Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Fogging


__ADS_3

Jam telah menunjukkan pukul dua belas malam saat Brian sampai di rumahnya. Usai menyerahkan mobil pada salah seorang pengawalnya, ia melangkah membawa tubuh penatnya memasuki rumah.


"Baru pulang Tuan," sapa Kuswara yang memang sedang menyambutnya.


"Apa Nyonya sudah tidur?" Tanya Brian sembari membuka kancing jasnya.


"Saat saya cek tadi, Nyonya sedang menonton televisi sambil baca novel, Tuan Muda."


"Hah?" Brian menautkan alisnya. "Apa dia bisa meresapi isi novelnya jika membacanya saja sambil nonton televisi."


Kuswara terkekeh mendengarnya. "Mungkin Nyonya sengaja melakukannya agar tidak tertidur cepat malam ini, Tuan. Sepertinya Nyonya memang sengaja menunggu anda." ucap Kuswara sambil menerima jas dari tangan Brian.


Mendengarkan perkataan Kuswara, hati Brian seperti disentil mengingat kejadian tidak mengenakkan pagi tadi. Terlebih ia tak membalas pesan singkat yang istrinya kirim. Seketika wajah lelaki tegas itu berubah getir. Pandangannya menerawang membayangkan perasaan yang mungkin tengah istrinya rasakan.


"Apa yang Nyonya lakukan seharian ini Bu Kus?" tanyanya kemudian sambil menoleh pada Kuswara yang berada di belakangnya.


"Maaf Tuan, seharian ini Nyonya melewati harinya hanya dengan duduk termenung. Bahkan beliau juga tidak berselera makan seperti biasanya. Saya juga sempat melihat beliau menitikkan air mata." Terang Kuswara tak enak hati.


Brian termangu mendengar penjelasan dari Kuswara. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, pria yang telah menggulung lengan bajunya hingga dibawah siku itu bergegas melangkah menuju kamarnya.


Membuka pintu tanpa bersuara, Kepala Brian yang menyembul masuk tampak mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dan benar saja, ruangan kamar yang masih terang benderang itu terdengar berisik oleh suara televisi yang distel dengan volume yang nyaring.


Sementara sang istri tampak terpejam dengan posisi setengah terduduk di sofa panjang. Jelas sekali ia tertidur saat sedang membaca, terlihat dari tangannya yang masih memegangi novelnya.


Mendesah pelan, Brian lantas meraih remot kontrol yang tergeletak di meja. Mengecilkan volume televisi itu lalu mematikannya. Dengan perlahan tangannya pun bergerak mengambil novel dari genggaman sang istri, lantas menaruhnya di atas meja.


Sudah hendak mengangkat untuk memindahkan tubuh Mayang ke atas ranjang, namun kekhawatiran akan mengusik istirahat istrinya membuat Brian mengurungkan niatnya. Sembari membungkuk, diluruskannya posisi tubuh sang istri agar ia merasa nyaman. Lenguhan lembut yang lolos dari bibir Mayang membuat lelaki bersurai hitam itu tersenyum penuh cinta.


Berjongkok dengan satu lutut bertumpu pada lantai, Brian menatap iba wajah sang istri. Sementara tangannya bergerak pelan mengusap puncak kepala Mayang penuh cinta.


Dengan mata berkaca-kaca, Brian meraih jemari lentik sang istri. Mengecup punggung tangan itu agak lama, ia lantas berucap pelan. "Kenapa kau begitu keras kepala Sayang. Aku mencintaimu dan bayi kita melebihi apapun di dunia ini. Aku benar-benar takut kehilangan kalian. Tapi mengapa kau masih belum mengerti juga?" Brian menggertakkan giginya jengkel. Perasaan marah dan cinta bercampur menjadi satu mengaduk-aduk nuraninya.

__ADS_1


"Kau bukan super hero Sayang, kau tetap wanita biasa yang sedang mengandung buah cinta kita. Aku tak ingin kau berada dalam bahaya hanya karena egomu semata ." Keluh Brian begitu getir hingga tanpa sadar bulir bening menetes dari pelupuk mata.


Lelaki yang cenderung melankolis semenjak sang istri mengandung itu kembali mengecup punggung tangan dingin sang istri. Ia lantas merebahkan tubuh letihnya di sofa, merapatkan pada tubuh dingin istrinya untuk memberi kehangatan. Hingga sepasang matanya mulai terasa berat dan akhirnya terpejam dan terbuai dalam dunia mimpi.


***


Mayang mengerjap saat dirinya mulai terjaga. Mengangkat tubuhnya perlahan dari pembaringan, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar yang luas itu. Sepi. Tidak ada siapapun disana selain dirinya.


Wanita yang tubuhnya masih berbalut selimut itu terperanjat saat menyadari ternyata hari sudah berganti pagi. Berusaha bangkit ia berharap menemukan sosok suaminya. Ia yakin semalam Brian pulang, dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Namun menyadari ruangan itu begitu lengang dan sepi, Mayang menghempaskan tubuhnya lagi pada sofa tempat tidurnya malam tadi dengan putus asa.


Merasa kesal, gadis dengan piyama putih melekat di tubuhnya itu menangis sambil memukul-mukul lengan sofa. "Kenapa tidak membangunkanku jika kau pulang, Sayang?! Kenapa kau membiarkanku sendirian dalam kegamangan seperti ini?! Kenapa! Apa kau sebgaja menyiksaku dengan cara seperti ini?!" teriak Mayang dengan tangisnya yang sedu sedan. Gadis yang biasanya terlihat kalem itu bahkan terlihat meledak-ledak meluapkan amarahnya. Ia bahkan terlupa jika ada sebutir nyawa di dalam rahimnya.


Lemas, Mayang menyandarkan sisi pipinya di lengan sofa sembari menangis kecil meratapi kesedihannya. Ia terlihat lelah, terisak sembari memejamkan mata.


Ia benci suasana seperti ini. Sendirian lagi. Tanpa teman lagi. Ia butuh teman. Ia ingin suaminya datang. Ia butuh sandaran. Ia butuh pelukan. Bukannya malah di tinggalkan sendiri seperti ini.


Namun di saat ia larut dalam lara, termenung tanpa asa, sebuah belaian lembut menyapa puncak kepalanya. Setengah sadar, Mayang mengira itu hanya mimpi. Namun ia memaksa membuka mata dan mengangkat pandangan untuk lebih memastikan.


Gadis pemilik lesung pipi itu membulatkan mata tak percaya saat mendapati sosok sang suami yang tengah tersenyum manis kepadanya.


***


Di tempat lain, Milly yang wajahnya tampak pucat pasi itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kayu di kontrakan kecilnya. Rasa kantuk lelah dan mulas masih menyerangnya hingga kini setelah semalaman menjadi kutu toilet. Bahkan sempat tertidur saat buang hajat.


Beruntung kutu toilet itu berwujud manusia sehingga tidak ikut larut terbawa air bersamaan dengan sampah dari dalam perutnya.


Namun suara berisik yang terdengar dari arah luar membuatnya penasaran. Gadis yang masih memakai baju tidur itu melangkahkan kaki menuju keluar.


Gadis imut itu mengembangkan senyumnya saat melihat teman-teman ghibahnya tengah berkumpul di gazebo, bangunan kecil yang selalu menjadi tempat perkumpulan mereka.


"Mill, ngapain mengurung diri dalam kontrakan terus begitu kayak vampir! Takut matahari Lo?" teriak Ina dengan nada meremehkan.

__ADS_1


"Sialan lo! Hidup gue butuh matahari woii, gimana ceritanya gue takut matahari?!" geram Milly kesal sambil menaruh tangannya di pinggang.


"Nggak usah marah kali, kayak banci dikatain bencong aja! Sini ngapa." Ajak Ina dan teman-teman yang lainnya.


meski awalnya sempat ragu, namun akhirnya Milly pun menghampiri teman-temannya atas permintaan mereka. Duduk diantara mereka, Milly mengambil posisi di tengah-tengah, dimana di situlah tempat yang terasa lebih lapang.


"Kenapa Lo, kelihatan lesu banget. Lo sakit? Lo kagak jualan hari ini?" cecar Ina yang berada tepat di samping Milly.


"Perut gue mules banget, semalaman suntuk gue di hajar keluar masuk WC." tutur Milly penuh kekesalan.


"Ya ampun Mill, Lo diare? Lo salah makan apa kemarin?" tanya teman lain lagi penuh kekhawatiran.


"Bukannya salah makan, tapi emang gue yang sengaja makan! Kalian tahu apa yang gue makan?!" tanya Milly setengah memberi tebakan sambil menatap satu persatu teman-temannya. "Seblak level seratus Brays! " teriak Milly penuh kebanggaan. "Dan kalian tahu ini berkat siapa?!" Milly melirik pada Ina penuh ancaman. Sementara yang dilirik tampak membeliak kaget, seolah bingung dan tak tahu apa-apa.


"Makasih ya Na, karena berkat lo, gue jadi kutu toilet malam ini." Milly menepuk bahu Ina sangat kencang dengan pandangan yang menyorot tajam. "Tolong beri penghargaan pada teman kita ini sebagai teman terbaik kawan-kawan!" Titah Milly dengan nada menyindir seraya memijat kasar leher belakang milik Ina.


"Eh bentar deh!" Ucap Ina sembari menepis tangan Milly. "Kok gue yang disalahin? Gue kan cuman mastiin! Lo nggak mungkin lupa kalau elo sendiri yang ngatain tuh cowok kan!"


"Iya! Tapi klo mulut Lo kagak keceplosan gue kagak bakal dipaksa makan itu seblak setan!" teriak Milly penuh kemarahan.


Namun di tengah-tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba Milly meringis saat rasa aneh kembali menyerang perutnya. Dan seketika, sebuah bom atom meledak dari pantat Milly bersamaan dengan aroma telur busuk menguar menusuk rongga hidung para gadis yang tengah berkumpul itu.


Sontak saja hal itu membuat perkumpulan pun buyar dan masing-masing bergerak menjauhi Milly yang tampak tersenyum lega.


"Sialan Lo Mill!" Geram Ina yang kini tampak pucat karena menahan mual di perutnya. "Lo habis ngemil bak sampah ya?! Bau banget!" Keluhnya setengah terbatuk-batuk.


"Maaf keceplosan." Ringis Milly malu-malu.


"Kentut ya kentut, tapi lihat-lihat dong! Pantat Lo nggak bisa mikir apa kalau ada orang di sekitar?!"


"Ya elah Brays, sirik amat dengan kebahagiaan gue. Kalian nggak lihat banyak nyamuk? Itung-itung fogging lah Guys." ucap Milly sambil tertawa geli.

__ADS_1


"Kalau fogging nya kayak gini bukan cuma nyamuk yang mati Mill, tapi manusianya juga! Ini mah racun!" Tutur teman lain yang kemudian mengundang gelak tawa semuanya.


Bersambung


__ADS_2