
"Kenapa kau kemari?" Brian mendekatkan bibirnya lalu berbisik di telinga Mayang. "Sudah kukatakan untuk menungguku di sana, bukan," lanjutnya lagi penuh penekanan seolah sedang memperingatkan.
Belum sempat Mayang berucap, seorang teman Brian sudah lebih dulu menyapanya dengan nada yang menggoda.
"Hai cantik ...." Pemuda dengan balutan kemeja warna putih itu mengulurkan tangan hendak menyentuh Mayang. Namun, Brian segera menepis keras tangan itu dan menatap sang teman penuh peringatan.
"Jangan sentuh dia!" Hardik Brian dengan nada penuh ancaman.
Melihat reaksi Brian yang berlebihan itu sontak membuat sang teman menatap Brian keheranan. "Hey, kenapa kau marah? Aku hanya ingin berkenalan dengan temanmu ini saja," terangnya sembari melayangkan pandangan ke arah Mayang.
Bukan hanya Brian yang merasa tidak suka. Mayang pun terlihat sangat tak nyaman. Tatapan para lelaki itu benar-benar membuatnya merasa jengah.
Tak terima istrinya menjadi sasaran mata para pria nakal, Brian terpaksa menarik tangan Mayang dan membawa istrinya itu menjauh dari teman-temannya. Sampai di sudut ruangan yang sepi, ia menghentikan langkah dan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan istrinya.
"Sudah kukatakan, jangan muncul di hadapan teman-teman lelakiku! Mereka yang di sana itu semuanya brengsek!" dengan sorot mata yang tajam, Brian berucap penuh kemarahan.
"Kalau tidak mendekatimu lalu aku harus mendekati siapa lagi?" sahut Mayang dengan nada lemah. "Kau yang membawaku ke tempat asing ini, tetapi kau juga yang meninggalkanku sendiri. Bukankah kau tau, aku merasa kesepian di antara lautan manusia! Aku takut ... aku ingin pulang ...," balasnya dengan sedih.
Ah, sial! Brian menggeram kesal dalam hatinya sambil mengusap wajahnya kasar dan frustasi. Melihat istrinya yang ingin menangis ia benar-benar tak tega. Ingin rasanya ia pulang dan menjauhkan istrinya dari tempat ini sajauh-jauhnya, namun misi yang sedang ia rencanakan belum berjalan dengan benar. Maka ia harus bersabar dan sebisa mungkin bersikap acuh dan seolah tak berperasaan.
Menarik sebuah kursi yang tak jauh dari mereka, Brian lalu menekan pundak Mayang agar istrinya itu duduk di sana.
"Dengarkan aku, Sayang," ucap Brian sambil menekuk satu lututnya bertumpu pada lantai tepat hadapan Mayang yang sedang duduk.
Mayang yang posisinya lebih tinggi dari Brian itu mengangguk patuh. Ia menunduk selagi membalas tatapan suaminya berjongkok di depannya. Membiarkan lelaki itu menyentuh ruas-ruas jemarinya dan menghadiahi kecupan lembut di punggung tangannya.
Ia tersenyum senang di antara bulir bening yang sempat meluncur bebas dari pelupuk matanya. Setidaknya masih ada cinta di mata suaminya yang masih tangkap dari cara Brian memperlakukan dirinya. Dari cara lelaki itu cemburu saat orang lain berusaha menggodanya. Serta dari cara Brian yang ingin menjauhkannya dari pandangan nakal teman-temannya. Itu sudah cukup membuatnya bahagia.
"Kita akan segera pulang, jadi tunggu aku disini sebentar saja. Okay,,," Mayang mengangguk patuh menyetujui permintaan Brian. " Hanya sebentar." Ucapnya lagi seperti sedang mengucapkan janji, lantas bangkit dari posisinya.
Akhirnya Brian benar-benar pergi meninggalkan istrinya. Sementara Mayang, ia berusaha bersikap patuh dan hanya mengekori langkah sang suami melalui pandangan. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas suaminya yang kembali berbincang dan bercengkrama dengan teman-temannya dari posisinya duduk, jadi ia masih bisa mengawasi meski dengan jarak jauh.
Namun karena ia merasa haus, akhirnya Mayang berdiri dan melangkah menuju meja untuk mengambil segelas jus.
Tanpa Mayang sadari, ternyata Karla muncul mendekatinya.
"Huh kasihan." Suara Karla yang baru tiba berhasil mengejutkan Mayang, hingga wanita bersurai panjang yang tengah meneguk jus leci itu spontan menoleh ke belakang.
Menautkan alisnya bingung. Namun melihat ekspresi iri gadis ini membuatnya mengerti jika yang dimaksud gadis ini adalah mengenai dirinya dan suami. Mayang lantas berdecih. "Siapa yang sedang kau kasihani?" tanyanya kemudian dengan ekspresi wajah acuh.
"Tentu saja kau," jawab Karla sambil bersedekap dada, lantas menyandarkan pinggulnya pada meja dan memposisikan dirinya tepat menghadap Mayang.
"Terimakasih," ucap Mayang dengan senyum penuh ironi tersungging di bibirnya, namun sedetik kemudian senyuman itu berubah seringai penuh peringatan. "Tapi maaf, aku tak perlu kau kasihani." Tandasnya dengan penuh penekanan.
"Jangan pura - pura bodoh! Apa kau tidak merasa kalau Brian terusik dengan kehadiran mu? Dia saja malu mengenalkan mu pada teman - temannya." Tersenyum bangga lalu melipat kedua tangan nya di dada.
"Tidak, dia hanya tidak rela aku jadi santapan mata teman - teman nya. Tahu kenapa? Karena aku terlalu cantik." Mengibaskan rambut panjangnya dengan percaya diri.
" Wow, percaya diri sekali kau?" Membuka lipatan tangannya dan menatap kesal pada Mayang.
"Terimakasih atas pujian nya." Lalu meneguk lagi jus di tangannya.
Karla menggerakkan tangannya meraih gelas jus leci yang masih utuh.
"Mau tau siapa yang Brian bela antara kau dan aku?"
"Tentu saja aku, karena aku istrinya."
__ADS_1
"Kita lihat saja." Ucap Karla dengan menyeringai. Kilatan licik di matanya menunjukkan tantangan yang gamblang.
Karla menggerakkan gelas di tangannya hingga isinya menyiprat membasahi wajah hingga pakaian nya dan menaruh gelas itu kembali ke meja.
Mayang hanya tertegun bingung menatap kelakuan aneh yang di perbuat Karla tanpa menaruh curiga akan rencana licik wanita iblis itu.
"Apa yang kau lakukan Mayang! Mengapa kau menyiram ku!" Teriak Karla histeris sembari pura - pura menangis. Dan teriakan Karla itu menarik perhatian para pengunjung acara reuni itu tak terkecuali Brian.
Laki - laki itu segera mendekat ke arah sumber kegaduhan dimana istri nya berada di sana. Dan Brian melihat Karla yang tubuhnya basah kuyup oleh jus yang Mayang siram kan karena tangan Mayang masih memegang gelasnya.
"Dia menyiram ku Brian, dia tak terima aku berada di dekat mu! Dia melabrak ku Brian!" Karla dengan air mata palsunya mampu memanipulasi keadaan sehingga Brian begitu mudahnya percaya akan ucapan wanita licik itu.
"I-itu tidak benar." Lirih Mayang menggeleng cepat menyangkal ucapan Karla. "Aku tidak melakukan nya. Dia sendiri yang menyiram tubuhnya." Mayang berucap dengan mata yang berkaca - kaca.
Bukan lah pembelaan dari Brian yang ia dapat melainkan tatapan sinis yang tersirat dengan wajah penuh kebencian.
Brian menggerakkan tangan nya untuk merangkul Karla dan membawa gadis itu menyingkir dari sana tanpa peduli dengan istrinya yang merasa terluka.
Mayang terduduk lemas di kursi tempatnya duduk tadi. Pandangannya yang mulai kabur oleh cairan di matanya menatap nanar pada Brian yang tengah merangkul tubuh Karla membawanya ke toilet.
Hatinya serasa hancur berkeping - keping melihat kenyataan ini. Suaminya lebih percaya pada wanita lain di banding istrinya sendiri. Mayang tak dapat membendung lagi airmata nya, hingga bulir - bulir kristal bening tampak berjatuhan dari matanya.
"Hapus lah air matamu." Seorang laki - laki menyodorkan sapu tangannya pada Mayang.
"Tidak, terimakasih." Tolak Mayang sembari menyeka airmata nya dengan jemarinya.
"Pipi mu terlalu basah. Jemari mu tak akan cukup untuk menyerap semuanya." Ucapnya sembari tetap menyodorkan sapu tangan itu.
"Terimakasih." Ucap Mayang. Ia melirik sekilas lelaki itu lalu kemudian menyambar sapu tangan itu dari tangan pemiliknya.
"Tidak terimakasih. Tolong jangan terlalu dekat dengan saya. Saya punya suami. Dia akan cemburu melihat kita seperti ini." Mayang gusar lalu beringsut sedikit menjauh.
"Suami? Yang begitu tadi kau bilang suami?!"
Mayang tersentak kaget. Ternyata banyak orang yang memperhatikannya tadi. Ia lantas tertunduk malu. Airmatanya kembali menetes.
"Apa kau ingat aku?" Pertanyaan lelaki itu spontan membuat Mayang mendongakkan kepala nya.
"Apa aku mengenal mu?" Tanya Mayang ragu. Ia malah sempat berpikir kalau lelaki ini adalah kerabat Brian. Karena Mayang sama sekali tak mengenal orang lain lagi selain kerabat suaminya.
"Kita pernah bertemu sekali saat acara pesta dan kau terluka di sana. Aku alex, apa kau ingat?"
Alex adalah orang pertama yang menolong Mayang saat tumbang oleh racun saat pesta. Tentu saja Mayang tak menyadarinya karena ia tak sadarkan diri.
"Iya aku ingat. Kita pernah bertemu sekali." Mayang mengangguk tipis, lalu kemudian kembali tertunduk.
"Kau ingin aku menghibur mu?" Tawar Alex dengan nada bercanda.
"Tidak terimakasih, aku sudah cukup merasa tenang sekarang."
"Kau mau berdansa dengan ku?"
"Apa?" Tanya Mayang dengan ekspresi tak percaya.
"Berdansa dengan ku." Alex mengulangi pertanyaannya.
"Tidak, aku pemalu. Lagi pula sudah lama aku tak pernah berdansa."
__ADS_1
"Tapi masih ingat bagaimana caranya berdansa kan?"
"Tidak juga. Aku tidak mau menginjak kaki orang, jadi lebih baik jangan."
"Kalau begitu injak saja kaki ku."
Tiba - tiba pandangan Mayang menangkap Brian dan Karla yang tampaknya sudah kembali. Brian tampak menggandeng tangan Karla dengan mesra.
Hati mayang rasanya seperti terbakar karena itu. Brian terlihat sedang menyapukan sapu tangan ke area tubuh Karla yang basah. Hati Mayang rasanya ingin berontak dan menjambak rambut wanita itu sekarang juga.
Tapi rasanya itu akan percuma. Bukan simpati Brian yang akan ia dapat, namun lelaki itu pasti akan lebih membencinya nanti. Di tatapnya pula lelaki dihadapan nya itu.
Alex juga tampan tinggi dan kekar. Dia juga lumayan kalau di bawa ke kondangan. Lalu muncullah ide Mayang untuk balas dendam pada Brian.
"Kau benar - benar mengajakku berdansa?"
"Iya, kau mau?"
Mayang mengangguk dan tersenyum. Berbekal pengalaman berdansanya saat masih kuliah dulu, Mayang mantap untuk membuat Brian cemburu.
Alex bangkit dan berdiri terlebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk menggandeng Mayang. Gadis itu tersenyum lalu meraihnya. Alex membawanya menuju area dansa yang masih tampak kosong.
Alex mengisyaratkan pada DJ untuk memutar musik. Saat musik sudah di putar, Alex tersenyum pada Mayang yang masih tampak terpaku. Tubuhnya kaku.
"Santai saja, tak perlu malu. Anggap tidak ada orang lain di sekitar kita." Alex dengan pembawaan nya yang santai mencoba menenangkan Mayang.
Mayang menghela nafas dalam untuk menenangkan hatinya.
"Kau lihat disana." Tunjuk Alex sembari tersenyum pada Brian yang tengah bersama Karla. "Suami mu sedang bersenang - senang dengan wanita lain. Apa kau terima begitu saja?" Ucapnya dengan nada provokasi.
"Tidak." Mayang menggeleng cepat.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan?"
Mayang mengangguk cepat. Ia mendengus sembari melirik Brian dengan seringai nya. Di tanggalkan nya blazer yang melekat di tubuhnya dan ia lempar ke sembarang tempat.
Mayang kemudian menggerakkan kedua tangannya untuk merangkul leher Alex. Lalu di mulailah hal gila yang seumur hidup baru kali ini ia lakukan. Berdansa dengan lelaki lain untuk membuat suaminya cemburu.
Area dansa yang tadinya sepi, kini mulai tampak ramai dengan orang - orang yang tengah menonton pertunjukkan yang memukau. Dengan sesekali terdengar sorak sorai dari sana.
"Alex bro! Dansa dia. Sama cewek cantik banget lagi!" Ucap salah seorang teman Brian sembari menunjuk ke arah Alex di area dansa. Tubuhnya juga ikut bergerak mengikuti alunan musik yang menggema.
Mendengar nama Alex di sebut Brian seoerti tersengat aliran listrik dan membuatnya spontan menoleh ke arah yang temannya tunjuk.
Brian seperti tersengat listrik bertubi - tubi saat melihat ternyata istrinya lah pasangan dansa Alex. Mayang tampak menikmati bergoyang dengan rival nya itu. Malah gerakan tarian Mayang terkesan liar dimata Brian.
Tangan nya terkepal dan wajahnya merah padam. Brian hendak mengayunkan kakinya untuk melangkah namun Karla mencegahnya. Wanita itu tampak tersenyum sembari menggoyang - goyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik.
"Ayo Alex!" Sorak teman-teman Brian yang juga teman Alex. " Gila Alex! Dapat cewek cantik dari mana dia?" Ucapnya sembari tertawa.
Brian menoleh cepat pada teman yang membicarakan istri nya dengan wajah penuh kemarahan.
Bersambung
Hai readers, kunjungi juga karya author yang lain dengan judul Amara ya,,
tinggalkan juga jejak kalian dengan like komentar favorit supaya dapat notifikasi up nya. voting sebanyak - banyaknya untuk dukung author dan kasih rating bintang lima ya, terimakasih.
__ADS_1