
Pagi harinya Mayang terbangun dengan kepala yang masih terasa pusing.Perutnya juga terasa nyeri di ulu hati.Namun ia tetap harus memaksakan dirinya untuk bangun.
Dengan hati-hati sekali ia berusaha melepaskan diri dari Brian.Lengan lelaki itu sangat erat memeluk tubuh Mayang.Mayang menyeret tubuhnya untuk duduk bersandar pada sandaran ranjang.
Mayang merapi kan rambut nya yang sedikit berantakan dengan jemari nya.Ia terlebih dulu mengecup kening suaminya sebelum turun dari ranjang.Langkah nya gontai menuju jendela.
Ia menyibak gorden di kamar itu sehingga terang dan hangat nya sinar matahari pagi menembus jendela kaca.Tirai putih transparan yang indah dengan corak bunga itu membuat bayangan efek dati sinar matajari itu menghiasi tubuh Mayang.
Brian mengerjap kan mata saat tangan nya tak mendapati tubuh istri nya lagi di sampingnya.Namun ia tersenyum ketika melihat istrinya tengah berdiri menantang sinar matahari.
Pakaian tidurnya yang panjang dan berwarna putih itu kini terlihat transparan oleh pengaruh sinar matahari yang gagah menunjukkan sinarnya.Sehingga menampilkan dengan jelas lekuk tubuh Mayang dari arah Brian berbaring.
Apalagi saat Mayang mengangkat kedua tangan nya untuk meregangkan otot-otot tubuh nya yang terasa kaku.Menggerak-gerak kan kepala dan menarik rambutnya ke sisi bahunya.Sehingga memperlihatkan leher jenjang nya yang putih.
Mayang terlalu fokus pada dirinya sendiri hingga tak menyadari suaminya yang telah berdiri di belakang nya.Seketika Mayang terkejut dan tubuhnya tiba-tiba membeku saat tangan Brian dengan lembut menelusup di pinggang nya dan memeluk tubuhnya.
Brian membenamkan bibir nya di leher jenjang sang istri dengan lembut namun seketika ia terkejut saat bibir nya telah menyentuh leher Mayang.
"Sayang kenapa suhu tubuh mu panas sekali,apa kau sakit?" Brian bertanya dengan nada penuh kecemasan.Ia memutar tubuh Mayang agar menghadap padanya.Lalu menyentuh kening Mayang dan ia mengernyit kan dahinya seketika."Kau sakit sayang..?"
"Tidak,aku tidak apa-apa." Berusaha mengecoh Brian dengan senyuman nya agar terlihat baik-baik saja. "Cepatlah berkemas sayang,nanti kau terlambat ke kantor."
"Sayang, apa kau yakin?" Masih terlihat cemas.
"iya sayang," Mayang mengangguk dan menyunggingkan senyum nya.
Sembari menunggu suaminya mandi,Mayang pun menyiapkan pakaian yang akan di kenakan Brian.Membantu suaminya bersiap dan mengantarnya sampai sang suami masuk kedalam mobil.
Mayang pun bergegas masuk lagi ke dalam kamar setelah mobil yang membawa sang suami benar-benar tak terlihat lagi.Ia berniat untuk merebahkan tubuhnya dan beristirahat karena kepalanya semakin berat dan nyeri di ulu hatinya semakin terasa menyakitkan.
Rasa mual benar-benar tak dapat ia tahan hingga ia harus berlari menuju kamar mandi, membungkukkan tubuh nya di washtafel dan memuntahkan seluruh isi perutnya hingga makanan yang baru saja ia paksa untuk masuk saat sarapan bersama suaminya pun keluar dan tertumpah di sana.
Tubuh Mayang semakin lemas dengan buliran keringat dingin yang mulai menganak di pelipis nya.Mayang menyeret kakinya yang lemas untuk melangkah kembali ke tempat tidur.Membaringkan lagi tubuh nya yang semakin tak bertenaga.Namun rasa mual kembali datang.
Mayang berlari menuju ke kamar mandi sembari menutupi mulut mulutnya dengan buku-buku jemari nya untuk menahan muntahan itu sebelum sampai ke kamar mandi.
Mayang kembali membungkuk di washtafel dan kembali muntah hingga mengeluarkan cairan yang terasa pahit di lidahnya.Perutnya kini sudah kosong,namun nyeri di ulu hati masih saja terasa.
Mayang kembali menguatkan langkah nya keluar dari kamar mandi.Berjalan dengan tubuh yang sedikit membungkuk untuk menekan rasa nyeri di perutnya.Tubuh Mayang ambruk di ranjang dan pandangan nya gelap saat itu juga ia tak sadarkan diri.
****
"Apa kau tidak bisa menyetir mobil dengan cepat Bill!!" Bentak Brian tak sabar saat Billy mengurangi kecepatan mobil yang ia kendarai.
"Maaf tuan,saya juga harus berhati-hati saat untuk keselamatan anda." Jawab Billy sembari menatap Brian melalui kaca spion di depan nya.
"Aku harus cepat sampai di rumah! Ustri ku sedang sakit sekarang!" Nada bicara Brian terdengar sangat panik.Dirinya sedang di landa kekhawatiran serta kecemasan.Tangan nya terkepal dan wajah nya merah padam.Ia ingin segera sampai di rumah untuk melihat kondisi istrinya.
Mobil telah memasuki gerbang utama dan berhenti di halaman.Brian segera keluar bahkan sebelum Billy mematikan mesin mobil nya.Berlari menuju lift agar lekas sampai di lantai teratas di mana kamar nya berada.
Saat lift berdenting dan pintu terbuka,Brian segera berjalan dengan tergesa menuju kamarnya.Lantas membuka pintu kamarnya setengah menggebrak hingga menimbulkan suara dan mendapati istrinya yang tengah tergolek lemah di ranjang.
__ADS_1
Brian mengayunkan kakinya lemas mendekati istrinya yang tampak tertidur pulas dengan jarum infus yang tertancap di punggung tangan kirinya.Brian menarik sebuah kursi rias untuk ia duduki tepat di samping istrinya yang tidur di tepi ranjang.
Brian menatap sedih pada istrinya yang tengah tidur dengan wajah yang pucat pasi.Suhu tubuh yang sangat tinggi terasa seperti menyengat saat Brian mengecup kening istrinya dengan lembut.
Ia merasa jantung nya seperti di remas melihat istrinya tergolek lemah seperti ini.Dengan rasa sakit yang ia tahan tanpa mau mengatakan pada suaminya.Brian meraih lembut telapak tangan lemah istrinya yang nampak ada bercak darah oleh akibat suntikan jarum infus itu sendiri.
Brian mengetahui kabar istrinya sakit dari Dokter Lucy yang juga saudara sepupunya sendiri.Bu Kuswara lah yang memanggil Dokter Lucy untuk memeriksa Mayang yang tak sadarkan diri saat Bu Kuswara menemukan nya pertama kali.
Brian menempelkan tangan hangat istrinya di pipi kirinya.Ia memejam kan matanya untuk meresapi kehangatan yang tersalur dari tangan istrinya.
Namun matanya terbuka seketika saat terjadi pergerakan dari jemari istrinya dan spontan melempar pandangan nya kearah wajah sang istri.
"Sayang kau sudah bangun?"Brian mencondongkan tubuhnya medekati wajah sang istri yang tengah mengerjap kan matanya. "Di mana yang sakit biar aku pijit." Ucap dengan sungguh-sungguh sembari menyelidik bagian tubuh sang istri.
"Sayang aku tidak apa-apa." Mayang kemudian menggeser pandangan nya ke arah gelas berisi air putih yang berada di nakas.
"Apa kau ingin minum?" Brian dengan cekatan mengambil gelas itu.Membantu istrinya mengangkat sedikit kepalanya dan membantunya untuk minum dari gelas itu.
"Terimakasih." Ucap Mayang dengan suara lemah setelah selesai minum lalu membaringkan kembali kepalanya pada bantal yang nyaman.
"Sayang kenapa tak kau katakan kalau kau sakit?! Kenapa kau malah menyuruh ku ke kantor! Apa kau tak tau kalau aku sangat khawatir padamu?!" Brian mencecar Mayang dengan pertanyaan.Bahkan belum sempat Mayang menjawab nya,ia sudah kembali bertanya lagi. "Katakan padaku apa kau belakangan ini tak pernah makan? Kenapa kau sampai sakit asam lambung?!"
"Sayang, aku tetap makan kok.Tapi akhir-akhir ini pola makan ku memang kurang baik.Aku kurang berselera makan." Jawab Mayang jujur.
"Apa kau sedang diet?! Ku mohon jangan diet sayang,kau sudah terlalu kurus!"
"Sayang aku tidak diet, sungguh..."Mayang meyakinkan Brian yang sepeetinya salah faham.Mayang mengangkat kepalanya mencoba untuk bangun.
"Aku mau duduk."
"Jangan!" Larang Brian dan menahan Mayang agar tetap dalam posisi berebah.
"Sayang aku ingin duduk! Bantu lah aku. Kau malah menahan ku!"
"Benar kau bisa duduk?" Brian meyakinkan.
"Iya..."
Brian lalu menelusupkan tangan nya untuk menyangga bagian belakang tubuh Mayang lalu membantunya duduk.Tak lupa satu kecupan mendarat di pipi Mayang.
Tanpa segan Brian lalu naik ke ranjang dan merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan nya.Di ciumi nya punggung tangan sang istri dengan penuh kasih sayang.
"Aku tidak mau kau sakit," Suara Brian terdengar parau.
"Aku juga tidak ingin sakit."
"Tapi kenapa kau sakit? Apa Bu Kus tidak memberi mu makan?!"
"Huss, jangan fitnah Bu Kus. Dia selalu menjaga ku dengan baik."
"Lalu kenapa kau sakit?" Desak Brian lagi mengulangi lagi pertanyaan nya.
__ADS_1
"Sayang,,," Lirih Mayang sembari mendongakkan kepala untuk menatap wajah suaminya.
"Ya?"
"Apa benar kau tertidur di kamar mandi waktu itu?"
"Kapan ya?" Brian pura-pura mengingat-ingat.
"Jangan pura-pura lupa...!" Mayang merengek.
"Oh yang itu, iya. Aku memang tertidur." Jawab Brian yakin. "Kenapa? Jangan-jangan kau sakit karena memikirkan hal itu?" Tebak Brian.
"Katakan dulu apa kau melihat ku mandi?"
"Tidak."
Tapi bohong.
"Benarkah?"
"Sayang,aku benar-benar tidur waktu itu." Menyusuri leher Mayang dengan hidung nya.
"Jadi kau tidak melihat waktu aku mandi sambil menyanyi?!"
"Tidak."
Tapi bohong. Aku bahkan menikmati suaramu yang sedikit tenggelam karena air mandi mu itu .
"Kau juga tidak melihat saat aku sedikit berjoget?"
"Tidak." Brian menggeleng.
Tapi bohong. Aku bahkan melihat goyangan erotis mu yang menggairahkan itu.
"Berarti kau juga tak melihat saat aku mandi tanpa busana kan?"
"Tidak."
"Ah syukur lah,,," Mayang bernafas lega lalu tersenyum.Tapi tanpa dia sadari telah mengatakan semuanya.
*Dasar gadis bodoh!Kalau tak mau di lihat untuk apa di katakan.
Aku bahkan telah melihat semuanya. Semuanya dari dalam dirimu. Betapa seksi nya tubuh mu.Indah nya goyangan mu.Dan merdu nya suara mu.Aku bahkan mengabadikan semua aksi mu yang mirip model majalah pria dewasa itu ke dalam ponsel ku ini.Entah akan se marah apa jika kau mengetahui hal ini nanti.Tapi aku suka.
Andai saja kau tidak sedang datang bulan saat itu sudah ku terkam kau tanpa ampun saat itu juga.Tapi aku masih bisa menahan hasrat ini walau setengah mati aku berusaha.
Kau benar-benar telah mengusik lelaki normal yang tengah haus akan kasih sayang.Aku tak akan melepaskan mu nanti*.
Brian menciumi istrinya sambil senyum-senyum sendiri.
Bersambung
__ADS_1