
Mayang terkejut karena yang terjadi di luar dugaannya. Bukannya marah, Brian justru bertekuk lutut di hadapannya hingga ia merasa salah tingkah. Brian mendongak menatap lekat manik mata istrinya yang duduk di sofa itu dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Sayang, aku mohon pulanglah bersamaku," lirihnya sembari menggenggam jemari Mayang erat.
Bukannya melunak, justru Mayang malah menunjukkan keangkuhannya dengan memalingkan wajahnya dari suaminya sembari mendengus.
"Aku tidak mau. Aku betah berada disini," jawabnya dingin sambil mengempeskan tangan Brian.
"Sayang kumohon." Brian masih berusaha.
"Jangan lagi panggil aku sayang. Aku sudah muak." Desis Mayang membuat Brian bergeming. Lelaki itu meraih dagu Mayang agar mata mereka saling beradu.
"Ku mohon jangan katakan itu." Brian menggeleng tak terima.
"Lalu aku harus bicara apa?!" Mayang berteriak mengerahkan seluruh keberaniannya. "Memanggilmu sayang dengan mesra seperti beberapa waktu lalu begitu?! Menerimamu lagi dengan lapang dada setelah kau menyakitiku seenaknya? Asal kau tau, Brian, aku tak sebaik itu!" Mayang menatap Brian dengan mata berkaca - kaca.
"Aku hanyalah wanita biasa. Aku tak memiliki hati seluas samudera dan perasaan setegar karang. Cintaku juga tidak sebesar gunung kepadamu. Aku punya batas kesabaran!" Bulir bening mulai menetes dari sudut Mata Mayang saat merasakan sesak di dalam dadanya. Namun Mayang mengusapnya kasar seolah tak ingin orang lain melihat kerapuhan hatinya.
Brian hanya diam sembari mendengarkan. Ia membiarkan wanitanya meluapkan segala kekesalan. Ia akan terima walaupun Mayang akan memukul, memaki bahkan menghujat sekalipun ia rela.
"Kau pikir hatiku terbuat dari batu! Yang tak akan bisa terluka saat kau coba menggores nya? Kau tidak sadar kalau batu yang kau empaskan dengan sengaja itu hancur berkeping - keping di belakangmu! Kau tidak tau, kan!"
Dengan cepat tangan Brian bergerak menangkup kedua sisi pipi Mayang lalu membenamkan bibirnya di bibir sang istri.
Membungkam bibir wanita itu dengan ciumannya yang lembut penuh hasrat serta mengabaikan keberadaan Billy yang berada satu ruangan bersama mereka.
Untuk beberapa detik bibir pasangan suami istri yang tampak berlinang air mata itu saling berpagut, namun di detik lain Mayang berusaha keras mendorong tubuh Brian sekuat tenaga menolak keras ciuman itu.
"Lepaskan!" Mayang setengah mengerang saat memberontak karena Brian merangkul tubuh Mayang kedalam pelukannya yang erat. Mayang terengah karena tak berhasil dalam usahanya.
"Pergi kau dari sini, aku benci ...!" pekik Mayang lagi dalam usaha terakhirnya untuk melepaskan diri namun sia-sia. Dan pada akhirnya ia pun menangis tersedu sembari menyandarkan dagunya pasrah di pundak Brian.
"Sayang kumohon, pulanglah bersamaku." Lagi-lagi Brian memohon dan seketika itu juga Mayang ingin berontak. Entah mendapatkan kekuatan dari mana, hingga ia berhasil mendorong tubuh Brian dan melepaskan diri dari lelaki itu.
Mayang segera berlari dan berlindung di balik tubuh Billy dan membuat lelaki itu salah tingkah. Namun Billy tak bisa berbuat banyak karena tangan Mayang mencengkeram erat lengan kemeja jeansnya.
Brian beranjak dari tempatnya, melangkah mendekati Billy dan Mayang yang masih tetap berada di belakang Billy. Menjadikan lelaki itu tamengnya, agar ia tak terjamah oleh Brian.
"Sayang," panggil Brian lagi.
"Pergi!" Pekik Mayang mengusir Brian. "Pergilah kau dengan Karla dan tinggalkan aku disini bersama Billy! Apa kau tau, jika aku dan Billy saling mencintai?" Dusta Mayang tanpa menatap lawan bicaranya.
Billy sontak mendelik mendengar penuturan Mayang barusan. Kenapa aku di bawa-bawa!
Billy membalas tatapan tajam Brian padanya. Ia memposisikan dirinya netral dan tak memihak pada siapapun di antara salah satu pasangan suami istri ini.
Brian sendiri semakin mendekat pada dua orang yang saling berhimpitan itu. Brian mengamati keduanya seperti sedang mengira-ngira, lantas dengan gerakan cepat ia berhasil mendorong tubuh Billy dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya berhasil mendapatkan lengan istrinya.
"Ayo kita pulang sekarang." Brian menarik paksa lengan Mayang menuju pintu keluar dan mengabaikan istrinya yang berontak.
__ADS_1
"Aku tidak mau, lepaskan aku!" Mayang berusaha keras melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Brian walau itu sia-sia.
Lantas ia menoleh pada Billy yang hanya diam terpaku di tempatnya. "Billy tolong aku, aku tidak mau ikut bersamanya!" Teriakan yang dibarengi dengan tangisan Mayang yang mengiba terdengar pilu dan menyayat hati.
"Kau istriku, maka diam dan patuhlah terhadapku!" Brian menarik tangan Mayang dengan kasar, menyudutkan istrinya itu pada tembok di belakang tubuhnya. "Ku mohon, jangan buat aku menyakitimu lagi ...," lirih Brian dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Diraihnya pergelangan tangan Mayang yang memerah akibat cengkeramannya itu secara perlahan, lalu menbenamkan bibirnya di punggung tangan serta pergegelangan itu. Menghadiahkan kecupan lembut disana.
Saat menempelkan punggung tangan itu di sisi pipinya, mata Brian terpejam untuk beberapa saat, meresapi kehangatan yang Mayang hantarkan melalui jemarinya.
"Kumohon pulanglah bersamaku, kita bicarakan ini di rumah."
Mayang hanya bisa tertunduk saat Brian menatapnya lekat. Berusaha menyembunyikan air mata yang tak mampu lagi ia bendung hingga berjatuhan dengan bebas membentur lantai.
Brian meraih dagu Mayang agar wanitanya itu mendongak menatapnya. Dikecupnya mata basah istrinya itu berulang-ulang. Menjalar ke bagian pipi dimana air mata tak luput membasahinya. Didekapnya erat tubuh kaku yang seolah ingin menolak namun tak ada keberanian itu.
Tuan, mengapa kau memilih jalan yang rumit ini untuk kau tempuh?
Billy tak bisa berbuat apapun karena itu bukan ranahnya untuk ikut campur. Tapi Billy tetap mengawasi mereka untuk memastikan semuanya dalam keadaan baik-baik saja.
Mayang hanya bisa pasrah saat Brian merangkul pinggangnya dan membawanya menuju basement apartemen itu.
Namun belum sampai mereka mendekati mobil Brian, seorang lelaki paruh baya tampak keluar dari mobil yang sepertinya sudah menunggu mereka sejak tadi. Dan beberapa orang pengawal tampak mengikutinya di belakang serta beberapa asisten rumah tangga wanita.
Brian dan Mayang tampak kaget melihat lelaki itu mendekat. Ekspresi wajah yang tak bersahabat seperti dilingkupi aura gelap itu menunjukkan dengan jelas jika ia datang dengan membawa sinyal negatif.
Lelaki yang bahkan tak pernah menunjukkan kemarahannya secara gamblang itu kini seolah sedang menunjukkan kemurkaannya yang teramat sangat pada sosok lelaki yang sedang ia tatap dengan sorot mata tajam yang siap membunuh.
Tanpa peringatan, pria itu merebut Mayang dari rengkuh Brian dengan gerakan gesit tapi tidak menyakiti.
"Bawa Mayang pulang!" titahnya tanpa
mengalihkan pandangan dari Brian. Namun, seperti sudah terlatih hingga ahli, beberapa asisten rumah tangga yang sengaja ia bawa segera melangkah dan memaksa Mayang untuk masuk ke sebuah mobil.
Namun Mayang seperti enggan dan tetap memilih bertahan sembari mengawasi kedua lelaki yang saling berhadapan dalam situasi yang tak mengenakkan. Muncul kekhawatiran di hati Mayang karena ia merasakan firasat hal buruk akan terjadi.
"Ayah, mau Ayah bawa kemana istriku?" Tanya Brian tak mengerti saat membuka percakapan dalam situasi menegangkan seperti ini.
"Istri kau bilang?!" Teriak Malik di hadapan wajah sang putra. "Suami macam apa kau!" teriaknya lagi sembari melayangkan kepalan tangannya yang kekar ke wajah Brian dengan sangat kuat dan membuat tubuh lelaki itu oleng ke samping. "Mana ada suami yang tega menelantarkan istrinya demi membela orang lain yang bersalah!!!"
Mayang yang melihat sendiri dengan matanya saat suami nya terluka terbelalak ngeri dengan pekikan tertahan. Jemarinya spontan menutup mulutnya yang ternganga dalam keterkejutannya.
Brian kembali mengangkat wajahnya dan menatap sang Ayah pasrah karena menyadari kesalahan yang ia perbuat. Pipi putih itu seketika memerah lebam dengan bercak merah pekat yang tampak muncul di sudut bibir seolah tak berarti apa - apa bagi Brian.
Ia memasang tubuhnya seolah pasrah menerima hukuman yang akan di berikan sang Ayah karena kesalahannya. Dan begitupun Malik yang seolah belum puas, kembali melayangkan pukulannya lagi di sisi lain wajah Brian.
"Apa kau pernah melihatku memperlakukan Ibu mu seperti itu?!" Tanya Malik dengan teriakan saat pria itu berhasil menyudutkan putranya membentur tembok basement yang keras. Kedua tangannya mencengkeram kuat kerah jas yang Brian kenakan.
"Aku tak pernah mengajari hal buruk padamu, tapi kenapa kau lakukan ini?!!" Teriak Malik lagi sembari menghujamkan pukulannya pada perut lelaki yang terlihat tak bergeming itu.
__ADS_1
"Ayah cukup!" Teriak Mayang yang merasa tak tega saat melihat sang suami di hajar sebegitu rupa.
"Kau benar - benar telah mencoreng harga diri Ayah sebagai orang tua mu!! Dan melukai hati ibu kandung mu!! Dengan kau menyakiti hati istrimu!!" Malik kembali menghajar puteranya yang tampak pasrah dengan tanpa ampun dan mengabaikan teriakan Mayang yang menangis memohon untuk berhenti.
Malik menarik kerah jas Brian lalu mendorongnya kuat hingga Brian tersungkur dan tergeletak di lantai kotor otu dengan tubuh lunglai. Namun tak sedikit pun ia meringis bahkan merintih kesakitan. Ia benar - benar siap dengan apa yang akan ayahnya lakukan.
Billy yang tak bisa membiarkan ini berusaha menjadi penengah antara Ayah dan anak yang sedang dalam kesalah pahaman ini.
"Sudah cukup tmTuan besar! Tuan muda sudah tidak berdaya sekarang!" Billy menahan tubuh Malik yang sudah akan meninju puteranya lagi.
"Menyingkir kau Bill!" Malik melepaskan diri dari cengkeraman tangan Billy. "Hukuman ini masih belum cukup setimpal untuk dia!" teriak nya sembari melangkahkan kaki mendekati Brian.
Namun langkahnya terhenti saat kakinya hampir mencapai tubuh puteranya karena Mayang tiba - tiba bersimpuh memeluk kakinya untuk memohon dengan tangisan yang tersedu.
Mayang berhasil melepaskan diri dari cekalan para pelayan yang tampak kuat itu lalu berhambur berlari meraih kaki sang Mertua yang sudah akan menginjak perut suaminya.
Malik tak dapat berbuat apa - apa selain mengangkat bahu Mayang agar menantunya itu berdiri dan berhenti memohon.
"Kenapa kau lakukan ini?" Tanya Malik pada Mayang dengan suara iba menjurus pada pembelaan Mayang terhadap Brian yang telah dengan sengaja menyakitinya.
"Bagaimanapun juga dia suamiku ayah. Aku tak ingin siapapun menyakitinya." Jawab Mayang dengan derai airmata yang membuat Malik tersenyum sembari mengusap lembut puncak kepala Mayang.
"Kau memang istri yang baik." Ucap Malik dengan wajah haru. " Tak sepatutnya kau disakiti oleh lelaki kurabg ajar seperti dia." sambungnya lagi dengan menatap sengit ke arah Brian.
Mayang menoleh ke arah suaminya yang masih terbaring di lantai. Gadis itu lantas memutar tubuhnya dan menekuk lutut disamping tubuh Brian dan menatapnya tak tega.
Airmata nya jatuh seketika saat menyentuh wajah memar sang suami. Alih - alih merasa kesakitan, Brian malah tersenyum sembari meraih tangan sang istri dan mengecup nya lembut.
"Aku tak apa - apa." Ucap Brian mencoba menenangkan sang istri yang semakin tersedu dalam tangisnya.
"Ayo ikut ayah Mayang," Malik mencengkeram dua sisi bahu Mayang agar berdiri dan membawanya melangkah menjauhi Brian.
"Tapi suamiku terluka Ayah, aku harus merawatnya ...!" Tolak Mayang sembari mencoba melepaskan diri.
"Dia bisa menyembuhkan dirinya sendiri." Malik mengabaikan permintaan Mayang. Ia tetap membimbing menantunya untuk masuk kedalam mobil. Namun Mayang berusaha berontak dan ingin keluar.
"Diam di dalam mobil Mayang!" Perintah Malik setengah berteriak.
"Ayah izinkan aku bicara dengan suamiku sebentar saja Ayah, aku mohon..." Mayang menangkup kan kedua telapak tangannya dengan pandangan mata yang mengiba.
Malik terlihat menghela nafas dalam sebelum akhirnya mengizinkan. "Baik lah."
Mayang segera keluar dan berlari menghampiri Brian, bersimpuh disamping lelaki itu.
"Se cinta apapun dirimu terhadap Karla, aku mohon... Jangan makan atau minum apapun yang dia berikan padamu. Dia memiliki niat jahat padamu." Ucap Mayang tulus pada suaminya sebagai peringatan. Bagaimanapun bencinya dia, tapi rasa cinta nya ternyata lebih besar pada suami yang telah merebut seluruh isi hatinya.
Brian tersenyum haru mendengar ucapan Mayang sebagai bentuk kekhawatiran istrinya itu padanya. Ia mengangguk untuk meyakinkan pada sang istri bahwa dia akan mengingat ucapannya.
"Sudah cukup." Malik kembali menarik tubuh Mayang dan membawanya menuju ke mobil. Meski pasrah, namun Mayang tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sang suami hingga mobil yang membawanya pun pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Bersambung