Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Bayangan masa lalu part 5


__ADS_3

🌹 Hai readers 🌹


Maaf kan saya jika membuat kalian bosan saat membaca tulisan saya, tapi saya harus melanjutkan cerita ini.


Terima kasih kepada yang sudah setia sampai chapter ini. lope lope buat kalian😘


# Happy reading #


Dua gelas kopi kapucino panas sudah lama tersaji di meja sebuah kafe, namun dua orang yang memesan masih tampak enggan menyentuhnya.


Sang wanita tampak diam menunduk sambil meremas jemarinya, menghindari tatapan tajam sang pria yang seolah menginterogasinya dengan penuh selidik.


Kencan kali ini berbeda dari kencan biasanya yang berjalan hangat penuh cinta dan canda tawa. Kencan beberapa kali terakhir ini selalu berakhir dengan keteganan serta air mata.


Entah oleh sebab apa pertengkaran itu bermula, keduanya tak memiliki jalan tengah untuk penyelesaian. Dan kejadian itu terjadi berulang-ulang hingga mereka merasa lelah menjalani hubungan tanpa kebahagiaan.


"Apa ada orang lain di hati mu?" lirih Alex bertanya berusaha mengendalikan emosinya. Namun Lena masih diam membisu bahkan enggan memandang wajah Alex.


"Aku bertanya padamu apakah ada orang lain dihatimu!" meninggikan suaranya, Alex pun mengulangi pertanyaan hingga membuat pengunjung lain pun serentak menoleh ke arah mereka.


Mengabaikan keadaan sekitar, Alex masih di kuasai oleh amarah. Lelaki itu masih menatap tajam sang wanita, menunggu Lena untuk berbicara meski hanyalah kata dusta, setidaknya ia tidak merasa tersiksa dengan sikap diam membisu sang kekasih.


Mengumpulkan keberanian, Lena mencoba mengangkat pandangan dan menatap Alex dengan lekat. Meski lidah terasa kelu, ia memaksa menggetarkan bibirnya untuk bicara.


"Ini tidak ada kaitannya dengan laki-laki lain. Kau telah berubah Alex, sikap mu sangat kasar padaku. Kau dengan tak segan berani menyakitiku. Aku tersiksa Alex, aku tersiksa bersamamu!" Lena tak dapat mencegah buliran bening mengalir dari sudut matanya.


"Untuk hal itu aku minta maaf Sayang, aku menyesal. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Alex merah tangan Lena dan menatap gadis itu mengiba.


"Berapa kali kau berjanji, sejumlah itu pula kau mengingkari."


"Itu karena kau yang lebih dulu berubah!" tanpa sadar Alex meremas jemari Lena kasar hingga gadis itu meringis menahan sakit. "Saat kita berkencan, kau seolah mengabaikan ku. Kau selalu sibuk dengan ponselmu meski telah lama kita tidak bertemu. Aku ini kekasih mu Lena, aku butuh perhatian mu! Tidak bisa kah kau kembali hangat seperti dulu?"


"Alex lepaskan tangan ku, kau menyakiti ku!" Lena menarik paksa tangannya yang secara tak sengaja telah Alex remas.


"Maaf Sayang, aku terbawa suasana." ucap Alex dengan nada melemah penuh penyesalan. Ia lantas menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


Sementara Lena tampak mengusap tangannya yang membekas merah oleh cengkeraman Alex. Lantas menyembunyikannya di bawah meja supaya Alex tak dapat menjangkaunya.

__ADS_1


"Maaf Alex, perasan ku telah berubah pada mu saat kau mulai kasar dan menyakiti ku. Aku butuh cinta dan perlindungan. Bukan rasa sakit serta tekanan seperti yang selama ini kau berikan!" dengan raut wajah sedih Lena mencoba menjelaskan meski harus mengumpulkan segenap keberaniannya. Ia bahkan tak lagi peduli jika kata-kata yang ia ucapkan nantinya akan membuat Alex semakin meradang. "Kau berubah Alex. Kau bukan lah Alex yang dulu lembut dan sayang pada ku."


"Sudah ku bilang aku jadi seperti ini itu karena mu!" Alex berbicara dengan nada keras sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Lena. Dengan nada tak terima, ia bahkan seolah menuduh Lena lah penyebabnya.


"Kau bahkan menyalahkan ku atas sikap mu sendiri Alex. Itu memang sifat asli mu yang tidak bisa kau ubah. Kau tidak bisa berubah Alex." tutur Lena sambil menggeleng berulang-ulang seolah meragukan Alex.


"Aku berjanji aku akan berubah untuk mu Lena, ku mohon percaya padaku."


Seolah mengabaikan perkataan Alex, Lena pun bangkit dan berdiri dan ingin beranjak pergi, namun Alex berhasil meraih peegelangan tangan gadis itu dan menahannya.


"Ku mohon lepaskan aku. Biarkan aku pergi." tanpa menoleh pada Alex, Lena berucap dingin.


"Sayang ku mohon beri aku kesempatan."


"Kita putus." berucap lirih, Lena melepas paksa tangan Alex yang tiba-tiba melemah. Lelaki itu tampak begitu terkejut usai mendengar kata putus dari bibir sang kekasih.


Bagaikan sebuah kaca tipis yang terhempas dan menimpa benda keras, Alex merasa hatinya hancur berkeping-keping dan remuk redam. Gadis yang sangat ia cintai menginginkan putus tatkala cinta masih begitu bergelora di dada.


Seolah tak menyerah begitu saja, Alex memacu langkahnya mengikuti Lena yang telah berada di luar kafe menuju mobilnya. Memcekal lengan sang gadis, Alex kembali memohon.


"Tidak bisa Alex, aku ingin kita putus!"


"Beri aku saru alasan agar aku bisa melepas mu."


"Maafkan aku Alex," lirih Lena dengan binar lesedihan terpancar dari matanya. "Aku tak sebaik yang kau pikir. Maafkan aku karena selama ini telah menduakanmu." tutur Lena dengan deraian air mata. "Aku sudah berusaha bertahan dengan cintamu, tapi aku tidak bisa. Kau berbeda dengannya. Dia sangat lembut memperlakukan ku. Tau tau semua yang ku inginkan. Dia mengerti apa yang ku mau. Dan ku mohon jangan salahkan dia atas kejahatan ku ini sebab dia juga tidak tau aku memiliki kekasih." pinta Lena dengan mengiba sembari mengusap lembut tangan Alex yang masih mencekalnya dengan tangan kirinya.


"Alex," Lena melanjutkan lagi kata-katanya. "Salahkah jika aku ingin bahagia bersama orang yang aku cinta? Aku mencintai orang lain dan bukan dirimu Alex. Aku tidak bisa mendustai hati ku. Aku tak bisa memaksakan diriku bersamamu dan membuat kita sama-sama terluka karena cinta ku yang terpaksa."


Mencoba mengendalikan amarahnya, Alex mendongak dan menarik napas dalam. Berusaha keras menahan air mata yang menggenang di pelupuk mata agar tidak meluncur dengan bebas dan memperlihatkan betapa dirinya kini hancur sehancur hancurnya. Berusaha tegar meski kini hatinya begitu rapuh meski terlihat keras seperti batu.


Dengan bibir yang bergetar, Alex memaksakan diri untuk bertanya. "Siapa dia?" lirihnya dengan tatapan lekat pada netra sang wanita. "Katakan siapa dia!!" menggeram Alex pun meninggikan suaranya penuh kemarahan.


Tersedu, Lena hanya menangis tanpa bisa berkata-kata. Rasa bersalah yang menggayuti pikirannya membuatnya dihinggapi ketakutan. Ia tak mungkin membuat masalah baru dengan memberitahukan siapa lelaki yang telah memporak-porandakan hatinya yang berimbas pada hubungan cintanya dengan Alex.


"Kau tak perlu tau." ucap Lena sembari menarik paksa tangannya dan bergegas pergi meninggalkan Alex yang tengah menelan kesedihan.


Mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, Lena meninggalkan Alex yang masih terpaku berdiri di tempatnya dengan menatap pilu kepergian wanitanya. Cinta, harapan serta masa depan, seakan sirna bersama dengan kepergian Lena dari pandangannya.

__ADS_1


Kini bagi Alex, cinta adalah kepedihan. Cinta adalah belati yang semakin digenggam justru semakin melukai. Cinta adalah luka dan kepahitan.


"Maafkan aku Alex," lirih Lena sembari menyeka air matanya. Di pandangnya lelaki yang sudah menjadi mantan itu hingga tak terlihat lagi saat mobil yang ia kendarai melaju pergi.


Selama ini Lena memang menggantung hubungannya dengan Brian. Tidak menerima ataupun menolak. Tidak juga mengatakan kalau dirinya tekah mempunyai kekasih.


Berusaha tetap setia pada Alex, namun nyatanya kilauan yang Brian miliki mampu menyilaukan mata Lena sehingga bisa dengan mudah berpaling hati walau ia berusaha untuk memungkiri.


Mencari-cari alasan, Lena selalu berusaha menghindar setiap kali Alex mengajaknya untuk bertemu. Keretakan hubungan pun terlihat saat pertengkaran demi pertengkaran terjadi. Hingga puncaknya, Lena dengan begitu beraninya membandingkan Alex dengan lelaki lain. Terang saja membuat lelaki itu menyimpan kebencian yang teramat pada siapapun orang yang telah merebut kekasihnya meski Brian sendiri tak tahu apa-apa.


Dan tanpa Brian duga, kebahagiaanya berhasil mendapatkan Lena justru membawa bencana bagi keduanya. Tanpa dia sadari, Alex yang mengutus seseorang berhasil men sabotase mobil yang membawa Brian beserta sang istri hingga terjadilah kecelakaan yang mengerikan. Lena pun meninggal di usia pernikahan mereka yang menginjak satu minggu.


Tawa Alex menggelegar tatkala mendapatkan berita keberhasilan usahanya. Namun tawa puas itu kini berubah getir manakala dirinya sendiri merasakan kepedihan, terbelenggu dalam kehidupan yang hampa tanpa cinta. Sedangkan Brian telah bangkit dan bahagia dengan pasangan yang memiliki wajah hampir serupa dengan Lena.


"Kenapa hidup ini tidak adil." lirih Alex dengan mata yang mulai berat. "Apakah aku terlihat paya? Begitu payah kah aku hingga semenderita begini?" terdengar kekehan kecil dari mulut lelaki yang sedang mabuk itu, seolah Alex sedang menertawakan dirinya sendiri.


Tiba-tiba terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar. Suara itu menggema di ruang kedap suara itu hingga mengusik kenyamanan Alex. Lelaki itu memaksa membuka mata dan menoleh ke arahnya.


"Siapa?"


"Saya Tuan,"sahut seseorang di luar. Lantas membuka pintu dan masuk. Mengangguk sopan, lelaki demgan stelan jas itu siap memberikan laporan yang ia bawa.


"Ada apa? Apa kau tidak tahu aku sedang bersenang-senang sekarang? Kau ingin sku pecat karena telah mengganggu ku!"


"Tapi saya datang membawa berita mengenai gadis yang sedang kita cari-cari Tuan,"


"Aku tidak ingin membahas tentang apapun sekarang! Aku minta kau pergi dari sini. Aku tidak ingin siapapun mengganggu ku."


"Baik Tuan." membungkuk sopan, lelaki itu pun pergi meninggalkan sang Tuan tenggelam dalam angan-angan semu dalam dunianya sendiri.


Bersambung


______________________________


Hai readers, jangan lupa kunjungi juga karya author yang lain yang berjudul Terjerat cinta sang perawat


Dan berikan juga dukungan kalian untuk author ya, Terima kasih πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2