Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Hukuman Bianca Kim dan Joy


__ADS_3

Mayang masih membenamkan tubuhnya pada pelukan sang suami. Tenggelam dalam kehangatan yang semakin menenangkannya. Sesekali ia menaris nafas dalam dan menghelanya secara perlahan untuk menetralkan perasaannya. Masih ada sedikit isak tersisa yang lolos dari bibirnya.


Sementara, Brian yang sejak tadi hanya bungkam tanpa suara, tampak jelas memendam kemarahan dari wajahnya. Rahang yang mengeras serta jemari tangannya yang mengepal seolah siap menghujamkan pukulannya terhadap pelaku yang bahkan belum ia ketahui siapa orangnya. Di balik sikap diamnya, ia begitu mengutuk manusia keji yang telah menculik serta menteror sang istri.


Di bawah selimut nan hangat yang membungkus, tubuh keduanya saling bertaut dalam pelukan syahdu setelah dua hati dua jiwa yang terpisah jarak itu meratap pilu. Hanya keheningan yang membentang diantara desiran dua jantung yang seirama saat keduanya hanya diam membisu tanpa suara.


Brian memang sengaja tidak mengajukan pertanyaan apapun terhadap sang istri. Ia tak ingin mendesak Mayang dengan pertanyaan yang membuat sang istri kembali teringat akan peristiwa yang membuatnya ketakutan dan mengalami trauma.


Mayang memang menolak Brian ingin membawanya ke rumah sakit saat mereka dalam perjalanan menuju pulang beberapa waktu yang lalu. Ia berusaha meyakinkan dirinya baik-baik saja dan bersikeras ingin pulang. Tak ingin membuat sang suami khawatir, ia berdalih dirinya hanya ingin menghabiskan waktu bersama suami untuk saat ini.


Namun lama-kelamaan Brian semakin merasa khawatir saat merasakan tubuh sang istri yang terasa semakin dingin dalam pelukannya. Ia pun menundukkan kepalanya untuk mengamati wajah sang istri yang tampak memejamkan mata.


Tangan Brian bergerak membelai pipi sang istri dengan lembut. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Mayang yang tampak basah oleh air mata. Mayang yang tidak benar-benar tertidur pun membuka mata saat merasakan sentuhan di pipinya. Seketika ia pun mengerjap dan tersenyum saat pandangan keduanya saling bertemu.


Merasa curiga dengan nyeri di perutnya membuat Mayang merasa perlu memastikan sesuatu. "Sayang, aku toilet ke sebentar ya," pamitnya sembari melepaskan diri dari pelukan suami. Dengan perlahan ia beringsut dan berusaha bangun meski tubuhnya terasa begitu lemah.


"Ku bantu ya," Brian sudah akan beranjak, namun Mayang mencegahnya.


"Aku bisa sendiri, Sayang."


Bergeming saat melihat istrinya yang hampir jatuh saat hendak berdiri, Brian pun segera beranjak dan dengan sigap menahan tubuh Mayang. "Sayang, kau tidak terlihat baik-baik saja. Katakan padaku di bagian mana yang sakit?" Tanyanya begitu khawatir karena wajah Mayang terlihat pucat.


"Hanya sedikit nyeri di perut." Jawabnya sambil tersenyum kecut. "Tak perlu secemas itu, aku tidak apa-apa Sayang." Menjawab sambil membekai pipi sang suami, Mayang tak ingin membuat suaminya panik. Meski tak dapat ia pungkiri rasa sakit di perutnya semakin lama justru terasa semakin sakit.


"Biar ku bantu ke toilet." Ucap Brian sambil merengkuh tubuh sang istri kedalam gendongannya. Kalau sudah begini, Mayang tak bisa menolak keinginan Brian. Ia hanya melempar senyum saat sang suami membawa tubuhnya masuk kedalam toilet.


Usai menurunkan tubuh sang istri, bukannya pergi Brian justru tetap bertahan disana menatap Mayang penuh kekhawatiran. Terang saja hal itu membuat Mayang merasa tidak nyaman.


"Kau tunggu di luar saja ya," pinta Mayang dengan halus.


"Tidak." Jawab Brian singkat namun penuh penekanan.


Mendesah pelan, lantas dengan tenaga lemahnya ia mencoba mendorong tubuh Brian. Namun bukannya Brian yang bergeser mundur, justru ia yang hampir saja terjatuh andai saja sang suami tidak sigap menahannya. Gadis itu tampak meringis sambil memegangi perutnya.


"Dasar keras kepala." Geram Brian kesal sambil menatap sang istri dengan bola mata ya membulat sempurna.

__ADS_1


"Sayang, aku mau buang air ...! Aku malu jika kau tetap berada di sini." Terang Mayang sambil menundukkan kepala lalu menggigit bibir bawahnya.


Brian tersenyum lebar. "Sayang, aku adalah cerminan dirimu. Untuk apa kau malu pada dirimu sendiri. Aku tidak bisa membiarkan kau terjatuh lagi."


"Iya baiklah," pasrah, Mayang akhirnya membiarkan sang suami mengawasi dirinya. saat membuka celana dalamnya tiba-tiba Mayang terperanjat saat mendapati bercak merah disana.


"Kenapa?" Tanya Brian penasaran saat dia melihat ekspresi terkejut pada raut wajah Mayang.


Melempar pandangan pada sang suami, Mayang tersenyum kecut. "Sepertinya aku sedang datang bulan Sayang. Pantas saja rasanya nyeri sekali."


"Apa kau bilang? Nyeri sekali?"


"Iya, mungkin karena bulan ini telat jadinya sesakit ini." Mayang tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya saat melihat wajah Brian yang terlihat begitu cemas. "Jangan panik seperti itu Sayang, semua wanita merasakan ini."


"Biar ku panggilan Lucy agar memeriksa dan membawakan mu obat pereda nyeri kemari."


* * *


Berkumpul di sebuah ruangan, tiga orang gadis tengah berdiri dengan tubuh yang bergetar takut dan perasaan harap-harap cemas, menanti hukuman yang akan bosnya berikan. Sementara di belakang mereka, berdiribeberapa orang lelaki berperawakan tinggi dan bertubuh kuat, dengan pakaian serba hitam tampak berbaris dengan rapi. Sementara kepala mereka tertunduk, entah karena takut ataukah bersikap patuh.


Di depan mereka, seorang lelaki muda dan tampan tengah duduk menyilang kaki dengan ekspresi wajah penuh kemarahan. Menatap tiga gadis di hadapannya itu tanpa berkedip, ia seolah tak bisa menahan lagi untuk menarik pelatuk pistol yang sudah siap digenggaman.


Bianca yang dirundung takut dan rasa bersalah segera berhambur dan bersimpuh, sambil memeluk kaki lelaki itu untuk meminta pengampunan. "Tolong jangan bunuh kami Bos, kami memang bersalah. Beri kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kami ...." Tangisnya semakin pecah saat sang Bos bukannya merasa iba, tapi justru menempelkan ujung pistol di tangannya itu tepat di dahinya yang mengkilat.


"Kau tak pantas mendapat pengampunan ku." Lelaki itu berdesis mengerikan tepat di telinga Bianca. Membuat gadis malang itu kian dirundung ketakutan.


Tak tahan melihat temannya berjuang sendirian, Kim dan Joy yang tengah saling memandang lantas menyusul jejak Bianca dan secara bersamaan bersimpuh di belakang Bianca.


"Kami bersalah Tuan Alex, tapi kami mohon beri kami pengampunan." Kim tak berani mengangkat pandangannya saat berbicara. Gadis berwajah garang penyuka warna hitam itu tampak begitu lemah tanpa daya jika berhadapan dengan Alex, lelaki yang sudah beberapa tahun ini telah menjadi bos sekaligus panutannya.


"Apa kalian tidak tahu seberapa fatal kesalahan kalian!!" Sentakan Alex menggema memenuhi ruangan.


Tak ada yang berani mengangkat pandangannya saat lelaki tempramental itu tengah dalam kemurkaan. Jangankan memikirkan teman, diri sendiri selamat dari hukuman saja sudah merupakan keajaiban. Terlebih kesalahan yang mereka lakukan begitu fatal hingga tak bisa di toleransi lagi.


Alex memang benar-benar tegas dan kejam dalam memberikan hukuman terhadap anak buahnya yang bersalah. Terlebih pada pengkhianat.

__ADS_1


Ia bahkan tak segan-segan melakukan kekerasan menggunakan tangannya sendiri tanpa membedakan lelaki ataupun wanita. Bahkan tak segan pula ia menyakiti orang yang tak bersalah hanya untuk pelampiasan amarahnya.


Menatap leher Bianca yang terluka dan tampak masih basah oleh darah, Alex tampak menunjukkan seringainya. Jiwa pemangsanya bergetar saat membayangkan betapa gaharnya Mayang saat dirinya berusaha mengintimidasi Bianca.


Sebagai orang suruhan Alex yang sudah bekerja sekian tahun tentunya lelaki itu mengerti seberapa hebatnya Bianca dalam menghadapi musuh-musuhnya.


Meski dia seorang wanita, namun kecerdasan serta kehebatannya Bianca dalam ilmu bela diri tidak bisa diragukan lagi. Ia bahkan berhasil mengalahkan pengawal laki-laki saat keduanya bertarung untuk pembuktian diri.


Namun Mayang bisa begitu mudah membuat Bianca tak bisa berkutik, bahkan melarikan diri dengan cara mengelabui tiga bodyguard sekaligus. Ini sungguh membuat Alex semakin begitu membara ingin memiliki gadis itu.


Namun karena kecerobohan tiga wanita tak berguna di hadapannya itu membuat semua rencananya berantakan. Usaha kerasnya untuk menculik Mayang pun berakhir sia-sia.


Bukanlah perkara mudah membawa gadis itu sampai kepadanya. Pengintaian yang sudah dilakukan setiap hari oleh seoarang profesional hingga memanfaatkan kelengahan Brian dalam menjaga istrinya pun lebur begitu saja.


Dan kini, jangankan untuk menculik gadis itu, bisa membobol pertahanan Brian yang begitu kuat dalam menjaga sang istri sangatlah mustahil baginya.


Brian tak munkin membiarkan sang istri berada dalam bahaya sedikitpun. Ia tak akan membiarkan siapapun yang menyakiti istrinya lepas begitu saja, meski hanya seekor semut sekalipun.


Melihat sang tuan menatapnya dengan tatapan yang berbeda membuat Bianca kebingungan dan tak bisa menerka isi hati dari lelaki itu. Ia pun memberanikan diri menggetarkan bibir untuk bertanya. "Bos, apakah anda memaafkan saya?" Bianca bertanya dengan penuh pengharapan.


"Ikat dia pada pohon di tengah hutan!!" Perintah Alex pada para bodyguard yang sejak tadi sudah menunggu perintah. "Supaya dia tahu letak kesalahan yang telah ia perbuat! Biarkan saja jika ada hewan buas yang ingin memakannya." Seringai buas muncul dari sudut bibir Alex saat menatap Bianca yang tampak ketakutan.


"Bos tolong jangan hukum saya seperti itu, bos!" Pekik Bianca sambil meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri saat beberapa orang bodyguard memaksanya untuk bangkit. "Saya janji, saya akan dapatkan gadis itu untuk anda secepatnya." Dengan berurai air mata Bianca mencoba meyakinkan Alex lagi. Ia masih berharap Alex hanya menggertaknya saja.


"Cepat bawa dia enyah dari sini!" Teriak Alex lagi dengan nada perintah tak terbantahkan saat para bodyguard berhenti menyeret Bianca.


"Bos saya mohon jangan hukum saya dengan cara mengerikan seperti ini ...," Bianca kembali berusaha. "Selama ini saya selalu setia mengabdikan diri dan setia hanya kepada anda. Saya tak pernah membuat anda kecewa. Tolong perintahkan pada mereka untuk tidak membawa saya bos ,,,," dengan tangis mengiba Bianca mencoba menyentuh nurani Alex. Berharap sang bos masih memiliki belas kasihan hingga mau membebaskan dirinya dari hukuman.


Namun jangankan berbelas kasih. Lelaki tak berperasaan itu benar-benar kejam dan bengis seolah hatinya telah mati. Memperlihatkan dengan jelas seringai jahat di setiap inci wajahnya. Binar kepuasan terpancar dari matanya.


Dengan harta serta kuasa yang ia miliki sekarang, ia bebas melakukan apapun yang ia inginkan. Bahkan untuk memperbudak dan menekan manusia-manusia yang ia anggap tak berguna dengan ancaman mengerikan.


Namun kegetiran kembali terdengar dari tawanya saat ia tak mampu berbuat apa-apa untuk merebut Mayang dari Brian. Sebuah realita yang menghiris hatinya. Bunga pujaannya telah hilang dari genggamannya hanya karena keteledoran gadis cantik yang tengah bersimpuh memohon pengampunan.


Sungguh sebuah kesalahan yang sangat fatal. Hingga pengabdian di masa lalu tak bisa membantunya terbebas dari hukuman. 'Nila setitik, rusak susu sebelanga'. Mungkin peribahasa itu lah yang tepat menggambarkannya.

__ADS_1


"Cepat bawa tiga orang tidak berguna ini enyah dari hadapanku! Aku butuh bukti jika memang mereka patut kupertahankan di sini!" Perintah Alex penuh penekanan dengan maksud tersirat dalam ucapannya.


Bersambung


__ADS_2