
Ekspresi Billy yang hampir melembut sebab tak tega menatap istrinya yang mengiba itu mendadak membelalak setelah melihat sesuatu di tangan si wanita. Tangannya yang baru saja melepaskan cengkeraman pada dagu wanita yang telah ia nikahi itu kembali bergerak merebut benda dari tangan Milly.
"Apa ini!" Billy mendekatkan mainan musik box itu dengan wajah Milly. Matanya menatap istrinya tajam seolah menuntut penjelasan. "Apa yang telah kau buat terhadap benda ini!" Bentaknya lagi semakin keras, hingga membuat Milly berjingkat karena saking terkejutnya.
Mendadak gugup, Milly yang tadinya sedikit merasa tenang itu kembali diguncang ketakutan. Dengan tubuh gemetaran, ia berusaha menelan slavina dengan berat sebab bibirnya yang bergetar seolah tak mampu berucap. Bayangan buruk yang sempat ia duga tadi rupanya kini benar-benar terjadi. Entah apa istimewanya itu benda hingga membuat suaminya begitu murka.
"Jawab!" Milly hampir-hampir terlonjak saat Billy kembali membentak. Entah mengapa Billy seolah tak sabaran ketika Milly tak kunjung menjawab pertanyaan.
Terisak, riak air yang menggenang itu kembali meluap dari pelupuk mata. Menganak sungai dan membanjiri wajah cantik gadis mungil itu. Milly yang tertunduk memberanikan diri mengangkat pandangan dan membalas tatapan nyalang Billy dengan sorot kelembutan. Di sela isaknya, ia pun berusaha mengucapkan kata dengan sisa keberaniannya. "Ma-maafkan saya, Pak. Saya nggak sengaja."
"Nggak sengaja!" Billy menyahut cepat dengan suara begitu keras hingga terasa memekakkan telinga. Tatapan lembut penuh permohonan istrinya ia balas dengan sorot tajam penuh kebencian. Ia tak suka orang lain mengusik ketenangannya. Ia tak suka ada orang asing yang lancang menyentuh ranah pribadinya.
Mengguncang-guncang sesuatu yang ia genggam di tangan, desahan kasar terdengar lolos dari bibir Billy yang menggeram. Lelaki dengan stelan jas sedikit kotor itu memejamkan matanya selagi membuang muka. Rahangnya mengetat dengan gigi yang menggemertak penuh kejengkelan. Tangannya mengepal kuat, berusaha menahan amarah yang begitu membuncah. Sebisa mungkin ia berusaha menahan agar tidak melakukan kekerasan terhadap seorang wanita. Meski gadis di depannya ini benar-benar telah menguji hingga melebihi batas kesabarannya.
Diam beberapa saat, senyum getir dengan sejejak luka tersungging di bibirnya. Billy yang semula membuang muka kini mengembalikan pandangan ke arah istrinya dan menatap gadis itu sembari menggeleng tak percaya.
Ia telah menghadapi begitu banyak musuh, bahkan rival yang berpura-pura menjadi teman. Sekali melakukan kebohongan, ia tidak akan lagi percaya meski ribuan kali mereka berusaha meyakinkan. Karena baginya penghianat tetaplah penghianat, yang tak akan pernah bisa menjadi sahabat. Sekali mereka merusak kepercayaan yang diberikan, maka jangan harap ia akan terangkat dari jurang kenistaan.
Billy tidak bisa menampung orang yang tidak bisa ia percaya, maka keputusannya adalah sesegera mungkin mengeluarkan orang itu dari kehidupannya. Persetan dengan cinta. Persetan dengan pernikahan. Baginya ini semua adalah sebuah penipuan.
"Pergi dari sini sekarang juga!" Lantang, Billy bahkan mengucapkan kalimat perintah itu dengan ekspresi datar tanpa rasa penyesalan.
Tersentak, Milly yang semula menunduk seketika mendongak kepalanya, menatap sang suami dengan pandangan tak percaya. "Maksud Bapak?" gadis itu bertanya seolah ingin memastikan bahwa yang ia dengar baru saja itu hanyalah halusinasi belaka.
"Apa kau tidak dengar? Aku minta kau pergi sekarang juga!" ulang Billy seolah mempertegas kalimatnya tadi.
__ADS_1
Milly yang tak percaya begitu saja masih bungkam tanpa suara. Ditatapnya manik suaminya itu lekat-lekat, seolah berusaha mencari sejejak keraguan dari sana. Namun keteguhan Billy yang tak berkedip saat berbicara dan membalas tatapan itu benar-benar membuat Milly tak menemukan apa yang dia cari. Lelaki itu benar-benar ingin mengusirnya.
"Masih kurang jelas." Billy menggeram selagi menatap Milly yang masih tak bergeming. Aku ingin kau enyah selamanya dari hadapanku! Aku tak ingin menampung seorang penyusup, di kediamanku," paparnya dengan penekanan pada kata penyusup.
Melihat bibir Milly yang terkatup dan berkedut, Billy lantas membuang muka. Entah menghindari bersitatap dengan manik berkaca-kaca itu atau mungkin karena merasa sangat muak, hingga ia tak sudi menatapnya.
"Saya akan pergi dari sini, tapi beri saya waktu untuk menjelaskan kesalah pahaman ini, Pak." Seolah tak patah arang, Milly masih tetap berusaha meyakinkan. Melihat Billy yang acuh dan enggan menanggapinya, gadis itu bahkan tak segan menjatuhkan harga dirinya. Segera ia bersimpuh di lantai dan kemudian memeluk kaki Billy sebagai bentuk permohonan. Dengan deraian air mata ia mengemis maaf dari suaminya.
Alih-alih memaafkan, Billy justru mendorong tubuh Milly hingga terhuyung ke belakang. Namun ia tak tahu jika tangan istrinya menimpa tepat pada serpihan kaca saat berusaha menopang tubuhnya yang hampir roboh. Gadis itu meringis kala desiran perih seolah terasa mengiris telapaknya.
Tanpa iba, tanpa kasihan, Billy meninggalkan gadis itu sendirian. Namun sebuah ancaman sempat terlontar sebelum ia enyah dari hadapan. "Jangan memaksaku berbuat kasar terhadap wanita dengan tetap bertahan di sini hingga aku kembali. Kau tentu tak ingin terlihat bodoh dengan merasa dirimu dibutuhkan di sini." Kalimat bernada meremehkan itu menjadi penutup kata sebelum perpisahan mereka.
Dengan tergugu pilu, Milly mulai mengemasi barang-barangnya. Memasukkan kembali baju-bajunya ke dalam koper setalah baru kemarin ia memindahkannya ke dalam lemari meski dengan pelan-pelan. Sebab luka ditangannya masih sering mengeluarkan darah jika terlalu sering ia pakai untuk bergerak. Ia hanya membebat luka ala kadarnya hanya untuk menghentikan tetesan merah pekat yang masih saja keluar dari sana.
Jika saja perasaan cinta belum menempati sebongkah merah di dada, mungkin kepergiannya tak akan berat dan menyisakan goresan lara. Terlebih dirinya meninggalkan citra buruk di mata lelakinya.
***
Setelah lepas dari bayang-bayang Billy meski dengan berat hati, Milly mulai menata hati dan semangat diri. Ia tetap berjuang melanjutkan hidupnya sendirian, tanpa teman ataupun seseorang yang dicinta. Memilih tak kembali ke kontrakan lama.
Beruntung Milly mendapatkan tempat kost yang letaknya tak jauh dari tempatnya bekerja. Hingga ia tak membutuhkan waktu lama di perjalanan menuju ke kantor.
Sore itu, Milly yang tengah berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari di sebuah market yang terletak tak jauh dari kostnya bertemu dengan seorang teman wanita yang berasal dari kampung halamannya.
"Gue nggak nyangka ketemu Lo di sini, Mill," ucap gadis berambut lurus sebahu itu sambil menatap bangga ke arah Milly. Keduanya memutuskan untuk mengobrol sambil ngopi disebuah kafe yang tak jauh dari sana. "Lo yang dulu cengeng, manja dan dan lembek. Sampai-sampai mijak *** ayam aja enggak penyet, bisa juga hidup mandiri di ibu kota yang kejam ini."
__ADS_1
"Gue datang ke sini cuma modal nekad kok, Sya. Uang simpanan yang gue bawa dari rumah juga raib di rampok penipu. Beruntung gue bertemu dengan seseorang baik hati yang mau meminjamkan uangnya untuk modaku memulai usaha." Milly yang memainkan cangkir di tangannya tersenyum tipis. Tak berniat membanggakan diri ataupun merutuki nasip diri.
"Jadi sejak saat itu Lo nggak pernah pulang?" Rasya bertanya dengan wajah keheranan. Gadis yang memakai sweater berpadu celana jeans itu menatap Milly lekat seolah menunggu temannya memberikan jawaban.
Milly tersenyum getir. Ada selaksa luka yang tak kasat mata setiap kali mengingat orang tuanya. Ingin rasanya dia pulang, tapi hanya akan menjadi sebuah luka jika kehadirannya tak lagi diharapkan.
Secara terang-terangan sang ayah telah membuangnya pada seseorang yang ternyata tak memiliki rasa kasih dan sayang. Membuatnya harus rela berdamai dengan luka, sebab ia hanyalah wanita hina yang hidup terlunta. Seorang anak sekaligus istri yang merasa terbuang. Sungguh menyakitkan saat diri ini merasa tak berguna.
Saat ini sendirian membuat Milly merasa nyaman. Tanpa sebuah harapan yang telah melambungkan angannya jauh ke atas awan, namun harus menelan sakit yang teramat saat kembali dijatuhkan ke dasar jurang. Lebih baik begini. Mencintai dan menghargai dirinya sendiri. Dengan begini ia tak akan merasakan sakit hati.
Milly menggeleng samar menanggapi pertanyaan Rasya tanpa menatap gadis di hadapannya.
"Tapi tiap hari teleponan?"
Milly menggeleng lagi. Kali ini ia mengangkat pandangannya, menatap Rasya dengan senyum ambigu.
"Jadi Lo nggak tau gimana kabar orang tua, Lo?!"
***
Milly berlari menuju tempat kostnya dengan deraian air mata. Mendengar kabar mengenai kebenaran keadaan sang orang tua membuat tangis gadis mungil itu sedu sedan. Selama ini ia tak pernah berpikir kejadian buruk akan menimpa sang orang tua selepas kepergiannya.
Segera ia mengemasi seluruh barang-barang. Tak menyisakan apapun juga sebab ia tak akan pernah berpikir untuk kembali ke sana.
Bersambung
__ADS_1