Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Tidurlah sayang


__ADS_3

Dua sosok tubuh manusia yang berbalut satu selimut disebuah ranjang kamar VIP sebuah rumah sakit, tampak sedang mengamati hasil prit out USG kandungan sang istri benih cinta mereka.


Dengan posisi sang istri yang terbaring miring membelakangi sang suami, tubuh Mayang menempel sangat rapat dalam pelukan Brian yang berada di belakangnya.


Mayang tampak begitu nyaman berbantalkan lengan kekar suaminya sembari menatap gambar sang janin yang hanya terlihat layaknya sebuah titik kecil.


Mengusap lembut perutnya yang masih rata, tangan Mayang pun menyentuh tangan Brian yang sudah sejak tadi berada disana. Brian yang seolah sedang mendekap sang janin dengan penuh cinta membuat bulir bening tanpa warna meluncur bebas dari sudut mata Mayang.


Setitik air mata bahagia tatkala dirinya mendapatkan anugerah terindah dari sang maha pencipta secara tak terduga. Sebuah kehidupan baru, setitik darah yang sudah bernyawa kini bersemayam di dalam rahimnya. Meski baru berwujud setitik darah, namun dia sudah bekerja keras untuk bertahan hidup didalam sana.


Mayang menarik kedua sudut bibirnya saat mengingat tak lama lagi ia akan menjadi seorang ibu. Sembilan bulan lagi. Namun waktu sebulan itu sangatlah lama jika dilewati dengan sebuah penantian membuatnya seperti tak sabar.


Begitu bahagianya, hingga ia tak dapat melukiskan sebahagia apa dirinya saat ini. Impian menjadi ibu kini sudah nyata digenggamannya. Karena dengan menjadi seorang ibu, maka sempurnalah sudah kodrat dirinya sebagai seorang wanita.


Berkali-kali Mayang mencoba meyakinkan jika dirinya tidak sedang berada di alam mimpi. Rasa nyeri di perutnya pun terasa begitu nyata. Namun jika memang ini hanyalah sebuah mimpi, maka Mayang tak ingin dirinya segera terbangun dari mimpi indah ini.


Debaran jantung nya pun selalu mendadak berderak kencang setiap kali dirinya membayangkan wajah bayi lucu yang kelak akan ia lahirkan dari rahimnya sendiri.


Mendongakan kepala penasaran, Mayang memperhatikan Brian yang sejak tadi hanya diam tak bersuara. Pandangan lelaki itu pun masih fokus pada prit out hasil USG kandungannya tadi. Brian tampak larut dalam pikirannya sendiri hingga tak menyadari sang istri tengah memperhatikannya dengan wajah heran.


"Sayang ,,," suara lembut Mayang yang memanggil pun memecah keheningan yang menyelimuti kamar rawat itu. Brian pun seketika mengerjap dan menurunkan pandangannya.


"Hemmm," menggumam, Brian menunduk dan menghadiahi kecupan lembut di puncak kepala sang istri. Ia mengulas senyum tipis di bibirnya saat kedua netra itu bertemu. Lantas tangan kanannya pun bergerak menangkup sisi kiri wajah sang istri dengan lembut.


"Kenapa Sayang, apa perutmu semakin nyeri, heum ,,,?" Tanyanya kemudian sambil mengusap lembut pipi sang istri menggunakan ibu jarinya.


Mendengar pertanyaan Brian yang terlihat khawatir membuat Mayang menggeleng pelan sebagai jawaban. Ia tak ingin membuat Brian semakin khawatir dengan selalu merintih dan mengeluh.


"Lalu?" Tanya Brian dengan kening berkerut bingung.


"Kenapa terus-menerus menatapnya? Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan sang istri membuat Brian bereaksi dengan menarik sudut bibirnya. Lelaki itu menunjukkan senyum penuh takjub. Sambil mengeratkan pelukannya ia pun berbicara. "Kau tau Sayang, sebelumnya aku tak pernah tau bagaimana awal mula tubuh manusia itu terbentuk." Jawabnya dengan binar bahagia yang terpancar dari sepasang netranya.


Seolah belum puas hati, ia kembali mengamati prit out hasil USG itu dan memaksa sang istri untuk ikut mengamatinya juga.


"Lihatlah Sayang, ini adalah gambar benih cinta kita. Buah hati kita ...! Ada calon bayi kita di rahimmu Sayang ...," terlihat menggebu-gebu, Brian tak dapat mengendalikan dirinya yang terlihat begitu bersemangat hingga tubuh Mayang yang masih lemah pun ikut berguncang karena gerakan tangan Brian yang begitu kuat saat mengekspresikan kebahagiaannya yang tanpa di sengaja. "Bayangkan Sayang ,,, setitik darah ini lah yang kelak akan menjadi penerus keturunan kita ...! Di ukurannya yang masih sekecil ini dia bahkan sudah berjuang keras untuk tetap bertahan di rahimmu, kau pasti bisa bayangkan sekuat apa dia setelah besar nanti Sayang," Brian benar-benar tak bisa menyembunyikan sebetapa takjup dirinya. Hingga matanya yang berkaca-kaca pun meloloskan bulir bening yang terbendung di pelupuk mata.


Mayang yang masih tertegun pun dibuat terperanjat dan membelalakan mata saat dengan tiba-tiba tangan Brian bergerak merengkuh tubuhnya dan membenamkannya pada dada bidang sang suami. Bahkan mendekapnya erat sampai-sampai nafasnya terasa sesak karena dalam tekanan yang kuat.


Menyadari jika ulahnya ternyata menyakiti tubuh sang istri, dengan segera Brian pun melonggarkan dekapannya. Dengan wajah menyesal, ia menatap lekat manik sang istri dan kemudian berucap, "Maafkan aku Sayang, aku terlalu larut dalam kebahagiaan hingga tak menyadari telah menyakitimu,"


"Tak apa Sayang, justru aku sangat merasa bahagia karena kau menyambut hadirnya calon bayi kita dengan suka cita." Berucap tulus, Mayang pun tak tahan ingin menyentuh pipi sang suami yang memancarkan rona penuh bahagia.


Menyentuh dengan lembut tangan yang tertancap jarum infus sang istri yang tengah membelai wajahnya, Brian pun berucap. "Terima kasih karena kau rela bersakit-sakit untuk mempertahankan calon bayi kita Sayang. Aku berjanji akan menghancurkan siapapun yang berusaha melukaimu dan calon bayi kita." Lirih Brian dengan penuh keyakinan sambil menatap lekat netra berkaca-kaca milik sang istri. Seolah dirinya sedang mengucapkan sebuah sumpah yang tak terbantahkan.


Sontak saja hal itu membuat Mayang menggeleng pelan sebagai bentuk protes nyata akan ketidak sukaannya. "Tidak Sayang, jangan selalu menyimpan dendam di hatimu. Dendam tidak akan bisa membuat kita bahagia, justru hati akan semakin tertekan karena pikiran kotor kita yang tidak pernah merasa ikhlas. Dendam adalah penyakit hati yang harus kita jauhi Sayang. Kau lihat janin kita baik-baik saja kan. Akupun juga. Jadi, lupakan dendam mu ya Sayang, ku mohon ...." Dengan wajah mengiba, Mayang berusaha menyentuh hati beku sang suami agar luluh.


Namun rupanya membujuk Brian tak semudah yang ia bayangkan. Sebab bukannya melemah karena permohonan sang istri, Brian justru terlihat memperlihatkan ketidak sukaannya pada sifat pemaaf sang istri.


"Apa kau bilang, melupakan?! Semudah itu?!" Brian berdecih sembari memalingkan wajahnya dari pandangan sang istri dengan kesal. "Tidak akan Sayang. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskannya begitu saja." Berdesis menakutkan, Brian tak ingin siapapun menghalangi keinginannya. Meskipun itu sang istri.


Mayang yang tak bisa lagi berbuat apa-apa selain menelan mentah-mentah kata-kata yang belum sempat terucap. Ia mendesah pelan sembari membenamkan wajahnya dengan lembut di dada sang suami yang masih enggan menatapnya.


"Sayang ,,," panggil Mayang lembut, berharap sang suami luluh dan kekesalannya pun mereda. Namun Mayang hanya bisa menahan kesal saat keheningan sajalah yang membentang, sebab sang suami masih kekeuh dengan egonya.


"Sayang, masih marah ya ...?" Mengerucutkan bibirnya, Mayang pun menggoda Brian dengan menekan-nekan pipi sang suami dengan telunjuknya. "Sayang bicara lah padaku! Hukum saja aku bila aku melakukan kesalahan! Tapi jangan siksa aku dengan kebisuanmu seperti ini ...!"


Semakin kesal larena tak dihiraukan, Mayang pun mencubit gemas pipi sang suami. "Sayang, kau pernah dengar cerita tentang Nabi tidak?" Mayang diam sejenak, menunggu Brian menjawab. Namun lelaki itu masih membisu. Namun Mayang seolah tak peduli dan kembali melanjutkan Ceritanya.


"Ceritanya, saat putri Nabi sedang bercanda dengan sang suami. Kirang lebihnya mungkin seperti kita tadi Sayang. Dan obrolan mereka terus berlanjut hingga sampai si suami merasa tersinggung dan murka terhadap sang istri. Dan kau tahu Sayang, si suami tak mau bicara bahkan menatap wajah istrinya lagi ...!" Berusaha menarik perhatian Brian, Mayang bercerita dengan nada suara yang didramatisasi hingga menarik-narik kemeja yang suaminya kenakan.


Tak sia-sia usaha yang Mayang lakukan, sebab Brian tampak bergeming. Merasa cerita sang istri ada kemiripan dengan yang mereka alami, Brian pun melunakkan hati dan mencuri-curi pandang pada Mayang yang masih bercerita meskipun ia abaikan.

__ADS_1


"Dan keesokan harinya," Mayang melanjutkan ceritanya lagi. "Saat putri Nabi berkunjung pada orang tuanya tanpa didampingi sang suami karena mereka sedang bersitegang, tentu saja membuat sang ayah bertanya-tanya dong Sayang. Dan tahu nggak siapa yang Nabi bela?" Mayang mengerlingkan mata berusaha memancing Brian untuk bicara. Namun sia-sia, hinhga akhirnya Mayang kembali melanjutkan ceritanya.


"Bukan lah putrinya sendiri loh Sayang, melainkan suaminya. Sang ayah justru bersumpah tidak akan datang bahkan memandikan jasad sang putri andai saja saat itu juga sang putri meninggal dunia."


Tanpa Mayang duga, gerakan Brian yang tiba-tiba memeluknya lagi-lagi membuatnya membelalak kaget. Entah apa yang sedang suaminya pikirkan saat ini hingga begitu lama sang suami memeluknya.


Namun di balik sikap herannya, diam-diam Mayang menyunggingkan senyum kepuasan sambil menyandarkan dagunya di pundak sang suami. Mungkin ceritanya berhasil menyentuh hati suaminya hingga Brian mendadak memeluknya penuh rasa bersalah.


"Maafkan aku Sayang, aku tidak bermaksud seperti yang kau ceritakan ,,,." Ucap Brian memohon usai melepas pelukannya dengan ekspresi wajahnya yang mengiba.


"Kau curang! Kau sudah membuatku ingin menangis ...!" Mayang mengatupkan bibir seolah sedang menahan tangis.


"Aku sudah meminta maaf, jadi kumohon jangan menangis ...!" Meninggikan suara, Brian menekan ucapannya.


"Janji, jangan lakukan hal itu lagi!" Mayang menunjukkan kelingkingnya, seolah sedang mengikat janji Brian seperti janji anak kecil.


"Iya Sayang, aku janji." Brian menyatukan kelingkingnya pada kelingking sang istri.


Tersenyum penuh kemenangan, mengeratkan jalinan kelingking mereka dan menuntun Brian agar menyatukan pula ujung ibu jari mereka.


"Sudah berjanji ya, jadi jangan coba-coba untuk ingkari." Tutur Mayang dengan nada penuh ancaman.


"Iya-iya ,,,." Jawab Brian dengan nada pasrah sambil menghela nafas dalam.


"Jangan tinggalkan aku ya."


"Hemmm," gumam Brian sambil mendekap tubuh sang istri.


Iya aku berjanji untuk sementara ini, Sayang. Hanya saat kau terjaga. Sebentar lagi, saat kau mulai terlelap, aku akan beraksi menyelesaikan urusanku.


Malam yang semakin larut membuat Mayang semakin di dera rasa kantuk. Berkali-kali ia menguap. Bola matanya pun semakin meredup, saat dirinya. merasakan aman dan nyaman dalam dekapan hangat tubuh suaminya. Terlebih tepukan lembut nan teratur dari sang suami di punggungnya membuatnya semakin terbuai dan tenggelam ke alam mimpi.

__ADS_1


Tidur Sayang, tidurlah yang nyenyak. Karena setelah ini aku akan menuntaskan semua dendam kita. Akan ku bantai habis orang-orang yang telah mencoba melukaimu. Gumam Brian dalam hati dengan seringai jahat di bibirnya.


Bersambung


__ADS_2