
Duduk pada sebuah sofa panjang di dekat kolam, Mayang tengah disibukkan dengan beberapa buku di depannya. Ia terlihat membalik lembar demi lembar sembari memperhatikan gambar gaun pengantin itu dengan seksama.
Sesaat kemudian, sosok Brian muncul dari pintu. Berjalan sambil menanggalkan jas hitamnya, pria itu mengecup puncak kepala sang istri sebelum kemudian duduk tepat di sisi kiri.
"Bagaimana? Sudah kau temukan model gaun pengantin yang cocok untuk Milly?" tanyanya sambil menggulung lengan kemeja hingga di bawah siku.
Mayang memanyunkan bibirnya sebelum kemudian menggelengkan kepala. "Belum ...," keluhnya dengan nada lemas.
"Belum?" Brian mengerutkan keningnya. Ia lantas melirik tumpukan buku sebelum kemudian mengembalikan pandangan pada istrinya. "Dengan model gaun sebanyak itu masih tidak ada yang cocok juga untuk Milly? Tidak ada yang bagus, ya?"
"Bukan begitu." Mayang menggelengkan kepala.
"Lalu?"
Istri Brian itu mengulas senyum kecut. "Semuanya bagus-bagus. Jadinya aku kesulitan memilih yang terbagus untuk Milly, hehe."
Brian berdecak sambil geleng kepala. "Aku kira nggak ada yang bagus, Sayang. Malah kebalikannya."
"Hehe, makanya bantuin aku. Aku pusing lihat gaun bagus-bagus begini. Jadi pengen nikah lagi."
__ADS_1
Brian sontak membulatkan mata. "Apa?" pekiknya dengan nada tak percaya. "Pengen nikah lagi? Udah punya suami ganteng gini masih pengen nikah lagi? Sama siapa, sama siapa?" desaknya sambil mengunci tubuh Mayang yang telah lebih dulu ia rebahkan. Tentunya dengan hati-hati mengingat istrinya kini tengah berbadan dua. Ia memasang mimik geregetan sambil tak henti menyerang Mayang dengan ciuman. Terang saja Mayang jadi terpingkal karena kegelian.
"Sayang hentikan! Aku geli, putramu jadi nendang-nendang di dalam," pinta Mayang.
"Itu sebuah kode, supaya aku menjenguknya barang sebentar," canda Brian di tengah upayanya mengganggu Mayang.
"Aaa ... jangan dulu. Semalam udah dua kali, Sayang. Nggak boleh sering-sering kata Bidan," kilah Mayang.
"Jangan bohong. Bukannya Bidan malah nyuruh sering-sering?"
"Enggak."
Mayang terkejut mendengar tuduhan Brian. Ia mendelikkan mata, lalu bertanya menuntut penjelasan.
"Gebetan baru? Gebetan baru siapa? Jangan fitnah ya, Sayang."
"Fitnah apaan? Orang aku lihat sendiri kok, waktu kalian berduaan," jelas Brian. Pria itu memasang mimik sebal, kemudian bangkit untuk duduk dengan bibir dimanyunkan.
Mayang terlihat kebingungan. Wanita itu menatap suaminya dengan wajah kebingungan. Ia bangkit perlahan untuk duduk, lantas kembali bertanya demi menghindari kesalahpahaman.
__ADS_1
"Sayang, bisa jelasin pelan-pelan nggak, maksud kamu apa?"
"Kurang jelas gimana, kemaren aku lihat dengan mata kepala sendiri kamu berduaan sama dia." Brian menunjuk jarinya ke sembarang arah ketika mengatakan dia.
"Iya, dia siapa maksudnya?" Mayang masih tidak mengerti.
"Tuh, si Tejo."
Mayang mendelikkan mata, kemudian tertawa terbahak-bahak sambil memukul pelan lengan Brian.
"Ya ampun, Sayang, si Tejo tukang kebun kita?" tanyanya di sela tawa.
"Iya. Kenapa? Biarpun tukang kebun tapi dia tetap laki-laki, kan!" Brian berujar dengan wajah seriusnya.
Mayang benar-benar tak bisa menghentikan keinginannya untuk tertawa. Meski begitu ia berusaha untuk menjelaskan.
"Justru karena dia laki-laki makanya aku mintai tolong buat angkat pot bunga, Sayang. Kamu nggak mungkin bolehin aku angkat pot itu sendirian, kan?" Mayang kemudian menatap Brian dengan mata menyipit. "Halah, kamu pasti tau duduk perkaranya. Kamu cuma mengada-ada, kan? Ini cuma prank, kan? Nggak mungkin juga kamu cemburu sama Tejo. Aku tau, ini cuma usaha kamu buat hibur aku. Biar aku tertawa lihat kelakuan kamu. Iya, kan. Ngaku!" desak Mayang sambil memukul bahu Brian.
Brian bergeming beberapa saat. Pria itu kemudian menoleh pada Mayang, tetapi masih memanyunkan bibir. Melihat ekspresi Mayang yang masih melotot sambil menunjuk mukanya, ia pun tak mampu lagi menahan. Alhasil, tawanya pun pecah seketika. Pukulan bertubi-tubi Mayang pun menyusul kemudian akibat saking gemas pada kelakuan suaminya itu.
__ADS_1