Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Pengorbanan orang tua


__ADS_3

Sebuah tangan ramping yang melingkar di perut wanita paruh baya itu mulai menunjukkan pergerakannya saat dirinya terjaga. Kelopak mata indah itu mulai mengerjap kecil untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.


Menoleh ke arah samping, ia tersenyum lembut mendapati seraut wajah penuh cinta dan kasih masih terlelap dalam buaian mimpi indahnya. Sebuah kecupan penuh sayang pun tak luput ia layangkan, hingga wanita yang tengang terpejam rapat itu bergeming dan perlahan membuka kelopak mata sayunya.


"Selamat pagi, Bu," wanita paruh baya itu tersenyum manis mendengar sapaan lembut sang putri yang telah beberapa bulan ini begitu sangat ia nanti.


"Pagi juga, Sayang," balas Laksmi, lantas menarik tangan sang putri yang menggenggam jemarinya dan menghadiahi kecupan lembut di punggung tangan selembut sutra itu.


"Bagaimana tidur Ibu malam ini?" tanya sang putri selagi mengeratkan pelukan dan mengecup sayang pipi kanan sang bunda.


Sang ibu melebarkan senyum menanggapi pelukan anaknya, sementara telapak kirinya menepuk lembut pipi kanan putrinya. "Tidur Ibu tak pernah senyenyak ini, Sayang. Itu karena pelukanmu."


"Milly sayang Ibu."


"Ibu juga sayang Milly."


Keduanya tersenyum bersamaan dalam suasana yang sangat bahagia, setelah sebelumnya terpisah lama dalam duka dan nestapa, terbelenggu dalam kerinduan yang tak mengiris kalbu.


"Ibu, hari ini Milly ingin masak yang enak-enak untuk Ibu." gadis yang masih mengenakan pakaiannya yang semalam itu membuka percakapan setelah beberapa saat keduanya terdiam dalam pelukan yang begitu menghangatkan.


Mengerlingkan mata, Laksmi menoleh dan menatap sang putri penuh keraguan. "Masak?" tanyanya dengan alis yang bertaut. "Memang Milly bisa?" dengan senyuman yang melebar, pertanyaan itu mengandung sejejak keraguan.


Sebab sepanjang yang dia tau, sang putri adalah gadis yang sangat manja dan tak pernah dihadapkan dalam kesulitan meski hanya perkara makan. Semua tersedia bahkan sebelum sang putri merasa lapar. Bahkan tak jarang gadis yang menginjak usia dewasa itu mengunyah makanan dari suapan tangan ibunya.


"Bisa dong." Gadis bermata bulat itu tersenyum selagi menyibak selimut yang menutupi tubuhnya hingga menyentuh dada, lantas mengikat surai panjangnya yang tergerai acak-acakan. Menoleh ke arah sang ibu dengan bibir mencebik, ia pun berucap dengan nada meragukan. "Pasti Ibu nggak percaya kalau Milly bisa masak, kan?" ia tersenyum membalas senyuman ibunya. "Ibu pasti lupa kalau sebelumnya putrimu ini hidup sebatang kara dan hanya bisa makan seadanya. Hup." segera Milly membekap mulutnya saat menyadari seharusnya hal ini tak perlu di katakannya.


Susah payah berusaha bangun dan menyusul putrinya duduk, Laksmi memasang wajah penuh rasa bersalah selagi memegang tangan sang putri dan meremasnya dengan kelembutan. "Maafkan kami telah membuatmu sengsara, Nak."


"Ibu ,,," Milly merengek dengan raut wajah yang tak kalah merasa bersalah. "Ini bukan salah Ibu dan Ayah. Ini murni kesalahan Milly. Andai saja Milly bersikap patuh dan menurut, pasti Milly tak akan merasakan penderitaan ini. Dan pabrik Ayah tidak akan diambil alih oleh Ibra dan Ayahnya." entah mengapa mengatakan hal itu membuat mata beningnya berkaca-kaca. Beringsut memutar posisinya duduk, Milly yang menghadap sang bunda menatap lekat manik ibunya dengan wajah penuh sesal. "Bu ,,, maafkan Milly karena telah menjadi putri yang tak tahu diri."


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Sayang. Semuanya terjadi karena takdir. Entah itu nasip pernikahanmu ataupun kebangkrutan usaha Ayahmu. Kami sudah ikhlas, Nak. Yang penting kau sudah kembali dan berkumpul bersama kami lagi."


"Tapi Bu--"

__ADS_1


"Sudah pada bangun, rupanya?" Jamil yang berdiri di ambang pintu tampak melangkah mendekati ranjang di mana sang istri dan putrinya tengah duduk di sana. Menarik kursi rias, lelaki paruh baya itu sengaja duduk menghadap ke arah dua wanita tercintanya.


"Ayah juga sudah lebih dulu bangun, kan. Tapi kenapa tidak membangunkanku juga?" Milly mencebik manja selagi menatap ayahnya.


Jamil melebarkan senyum menanggapi tingkah putri semata wayangnya. "Maaf, Nak. Ayah tidak tega mengusik kehangatan kalian berdua. Jadi Ayah memutuskan untuk tidak membangunkanmu. Oh ya, bagaimana tidurmu malam tadi, Sayang?"


Gadis yang semula selonjoran itu kini melipat kakinya dan bersila seraya menatap sang ayah begitu antusias. "Apa Ayah tau, malam ini tidurku sangat, nyaman. Aku bahkan diapit dua orang tuaku bersamaan. Rasanya hangat sekali. Aku bahkan ingin waktu berhenti agar aku bisa selamanya merasakan kehangatan ini." Milly mengatakannya dengan nada yang terdengar riang.


Namun sedetik kemudian, ekspresi ceria itu berubah getir kala Milly mengingat kembali kesalah yang pernah dibuatnya. Lagi-lagi bola mata bening itu menunjukkan riak-riak kesedihan dengan pandangan berkaca-kaca.


"Ayah," lirih Milly, lantas beringsut turun dari ranjang dan duduk bersimpuh dengan tangan bertopang pada paha ayahnya seolah sedang meminta permohonan. "Apa Ayah benar-benar tidak marah lagi sama Milly?" tanyanya dengan kepala yang mendongak menatap lekat iris sehitam jelaga milik sang ayah. Ia bahkan memasang wajah memelas, hingga membuat sang ayah trenyuh sekaligus gemas.


"Nak, apa kau pikir Ayah ini sejahat itu kepadamu?" Milly menggeleng menanggapi tanya ayahnya. "Kenapa Ayah harus marah kepada putri Ayah yang tidak bersalah?"


"Karena Milly sudah menjadi putri yang pembangkang." Milly menyahut cepat. "Ayah ,,, Ayah berhak menghukum putrimu ini sesuka Ayah. Izinkan aku menebus semua penderitaan Ayah dan Ibu ...."


"Cukup, Nak." Jamil menyela, membuat Milly tak melanjutkan kata. "Justru Ayah yang harusnya meminta maaf karena telah memaksamu menikah dengan lelaki yang tidak kau cintai. Melihat perhatian lelaki itu terhadapmu waktu itu membuat Ayah meyakini jika lelaki itu memiliki akhlak yang baik hingga timbul niatan Ayah untuk menikahkan kalian saat itu juga. Ayah juga melihat kehidupan yang mapan dari mobil serta pakaian yang ia kenakan. Entah pemikiran macam apa yang saat itu terlintas di kepala Ayah, hingga Ayah tak ingin melewatkan kesempatan itu demi kau bahagia, Sayang."


Saat itu Jamil berniat menjemput Milly untuk ia nikahkan dengan Ibra, putra dari pengusaha yang telah memberinya pinjaman dana untuk memperbaiki kembali pabriknya yang baru saja kebakaran.


Namun hingga batas waktu yang telah di tentukan, Jamil belum juga memiliki uang untuk membayarkan pinjaman. Sebenarnya Ayah Ibra memberinya kebebasan dari belitan hutang asal Milly dan Ibra dinikahkan.


Milly yang sama sekali tidak mencintai Ibra memilih kabur dan meninggalkan rumah, dan dimulailah petualangan gadis itu di kota besar hingga dipertemukannya dengan Billy dalam keadaan yang tidak mengenakkan.


Jamil sendiri rela pulang dengan tangan hampa, asalkan kehidupan putrinya bahagia. Namun karena perhitungan yang salah, rupanya keputusan itu menimbulkan bencana. Putrinya pulang dengan tangan hampa karena tak merasakan cinta, sementara dirinya harus merelakan Ibra mengambil alih pabrik serta kepemilikan.


Namun kini mereka sudah ikhlas dan merelakan, sebab memiliki harta tak bisa menjamin hidup bahagia. Jamil sendiri kini memulai usaha kecil dengan menggunakan sisa tabungan.


"Tak apa, Sayang. Ayah tetap bersemangat meski kita harus kembali memulai dengan langkah awal." sambil mengusap lembut rambut putrinya, Jamil berusaha menenangkan Milly yang tersedu di pangkuannya.


***


Sementara di tempat lain yang jauh, seorang wanita cantik dengan tinggi badan proporsional tampak berjalan begitu riang keluar dari kediaman mewah milik suaminya.

__ADS_1


Ia terlihat sangat cantik meski ia hanya mengenakan celana jeans yang berpadu dengan jaket hugo untuk membalut perutnya yang mulai membuncit. Sementara kaki jenjangnya yang beralaskan sepatu sneakers tampak santai mengayunkan langkah menuju mobil yang sudah dipersiapkan pelataran.


Senyumnya terkembang ramah selagi menyapa para pengawal yang dijumpainya di halaman depan, hingga membuat lesung di pipinya terlihat semakin dalam.


"Nyonya, apa tidak sebaiknya saya saja yang mengantarkan kemanapun Nyonya pergi?" seorang pria berbadan tegap dengan posisi kepala menunduk hormat tampak bertanya dengan nada penuh kecemasan. Tak tega melepaskan sang nyonya pergi sendirian terlebih dengan keadaannya yang tengah berbadan dua.


Wanita bersurai panjang yang di ikat ke samping itu menghentikan tubuhnya yang sudah hendak masuk ke dalam mobil dengan pintu yang telah terbuka. Ia sedikit memutar tubuhnya dan menghadap tepat ke arah lelaki dengan stelan jas rapi itu.


Jemari lentiknya bergerak memegang bagian atas bingkai pintu mobil yang kemudian menjadikannya sebagai alas dagu belahnya yang menyandar. Menatap heran pada pria muda itu, Mayang mengerlingkan mata selagi bertanya. "Kenapa kau terlihat khawatir begitu kepadaku? Aku kan hanya pergi sebentar ke taman depan. Apa kau tau? Ini adalah permintaan dia, dan bukan keinginanku. Jadi tak ada yang bisa melarangku dengan alasan ini itu. Kau mengerti?" tutur istri Brian itu sambil mengusap perutnya. Dan yang dimaksud dengan dia adalah bayi yang sedang dikandungnya.


Lelaki itu hanya mengangguk patuh menanggapi perkataan Nyonya mudanya. Dan membiarkan sang nyonya masuk ke dalam mobil, lantas ia menutup pintu mobil itu setelah sang nyonya sudah siap dengan sabuk pengamannya.


Pengawal masih berdiri di samping pintu mobil sambil memperhatikan sang nyonya yang tengah bersiap.


Mayang memegang stir mobil dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia beberapa kali mengerjapkan mata melihat dashboard yang ada di depannya. Menoleh ke arah samping, ia mendapati pengawal itu masih menatapnya dengan wajah kebingungan. "Apa aku sudah terlihat seperti sopir? Cocok tidak?" Mayang tersenyum menggoda selagi melancarkan celotehnya. Membuat lelaki itu tersenyum ambigu karena bingung harus menjawab apa. Bukan tanpa alasan istri Brian itu melakukannya, ia hanya ingin menyamarkan ekspresinya yang mendadak gugup setelah sekian lama tak pernah duduk di posisi itu.


"Ah, kenapa senyummu kaku sekali? Apa karena terlalu lama menjadi pengawal membuat ekspresimu selalu datar, sampai-sampai lupa caranya tersenyum itu bagaimana?" Mayang bertanya dengan wajah lugu, namun sedetik kemudian ia memasang senyum paling manis. "Nah, begini ...." Mayang melakukan itu seolah sedang memberi contoh pada lelaki dengan kening berkerut itu. "Bisa tidak?"


"Bisa, Nyonya." lelaki itu mengangguk.


"Coba praktekkan bagaimana?"


Lelaki itu lantas menyunggingkan senyuman semanis yang dia bisa, meski tetap saja terlihat kaku di mata majikannya.


"Tetap saja kaku. Ah sudah lah," Mayang mengibaskan tangannya. "Lebih baik aku berangkat saja."


"Apa perlu saya antar, Nyonya?" lagi, lelaki itu bertanya dengan menunjukkan wajah cemasnya.


"Ah tidak, aku bisa melakukannya sendirian kok." Mayang tersenyum penuh percaya diri. "Eh tunggu." memasang wajah tegang, istri Brian itu menghentikan tangannya yang sudah akan menekan tombol start pada mobil.


"Kenapa Nyonya?" tampak panik, lelaki itu setengah Membungkukkan badan demi untuk menatap majikannya di dalam.


"Haha ,,, Ini bagaimana cara menjalankan mobilnya, ya?"

__ADS_1


__ADS_2