Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Bakiak dan nampan


__ADS_3

Kembali dengan nampan berisi secangkir kopi dan camilan, Milly tanpa ragu menghampiri Billy yang sedang duduk di kursi balkon. Lelaki itu tampak asik memainkan gawai di tangannya.


"Silahkan, Pak," ucap Milly seraya memindahkan kopi beserta camilan itu ke atas meja. Melirik dengan ekor matanya pada Billy yang seolah tak merespon kehadirannya, Milly pun berniat beranjak dan pergi dari sana. Maka gadis itu berbalik badan, dan mulai mengayunkan langkahnya.


"Milly," lagi, Billy memanggil dan seketika berhasil menghentikan langkah istrinya.


"Iya, Pak?" ucapnya sembari berbalik badan. Lantas membalas tatapan Billy yang tertuju kepadanya dengan ekspresi--ah lagi-lagi membuat jantungnya berdenyut kencang. "Ada lagi yang Bapak butuhkan? Biar saya ambilkan sekalian."


"Tidak ada," jawab Billy singkat sambil menggeleng samar. "Kemari lah," ucapnya dengan nada setengah memerintah. Lantas melirik sofa kosong di sampingnya seolah mengisyaratkan agar Milly menempatinya.


Milly memilih patuh dan mengikuti keinginan Billy meski dengan kening mengkerut bingung. Perlahan ia membenamkan bokongnya di sofa panjang itu dan memilih tempat paling ujung. Ia tersenyum rikuh saat pandangan mereka bertemu secara sengaja, lantas memilih mengalihkan pandangan demi menjaga hatinya agar tidak ambyar.


Keadaan hening untuk beberapa saat, sebab keduanya sama-sama diam dengan bibir terkatup rapat. Billy sendiri kembali sibuk dengan layar ponselnya, sementara Milly diam-diam mencuri-curi pandang ke arah pria di sebelahnya itu.


Keheningan itu pun pecah kala suara ketukan jari Milly beradu dengan nampan di pangkuannya. Karena merasa bosan, gadis itu sengaja bermain-main dengan nampan berbentuk persegi itu.


Namu tanpa ia sadari, rupanya kelakuannya itu mengusik pekerjaan lelaki di sampingnya itu, hingga Billy refleks mengarahkan tatapan ke arah Milly dengan penuh peringatan. Merasa dirinya terancam, sontak Milly seketika menghentikan kegiatannya.


Gadis bersurai panjang yang digerai bebas itu meringis malu. Mengepalkan tangannya agar tak kembali berulah, ia pun berucap, "Maaf Pak, nggak sengaja."


Tak menjawab dengan perkataan, Billy terlihat mendesah pelan. Pria berbalut kaus tanpa lengan berwarna putih pres body berpadu dengan celana panjang santai warna senada itu lantas kembali menatap layar ponselnya, sebelum kemudian menaruhnya ke atas meja.


Saat lelaki itu meraih gagang cangkir, Milly mulai memperhatikannya dengan seksama. Dengan wajah penasaran, ia mengamati bagaimana ekspresi Billy.


Eh, kayaknya dia mau minum kopinya, nih? Suka nggak ya sama kopi buatanku? batin Milly saat Billy mulai memegang gagang cangkir.


Mudahan suka deh. Ya ampun, aku tadi salah masukin garam nggak ya? Kalau kopinya asin kan bahaya. Bisa-bisa itu kopi melayang ke kepalaku sekalian sama cangkirnya. Milly membatin lagi saat Billy mulai menyeruput kopi itu. Gadis mungil itu terlihat semakin antusias kala Billy mulai meneguknya. Yah, ekspresinya biasa aja. Nggak ada manis-manisnya. Apa kopi buatanku terlalu pahit seperti hidupnya, ya? Kok nggak ada reaksi yang bagaimana ,,, gitu. Ah males. Kalau nggak tau seperti apa reaksinya mana aku tahu selera dia seperti apa!" Milly memanyunkan bibir kala Billy menaruh kembali cangkir itu ke tempatnya semula.


Tak ingin ketahuan jika sedang mepertahatikan, Milly segera mengalihkan pandangan dan bersikap biasa saja.


"Maaf." Akhirnya kata itu terlontar juga dari bibir Billy. Meski tanpa menatap ke arah lawan yang diajaknya bicara, namun nada suaranya terdengar begitu tegas tanpa ada sedikitpun keraguan.

__ADS_1


Membulatkan mata, Milly yang terkesiap seperti tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Mengarahkan pandangannya lekat-lekat ke arah Billy, ia berusaha memastikan jika dirinya tidak sedang berhalusinasi.


"Maksud Bapak, minta maaf karena kita tadi--" Milly menghentikan ucapannya karena merasa malu untuk melanjutkan kata-katanya itu. Namun ia berusaha memberi isyarat menggunakan tangannya. Menyatukan ujung dengan ujung jari-jarinya yang menyatu seolah mempraktekkan orang yang sedang berciuman ke arah Billy. "Karena kita tadi seperti ini?" tanyanya kemudian untuk memastikan.


Siapa sangka, Billy menatapnya dengan mata membelalak. Seolah tak menyangka Milly akan mengutarakan hal itu. Mendadak ada semburat merah yang muncul di wajah giok nan putih itu. Billy terlihat gusar saat Milly menatapnya seolah menuntut penjelasan. Terlihat sekali lelaki itu merasa malu-malu.


"Bisa diam, tidak? Pembicaraan tentang hal itu cukup sampai di sini, karena saya tidak mau membahasnya lagi." Billy menegaskan dengan penuh penekanan. Bahkan nyalang matanya begitu tajam menusuk saat mengarahkan tatapan, membuat Milly yang hampir tertawa seketika mengatupkan bibirnya rapat.


Entah bagaimana bisa Billy terlihat sangat malu akan hal ini. Padahal setengah mati Milly direjam ketakutan, dan pada saat dirinya hendak meminta maaf dan memberikan penjelasan, lelaki itu justru menghentikan dengan alasan tak ingin membahasnya lagi. Bukankah itu merupakan bukti sebagai pengalihan rasa malu yang melingkupi hati.


Kalau begini siapa dong yang menang banyak? Hihihi ,,,. Milly yang memalingkan wajahnya hanya bisa cekikikan dalam hati.


"Hei, apa yang sedang kau lakukan?" lagi-lagi Billy bertanya dengan alis menukik tajam, namun kali ini terlihat seolah tengah menuntut penjelasan. Rupanya ia mengamati tingkah Milly, serta punggung gadis itu yang berguncang hebat layaknya orang yang tengah tertawa ngakak.


Milly yang tersentak sontak menghentikan tawanya. Gadis itu memutar kepala dan membalas tatapan Billy dengan wajah yang ia pasang selugu mungkin. "Ada apa ya, Pak?" tanyanya dengan wajah polos tanpa dosa.


"Kamu menertawakan saya, ya?"


Milly menggeleng cepat. "Enggak, Pak."


"Yang mana sih, Pak? Kapan saya menertawakan Bapak? Yang saya nengok barusan?" tanya Milly setengah menebak.


Billy tak berkedip saat menatap Milly. "Iya." jawabnya singkat, namun penuh penekanan.


"Oh, itu," ucap Milly sambil menyimpul senyum di bibirnya. "Itu saya lagi tersedak, Pak, bukannya sedang menertawakan Bapak. Bapak ini aneh deh, suka mikir yang nggak-nggak. Bikin saya pengen ketawa. Hahaha ,,,!" sumpah demi apapun, kali ini Milly benar-benar tak bisa menahan lagi hasrat untuk tertawanya. Entah mengapa ekspresi malu Billy itu terlihat sangat lucu. Tanpa pikir panjang, Milly menggunakan nampan di pangkuannya untuk menutupi wajah, guna menghindari tatapan Billy yang menyorot penuh ancaman.


"Dasar tidak tahu malu," Billy mengumpat sambil memalingkan wajah kesalnya. Dan kata-katanya barusan berhasil membuat Milly menghentikan tawa.


Entah mengapa perasaan gadis itu mendadak tidak enak mendengar kata-kata malu yang sengaja Billy tekan. Menggeser nampan di tangannya, Milly berusaha mengintip ekspresi Billy dari sisi nampan. Terlihat Billy tengah menyeringai ke arahnya dengan ekspresi meremehkan.


Memasang ekspresi tak terima, Milly pada akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. "Maksud Bapak?"

__ADS_1


"Kau tidak tahu malu." Tandas Billy penuh penekanan. "Menertawakan orang seenaknya. Apa kau lupa, semua ini terjadi karena ulahmu juga?"


"Kok saya?" tanya Milly dengan wajah terperangah, sementara telunjuknya mengarah kepada dirinya sendiri, seolah meyakinkan jika benar dirinya yang Billy maksud.


"Iya!" tegas Billy penuh keyakinan. Ia lantas mencondongkan tubuhnya ke arah Milly, sementara tatapannya terarah seolah tengah menginterogasi. "Apa kau bisa jelaskan bagaimana bisa kau tidur di matrasku." Mendengar itu Milly spontan menggigit bibir bawahnya. Malu. "Bahkan kau menggunakan lenganku sebagai bantalan kepalamu yang berat itu." Lanjut Billy lagi dengan nada sindiran, yang secara spontan membuat Milly menggerakkan tangan meraba kepalanya.


Billy tampak tersenyum senang telah berhasil menekan Milly dan membuat gadis itu terlihat gelisah dilingkupi rasa malu. Ia menarik kepalanya dan kembali bersandar pada bahu sofa, namun seringai itu masih terpatri di wajahnya. Sementara tatapannya masih mengintimidasi Milly yang kini tertunduk kaku.


"Jangan bilang tubuhmu merosot tanpa sadar!" Billy mendesak sembari menuding Milly dengan jari telunjuknya. "Bilang saja kau sengaja turun dan mencari kehangatan dari tubuh kekarku ini, bukan???" entah itu sebuah tebakan atau justru tuduhan yang sengaja Billy layangkan. Yang jelas seringainya itu terlihat sedang menggoda, sedangkan telunjuknya menuding ke arah Milly seolah sedang memaksanya untuk mengakui.


Ah sial, bagaimana bisa dia tahu? batin Milly sambil melirik ngeri ke arah Billy. Kini posisi berganti, Billy tampak senang dan tertawa lepas penuh kepuasan seolah tanpa beban.


Baru kali ini Milly melihat Billy menunjukkan tawa yang begitu alami. Tampan, sekali. Jauh di lubuk hatinya, Milly merasa senang meskipun lelaki itu tengah menertawakan dirinya, setidaknya lelaki itu menganggapnya ada dan tidak menjadikan ia hanya sebuah patung hiasan rumahnya saja.


"Puas, Bapak menertawakan saya?" Milly mencebikkan bibirnya, berpura-pura kesal karena Billy menertawakannya.


"Kau juga menertawakanku, kan? Bukankah ini pembalasan yang setimpal? Kau dan aku sama-sama melakukan kesalahan, jadi untuk apa saling menyalahkan. Makanya tadi kubilang aku tak ingin membahas hal ini lagi. Tapi kau malah lebih dulu menertawakanku," papar Billy panjang lebar. Kini wajah lelaki itu tampak jauh lebih segar usai tertawa begitu kencang.


"Jadi Bapak nggak marah sama saya?" Milly akhirnya bertanya setelah beberapa saat terdiam. Bagaimanapun juga ia butuh kepastian, agar tak menimbulkan salah paham di waktu kemudian.


"Marah? Sama kamu?" Billy tertawa geli sembari membungkukkan badan, dan menyentuh telapak kakinya yang terasa gatal. Mungkin ada nyamuk nakal yang sengaja mengigitnya.


Melihat hal itu entah kenapa Milly seolah memasang kuda-kuda pertahanan. Ia buru-buru mengangkat nampan dan menggunakannya untuk melindungi wajahnya.


Sontak saja hal itu membuat Billy heran dan bertanya-tanya sambil melihat ke arah Milly. "Kenapa menutupi wajahmu dengan nampan itu? Apakah aku terlalu berkilau hingga menyilaukan matamu?" tanyanya kemudian dengan ekspresi penasaran. Sementara tubuhnya sendiri masih terpaku dengan posisi itu.


"Bukan, Pak. Bukan gitu," jawab Milly tanpa menurunkan nampannya.


"Lalu?"


Milly menggigit bibir bawahnya, terlihat ragu dan takut saat akan menjawab. Namun karena Billy mendesak, akhirnya Milly memutuskan untuk berterus terang. "Saya takut bakiak Bapak melayang ke muka saya," jawabnya sambil melirik ke arah tangan Billy yang seolah tengah menyentuh sandal.

__ADS_1


"Astaga Milly, siapa juga yang mau lempar kamu pakai sandal hah!" bentak Billy dengan keras karena saking geramnya, membuat wajah Milly seketika meringis dari balik nampan.


Bersambung


__ADS_2