
Diam-diam Mayang memperhatikan pintu yang akan dibuka oleh Alex sembari berharap dalam doa jika itu adalah malaikat penolong yang akan menyelamatkannya. Siapapun dia, asal dapat membebaskan dirinya dari Alex.
Usai membuka kunci, Alex lantas menarik tuas pintu dan membiarkan pintu itu terbuka lebar usai melihat siapa yang berdiri di luar sana, hingga Mayang bisa melihat dengan jelas orang itu dari tempatnya. Rupanya salah satu dari pengawal bertubuh dempal itu yang datang. Mayang bahkan masih ingat lelaki itu lah yang melindunginya dari kekejaman Bianca.
Untuk sejenak mereka saling bersitatap dalam diam. Namun arti tatapan mereka berbeda. Pria itu menatap Mayang seperti sedang memastikan sesuatu hal, sementara Mayang menatap lelaki itu dengan ekspresi kebingungan.
Alex sendiri baru menyadari tatapan lelaki di depannya itu terarah bukan kepadanya. Ia sedikit menolehkan kepala dan memutar bola mata ke arah belakang. Pria itu teringat jika Mayang ada di atas ranjang dengan posisi di belakangnya. Sontak saja ia mengarahkan tatapan penuh peringatan kepada pengawalnya itu seketika. Ia tak suka orang lain melihat wanitanya.
Pengawal itu sadar jika ia telah jauh memasuki ranah pribadi tuannya, hingga di detik itu juga ia mengalihkan pandangannya kemudian tertunduk dalam dan bersikap seolah dirinya merasa menyesal.
Alex menutup pintu di belakangnya agar pengawal itu tak mengulangi kesalahannya. Wajahnya masih tampak gurat kekesalan selagi memindai pria di depannya itu dengan ekspresi penasaran. "Apa yang membuatmu datang kemari dan mengganggu kesenanganku!" tanyanya kemudian penuh kemarahan.
"Maaf telah mengganggu kenyamanan anda Tuan," jawab pengawal itu dengan nada menyesal. "Tapi Mister Wang sudah tiba dan mendesak agar brankas itu segera dibuka."
"Sialan." Alex mengumpat penuh kemarahan. "Apa kau tidak bisa mengalihkan perhatian lelaki itu dulu dengan menyuguhkan kesenangannya! Sodorkan saja wanita-wanita cantik untuk menghiburnya sementara aku menyelesaikan urusanku dulu!"
__ADS_1
"Maaf Tuan," lelaki itu kembali memasang wajah penuh sesal. "Kami sudah berupaya menawarkan apapun kepadanya, namun Mister Wang sepertinya sudah tak sabaran menunggu anda. Dia datang dengan membawa banyak pasukan dan mengancam akan mengobrak-abrik tempat ini jika anda tidak segera keluar menemuinya."
"Kurang ajar!" bentak Alex seketika. "Dia membawa pasukannya untuk berjaga-jaga rupanya. Sialan. Apa dia pikir aku akan menipunya hingga dia membawa anak buah sebegitu banyak untuk menyerang kita!" Alex menatap lekat anak buahnya selagi dia memberikan instruksinya. "Kalau begitu instruksikan pada teman-temanmu untuk memperperketat pengamanan kita. Jangan sampai Mister Wang berhasil menguasai isi berangkas itu dari dari kita."
Pengawal itu mengangguk patuh. "Baik, Tuan," ucapnya kemudian.
"Panggil Bianca, Kim dan Joy kemari untuk mengurus wanitaku." Alex berucap tegas sebagai perintah dan langsung dibalas oleh pengawalnya. Lelaki itu kemudian berbalik badan dan kembali mendekati pintu.
Namun pada saat ia hendak membuka pintu itu, Alex seolah teringat akan sesuatu hingga ia mengurungkan niatnya. Ia menoleh ke arah pengawal yang masih berdiri di tempatnya.
Pengawal itu mengernyit bingung usai mendengar perintah Alex itu. Namun ia segera mohon diri dengan patuh sebab tatapan Alex terarah penuh peringatan kepadanya.
***
Entah kemana mereka akan membawa Mayang pergi, yang jelas selama perjalanan itu, Mayang yang di kursi roda itu tak bisa melihat apapun di sekitarnya dengan mata yang tertutup. Ya, mereka sengaja menutup mata Mayang dengan sehelai kain agar istri Brian itu tak bisa melihat apapun yang mereka lalui.
__ADS_1
Mayang hanya bisa memendam kekesalannya dalam hati saja sebab kebatasan akses yang dimilikinya untuk mengamati seluruh seluk beluk tempat ini.
Sepanjang perjalanan tak ada obrolan apapun yang terdengar. Hanya suara langkah kaki mereka serta decitan roda dari kursi roda yang diduduki Mayang beradu dengan lantai yang mereka lewati.
Setelah beberapa lama menempuh perjalanan dalam kegelapan, akhirnya Joy menghentikan kursi roda yang didorongnya.
Mayang yang semula menyandar punggungnya pada sandaran kursi roda, seketika menegakkan punggungnya. Ia terlihat kebingungan seraya menggerakkan kepalanya. Mayang memasang indera pendengarannya, berusaha menggambarkan suasana tempat itu melalui apa yang saat ini ia dengar.
Suasana masih terdengar hening seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Namun hawa panas yang terasa menyapa tubuhnya membuat Mayang meyakini dirinya kini berada di ruangan tertutup yang minim akan fentilasi udara. Atau mungkin memang sama sekali tidak ada.
Tubuh Mayang seketika menegang penuh kewaspadaan kala mendengar suara hentakan langkah kaki yang mendekat. Suara itu terdengar semakin mendekat dan berhenti tepat di depannya.
Mayang berjingkat saat merasakan ada seseorang menyentuh belakang kepalanya untuk melepaskan ikatan penutup matanya. Ia mengerjap-ngerjap kecil untuk menyesuaikan cahaya yang masuk menerobos indera penglihatannya yang baru saja dilingkupi kegelapan.
Lagi-lagi ia berjingkat penuh keterkejutan mendapati sesosok tubuh berbalut stelan jas rapi tengah berjongkok dengan satu lututnya bertumpu pada lantai tepat di depannya. Seraut wajah tampan itu tersenyum begitu manis dan begitu antusias menatapnya.
__ADS_1
Bersambung