
"Ehemm," Mayang berdehem kencang untuk menyadarkan Alex dari lamunan. Berhasil, lelaki itu mengerjap kaget menatapnya. "Bisakah, kau lepaskan aku?" tanyanya kemudian seolah tengah memohon namun dengan nada tegas.
"Oh, maaf." Alex melepaskan rengkuhannya usai membantu Mayang berdiri tegak. "Sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak bermaksud memanfaatkan momen ini untuk menyentuh tubuhmu, tapi aku hanya refleks berusaha menahan tubuhmu supaya tidak terjatuh, itu saja. Kuharap kau mengerti," jelasnya kemudian dengan sikap ramah penuh sesal seolah tengah memohon pengertian.
"Iya, aku tahu. Aku yang salah karena tidak berhati-hati dan ceroboh," balas Mayang sambil menyunggingkan senyuman masam di bibirnya. Namun ia tetap menundukkan kepala seolah enggan menatap lelaki di depannya.
Untuk sesaat keduanya tampak kikuk dan salah tingkah, hingga kemudian Mayang berucap usai berusaha berpikir keras mencari pengalihan pembicaraan.
"Alex," panggilnya pelan yang langsung dibalas tatapan begitu antusias dari lelaki yang dipanggilnya itu. "Bagaimana kalau kita makan saja?" tanyanya dengan bibir mencebik manja. Lantas dengan ekor matanya Mayang melirik ke arah meja penuh hidangan itu. "Perutku sudah sangat lapar ,,," rengeknya kemudian.
Untuk yang ke sekian kalinya pula Alex tertawa gemas melihat ekspresi polos Mayang yang manja. Ia pun segera mempersilakan Mayang untuk duduk kembali dan tak lupa pula ia duduk di sisinya dengan tujuan untuk melayani.
"Kau ingin makan apa, Sayang?" tanya Alex dengan nada begitu bersemangat.
Mayang diam sejenak selagi mengamati hidangan yang tersaji di depannya. Ada begitu banyak jenis makanan tersaji di atas meja berbentuk bundar itu. Semuanya juga terlihat lezat.
Namun Mayang ingin makan sesuatu yang membuat penampilannya terlihat kacau dan kotor karena belepotan. Ia sama sekali tak ingin terlihat cantik di hadapan Alex. Bila perlu membuat lelaki itu menyesal karena telah membawanya memasuki ranah pribadinya.
Mata Mayang berbinar senang kala pandangannya bersirobok pada hidangan yang berada di atas piring besar berbentuk persegi dengan daun selada beserta teman-temannya menghias indah di di sana. Hidangan ayam utuh berwarna coklat kehitaman dengan banyak bumbu yang melekat pada bagian luarnya.
Warna coklat kehitamannya itu dihasilkan dari proses pemasakannya yang dilakukan dengan cara dipanggang, sehingga menimbulkan sensasi gosong dengan aroma yang menggugah selera.
__ADS_1
Sepertinya ayam panggang ini cocok untuk kujadikan alat agar dia risih melihatku. Kalau perlu segera mendepakku keluar dari tempat asing ini, pikir Mayang dalam hati saat menatap hidangan itu.
Tanpa Mayang sadari, rupanya mata Alex tertuju mengikuti arah pandangan. Lelaki itu tersenyum lembut, seolah memahami jika wanita di dekatnya itu begitu menginginkan makanan itu, sebab hal itu terlihat dari binar mata Mayang yang terlihat berseri-seri kala menatap ayam panggang itu.
"Kau ingin makan itu?" pertanyaan Alex membuat Mayang terperanjat. Wanita bersurai panjang itu terkejut saat Alex menyadarkannya dari lamunan.
Spontan Mayang menoleh ke arah Alex yang saat itu juga tengah menatapnya. "Iya, aku ingin mencicipi itu. Sepertinya enak," jawabnya seraya membalas senyuman lelaki di sampingnya.
"Biar kuambilkan." Alex mengulurkan tangannya untuk meraih piring itu dan menariknya agar lebih dekat. "Kau suka bagian apa? Biar aku potongkan sekalian," ujarnya ketika pisau makan serta garpu sudah berada di tangan.
"Ah tidak, tidak. Kau tidak perlu melayaniku seperti itu," Mayang berusaha menahan saat Alex hendak memotong bagian paha ayam itu.
"Kenapa Sayang?" tanya Alex heran dengan kening yang berkerut. "Kau tak perlu merasa sungkan seperti itu. Kalau perlu aku akan menyuapimu."
"Apa?" tanya Alex cepat dengan ekspresi terperangah.
"Iya, aku ingin menghabiskannya," ulang Mayang. Tanpa ragu dan malu, ia lantas menyuil ayam itu di bagian paha dengan dua tangannya, mengabaikan tatapan Alex yang seolah tak percaya terhadapnya. Digigitnya langsung daging ayam empuk itu. Bahkan ia begitu lahap menyantapnya dengan ekspresi penuh penghayatan. Kita lihat saja, apa kau masih berpikir untuk tetap mempertahankan wanita yang makannya rakus di istanamu ini?
Sungguh di luar dugaan Mayang. Alex yang semula tercengang menatap Mayang dengan penuh keheranan, kini mendadak melembut melihat wanita yang menjadi obsesinya itu terlihat begitu senang hanya karena makan ayam.
Ia terkekeh gemas sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Sepasang netranya justru semakin memancar penuh dahaga. Bukannya ilfil, namun ia justru semakin menggebu-gebu untuk memiliki wanita itu.
__ADS_1
Alex memutar posisi duduk tepat menghadap Mayang lantas memangku satu kakinya. Sambil tersenyum, ia bertopang dagu saat menikmati mimik lucu wajah Mayang yang sedang makan itu.
"Mayang, apa kau tahu?" tanya Alex pelan.
"Ya," jawab Mayang tanpa menoleh, karena begitu asik menikmati makanannya.
"Tadinya aku sempat berpikir bahwa kau adalah Lena."
"Kau menyamakan diriku dengan istri suamiku yang telah tiada itu?" Mayang berdecak saat menghentikan makannya, menatap Alex dengan ekspresi meremehkan. "Tentu saja kami berbeda. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dia," tuturnya dengan nada acuh, lantas kembali melanjutkan makannya.
"Ternyata kau lebih segalanya dibanding Lena," sahut Alex cepat.
Mayang memutar bola matanya malas. "Tolong jangan mengatakan itu saat aku makan. Selera makan ku mendadak hilang karena aku tiba-tiba merasa mual dan ingin muntah," terangnya
Alex tertawa geli mendengar perkataan Mayang. Lelaki dengan pipi masih membekas cakaran Mayang itu lantas menusuk sepotong kecil daging steak dengan sendok garpu. "Apa kau pikir aku membual?" tanyanya sambil menyuapkan daging itu pada mulut Mayang yang sedikit Ternganga.
Gelagapan, Mayang yang tak menyangka akan mendapat suapan dari Alexpun mau tak mau mengunyah makanan yang sudah terlanjur masuk ke mulutnya. "Mana ku tahu!" jawabnya ketus sambil menyentuh kembali ayam panggangnya dengan tangan yang belepotan bumbu. "Mengenalmu saja tidak pernah, jadi untuk apa aku mempedulikan perkataanmu itu bualan atau tidak. Yang jelas aku hanya ingin cepat keluar dari sini. Aku yakin Tuan Brian yang terhormat itu sudah pasti akan mencariku sampai ketemu. Dan kau," Mayang menatap Alex penuh ancaman sambil mengacungkan tulang paha ayam di tangannya ke depan wajah pria itu.
"Hemm," Alex mengerlingkan matanya penuh antusias, seolah begitu bersemangat menunggu perkataan Mayang selanjutnya.
"Kau pasti akan dibantai habis-habisan olehnya karena telah berani menculik tawanannya."
__ADS_1
"Akan kupastikan dia akan habis di tanganku jika dia sampai berani menyentuh tawananku." Alex mendesis penuh ancaman saat mendekatkan bibirnya pada telinga Mayang.
Bersambung