Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Narsis jangan kebangetan


__ADS_3

Setengah merangkak, gadis yang permukaan kulitnya kini terlihat bentol-bentol dan memerah itu keluar dari persembunyiannya. Dengan tanganya yang membekap mulut, berusaha menahan muntah ia pun berdiri dengan wajah yang terlihat pucat. Bau tidak sedap yang menguar dari bak sampah itu berhasil membuat perutnya seperti di aduk-aduk dan tiba-tiba mual.


Menatap gadis yang wajahnya terlihat sangat kacau membuat pria bertubuh tegap itu menyeringai lebar. "Kau ini kenapa hah?! Mual? Ingin muntah?" Tanyanya kemudian dengan disertai tawa meledek.


Meneguk slavinanya dengan susah payah, Milly lantas mengerjapkan matanya yang tampak berkaca-kaca. Menatap lelaki di hadapannya itu sekilas sebelum ia kembali tertunduk malu. "Iya Pak," jawabnya kemudian dengan lemas. Tangannya pun bergerak mengusap perutnya pelan dengan posisi setengah membungkuk. "Nggak tau kenapa setiap lihat bapak bawaannya pengen muntah aja."


Billy membelalakkan mata seketika. Ucapan yang terlontar dari bibir mungil Milly sontak saja membuat lelaki itu kesal dan tak terima. "Sial! Kau pikir aku ini apa?! Apa aku terlihat seperti kotoran sehingga membuatmu mual, begitu! Benar-benar nggak ada ahlak ya!" Billy berdecak sambil menatap wanita itu dengan pupil mata yang mekebar.


"Eh bukan Pak, bukan begitu! Maksud saya bapak selalu berhasil mengaduk-aduk hati saya hingga membuat saya terasa mu--," Milly buru-buru membekap mulutnya.


Astaga, sudah menghapalkan kalimat gombalan begitu banyak tapi kenapa lupa pada saat mau di praktekkan. Habislah kau Milly, si Tuan tampan ini semakin marah padamu ,,,, batinnya kesal memaki diri sendiri.


"Kenapa berhenti?! Ayo teruskan!" Ucap lelaki yang tengah bersedekap dada itu sambil mengangkat dagunya dengan nada menantang. Membuat si gadis mati kutu yang tengah membekap mulutnya itu hanya bisa menggeleng cepat.


Pria dengan tinggi badan dua meter kotor itu setengah membungkukkan badannya, lantas mencondongkan wajahnya pada gadis yang tengah membulatkan matanya lebar-lebar.


Eh, apa ini? Kenapa jantungku mendadak berdebar tak karuan setiap kali berdekatan dengan pria tampan ini? Debarannya persis seperti saat Bu Ambar datang menagih uang kontrakan. Astaga,,, apa karena aku masih memiliki hutang yang banyak padanya ya? Milly membatin sembari menarik wajahnya mundur perlahan seiring wajah Billy yang mendekat. Entah mengapa Milly merasa pandangan Billy terasa berbeda saat terarah pada lehernya.


Deguban jantung yang semakin tak terkendali membuat pikiran liar Milly terhadap Billy pun semakin merajai. Gadis itu secepat kilat menutup wajahnya dengan dua telapak tangan seraya berucap. "Astaghfirullah Bapak, tobat Pak! Ini kampus. Jangan cium saya di sini Pak, malu sama para mahasiswa yang lagi pada lihatin kita ...!"


Ctakkk! Suara sentilan keras disusul pekikan kesakitan si gadis. "Bapak kenapa nyentil jidat saya?! Sakit tau Pak ...!" Keluh Milly sembari mengusap dahinya dengan mimik wajah menangis.


"Sadar woyyy! Khayalanmu terlalu tinggi." Tukas Billy seraya menggerakkan tangan ke arah leher Milly. Dan dengan sekali hentakan tangannya, ia berhasil menarik sesuatu yang menggantung di pakaian si gadis. "Nih, aku hanya ingin memastikan ini!"


Astaga, itu kan label harga baju ini! Ya ampun Milly, saking semangatnya mau pakai baju baru sampai lupa nyopot segelnya. Malu nya tingkat raja dong ...!" Batin Milly seraya menjitak dahinya sendiri. Aowww, sakit ,,,, Milly meringis saat dahinya terasa nyeri karena di jitak dua kali.


Billy menipiskan bibir usai melihat harga dres yang tertera pada labelnya, lalu terkekeh pelan saat pandangannya bergesar pada gadis yang sedang tertunduk malu di hadapannya itu.


Hahaha rasakan kau! Malu kan sekarang ,,, lihat aja pipinya. Merah kayak pantat bayi yang baru di tabok sama emaknya. Ya ampun ,,, lucu sekali dia .... Billy tergelak dalam hati.


"Ck ck ck, nggak pernah pakai baju baru ya, Neng? Baru beli baju harga segini saja mesti di pamerin gitu ,,,," ledeknya sembari menampol pipi si gadis dengan kertas label itu.


Sementara si gadis hanya bisa terdiam dengan bibir yang mengerucut. Tangannya bergerak meraih label baju yang menempel di pipinya. Dan akhirnya Milly meremas tanpa perasaan kertas kecil tak berdosa itu.


Terlintas sebuah ide di kepalanya, Billy lantas menggerak-gerakkan hudungnya seperti sedang mengendus-endus. "Kok aku merasa ada bau-bau kepiting rebus, ya? Tapi di mana?" Billy berpura-pura celingukan seperti sedang mencari-cari sesuatu.


"Ini pak, di wajah saya!" Ketus Milly sembari menunjuk wajahnya sendiri dengan telunjuknya. "Mirip seperti kepiting rebus, kan?!" Imbuhnya dengan penekanan. Sontak saja hal itu membuat Billy tergelak kencang.


Milly mendengkus sebal sambil mencebikkan bibir. "Puas Bapak menertawakan saya?! Silahkan tertawa sesuka Bapak, sebelum gadis imut di hadapan Bapak ini yang nantinya akan senantiasa melahirkan tawa di bibir Bapak."


"Apa?!" Tawa Billy semakin kencang. "Ya ampun Non, pagi-pagi sudah ngelawak saja." Billy pun menghentikan tawanya seketika. Lelaki itu Lantas menatap gadis yang tengah mendongak menatapnya itu penuh ancaman. "Ku peringatkan padamu untuk tidak bebuat melebihi batas terhadap saya jika tidak ingin hidupmu terancam." Desisnya pelan agar Milly mengerti maksud dari setiap ucapannya.


Jika orang lain yang mendengar ancaman ini, sudah dipastikan dia akan lari terbirit-birit jika kakinya masih kuat berlari, atau mungkin akan bertekuk lutut karena tak memiliki keberanian untuk berlari. Namun tidak dengan gadis satu ini.

__ADS_1


"Ehemm hemm ...!" Berdehem kecil, Milly lantas membuang muka mengalihkan pandangannya. Ia berusaha menghindari tatapan Billy yang entah mengapa selalu membuat jantungnya bergetar hebat.


Namun ternyata reaksi biasa sajanya itu berhasil membuat Billy megerutkan keningnya bingung.


Sebenarnya ini cewek makanannya apa sih? Nggak ada takut-takutnya sama sekali meskipun sudah di ancam begini. Dia bukan rombongan kuda lumping yang sukanya makan kaca kan???


Mendapatkan ide untuk melakukan pembalasan, Milly tampak sibuk memperhatikan keadaan sekitar seperti seorang penyidik, Ia lantas berucap. "Untung saja kampus ini masih baik-baik saja ya Pak, terjadi kerusakan sedikitpun." Milly menyunggingkan senyum saat pandangannya bertemu dengan lelaki yang tengah menatapnya bingung, hingga membentuk beberapa lapisan seperti burger daging yang pernah ia makan. Hemm jadi lapar.


"Lalu angin apa yang membawa Bapak sampai kemari?" Tanya gadis itu penuh percaya diri.


"Sial, kau pikir setiap kedatangan ku membawa angin topan, leysus, ****** beliung begitu?! Atau badai tornado saja sekalian! Biar kau puas!"


"Hahaha Bapak tau saja. Saya bahkan merasa terhisap oleh angin yang Bapak bawa hingga merasuk kedalam relung hati Bapak yang terdalam loh,"


Ucapan Milly seketika membuat Billy tersedak oleh liurnya sendiri. "Uhuk uhuk!"


Seketika Milly pun menepuk-tepuk pelan bahu Billy. "Astaga Bapak, pelan-pelan saja saat menghayati ucapan saya. Jadi tersedak gini kan karena terlalu menghayatinya." Milly terkekeh pelan.


"Sialan," umpat Billy kesal saat menatap Milly yang tengah tersenyum genit kepadanya. Tangannya mendadak terkepal kuat saat Billy berusaha mengendalikan amarahnya. "Jujur ya, saya terpaksa merendahkan harga diri saya dengan mencari kamu kemari hanya untuk membeli rujak buah kamu. Jadi sekarang cepat berikan pada saya sebelum kesabaran saya habis karena ulah kamu!"


"Oh jadi Bapak mau rujak buah? Tapi mohon maaf yang sebesar-besarnya ya Pak, rujak buah saya yang bagaikan bom itu, yang kalau dimakan langsung meledak di mulut itu sudah habis tak tersisa. Sepertinya anda belum beruntung Bapak, coba lagi besok pagi ya ,,,,"


"Apa?!" Billy yang berteriak histeris hanya ditanggapi santai oleh Milly.


"Kau tau, kalau sampai aku tak mendapatkan rujak buahmu bisa-bisa duniaku dengan bos ku benar-benar runtuh!"


"Hah?! Separah itu?! Apakah sedahsyat itu kah rujak saya hingga mengalahkan dahsyatnya badai tornado?!" Milly membelalak tak percaya.


Billy mendesah kasar saat melihat reaksi berlebihan yang Milly perlihatkan. Menggelangkan kepala heran, Billy lantas menggerakkan tangannya menonyol kepala Milly dengan telunjuknya. "Lebay." Tuturnya sambil menatap malas pada gadis yang tengah mengerucutkan bibir tersebut.


Milly mengamati lelaki dihadapannya itu dari ujung kepala hingga ujung laki, lalu menyebik sembari melipat kedua tangannya di dada. "Sebenarnya saya masih memiliki persediaan buah di rumah, sih. Tapi karena melihat perlakuan buruk Bapak terhadap saya membuat saya menjadi malas." Tuturnya seraya membuang muka.


"Apa kau bilang?" Billy membelalak tak percaya. Tangannya pun bergerak meraih bahu si gadis, berusaha mencari kepastian. "Kau serius?"


"Iya, tapi setelah saya pikir-pikir, lebih baik untuk jualan besok saja." Putusnya dengan wajah polos.


"Hey, kenapa tidak kau jual untukku saja sekarang? Aku bersedia membeli dengan harga berapapun yang kau mau." Ucap Billy penuh keyakina.


"Tidak mau! Bapak pikir saya mata duitan?!" Sungut Milly dengan tatapan penuh kemarahan.


"B-bukan begitu maksud saya." Billy menghela nafas frustasi. Lalu dengan perlahan membuka jemarinya yang semula terkepal rapat dan dengan ragu menyentuh bahu si gadis. Meremasnya lembut di sana, Billy menatap manik gadis itu lekat dan berbicara penuh perasaan. "Kau tahu, bos ku sangat menginginkan rujak buahmu. Jadi tolong, buatkan yang paling enak untukku ya ,,,"


Dengan wajah yang seperti tak teraliri darah, dengan ekor matanya Milly melirik tangan Billy yang meremas bahunya. Ia lantas mengangkat pandangannya, membalas tatapan Billy yang lagi-lagi berhasil menggetarkan jiwa romantisnya.

__ADS_1


"Hey!"


Milly terkesiap saat Billy menjentikkan jarinya di depan wajahnya. Tersadar dari lamunan, gadis itu mengerjap menatap wajah tampan yang terpampang nyata di hadapannya hanya berjarak sejengkal.


"Kau melamun? Biruan lap tuh air liurmu!" Billy tergelak seraya Melepaskan tangannya dan menarik mundur tubuhnya.


Refleks tangan Milly pun mengusap sudut bibirnya, di mana tak ada setitik liur pun di sana. Sebab hanya akal-akalan Billy saja untuk membuat gadis itu merona malu.


"Menyebalkan." Umpat gadis itu kesal, lalu menutar tumit dan berbalik badan hendak meninggalkan lelaki itu. Namun setelah melihat ke sekeliling, baru ia sadari jika mereka berdua menjadi bahan tontonan para penghuni kampus.


"Astaga Pak, kita jadi bahan tontonan. Saya berasa jadi artis yang sedang menggelar konser tunggal loh,"


"Besar kepala kau ini. Tentu saja mereka sedang kagum padaku yang tampan ini."


Mendongakkan kepala menoleh pada Billy yang berada di belakangnya, Milly hanya memutar bolanya malas sambil menyebik. "Kalau narsis jangan kebangetan, Pak. Gigi saya gatal mendengarnya." Ledeknya sambil berlalu meninggalkan Billy yang tengah menatap gadis bingung karena omongannya yang nggak nyambung. Dan berhenti tepat di hadapan Indra yang sejak tadi memperhatikan keduanya.


Menatap Indra sebal, Milly lantas mengangkat kaki kirinya agak tinggi dan menginjak kaki Indra dengan geram. Membuat lelaki berkacamata itu seketika memekik kesakitan.


"Mill, kok kaki Indra diinjak sih. Salah Indra apa?!"


"Pikir sendiri!"


"Milly mau kemana?"


"Bodo'!" Jawab gadis yang tengah menjejak standar sepeda mininya.


"Kencan kita gimana?"


"Terserah!"


"Di mana?"


"Dalam mimpimu!" Cibir gadis itu sebelum ia menaiki sepeda mininya. Namun sepertinya Milly melupakan sesuatu. Sebab semakin siang biasanya tiupan angin akan semakin kencang.


Billy yang merasa lucu hanya menepuk bahu Indra seperi sedang menguatkan. "Sabar ya Bro," ucapnya dengan senyum meremehkan. Lalu mengenakan lagi kacamata hitamnya dan berlalu menuju mobil mewahnya. Mengabaikan para gadis yang bersorak-sorai, Billy membawa mobilnya meninggalkan kampus itu.


Sementara di jalan raya yang tampak lengang, karena kontrakan yang Milly tempati memang berada di sebuah gang. Merasa ada sesuatu yang mengikutinya, Milly menoleh dan seketika tampak gelagapan saat Mobil Billy tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


Menambah kecepatan sepedanya, Milly pun mengayuh pedalnya semakin cepat. Namun dengan menambah kecepatan justru membuatnya semakin kalang-kabut saat harus menahan ujung bawah dres nya yang selalu ingin menyibak oleh tiupan angin yang sepoi-sepoi. Alhasil Milly pun di dera kepanikan saat berada di jalan turunan.


"Astaga, ini sepeda kenapa menggelinding dengan sendirinya begini! Rem sepeda ku kemana? Nggak mungkin tertinggal di rumah, kan?? Tadi pas berangkat ada, pulang-pulang kok nggak ada?!" Milly sibuk mecari rem sepeda ontel nya di kaki. Sementara letak rem sepedanya berada di stangnya. Astaga, kepanikan membuatnya lupa segalanya ....


Milly tak mampu mengendalikan sepedanya yang menggelinding begitu kencang, akhirnya oleng saat tidak menemukan rem. Dan kemudian, "Gubrakkk!" Suara dentuman keras pun terdengar saat sepeda Milly membentur pembatas jalan dan masuk ke dalam selokan kering.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2