
"Maaf, Ayah. Saya tidak bisa menerima pemberian anda yang berlebihan ini. Saya bukan siapa-siapa, dan saya tidak pantas mendapatkannya."
Mayang yang disergap keterkejutan dengan spontan melakukan penolakan. Namun sebisa mungkin ia mengatakannya dengan kata halus agar tak menyinggung perasaan Hans, terlebih pria itu baru saja berbaikan dengan suaminya. Ia menatap sesaat pada Hans yang sontak memperlihatkan ekspresi kecewa sebelum kemudian mengalihkan pandangan pada suaminya.
Brian yang juga tak menyangka hanya bergeming saat Mayang menatapnya penuh isyarat. Butuh waktu bagi pria itu untuk menelaah kejadian ini.
Brian sendiri masih sulit mempercayai niat baik Hans. Entah atas motivasi apa tiba-tiba pria itu ingin menjadikan istrinya sebagai salah satu ahli waris sebagian hartanya setelah ia tiada. Bukankah itu berlebihan namanya, mengingat sebelumnya pria itu pernah dalam kondisi sangat-sangat membenci istri tercintanya.
Brian meraih jemari Mayang lalu meremasnya penuh sayang. Pria itu berupaya untuk menenangkan sang istri yang didera kekhawatiran, seraya tersenyum hangat, seolah-olah mengatakan untuk tidak perlu khawatir sebab semuanya akan baik-baik saja.
Seperti tahu apa yang sedang dipikirkan Brian dan Mayang, Hans menyunggingkan senyum penuh makna. Pria itu tetap bersikap tenang seolah-olah sudah memperkirakan sebelumnya.
Ia sendiri merasa tidak heran atas reaksi yang ditunjukkan menantunya. Wajar. Setiap manusia pasti memiliki cara beragam dalam menyikapi sesuatu hal. Ada yang pro, dan ada yang kontra. Terlebih jika mengingat kejahatan yang pernah dilakukannya.
Namun, bukankah manusia itu memang tempatnya salah dan dosa? Selama dia mau bertobat dan memperbaiki kesalahan di masa lalu, kenapa harus menolaknya?
Orang yang pernah jahat, tak selamanya akan jahat. Begitu pula orang yang baik, bukan berarti ia tak memiliki kekurangan. Sebab, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata.
"Ayah tau, kalian belum sepenuhnya mau memaafkan Ayah." Hans berucap seraya mengulas senyumnya. Namun, itu adalah sebuah senyuman ketulusan, dan Brian maupun Mayang bisa menangkap itu melalui pandangan kasat mata. Hanya saja, mereka masih merasa ini terlalu tiba-tiba. Ya, meskipun hal itu wajar sebab Hans tak lagi memiliki garis keturunan.
Yang menjadi tanda tanya besar di benak Brian dan Mayang, kenapa bukan atas nama Brian saja yang notabene adalah sang menantu andai dia benar-benar ingin menghibahkan hartanya. Atau, kenapa bukan untuk beramal pada orang lain yang lebih membutuhkan? Badan amal dan panti asuhan, misalnya?
__ADS_1
"Bukan begitu, Ayah," sahut Brian menyangkal. Pria itu lantas menatap Hans lekat-lekat dengan sedikit menyipit, seolah-olah tengah meneliti, mencari setitik ragu atau mungkin tipu-tipu melalui sorot matanya. Ya, meski pada akhirnya ia tak menemukan hal itu.
Namun, karena tak ingin memiliki prasangka buruk lagi terhadap mertuanya, Brian pun akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Ayah, Brian tahu Ayah tak lagi memiliki anak ataupun istri, tapi, bukankah Ayah memiliki keluarga lain yang bisa Ayah jadikan ahli waris? Apa Ayah sudah memikirkannya dengan matang. Hal ini bisa saja memicu kecemburuan sosial dari keluarga Ayah lainnya!" Brian menaikkan sedikit intonasi suaranya di akhir kalimat.
Meletakkan gelas kosong yang baru saja ia teguk isinya, Hans kembali tersenyum. Pria itu kembali menatap Brian seraya menyatukan jari-jari tangan, kemudian menjawab.
"Ayah sudah memikirkannya, Brian, dan Ayah merasa ini semua sudah benar. Aku membagi semua hartaku dengan takaran yang pas. Semua mendapatkan bagiannya sendiri-sendiri. Saudara, Badan Amal, serta panti asuhan. ... dan untuk masalah Ayah memasukkan nama Mayang, Ayah mohon pada kalian untuk tidak salah faham. Ini murni untuk permintaan maaf serta rasa terima kasih yang mendalam. Kau tahu," Han memberikan pertanyaan itu pada Brian. "Istrimu telah memberikan pada Ayah begitu banyak pelajaran."
Sontak pernyataan Hans tersebut membuat Brian dan Mayang saling pandang dengan ekspresi kebingungan. Entah apa maksud dari pria itu, sedangkan Mayang sendiri merasa tidak pernah melakukan apapun untuk Hans.
Bingung harus bereaksi apa, Brian justru terkekeh riang sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayah tau, Brian. Aku juga sudah mempertimbangkannya dengan baik-baik. Istrimu sedang mengandung darah dagingmu yang sudah barang tentu cucu Ayah juga. Selain itu dia juga telah mengajarkan kepada Ayah sesuatu hal yang besar, di antaranya bagaimana cara bersikap ikhlas serta menerima semua keadaan dengan lapang dada. Mengenai takdir yang memang sudah harus dijalani. Itu sebabnya Ayah memutuskan untuk tidak membunuh Alex, meski saat itu Ayah memiliki kesempatan bagus di depan mata."
***
Milly yang masih dikuasai oleh keterkejutan, hanya bisa terpaku saat menyaksikan kejadian di luar dugaan terjadi di depan matanya.
Pandangannya terarah pada Billy. Pria itu bahkan pasang badan untuk melindunginya. Milly bukan tak pernah melihat Billy dalam keadaan murka. Namun, saat pria itu tanpa canggung mengangkat tangannya untuk menyakiti wanita, hal itu benar-benar membuatnya membelalakkan mata.
__ADS_1
Bukankah mereka ini kekasih, lantas, bagaimana bisa Billy se-berang itu saat mendengar lisan sang gadis dengan lantang melontarkan penghinaan. Pria itu bahkan tak segan menunjukkan sisi bengis pada siapapun lawannya tanpa pandang bulu.
Atmosfer ruangan yang seketika memanas memaksa Billy untuk menanggalkan jas yang melekat di tubuhnya. Hawa panas langsung melingkupi saat pria itu dikuasai oleh amarah. Melemparkan jas itu pada sofa di belakang, tatapan nyalang Billy tak teralihkan dari Milea hingga ia menaikkan lengan kemeja sampai sebatas siku.
Pandangan Milly beralih pada Milea yang masih terduduk di lantai. Seketika itu ia menurunkan pandangan saat tatapan penuh kebencian Milea arahkan kepadanya. Aura dendam menyelimuti gadis cantik itu seolah-olah abai pada kata-kata peringatan yang baru saja Billy teriakkan.
Tangan Milea yang bertumpu pada lantai seketika mengepal, seolah-olah tengah menanti momen yang tepat untuk melancarkan serangannya.
"Apa kau baik-baik saja?"
Milly bahkan terkesiap saat Billy menanyakan keadaannya. Ia tak menyangka Billy masih memberikan perhatian di sela-sela kemarahan.
"A' a-aku baik-baik saja." Seperti tercekat di tenggorokan, Milly menjawab pertanyaan Billy dengan suara terbata dan bergetar.
"Bagus." Billy tampak menghela napas lega saat mengucapkannya.
Perhatian yang ditujukan Billy terhadap Milly itu tak urung memicu murka di hati Milea. Tanpa diketahui sepasang suami istri itu, diam-diam rahang Milea mengetat dan menatap Milly penuh ancaman. Rasa cemburu telah menggelapkan mata. Ia tak menyangka, Billy bahkan berani menganiaya diri dan hatinya hanya demi wanita yang menurutnya tidak berharga.
Benar saja, saat Billy mengalihkan pandangannya kepada Milly itulah Milea beraksi. Seolah-olah tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, gadis itu bangkit dan bergerak cepat meraih sebuah guci yang terpajang sebelum kemudian melemparkannya tepat ke arah Milly.
Prang!!! Guci itu pecah setelah menimpa sesuatu.
__ADS_1
Bersambung