Tawanan Cantik Itu Istriku

Tawanan Cantik Itu Istriku
Berikan aku daster


__ADS_3

"Cepat kenakan gaun itu." Joy yang sudah berada di hadapan Mayang kembali memaksa istri Brian itu.


Namun bukannya menurut, Mayang justru cemberut. Dilemparkannya kotak berisi gaun di tangannya itu ke atas ranjang lantas ia duduk di tepiannya dengan gaya elegan sambil memasang mimik angkuh di wajahnya.


"Aku tidak mau," jawabnya sambil bersedekap dada, lantas menggerakkan leher membuang muka.


"Sial." Umpat Joy dengan wajah geram. Diraihnya dagu tirus Mayang lantas mencengkeramnya dengan kasar. "Kau ingin aku mengancammu dengan berbuat kasar, hah!" gertaknya dengan mata mendelik tajam.


"Terserah. Jika kau ingin bos kesayanganmu itu memberi kalian hukuman," balas Mayang dengan senyuman yang terkembang. Nada bicaranya pun mengandung sejejak ancaman, membuat Joy hanya bisa mendengkus kesal, lantas melepaskan cengkeramannya dengan kasar.


"Sial sial sial!" Hanya kata itu yang ia gemakan. Merasa frustasi, Joy mengacak rambutnya sendiri. Wanita yang berpakaian serba hitam itu lantas Membungkukkan badan, kembali meraih dagu Mayang setengah geram. "Katakan, apa yang kau inginkan agar kau mau mengenakan gaun itu? Jangan besar kepala mentang-mentang Bos Alex memperlakukanmu dengan penuh keagungan. Dia juga manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Kau juga pasti akan dianiaya jika tak mau mengikuti keinginannya."


"Aku tidak bisa melakukan sesuatu yang membuatku bertanya-tanya." Mayang menjawab enteng sambil menepis tangan Joy dari dagunya.


Joy mendesah pelan. Jelas sekali ia sedang berusaha menahan amarahnya. Sepertinya ia memang harus menggunakan cara halus untuk membujuk wanita angkuh di depannya ini. "Hey, kau hanya harus berpakaian indah berdandan cantik dan bersikap manis di depan Tuan Alex. Malam ini kau akan bersenang-senang. Apa itu masih belum cukup membuatmu merasa cukup tenang?" Joy menjeda sejenak ucapannya sambil mengamati mimik wajah Mayang yang nampaknya tengah berusaha menelaah maksud dari perkataannya. "Kau akan menjadi wanita paling bahagia karena Tuan Alex akan memanjakanmu nantinya. Plis, bantu kami untuk memperingan tugas ini."


Bersenang-senang? Memanjakan? Apa maksudnya? Jadi malam ini dia benar-benar ingin menyalurkan hasrat gilanya? Benar-benar menyebalkan. Lalu kapan dia akan menyuruhku membuka brangkas itu. Kalau begini caranya kapan aku bisa keluar dari tempat menyedihkan ini secepatnya? Bagaimana pula perasaan suamiku di sana?Ya Tuhan, bantu aku menyelesaikan semua ini secepatnya.


"Ehem." Mayang berdehem kecil setelah pikirannya bergulat dalam batin. Menatap Joy dengan wajah penuh ingin tahu, istri Brian itu lantas bertanya dengan wajah polosnya. "Kau bilang bosmu akan mengajakku bersenang-senang? Apa artinya dia akan mengajakku makan-makan?"


"Kalian akan berkencan di meja makan sebelum kemudian melanjutkan kencan di atas ranjang."


"A-apa kau bilang?" terkejut, Mayang membulatkan mata tak percaya. Refleks tangannya pun bergerak menggenggam liontin di dadanya sambil meneguk salivanya dengan susah payah. Tiba-tiba rasa malu khawatir yang luar biasa langsung menyergap di dalam dada.


Entah bagaimana reaksi suaminya sekarang jika sampai percakapan tadi terdengar oleh indera pendengarannya. Sambil memejamkan mata, dalam hati Mayang memanjatkan doa, agar suaminya saat ini tengah tertidur di sana. Sehingga tak perlu bereaksi berlebihan karena mendengar ini.


Mayang lantas mendongak, menatap Joy yang terlihat biasa saja. Entah bagaimana gadis itu bisa begitu mudahnya mengatakan hal tabu itu tanpa rasa malu. Dia kan wanita, apa tidak bisa berkata dengan yang sedikit disamarkan. Tidak perlu diperjelas kata ranjangnya juga kan ,,, astaga. Apa filter penyaringannya sudah bobrok?


"Kau masih gadis, bukan? Kenapa mudah sekali kau berkata demikian pada orang yang baru kau kenal." akhirnya Mayang mengutarakan isi hatinya dengan raut wajah kesal.


Joy dan dua temannya tergelak mendengar pertanyaan yang Mayang lontarkan, Membuat istri Brian itu tampak terlihat bodoh di hadapan tiga dara itu.


"Kenapa kalian tertawa? Memang apa yang lucu dari kata-kataku barusan? Jangan harap aku akan mengikuti keinginan gila bos kalian, ya! Aku sudah memiliki suami, dan aku menjunjung tinggi nilai kesetiaan."


"Sudahlah. Jangan membicarakan kesetiaan di sini. Karena mulai sekarang kau adalah wanitanya Tuan Alex." Joy menyeringai sambil mengangkat dagu Mayang dengan telunjuknya. "Cepat ganti pakaianmu! Karena sisa waktumu untuk bersiap-siap tak banyak lagi."


Cih, kau pikir aku mau mengikuti keinginanmu begitu saja? Jangan kira keberadaanku di sini bukan tanpa alasan. Jangan panggil aku Mayang jika aku tidak bisa mendatangkan masalah untuk kalian. Dengan mempersulit mereka menyelesaikan tugas, seperti mereka akan benar-benar mendapatkan masalah, bukan??


"Aku tidak mau."

__ADS_1


"Hey jangan menguji kesabaranku, ya!" hardik Joy sambil berkacak pinggang. "Aku sudah memintamu dengan cara ramah kau malah membuatku naik darah! Sebenarnya maumu apa sih?"


"Aku hanya tidak suka dengan dia," tanpa menoleh, Mayang mengarahkan jari telunjuknya kepada Bianca. Bahkan dengan sengaja ia memasang wajah sedihnya, seolah dirinya benar-benar merasa teraniaya. "Suruh dia minta maaf kepadaku. Setelah itu baru aku mau melakukan apa yang kalian mau."


"Apa! Kau benar-benar sialan!" Naik pitam, Bianca bangkit dari duduknya lantas melangkah cepat mendekati Mayang. "Kau ingin aku melakukan apa!"


"Minta maaf." jawab Mayang tegas. Melipat tangan di depan dada, matanya menyipit selagi menatap Bianca penuh selidik. "Kenapa? Anda keberatan?"


"Sialan! Kenapa tidak sekalian saja suruh aku bersimpuh di kakimu! Atau kalau perlu cium juga punggung tanganmu!"


"Astaga Bianca ...! Kau benar-benar sangat pengertian." Mayang tergelak kencang mendengar perkataan Bianca. Bahunya bahkan berguncang hebat karena tak kuasa menahan geli karena mendengar ungkapan wanita di depannya itu yang entah diucapkannya secara sadar ataukah hanya spontanitas saja. Yang jelas Mayang bisa pastikan gadis itu akan menyesalinya seumur hidupnya.


"Kenapa dia terpingkal?" Bianca menoleh pada Joy dan bertanya lirih kepada temannya. "Memang apa yang lucu?"


"Ucapanmu itu." tandas Joy dengan bola mata membulat penuh isyarat.


"Ucapanku?" Bianca menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi bingung. Lantas diam sejenak, ia berusaha mengingat-ingat. Dan, "Sialan!" Geramnya sambil menepuk jidatnya kesal.


"Baiklah-baiklah." Ucap Mayang di sela tawanya. "Karena aku baik hati, jadi kukabilulkan permintaanmu, Bianca ,,,," lanjutnya dengan senyum yang menggoda.


"Mimpi! Jangan harap aku mau melakukannya." bersedekap dada, Bianca memalingkan muka sambil memasang wajah angkuhnya.


Melihat sikap penuh kemenangan Mayang membuat tiga gadis itu terperangah sekaligus kesal. Gadis itu rupanya pintar memainkan peranan. Alhasil, meskipun personil mereka tiga banding satu nyatanya tak menjamin mereka menang dan berhasil menekan Mayang. Gadis itu justru seolah berada di atas awan karena merasa menang. Benar-benar menyebalkan, batin tiga gadis itu sambil menatap nanar pada Mayang yang tengah rebahan dengan begitu nyaman.


Menoleh ke arah Bianca, Kim dan Joy serentak menangkupkan dua telapak tangannya penuh permohonan. "Bi, plis."


"Enggak!"


***


"Aku tidak suka dengan gaunnya. Kelihatannya dipakai tidak nyaman." Mayang melemparkan gaun cantik berwarna merah menyala itu hingga teronggok di atas ranjang. Lantas kembali duduk di bibir ranjang sambil melipat kedua tangan dengan sikap tak mau tau. "Bisa berikan aku daster saja? Lebih adem dan lebih nyaman saat dikenakan."


"Daster kau bilang!" membelalakkan mata terperangah, Bianca lantas mencengkeram dagu Mayang. "Hei, kau ini sedang bersiap-siap akan berkencan, bukannya emak-emak yang akan rebahan! Aku curiga, kau sengaja mengulur waktu supaya kami mendapatkan hukuman, kan!" tebak Bianca dengan tatapan penuh curiga.


Pintar juga dia, Mayang mengerjap kecil, memanyunkan bibir lantas menatap Bianca dengan ekspresi tak suka, seolah tengah menunjukkan protes keras jika tuduhan yang dilayangkannya itu tidak benar adanya.


"Kenapa melototiku seperti itu? Tidak terima? Tapi itu benar, kan!" tuduh Bianca lagi.


"Tidak!" Jawab Mayang sambil memberengut kesal. "Jangan menuduh sembarangan ya, itu fitnah namanya. Kalian tahu kan, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan!"

__ADS_1


Bianca mendecih. Seulas senyum yang mengandung sejejak kekesalan tersungging dari bibir selagi dirinya mengeluarkan senjata dari balik jaketnya. "Kalau begitu membunuh satu orang saja tidak apa, kan?" tanyanya dengan sorot mata penuh ancaman, lantas menodongkan senjata itu tepat ke arah Mayang.


"Bi!" Secepat kilat Joy berusaha menghentikan ulah Bianca sebelum hal nekat benar-benar dilakukannya. "Bi, jangan terprovokasi oleh omongan dia! Dia memang berniat menguji kesabaran kita!" Joy mendorong tubuh Bianca hingga terpelanting ke belakang setelah ia berhasil merebut senjata Bianca dari tangannya. "Berhenti menggunakan ini untuk mengancam!" pungkasnya sebelum kemudian melempar senjata itu hingga tersembunyi di kolong ranjang.


***


Menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin, Mayang terlihat kesal dengan penampilannya yang sangat tidak ia suka. "Untuk apa gaun ini di desain dengan lengan panjang jika masih menunjukkan belahan dada? Dan panjangnya juga." Mayang menunduk menatap ke arah bawah. "Percuma gaun ini menjuntai panjang hingga menyentuh lantai jika masih memperlihatkan bentuk paha. Benar-benar Alex sialan! Dia benar-benar ingin memanfaatkan keadaan, rupanya." lelah menggerutu, Mayang mengibaskan gaunnya kesal lantas membenamkan tubuhnya pada sofa dengan geram.


Sebuah yang mendadak menyapa rongga telinganya membuat ekspresi istri Brian itu menegang. Namun raut wajahnya terlihat begitu senang, seolah hal ini telah lama ia nanti.


Menyentuh sesuatu mirip anting yang terpasang di telinganya, Mayang mengerjap kecil sambil terdiam, seolah sedang mendengarkan suara yang ditimbulkan dari benda kecil itu.


"Ya, diterima. Aku bisa mendengarnya," ucap gadis itu membalas suara di seberang sana.


"Bagaimana keadaan sekarang?" suara tegas seorang wanita kini terdengar jelas sedang bertanya.


"Menyedihkan." Mayang menjawab singkat sambil menyebik, seolah yang di seberang sana melihatnya saja.


"Menyedihkan bagaimana?"


"Kupikir aku tidak akan lama berada di sini, tapi nyatanya--"Mayang menggigit bibir bawah, malas melanjutkan perkataannya. Wajahnya mendadak terlihat gelisah. Ia pun bangkit dari duduknya. "Aaaa ... aku sudah tidak tahan." keluhnya dengan nada kesal saat melanjutkan cerita. "Aku ingin pulang. Tadinya kukira Alex akan langsung membawaku ke pokok perkara, tapi nyatanya tidak. Sepertinya Alex akan mengurungku lebih lama disini. Dia bahkan menyuruhku berdandan dan mengenakan gaun yang tidak pantas. Kau tahu, mereka memberiku pakaian seksi yang memperlihatkan belahan dada dan juga paha. Aaaa ,,, aku tidak suka ...! Katakan aku harus bagaimana?" Mayang mondar-mandir selagi berbicara.


"Kalau begitu kita harus sedikit merubah rencana," suara wanita di seberang sana kembali menyahut. "Kau harus bersikap baik padanya, dan bujuk dia agar mempercepat membawamu pada brankas itu."


"Tidak mau. Dia bukan suamiku untuk apa aku harus bersikap baik kepadanya?"


"Mayang, apa kau lupa sedang dalam misi rahasia?"


Mayang menepuk jidatnya seketika. "Astaga aku lupa."


"Jangan sampai kau melupakannya."


"Iya, tak akan lagi," balas istri Brian itu lirih. "Tapi aku tidak suka keadaan seperti ini. Aku benci berpura-pura baik. Aku juga takut Alex akan benar-benar menyentuhku. Beri tahu aku bagaimana caraku menghindar dari dia? Seujung rambut pun aku tak ingin dia menyentuhku."


"Maaf Mayang, untuk hal itu aku tidak bisa mengintruksikan apa-apa. Pintar-pintar kau saja mencari alasan untuk berkelit dan menghindar."


"Hei, bicara dengan siapa kau di dalam sana!" suara teriakan diiringi gedoran pintu dari luar itu berhasil mengagetkan Mayang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2