai,terlihat dari berjajar nya mobil-mobil serta motor yang terparkir di area tempat parkir salon itu.
"Sudah sampai tuan muda."Ucap Billy sambil menoleh pada Brian yang berada di jok belakang saat mesin mobil sudah berhenti,walaupun Brian sendiri juga tau karena sejak tadi dia masih terjaga.
"Seperti nya masih ramai.."jawab Brian yang terlihat enggan untuk turun dari mobil.
"Akan saya urus tuan."Billy menyalakan mesin mobil lagi lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu kaca salon itu lalu masuk.Entah apa yang sedang di lakukan nya di dalam.Brian menunggu nya dengan bersandar dan memejamkan mata nya walaupun tak berniat untuk tidur.
Tak berapa lama kemudian Billy tampak muncul dari pintu salon dan berjalan cepat menghampiri Brian.
Lalu membuka pintu mobil yang dimana ada Brian disitu."Salon sudah saya kosongkan tuan muda.."ucap nya sambil merunduk mendekat ke Brian.
"Baiklah."Brian keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam salon.Di depan pintun tampak menejer dan beberapa orang pegawai senior salon yang hanya sebagian tampak berdiri menyambut Brian.Billy melakukan tugas nya dengan baik.Entah dia taruh di mana orang-orang pengunjung salon yang sepertinya masih ramai tadi.
"Selamat sore tuan.." Sapa deretan menejer dan pegawai tadi kompak sambil menunduk sopan."Maaf jika sambutan kami kurang berkenan di hati tuan muda.."kata menejer salon itu agak khawatir karena kedatangan Brian yang mendadak tanpa pemberitahuan.Terlebih lagi nyonya besar sedang tidak ada di tempat.Mereka masih belum tau dengan tujuan apa tuan muda datang kemari.
__ADS_1
Karena sudah lama sekali terakhir kali Brian mengunjungi salon ibunya,yaitu saat mengantar calon istri nya untuk perawatan tubuh."Gerangan apakah yang membuat tuan datang kemari..?"Tanya menejer itu takut-takut.
"Santai saja tidak usah terlalu tegang."Ucap brian ringan, sambil duduk di sofa empuk yang tersedia,karena ia merasa kalau kedatangan nya membuat takut para pegawai salon."Aku hanya ingin mencukur rambutku."
Ha!!!
Ekspresi manusia-manusia yang berada disitu terlihat sama begitu mendengar perkataan Brian.Tak terkecuali Billy,orang yang selalu mengikuti Brian kemana pun lelaki itu pergi.
Mereka tampak terbelalak seperti tak percaya dengan yang mereka dengar.
"O kalau begitu mari silahkan tuan,,"Menejer salon meminta Brian mengikuti nya berjalan menuju ruang perawatan Vip yang terletak di dalam.Menejer menunjuk pegawai yang terbaik untuk melakukan tugas berat ini.
pegawai yang sudah senior itu tampak gemetar meraih peralatan salon untuk memulai mengeksekusi rambut Brian.
"Santai saja jangan tegang."Ucap Billy pada pegawai itu karena dia terlihat gemetar sekali."Jangan sampai karena tangan yang gemetar malah membuat penampilan tuan muda semakin buruk.
Menejer menyodor kan minuman dingin untuk di minum pegawai itu supaya lebih tenang sebelum dia melakukan tugas nya.
Akhirnya si pegawai memulai aksi nya.
Kapan lagi bisa pegang-pegang rambut tuan muda yang tampan ini,,, fikir pegawai itu dalam hati.
Ada kebanggaan tersendiri di hati pegawai itu.Dia lah yang terpilih di antara semua karyawan yang sama-sama ahli di bidang nya.
Semua terlihat menaruh harapan
padanya.
Semua tampak terlihat cemas dengan hasil yang akan di dapat nanti,apa nanti tuan muda akan puas atau malah kecewa.
Tapi ternyata Dia mudah sekali menyatu dengan pekerjaan yang sudah di geluti nya puluhan tahun itu sehingga dengan mudah ia bisa megusir ketegangan yang menyelimuti diri nya itu.Ia melakukan tugas besar ini dengan senang hati.
Terlebih untuk tuan muda nya sendiri.Sekalian ini ia gunakan untuk menunjukkan kebolehannya pada anak bos nya.
Dengan skill yang dia punya,Brian tampak puas dengan hasil kerja pegawai itu.Brian meminta Billy untuk memberikan bonus pada nya sebagai apresiasi.
Yang melihat di situ tampak tercengang dan berdecak kagum dengan perubahan penampilan Brian jika di bandingkan dengan saat dia datang tadi.
Brian seperti kembali lagi seperti penampilan nya beberapa tahun lalu.Dan inilah Brian yang sesungguh nya.Wajah nya yang putih bersih kini sudah mulai terlihat.Bagian wajah juga tak luput dari perawatan tadi.
Brian masih berdiri di depan cermin besar yang menempel di dinding salon.Ada guratan senyum bahagia tampak wajah nya.Ia merasa bangga dengan penampilan nya sekarang.
Kalau dengan lelaki angkuh dan gondrong saja kau mau memeluk dan tidur bersama dengan nya,, lalu bagaimana jika dengan lelaki tampan yang satu ini?? Brian.
Dari pantulan cermin Brian bisa melihat lelaki yang mendekat di belakang nya dan menunduk sopan.
"Saya senang dengan perubahan tuan muda sekarang.."Ucap Billy pada Brian yang tampak memandang nya dari pantulan cermin.
"Sekarang kau merasa tersaingi Bill?!"Tukas Brian dengan seringai khas nya tapi kali ini di bumbui dengan candaan.
"Tentu saja tidak tuan muda,, anda lah yang paling tampan.."Bantah Billy dengan di bumbui kalimat pujian."Mana mungkin saya berani bersaing dengan anda.."Billy terkekeh.
"Apa menurut mu dia suka?"
Glek.Billy menelan ludah.
Anda melakukan ini untuk siapa??
__ADS_1
Bersambung