
Tanpa menunggu waktu lama akhirnya Ratih dan Mayang segera bertolak menuju tempat yang bahkan Mayang sendiripun tak tau kemana nyonya besar itu akan membawanya.
Mayang merasa hal itu tak terlalu penting.Karena yang terpenting adalah ia menjalankan tugasnya dengan baik.Pada akhirnya toh nanti dia akan tau setelah mereka sampai di sana.
Mobil berhenti di sebuah toko bakery yang menjual aneka kue dan makanan lain nya disana.Mayang meraih kantong besar berisi kue yang dibeli Ratih dari tangan wanita itu untuk ia bawa ke dalam mobil.Mobil lalu melanjutkan perjalanan kembali.
Selama perjalanan Mayang mengarah kan pandangan nya ke luar jendela.Nampak pemandangan yang memperlihatkan keramaian kota dengan padatnya jalan raya.Bangunan yang semakin rapat hingga tiada celah bahkan untuk tumbuh nya rerumputan liar.Gedung-gedung tinggi yang berjejer serta semakin banyak nya pusat perbelanjaan yang kian bersaing dengan pelayanan terbaiknya.
Tampak juga para pekerja kantoran wanita yang terlihat dengan pakaian kerja mereka yang rapi cantik.
Terkadang terbesit di hati Mayang ingin menjadi wanita karier,berpenampilan rapi cantik dan elegan.Bekerja di kantor yang bertempat di gedung yang tinggi.Banyak teman bahkan mungkin mendapatkan jodoh dengan lelaki yang seprofesi.
Ah memikirkannya membuatnya hanya bisa menelan ludah.Sepertinya itu hanyalah mimpi yang tak akan pernah menjadi nyata.Meski ia memiliki ijazah dengan nilai tertinggi,itu tak akan membantu jika ia tetap terkurung dalam lingkungan keluarga tuan Brian.
Meski ia sekarang sudah merasa cukup senang dengan posisi nya sekarang yang notabene nya bekerja pada nyonya besar.Meskipun pekerjaannya terkesan dibuat-buat.Tapi Mayang tak mempermasalahkan itu.Ini lebih baik daripada tetap berada di rumah Tuan Brian.
"Yuk turun,,"Suara pelan serta tepukan pelan Ratih di punggung tangan Mayang membuyarkan lamunan gadis itu.Apa mereka sudah sampai?Kenapa perjalanan sejauh ini seolah tak terasa bagi Mayang.
Sepanjang perjalanan ia hanya disibukankan dengan memikirkan hal yang tak penting dan mengabaikan orang baik yang duduk di sebelahnya.
Asisten macam apa aku ini!Mayang merasa dirinya sangat bodoh karena hal ini.Seberapa terlihat norak nya dia tadi ya?Dengan jemari tangan nya Mayang menyeka embun keringat yang mulai menganak di pelipis nya.
Setelah turun dari mobil dengan tubuh yang masih terasa mengambang karena masih merasa dirinya belum dalam kondisi ON,ia mulai menapakkan kaki nya dan mulai berjalan menghampiri nyonya yang berada di pintu sisi lain.
"Nyonya kita dimana ini?"Mayang menodongkan kepalanya sangat tinggi berusaha menemukan lantai tertinggi gedung pencakar langit yang bahkan rak mampu di capai oleh pandangan mata Mayang dari bawah sini.Entah untuk apa nyonya membawanya kesini.
"Aku mau menemui suami ku,dia ada di dalam sana."Ratih bicara sambil menerima kantong berisi kue tadi dari tangan pengawal yang menantar mereka."Kalian tunggu disini saja ya.Disini aman."Ratih bicara pada pengawal itu.
"Baik nyonya."Pengawal itu menjawab sambil mengangguk sopan.
Ratih berjalan menuju loby di ikuti oleh Mayang yang berjalan di belakang nya.Ratih melewati resepsionis yang tampak menyapa dengan sopan sembari setengah membungkuk.
Begitu pula para pegawai kantor yang tak sengaja berpapasan dengan Ratih.Mereka semua seperti sudah mengenal nyonya dengan sangat baik.
__ADS_1
Kedua nya memasuki lift yang letaknya terpisah dari lift lain.Sepertinya ini lift khusus untuk para petinggi.Setelah pintu lift terbuka keduanya lalu masuk.Ratih menekan beberapa tombol angka lalu lift terasa bergerak naik.
Setelah pintu lift terbuka,Mayang keluar mengikuti Ratih yang telah keluar lebih dulu.Ratih terlihat menyapa dua orang pria dan wanita di dalam ruangan itu.Dua orang itu memperlihatkan ekspresi yang sama dengan orang-orang sebelum nya yang mereka temui.Bersikap manis pada Ratih lalu melirik Mayang sebelahnya.Entah apa yang mereka fikirkan tentang gadis yang tampak berdiri siaga di belakang nyonya.
Mayang menghentikan langkah nya,menunggu nyonya yang tengah mengetuk pintu yang tampak tertutup rapat.Ratih terlihat antusias saat mengetik pintu dengan senyum yang mengembang.Memang pasangan Tuan besar dan Nyonya sangat romantis.Baru pagi tadi mereka berpisah,siang nya sudah serindu ini.Mayang sungguh merasa iri.
Ratih membuka sendiri pintu itu setelah terdengar suara mempersilahkan masuk dari dalam.
"Ayo masuk."Ajak Ratih pada Mayang yang seperti ragu untuk melangkah.
"Sebaiknya saya menunggu di sini saja nyonya."Mayang berbicara dengan nada memohon.Ia tak ingin mengganggu momen romantis nyonya bersama tuan di dalam nanti.
"Tidak apa-apa,,,"Ratih menarik tangan Mayang memaksa gadis itu untuk masuk.
Dua orang yang berada didalam yang sedang sibuk dengan pekerjaan nya menjadi terpancing untuk menoleh ke arah pintu karena mendengar suara Ratih.
"Ibu.."Suara yang sudah cukup familiar di telinga Mayang itu terdengar kembali menerobos masuk menggema memenuhi gendang telinga Mayang.Gadis itu berdiri terpaku sambil menatap kearah Brian yang tengah duduk di kursi kerjanya.
Tak ubahnya dengan Mayang,Brian pun terlihat tak menyangka akan kedatangan tamu spesial di hatinya.
"Tuan,"Billy yang dalam posisi setengah membungkuk di sisi Brian menyenggol bahu kiri Brian membuat lelaki itu tersadar.
"Ibu kenapa tidak bilang dulu kalau mau main kesini?Harusnya Billy menjemput ibu di lobi tadi."Brian berjalan menghampiri ibunya.Saat berdekatan ibu dan anak itu lebih terlihat seperti kakak dan adik saja.Keduanya tampak akrab saat berbincang.
Ratih membuka kotak berisi kue yang ia beli tadi,mengambil nya satu buah dan menyuapi putranya dengan penuh kasih sayang.Lalu di suapi nya pula Billy yang tengah berdiri antara mereka.Ratih terlihat tak membedakan kasih sayang dirinya pada Brian atau pun Billy.Ia terlihat seperti memiliki dua anak lelaki.
"Mayang kemari lah,"Ratih memanggil gadis yang masih berdiri mematung di depan pintu itu supaya mendekat.
Agak ragu Mayang berjalan pelan mendekati Ratih yang terlihat sedang mengambil kue dari kotaknya.Lantas menyuapkan sepotong kecil kue itu ke mulut Mayang.Gadis itu malu-malu membuka mulutnya.Menerima suapan dari Ratih dan memakan nya dengan perasaan haru biru.Mayang terlihat sangat bahagia karena merasa seperti disayangi oleh seorang ibu.Nyonya Ratih benar-benar wanita yang sangat baik.
"Brian kau mau makan siang dimana?"Ratih melirik pada putranya yang terlihat sedang mencuri pandang pada gadis yang tengah tertunduk dengan tersipu malu itu.
Spontan Brian langsung melempar pandangan ke arah ibu nya."Di sini saja ibu,aku sudah terlanjur meminta pelayanan mengantarkan makan siang ku kemari.Mungkin sebentar lagi mereka datang."Brian lalu duduk di kursi kerjanya kembali.
__ADS_1
"Baik lah,Ibu akan menemui ayahmu di ruangannya."Ratih lalu mengambil satu kotak kue dan berjalan menuju pintu."Kau disini saja..."Ratih mencegah Mayang yang sudah selangkah akan mengikuti Ratih keluar."Bantu pelayanan nanti siapkan makan siang untuk Brian ya.."
"Tapi Nyonya,,,"Mayang ragu-ragu menoleh ke arah Brian.Laki-laki itu menunjukkan seringai nya pada Mayang.Membuat bulu kuduk gadis itu merinding.Perasaan takut tiba-tiba menjalar di sekujur tubuh nya.
"Biar Billy saja yang mengantarkan ku."Sahut Ratih segera.Dan Billy pun segera membuka kan pintu dan keluar bersama Ratih.Menyisakan Brian dan Mayang saja di ruangan itu.
Mayang jadi salah tingkah saat Brian menatapnya senyum yang tersungging.Ia menggigit bibir bawah nya menahan rasa takut dan malu yang membuatnya tak merasa nyaman.Ia menarik anakan rambut yang sedikit menutupi wajah karena tertunduk,dan menyelipkan nya ke belakang telinga.
Oh rambut ku?! Mayang teringat ia tadi pagi sempat meluruskan sendiri rambutnya dengan alat pelurus rambut yang tersedia dikamarnya.sehingga membuat rambut nya yang panjang terlihat semakin rapi dan indah.Mayang menyukainya pagi tadi.
Tak seperti biasanya,hari ini entah mengapa Mayang tadi memilih Jump suit berwarna merah terang diantara deretan baju di lemari kamarnya yang sengaja disiapkan oleh Ratih untuknya.Meski tanpa perhiasan,tapi ia memakai jam tangan sebagai aksesoris nya.Ia merasa beruntung karena penampilan nya tak terlihat buruk saat berhadapan dengan Brian.Meski ini tanpa rencana.
Apa tuan sedang memperhatikan rambutku ya?Apa ini terlihat aneh dimatanya?Atau make up ku?Ya tuhan,kenapa pagi tadi aku berdandan segala!Kesannya aku berdandan karena akan mengunjungi nya.Padahaltidak kan... ini benar-benar memalukan...
Tanpa sadar Mayang meremas tas tangan milik nya yang sejak tadi ia pegang.
"Mau sampai kapan kau akan berdiri disitu?"Suara Brian membuyarkan lamunan Mayang.Spontan ia melempar pandangan pada lelaki yang tengah membuka jas berwarna hitam yang melekat di tubuhnya lalu menaruh nya di sandaran kursi kerjanya dengan rapi.Mengendurkan dasi nya lalu menggulung lengan kemeja putihnya sebatas bawah siku sambil berjalan mendekati Mayang.
Gadis itu menarik langkah nya mundur seiring dengan langkah Brian yang semakin mendekati nya hingga tubuhnya membentur pintu.Tangan kiri nya terlihat gemetar meraih handle pintu.Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar membuatnya terlonjak dan menubruk Brian yang tepat berada di depan nya.Sontak membuat Brian dengan cekatan meraih dan menangkap tubuh Mayang hingga keduanya saling berpelukan.
"Makanan sudah siap Tuan."Terdengar suara dari luar hingga mereka saling melepaskan pelukan.
Mayang cepat-cepat berlari menuju pintu dan membuka pintu itu.Di depan pintu sudah tampak berdiri dua orang pelayanan dengan membawa troly berisi beberapa macam menu makanan yang akan dihidangkan untuk makan siang Brian.
Mayang mempersilahkan kedua pelayanan itu masuk dan Mayang ingin secepatnya kabur dari situ.Tapi belum sempat ia melangkah kan kakinya,Brian sudah terlebih dulu menggenggam tangan nya untuk menahan agar gadis itu tidak pergi.Ternyata Brian sudah bisa membaca jalan pikiran Mayang.
Gadis itu tak bisa menolak saat Brian menggandeng nya berjalan menuju sofa di mana di mejanya sudah tertata rapi aneka makanan tadi.
Belum sempat mereka duduk,pintu kembali ada yang mengetuk nya dari luar.Tanpa menunggu instruksi dari Brian,orang itu sudah membuka pintu itu.
"Brian..."Suara lembut itu terdengar berbarengan dengan pintu yang terbuka.
Bersambung
__ADS_1