Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Es krim


__ADS_3

Brian,Billy, Malik dan Ratih yang semula tampak asik dengan obrolan ringan, seketika pun menghentikan aktifitas mereka saat Mayang dan Milly muncul di ambang pintu. Pandangan mereka pun seketika tertuju pada dua wanita muda yang sama-sama cantik, namun keduanya memiliki kecantikan yang berbeda.


Mayang yang sudah disambut dengan senyuman oleh Brian pun segera berhambur dan duduk, menempati sofa kosong di sisi sang suami. Tubuhnya pun merapat dan lekat, saat tangan kokoh Brian menyambutnya dengan pelukan, sementara bibir lelaki tampan berwajah tegas itu menghadiahi kecupan lembut di pipinya.


Pemandangan kontras pun terjadi pada Milly. Gadis mungil itu terlihat canggung. Berdiri terpaku, ia tampak bingung memilih tempat untuk duduk dan dan melabuhkan pantatnya untuk duduk. Untuk melabuhkan pantat saja ia masih kebingungan, apalagi untuk melabuhkan hati? Ah, sudah lah.


"Milly ,,," panggil Ratih yang seolah mengerti kebimbangan yang tengah dirasakan menantunya. "Sini Sayang." ajaknya sambil melambaikan tangan.


Tersenyum kaku, Milly lantas melangkah pelan mendekati Ratih, dan kemudian duduk menempati sofa kosong yang Ratih instruksikan. Tempat kosong itu berada di antara Ratih dan Billy. Merasa tak nyaman berada di tengah-tengah mereka membuat Milly pada akhirnya memutuskan untuk lebih condong menghadap ke arah Ratih dan cenderung membelakangi Billy.


"Kau suka es krim?" Tanya Ratih yang sedang duduk dengan memangku sebelah kakinya.


"Suka Bu." Jawab Milly dengan suara lirih yang bahkan nyaris tak terdengar.


Menurunkan sebelah kaki yang dipangku, tubuh Ratih pun setengah membungkuk saat berusaha meraih sebuah cup es krim yang berada di atas meja.


Menyodorkan cup itu pada Milly, Ratih pun berucap. "Ayo cicipi es krim ini. Enak loh, kamu pasti suka."


Tersenyum kecut, Milly seolah tak percaya saat mendapati seseorang menghadiahi es krim untuk wanita dewasa seperti dia. Walaupun merasa sedikit heran, Milly pun tetap menerima dan langsung mencicipinya.


Membulatkan bola matanya dengan sempurna setelah suapan pertama, Milly benar-benar baru kali ini merasakan es krim denga rasa senikmat ini. Perpaduan rasa buah asli yang bercampur sempurna dengan susu dan yoghurt, benar-benar lumer di mulut.


"Bagaimana? Enak tidak?" Menatap Milly begitu antusias, Ratih seolah tak sabar untuk mendengar pendapat dan penilaian dari menantu barunya.


"Ini enak sekali Bu, benar-benar sangat enak." Jawab Milly cepat dengan wajah penuh keyakinan. "Saya suka makan es krim, tapi saya baru kali ini merasakan es krim yang seenak ini." Imbuhnya lagi semakin meyakinkan.


Mata Ratih melebar tak percaya, namun bibirnya menyunggingkan senyum bahagia. "Benarkah? Aaah Ibu senang sekali. Percaya tidak, ini buatan Ibu sendiri loh." tuturnya begitu antusias.


"Benarkah??" Mata Milly melebar seolah tak menyangka. Kemudian gadis mungil itu menyinggungkan senyum penuh kekaguman. "Wah, Ibu pintar sekali memadu padankan rasa." Pujinya kemudian dengan mata berbinar takjub.


"Ah biasa saja." Ratih menjawab dengan nada merendah. "Dari sekian kali percobaan, ini untuk pertama kalinya Ibu berhasil membuatnya. Dari beberapa kali kegagalan, kau bisa bayangkan semual apa perut Ibu ini karena terlalu kebanyakan mecicipi hasil karya Ibu sendiri yang rasanya cetar membahana luar biasa enaknya itu. Sampai-sampai Ibu ingin muntah karenanya. Ha-ha maklum, ibu kan masih amatiran." Ratih terkekeh saat berbicara, seolah sedang menertawakan dirinya sendiri.


"Tapi kerja keras Ibu berbuah manis. Buktinya ini enak banget loh." Milly menyuapkan sendok es krim itu berulang-ulang. Seolah ingin semakin meyakinkan begitu enaknya rasa es krim itu melalui tindakan.


"Oh syukur lah. Kalau begitu Ibu akan sering-sering membuatnya untuk kalian. Juga untuk cucu-cucu Ibu nanti ...." ucap Ratih dengan senyuman berbinar senang.

__ADS_1


Ekspresi bertolak belakang justru ditunjukkan oleh Milly. Gadis bermata bulat itu justru tersenyum getir. Sementara hatinya diliputi rasa bersalah yang teramat. Merasa tak mampu mewujudkan harapan sang mertua rasanya terlalu mustahil, mengingat pernikahannya dengan Billy bukan karena dilandasi rasa cinta. Namun lebih tepatnya cinta bertepuk sebelah tangan.


"Kalian habiskan es krim nya ya, Ibu mau ke belakang dulu untuk mengambil buah." ucap Ratih sebelum kemudian bangkit dari duduknya.


"Mau ku temani?" Malik menawarkan diri selagi dirinya meraih dan menggenggam pergelangan tangan istrinya.


Menoleh cepat dan menatap suaminya, senyuman Ratih pun melebar. Tubuh wanita paruh baya itu pun setengah membungkuk lantas mencubit gemas pipi suaminya. "Kau memang suamiku yang paling baik hati dan menawan, Sayang. Uuunnnch ,,, terima kasih Suamiku." pujinya dengan nada gemas nan menggoda.


Pasangan paruh baya itu lantas bergandengan mesra meninggalkan ruangan, dan kini hanya menyisakan dua pasang muda mudi yang memiliki kisah cinta yang sangat kontras.


"Es krim buatan Ibu enak kan Mill?"


Pertanyaan Mayang yang berada di sisi kanan Milly mau tak mau membuat Milly yang semula duduk membelakangi Billy pun beringsut, dan memutar posisi menghadap pada tiga orang yang berada di sana. Dengan seulas senyum rikuh, ia pun mengangguk mengiyakan. "Iya, ini enak sekali." Jawabnya kemudian.


"Ibu memang jago bikin makanan enak. Tidak seperti aku yang hanya jago makan." Mayang terkekeh selagi berbicara. "Aku saja langsung gendut dibuatnya. Benar kan Sayang," tuturnya sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah Brian, seolah meminta persetujuan pada suaminya.


Tak menjawab sang istri dengan kata-kata, Brian yang tampak asik merangkul dan membelai-belai kepala istrinya itu hanya tersenyum sambil mengedipkan mata dengan genit sebagai jawabannya.


"Ibu benar-benar wanita hebat, aku kagum padanya walaupun ini kali pertama kami bertemu." Menjawab sambil menunduk, entah mengapa Milly merasa malu jika harus berlama-lama menyaksikan adegan romantis itu di depan mata. Rasa penasaran pun begitu menggelitik hatinya untuk melirik sang suami yang duduk di sampingnya untuk melihat bagaimanakah reaksinya menyaksikan adegan itu. Namun batin Milly pun dibuat keheranan saat melihat reaksi biasa saja yang lelaki itu tunjukkan.


Sedetik kemudian ia pun segera membuang muka, sebelum sang suami menyadari jika dirinya tengah memperhatikan nya.


Berusaha bersikap acuh pada lelaki yang duduk di sampingnya, Milly tetap melanjutkan aktifitasnya menikmati es krim lezat itu. Kapan lagi makan es krim seenak ini coba. Batinnya dalam hati.


Merasa ada yang mengawasi, mendadak Milly pun menghentikan kegiatan yang tengah menyuapkan sendok es krim itu ke mulutnya. Dan benar saja, saat ia menggerakkan ekor mata dan melirik ke sebelahnya. Astaga, sejak kapan diangeliatin aku kayak gitu? Ya ampun pak, jangan liatin aja napa? Kan sayanya jadi malu.


Malu, mendadak tubuh Milly terasa seperti membeku, dingin seperti es krim buatan sang mertua yang sedang ia nikmati saat ini. Tak bisa berkata-kata saat kedua netranya bertemu dengan netra tajam milik suaminya.


Entah sejak kapan Billy memperhatikan Milly yang terlihat asik sendiri, hingga tak peduli dengan orang di sekitarnya, bahkan sang suami yang duduk di sampingnya sendiri. Atau mungkin dia memang sengaja bersikap tak peduli?


Terlihat kesal, Billy menatap sang istri dengan sorot tajam, sementara tubuhnya bersandar santai dengan kedua tangan bersedekap dada.


Sementara Milly yang masih tak mengerti, hanya bisa menatap suaminya dengan pandangan penuh tanda tanya. Grogi, hingga tanpa sadar giginya pun menggigit sendok kecil yang masih nyempil di celah bibirnya yang terkatup rapat. Karena panik, ia pun buru-buru menarik sendok itu dari mulutnya. Ya ampun ini otak, ampe lupa kalau sendok masih nyempil di mulut. Malunya bukan lagi tingkat dewa ini mah. Batinnya merutuki diri.


Bingung harus menanggapi bagaimana, Milly pun berinisiatif menanyakannya secara langsung untuk mengusir kecanggungan. Dari pada tersiksa dengan rasa penasaran bukan? Sebab melihat Mayang dan Brian yang sedang asik dengan dunia mereka berdua dan bersenda gurau begitu bahagia, sepertinya mereka tak akan mendengar jika dirinya berbicara dengan suara pelan.

__ADS_1


"Kenapa melihat saya seperti itu?" Tanya Milly heran sembari menatap Billy penuh rasa ingin tahu.


Tak bergeming, Billy tak berubah dari posisinya. Bahkan lelaki itu tampak enggan membuka suara untuk menjawabnya.


Karena semakin bingung, Milly pun memutar otak dan mencari inisiatif lain. "Mau es krim juga?" Celetuknya tiba-tiba tanpa berfikir panjang. Wanita yang semakin cantik dengan anting emas model panjang untung menghiasi telinganya itu lantas meraih cup lain dan menyodorkannya pada Billy untuk menunjukkan kesungguhannya. "Ini." Ucapnya dengan wajah polos tanpa dosa.


Tak mendapatkan respon, akhirnya Milly mengembalikan cup itu lagi ke tempat asalnya dengan mimik wajah sedikit kesal. Pria kalsibut ini maunya apa sih? Apa susahnya ngomong langsung, dia kan cuma irit bicara, bukannya bisu. Apa membuatku orang bertanya-tanya itu memang hobinya? Dia suka sekali melihatku merasa tersiksa. gerutunya kesal dalam hati.


Merasa jengah diawasi dalam kebisuan dengan tanda tanya besar, Milly pun memilih bertopang dagu dan mengabaikan. Namun pada saat jarinya tanpa sengaja menyentuh sudut bibirnya, ia pun merasa ada sesuatu di saba. Eh, apa ini yang basah? Mengernyit bingung, Milly lantas menyentuh sudut bibirnya untuk mencari tahu. Astaga, ini kan noda es krim. Batinnya dengan bola mata yang membulat sempurna. Jadi karena ini dia melotot tidak jelas seperti tadi?


Melempar pandangannya ke arah Billy yang tengah menunjukkan seringainya, Milly lantas tersenyum kecut menahan malu. Lalu tangannya segera meraih tisu sebelum akhirnya mengusapnya hingga bersih.


Pandangan Milly pun lagi-lagi tertuju pada sepasang suami-istri di hadapannya. Mereka tampak asik bergurau sembari si lelaki menyuapi es krim si perempuan.


"Kenapa hanya menyuapiku? Kau juga harus mencicipinya Sayang," Mayang menyendok es krim dari cup lalu menyodorkannya di bibir Brian. "A' Sayang, buka mulutmu."


"Hemmm," Brian menggeleng menolak suapan istrinya.


"Aaa tidak adil ...! Masa cuma aku yang makan ...!" protes Mayang dengan nada kesal, sementara tangannya masih berusaha menyuapi suaminya.


Bosan dengan upayanya menghindari suapan sang istri, Brian pun pada akhirnya menyerah. "Baiklah-baiklah, aku akan mencicipinya Sayang." ucap Brian dengan nada pasrah.


Dengan tiba-tiba tangan Brian bergerak menangkup kedua sisi pipi istrinya. Dengan tatapan sayu serta penuh kelembutan, Brian lantas menanamkan bibirnya pada bibir sang istri. Dengan leluasa dan tanpa canggung ia pun menyesapi nikmatnya bibir sang istri yang berpadu dengan sisa es krim itu dengan penuh hasrat yang melingkupinya hingga lama, tanpa mempedulikan perasaan sepasang mata yang membelalak tak percaya saat memperhatikan mereka.


Astaga, apa-apaan ini. Teganya mereka berciuman dihadapan gadis polos seperti aku. Ya Allah tolonglah hamba mu, ampuni dosaku. Kepolosanku ternodai Ya Allah.


Melihat adegan intim itu tersaji di depan mata tanpa ia duga, pipi Milly memerah seketika membayangkan panasnya ciuman yang terjadi antara Brian bersama Mayang. Tak sanggup melihatnya lebih lama, ia pun segera meraih bantal kursi yang berada di sisinya dan kemudian ia gunakan untuk menutupi wajahnya.


Sedang sibuk menata hati dan pikiran dalam upaya bersembunyi nya, Milly lagi-lagi di buat malu saat pandangannya bertemu dengan Billy yang tampak santai sambil menunjukkan seringai nakal Di bibirnya. Terlihat sekali dia tengah menikmati reaksi Milly yang tampak kalang kabut oleh ulah Brian.


Ini juga, bisa-bisanya dia biasa saja menyaksikan adegan semacam ini di depan mata. Dan itu seringainya, dia benar-benar sedang mencemoohku. Awas saja dia ya, tunggu pembalasanku. Ya Allah, apa hanya aku yang merasa kegerahan saat ini. Hareudang euy ...


Segera bangkit dari duduknya, Milly pun lantas setengah membungkukkan tubuhnya dengan sopan. "Maaf, saya mau permisi sebentar." tanpa menunggu jawaban, Milly pun segera beranjak pergi membawa tubuhnya yang gemetaran menuju ke arah dapur dengan perasaan yang campur aduk dan jantung yang berdebar sangat kencang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2