
Brian telah siap dengan penampilannya yang rapi seperti biasa. Ia menatap dirinya dari pantulan cermin besar di ruang ganti pakaian. Bekas lebam di wajahnya pun sudah memudar dan hanya terlihat samar oleh perawatan yang ia lakukan sendiri.
Ia mengayunkan kakinya melangkah dengan penuh semangat untuk misi selanjutnya demi menyongsong kebahagiaannya. Mengendarai mobilnya yang tak pernah ia pakai saat bersama istrinya menuju tempat dimana dia akan menjemput seseorang.
Karla telah berdiri di teras rumah begitu Brian sampai. Dengan penampilan penampilan terbaiknya gadis itu terlihat cantik mengenakan mini dres berwarna hitam. Wajah putih merona dengan bibirnya yang berwarna merah jambu nan menggoda.
Brian mengeluarkan kepalanya dari dalam saat kaca mobil terbuka. Menyapa gadis yang tengah menunggunya itu sembari tersenyum hangat, layaknya seorang kekasih kepada wanitanya.
Karla berlari kecil mengitari mobil menuju sisi lain di kursi penumpang lalu ia masuk dan duduk disana. Brian menyambutnya dengan senyuman sebelum menjalankan kembali mobilnya menuju tempat yang telah oa reservasi sebelumnya. Sebuah tempat yang nyaman untuk menjalankan aksinya.
Karla bergelayut manja di lengan Brian saat berjalan menuju ruangan VIP di restoran do hotel milik keluarga Brian. Melalui lorong khusus untuk menuju kesana tanpa dilihat oleh pengunjung lain.
Mereka memesan menu yang sama setelah pelayan mempersilakan pada mereka tempat yang telah di sediakan. Karla tampak bahagia saat itu. Ia merasa seperti wanita yang sabgat beruntung yang pada akhirnya akan memiliki Brian seutuhnya.
Rasa bangga tampak jelas di wajahnya manakala ia di perlakukan sangat baik oleh para pelayan di hotel milik lelaki yang ia dambakan itu. Hal ini sudah menunjukkan sebagai bukti bahwa dia adalah wanita spesial bagi lelaki di hadapannya itu.
"Emm Brian ,,," panggil Karla pelan pada Brian yang tengah asik dengan ponselnya.
"Iya," sahut Brian tanpa menoleh.
"Aku ingin menyiapkan sendiri makanan untuk kita, kau pasti suka."
Seketika Brian mendongak menatap Karla dengan senyum nya yang terkembang. "Aku pasti suka dengan apapun yang kau siapkan sendiri dengan tanganmu. Pergilah, dan siapkan semua yang enak untukku." Ucap nya setengah menyuruh. Memberikan izin sepenuhnya pada Karla untuk melakukan yang ingin gadis itu lakukan.
"Aku tinggal sebentar ya, tidak akan lama kok." Gadis itu bangkit dari tempatnya duduk lantas melangkahkan kakinya dengan anggun menuju pintu.
Brian mengawasi gadis yang masih menebar senyum padanya itu dengan tatapannya yang hangat penuh kekaguman sembari menyandarkan tubuhnya dengan santai pada sandaran kursi. Pandangan yang menunjukkan cinta secara gamblang seolah ingin memiliki gadis itu seutuhnya.
Namun di detik lain, tatapan itu berubah menjadi tatapan yang di penuh rasa benci yang teramat begitu gadis itu menghilang di balik pintu. Tatapan yang menyiratkan begitu jijik nya ia pada gadis bermuka dua itu.
Wanita yang bahkan Brian tak sudi meski di dunia ini hanya menyisakan gadis itu saja untuknya. Kini bahkan ia harus berpura - pura cinta dan begitu mendambakan nya hanya untuk membuka kedok kebusukan nya.
Meski pengorbanan nya ini harus ua bayar mahal dengan rasa benci yang ia terima dari istri tercinta dan juga keluarganya. Andai ia bisa memutar waktu, Brian tak akan menggunakan cara ini untuk melakukan nya.
Setelah beberapa lama menunggu, Brian pun kembali memasang topeng ramah penuh cinta saat gadis itu muncul dengan membawa beberapa hidangan dengan dibantu oleh beberapa orang pelayan.
Brian menggunakan tangannya untuk menyangga dagunya dengan siku bertumpu pada meja. Wajahnya yang ceria menyunggingkan senyum saat menatap Karla yang sudah duduk dengan senyum penuh percaya diri.
"Benar kau sendiri yang menyiapkan nya?" Brian menggoda Karla dengan sebuah pertanyaan yang setengah meremehkan. Namun ia mengucapkannya dengan tersenyum sehingga tidak membuat gadis itu merasa tersinggung.
__ADS_1
"Tentu saja aku yang menyiapkannya." Jawab Karla dengan wajah yang cemberut yang ia buat semenggemas kan mungkin sehingga memancing Brian untuk tertawa.
"Baiklah, aku percaya." Ucap Brian sembari menggerakkan tangannya untuk mengambil sendok yang telah tertata dengan rapi. Ia mengambil makanan yang telah tersaji di piringnya lalu menyodorkan nya di bibir Karla. Gadis itu tampak terbelalak terkejut sembari mengatupkan bibirnya dengan rapat.
"Cicipi dulu hasil masakan mu," ucapnya agar Karla membuka mulutnya.
"Brian, untukmu saja ya...," Karla memberi alasan sembari mendorong pelan sendok makan itu menjauh dari bibirnya. "Kita makan masing - masing saja." Karla lantas mengambil sendok serta garpu dan hendak menyantap makanannya.
"Karla, apa kau bisa mengambilkan buah segar untukku? Aku tidak terbiasa makan tanpa memakan buah segar setelahnya." Ucap Brian setelah menaruh sendok makannya kembali ke piring.
"Tentu, aku akan segera mengambilnya untukmu." Karla segera bangkit dan melangkah cepat meninggalkan tempat itu. Karla tampak bernafas lega setelahnya keluar dari sana.
Ia hampir saja menyantap makanan yang didalamnya terkandung obat - obatan berbahaya yang telah ia masukkan sendiri kedalamnya. Beruntung ia masih bisa menolak nya meski sedikit menyesal karena menampik suapan dari Brian.
Jantungnya yang sempat berdebar tak menyangka Brian akan bersikap lembut padanya secepat itu. Wanita mana yang mampu menolak lelaki kaya dengan sejuta pesona nya itu?
Karla bergegas menuju dapur di restoran itu dan meminta para koki untuk segera menyiapkan apa yang Brian minta. Setelah siap, ia pun cepat - cepat membawakan pesanan Brian itu.
Seringai Karla muncul saat dilihatnya piring Brian yang isinya telah tandas tanpa sisa. Begitu pula minumannya. Ia lantas duduk di kursinya setelah meletakkan piring berisi potongan buah segar itu di hadapan Brian.
"Maaf, aku terlalu lapar. Jadi aku menghabiskan dulu makanan ku." Brian pura - pura tersipu malu.
"Tak apa." Karla tersenyum. "Apa kau mau lagi?" Tawarnya sungguh - sungguh sembari menggeser piringnya.
Gadis itu tersenyum simpul sebelum akhirnya dengan senang hati mau membuka mulutnya. Karla tampak memakannya dengan lahap makanan dari suapan Brian hingga habis tanpa sisa. Brian menyodorkan gelas minum Karla saat gadis itu telah selesai dengan makanannya.
"Terimakasih telah menyuapi ku. Ternyata makan dari suapan orang yang kita cintai itu rasanya benar - benar nikmat." Ucap Karla sembari menatap Brian hangat.
Lalu seketika pandangannya terarah pada bekas luka lebam di wajah Brian. "Brian, ada apa dengan wajahmu?" Tanyanya dengan wajah panik.
"Tak apa, ini hanya luka kecil. Ayah menghajar ku karena aku lebih memilih mu. Tapi aku rela. Demi kau." Brian berucap dengan tenang agar Karla dapat mendengar dengan jelas ucapannya.
Tatapannya pun begitu hangat pada Karla hingga membuat gadis itu itu serasa melayang di buatnya. Karla benar - benar tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat ini. Senyum bahagia tampak menghiasi wajahnya.
Namun beberapa saat kemudian gadis itu tampak memijat - mijat pelipis nya sembari menunduk. Fan sesekali ia pun mengerjapkan matanya.
"Karla, kau kenapa?" Brian bertanya dengan wajah yang memperlihatkan kekahawatiran.
"Aku tak apa Brian, hanya sedikit pusing." Karla mendongak lalu menatap Brian. Namun tatapannya kali ini terlihat lain. Ia terlihat tengah melebarkan matanya sembari mengerjap sesekali.
__ADS_1
"Brian, kenapa kau jadi dua?!" Karla berkali - kali mengucek matanya. Lalu kembali menatap Brian untuk meyakinkan dirinya lagi. "Iya benar, kau jadi dua!" teriak Karla dengan sangat antusias.
"Kau suka kalau aku jadi dua?" Brian mencondongkan tubuhnya lebih mendekat pada Karla.
"Tentu saja! Apa lagi kalau aku bisa mendapatkan keduanya. Dua Brian yang tampan dan kaya raya! Hahaha!" Karla tertawa. "Satu saja sudah membuatku kaya raya ya kan ..., apalagi dua!" Karla kembali tertawa hanya karena sesuatu yang tak lucu.
Bicaranya pun menjadi tak nyambung dan tak tentu arah. Namun hal itu justru memberi keuntungan bagi Brian. Disaat itu lah Brian memanfaatkan keadaan Karla dengan sebaik - baiknya.
* * *
Brian tampak berjalan keluar dari restoran itu dengan wajah merona bahagia. Ia merasakan kepuasan yang sesungguhnya setelah melewati penantian panjang nan sangat melelahkan. Lelah tubuh lelah hati dan lelah fikiran.
Tapi kini ia tak dapat menutupi rasa bahagianya karena telah mendapatkan apa yang ia mau. Dan membuatnya tak henti melafalkan ucapan syukur didalam hatinya.
Brian melajukan mobilnya dengan tak sabaran menuju kediaman orang tuanya dengan pengharapan dapat membawa kembali sang istri pulang bersamanya.
Suara rem yang berdecit nyaring saat mobilnya berhenti di halaman rumah orang tuanya. Brian segera turun dan bergegas untuk masuk ke dalam. Brian memeriksa ke seluruh tempat favorit Mayang di rumah itu, namun ia belum juga menemukan keberadaan istrinya disana.
Brian lantas bertanya pada seorang pelayan yang tampak muncul dari arah belakang rumah mengenai keberadaan istrinya.
"Sedang ayunan di taman belakang Tuan," jawab pelayan itu sopan sembari menunduk.
Brian menipiskan bibirnya mendengar jawaban pelayan itu. Tanpa aba - aba ia pun segera mengayunkan langkahnya dengan tergesa menuju taman belakang. Dan benar saja, ia mendapati istrinya tengah terbaring dengan posisi miring di ayunan rotan sintetis dengan kasur dan bantal yang empuk di sana.
Langkah Brian terhenti dan tubuhnya memaku menatap sang istri di sana. Matanya tampak terpejam rapat dalam tidur nyenyaknya yang nyaman. Rambutnya yang hitam dan panjang menjuntai ke bawah, bergerak seperti melambai saat di terpa angin yang semilir dan menyejukkannya.
Brian sudah tak tahan ingin merangkul memeluk dan mencium wanita yang sangat ia rindu kan itu dan mengucapkan beribu kata maaf dan sanjungan padanya. Ingin mengatakan betapa dia sangat mencintainya fan melepaskan semua kerinduan yang membuncah di hatinya.
Brian sudah akan melangkah mendekat, namun kaki yang baru akan mengayun itu pun terhenti oleh tangan nya yang tiba - tiba ditarik oleh seseorang dari belakang.
"Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Ratih sembari menarik Brian agar menjauh dari tempat itu.
"Ibu, aku ingin menemui istriku dan menjemputnya untuk pulang...." Brian berucap seolah tak terjadi apa - apa sebelumnya.
Ratih tampak berdecak lalu tersenyum penuh ironi. "Mudah sekali kau bilang ingin menjemput, kau lupa dengan semua kekacauan yang telah kau timbulkan?!" tanya Ratih setengah menyentak. Suaranya keras melengking membuat seseorang yang tadinya sedang tertidur pulas pun terusik hingga terbangun.
Malik pun tampak datang dan mendekat setelah mendengar suara nyaring oleh teriakan istrinya itu. Namun kepanikan Malik berubah menjadi kemarahan begitu tahu Brian lah yang datang dan menimbulkan keributan.
"Untuk apa lagi kau datang?!" tanya Malik dengan memperlihatkan wajah kekecewaannya pada putera semata wayang nya. "Lebih baik kau pergi dari sini! Dan jangan harap ayah menerima mu sebelum kau membereskan kekacauan yang telah kau timbulkan! Cepat pergi!" Usir Malik sembari menuding kan tangan nya ke arah keluar.
__ADS_1
"Ibu...," Panggil Mayang yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu. Tangannya tampak berpegangan pada bingkai pintu kaca yang terbuka sisi sebelahnya. Matanya tampak berkaca - kaca saat menatap tiga orang yang sedang bersitegang itu bergantian.
Bersambung.